
Momen makan siang menjadi kebersamaan membahagiakan. Tiara merasa hidupnya semakin lengkap, kehadiran nenek Imah dan cucunya Rahman beserta istrinya membuat rumah semakin ramai. Walaupun dalam hatinya masih ada sedikit kegelisahan dengan ketidakhadiran dua adiknya.
"Sebentar lagi kedua adikmu sampai" bisik Arzan di telinga Tiara. Melihat kegelisahan sang istri Arzan seolah bisa menerka jika ketidakhadiran kedua adik iparnya menjadi sumber kegelisahan sang istri.
"Benarkah Mas?" tanya Tiara sumringah,
"Heumm" jawab Arzan dengan seulas senyum, tangannya terulur menyentuh puncak kepala Tiara dan mengusapnya dengan lembut. Kemudian meraih satu tangannya dan menciumnya.
Interaksi sejoli itu tidak lepas dari pantauan mata Rahman dan nenek Imah yang turut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan Tiara. Rahman yakin jika cinta yang dimiliki bosnya untuk Tiara bukanlah cinta biasa. Terlihat dengan jelas di mata Arzan betapa laki-laki itu sangat mencintai istrinya dengan tulus.
"Mas, malu..." mendapat perlakuan romantis dari suaminya Tiara pun berbisik kemudian menundukkan kepala fokus pada piring yang masih kosong, dia menjadi salah tingkah karena Arzan tak tahu tempat memperlakukannya. Sekilas Tiara mengedarkan pandangan, dan dengan jelas dapat melihat jika semua mata tengah tertuju padanya.
"Kenapa harus malu sayang, justru mereka harus tahu betapa aku sangat mencintaimu" Arzan tak segan mengungkapkan cintanya di hadapan semua orang, laki-laki sedingin es itu kini telah berubah sehangat mentari pagi.
"Sebaiknya kita mulai makan sekarang, daripada dibikin ngontrak sama mereka berdua" sindir mami Ratna yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya. Sementara Ibu Tiara hanya tersenyum turut berbahagia dengan perlakuan menantunya pada putrinya.
"Hahaha...." gelak tawa semua orang pun meramaikan suasana makan siang kali ini. Rona kebahagiaan jelas terpancar di wajah mereka semua.
"Alhamdulillah ya Allah terima kasih. Putra hamba kini telah kembali menemukan cinta sejatinya. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu nak" batin Mami Ratna tak urung merafalkan do'a untuk kebahagiaan putranya.
"Sebentar Mi, Qia sebentar lagi sampai. Dia berpesan untuk akan siang di rumah" sela Tiara mengingatkan jika sang putri tadi pagi berpesan akan makan siang di rumah karena jadwal sekolahnya hari ini hanya setengah hari.
"Oya? Qia pulang cepat hari ini?" tanya mami Ratna yang tidak tahu jadwal sekolah cucunya hari ini.
"Iya ma, Qia bilang hari ini guru-guru ada rapat. Jadi sekolah hanya setengah hari" jelas Tiara sesuai menyampaikan informasi yang dia dapat dari sang putra serta pesan informasi yang dikirim wali kelas Qiana di grup whatsapp kelasnya.
"Baiklah kalau begitu, sambil menunggu Qiana silahkan dinikmati dulu makanan pembukanya" mami Ratna memberi kode pada pelayan untuk menghidangkan makanan pembuka.
Sambil menunggu kedatangan Qiana mereka pun larut dalam obrolan ringan dengan berbagai topik.
"Assalamu'alaikum" suara cempreng khas anak kecil mengalihkan fokus semua orang yang ada di dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam" kompak semua orang pun menjawab ucapan salam putri kecil itu,
"Mommy...." Tiara menjadi orang pertama yang dituju Qiana. Semenjak kembali dari rumah sakit Qiana memang sedikit lebih manja jika Tiara tidak sedang menggendong sang bayi.
"Alhamdulillah sudah pulang. Sudah shalat sayang?" Tiara melepas pelukannya perlahan, dia memastikan dahulu shalat sang putri.
"Sudah Mom, di sekolah aku shalat berjama'ah lalu pulang" jelas Qiana membuat Tiara mengukir senyum, begitupun dengan orang-orang di sekitar mereka.
