
Rumah nenek imah terlihat sudah sepi. Tiara yang memang terbiasa pulang malam karena sering lembur saat bekerja sudah diberi kunci rumah sendiri oleh nenek imah. Beliau tampaknya sudah tidur, lampu kamarnya sudah temaram terlihat dari jendela kamar saat Tiara hendak membuka pintu.
Tiara merebahkan tubuhnya di atas single bad di kamarnya, setelah sebelumnya dia membersihkan diri dan berganti baju bersiap untuk tidur. Tenang, shalat isya sudah dilaksanakan berjamaah bersama Qiana, Mbak Ina dan Nyonya Ratih. Mereka bahkan meminta Tiara menjadi imamnya.
Hari yang sangat melelahkan, sejak pagi mencari pekerjaan dan sempat sport jantung ketika tiga laki-laki yang tidak