"Ariq sayang, kakak kangen" Qiana beralih pada boks bayi yang tepat berada di samping Tiara, dia menoel-noel pipi bayi mungil itu dengan gemas,
"Sekarang kakak ganti baju dulu, setelah itu kita makan bersama ya, lihatlah semua orang sudah menunggu kakak" titah Tiara lembut, dan diangguki oleh Qiana.
__ADS_1
Qiana pun berlalu menuju kamarnya ditemani Ana, setelah sebelumnya menghampiri semua orang untuk salim.
Acara makan siang pun berlangsung dengan tenang. Mereka semua menikmati sajian makan siang yang nikmat itu dengan lahap. Semua menu yang tersaji adalah menu pilihan. Mami Ratna sudah menyiapkan segalanya dengan baik untuk menyambut hari ini.
Obrolan ringan pun tercipta di sela-sela makan siang mereka, sehingga suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa begitu kental diantara mereka.
Ting tong...
Suara bel rumah mengalihkan fokus keluarga besar yang sedang menikmati kebersamaan itu. Arga menjadi orang pertama yang sigap untuk membukakan pintu. Feelingnya yakin jika yang datang adalah kejutan spesial yang sudah bossnya siapkan untuk istri tercintanya.
"Bos mereka sudah datang" tidak menunggu waktu lama Arga sudah kembali bersama dua orang pemuda di belakangnya. Arzan pun menoleh dan mengukir senyum penuh makna. Kejutan sesi dua untuk sang istri dimulai, pikirnya.
"Dek..."
"Nak..."
Tiara dan sang ibu bersamaan memanggil dua sosok lelaki yang berdiri di belakang Arga, binar bahagia tampak jelas di wajah mereka.
"Kalian sudah kembali?" tanya Tiara masih dalam posisi duduk.
"Alhamdulillah, sambung ibu yang bersiap akan berdiri menyambut kedua putranya,
"Hanya mereka Ga?" Arzan tiba-tiba bersuara, hingga mengundang perhatian semua orang.
Seketika pergerakan Ibu yang akan menyongsong kedua putranya terhenti. Begitu pun Tiara yang tiba-tiba menjatuhkan sendok yang ada ditangannya dan sontak berdiri.
"Wa'alaikumsalam" semua orang menjawab sapaan salam lelaki paruh baya yang tiba-tiba muncul dan berdiri diantara dua pemuda tampan yang tak lain adalah putranya. Tak terkecuali Tiara dan Ibunya walaupun hanya mampu menggerakkan bibirnya tanpa suara.
"Aaa...Ayah" Tiar terbata saat menyebut kata itu, dia terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya tiba-tiba terasa sulit untuk melangkah. Pikirannya melayang memikirkan jika mungkin saja saat ini dia hanya berhalusinasi.
"Akang..." berbeda dengan Tiara, Ibu lebih bisa menguasai emosinya. Dia melanjutkan pergerakannya yang akan menghampiri kedua putranya namun kali ini tatapannya tidak terlepas dari sosok laki-laki yang sudah hampir tiga puluh tahun menjadi lelaki halalnya.
"Dek, akang pulang" Ayah bersuara dengan lantang, dia membentangkan kedua tangannya menyambut sang istri yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Tanpa kata yang terucap, Ibu langsung berhambur ke pelukan ayah dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
"Sayang" rangkulan Arzan menyadarkan Tiara dari keterkejutannya. Dia menoleh menatap suami yang tengah tersenyum kepadanya.
"Mas, ini..."ucspan Tiara terhenti,
"Ini nyata sayang" seolah bisa merasakan keraguan yang ada di pikiran istrinya, Arzan meyakinkan Tiara jika apa yang terjadi saat ini adalah nyata.
"Dia ayahmu, ayah sudah bebas sayang. Pengadilan menyatakan jika ayahmu tidak bersalah dan pihak kepolisian berjanji akan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. Mereka juga memastikan nama baik ayah akan kembali bersih" jelas Arzan membuat Tiara seketika menutup mulutnya tak percaya, sementara air mata terus mengalir membasahi pipi bahkan jilbabnya.
__ADS_1
"Jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis" Arzan mengusap air mata di pipi Tiara, dia mengecup kedua kelopak mata istrinya itu, berharap mampu menghentikan air mata yang terus mengalir.
"Mas, aku ..."
"Ayo, kita hampiri ayah" Arzan menggiring Tiara untuk mendekati kedua orang tuanya yang sedang berpelukan,
"Ayah..." panggil Tiara lirih, air mata masih enggan berhenti bahkan semakin deras membasahi pipi dan jilbabnya.
"Anak perempuan ayah, anak sulung ayah. Kemarilah!" ayah yang sudah melepaskan pelukannya dengan ibu pun kembali merentangkan kedua tangannya bersiap menerima pelukan putri sulungnya.
"Ayah...." tanpa menunggu lagi, Tiara menghambur ke pelukan sang ayah. Laki-laki yang selama ini menjadi panutannya. Dia adalah cinta pertamanya, laki-laki pertama yang mengajarkannya makna cinta dan kasih. Darinya dia belajar bagaimana mencintai dengan tulus dan tanpa pamrih, seperti yang dilakukan ayah pada ibunya.
"Ayah....hiks...." hanya kata itu yang masih terus terucap dari lisan Tiara di sela-sela tangisnya,
Kedua adik Tiara tak kalah haru melihat adegan itu, mereka pun berhambur memeluk ayah dan kaka mereka yang sedang berpelukan. Tak lupa, Ibu kembali digiring hingga mereka berlima saling berpelukan dengan tangis yang terus terdengar. Bukan tangis biasa tapi tangis bahagia yang mengungkapkan rasa rindu dan syukur yang mendalam di hati mereka masing-masing.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih Mas Arzan" dalam hati Tiara terus melafalkan rasa syukurnya.
Semua kebahagiaan yang dirasakannya hari ini adalah karena andil besar suaminya. Tiara semakin yakin akan cinta yang dimiliki oleh Arzan untuknya.
Saat ini tak ada yang bisa Tiara lakukan selain bersyukur, semua luka yang dirasakannya di masa lalu terkikis oleh kebahagiaan hari ini.
Lengkaplah sudah kebahagian Tiara, mendapat limpahan cinta yang begitu besar dari suami dan putri sambungnya, dikaruniai putra kecil yang begitu menggemaskan. Disayangi mertua yang selalu mengistimewakannya dan hari ini keluarganya kembali lengkap. Sang ayah sudah kembali, bayangan keluarga bahagia yang sempat hanya sebatas kenangan kini tercipta kembali. Dalam hati dia tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat Allah yang begitu besar untuknya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Skenariomu begitu indah, tak ada takdir-Mu yang tidak baik, semua Ketentuan-Mu adalah yang terbaik walau kadang harus ada air mata dalam menjalaninya, tapi kebahagiaan dan keindahan diakhirnya akan diraih oleh orang-orang yang sabar dan ikhlas, janji-Mu sungguh pasti"
"Mas Arzan, aku sangat mencintaimu. Akan ku dedikasikan seluruh hati dan hidupku hanya untukmu suamiku, lelaki halalku, semoga kelebihanku menjadi sumber bahagiamu dan segala kekuranganku menjadi sumber pahalamu. Aku bangga dimilikimu. Mari kita bersama sampai Jannah-Nya. I Love You, Mas Arzan"
Tamat
Suara hati:
105 episode, bukanlah perjalanan yang mudah untuk pejuang waktu dan jarak sepertiku. Namun ketika menulis menjadi refreshing tersendiri di sela-sela perjuangan itu, Alhamdulillah Allah berikan jalan.
105 episode tentang Tiara di "Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring" semoga memberi makna bagi setiap pembaca, bahwa apapun takdir yang Allah tentukan untuk kita, dapat kita jalani, nikmati dan syukuri. Apapun ujian yang diberikan oleh-Nya, semua itu tidak lain adalah untuk menguatkan kita agar layak menerima nikmat-Nya yang lebih besar.
Walaupun cerita ini dapat dengan mudah diketahui endingnya, yang pasti setiap novel yang kutulis akan happy ending, tapi yang terpenting dari setiap cerita adalah prosesnya. Dari setiap proses itu, diharapkan kita mampu menemukan hikmah yang. bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik.
Terima kasih untuk semua pembaca, semoga Allah limpahkan kesehatan, umur yang panjang dan bermanfaat, rezeki yang berlimpah dan berkah.
Nantikan spesial episode Tiara dan Arzan.
Salam takzim dari penulis,
__ADS_1
Lailatus Sakinah🥰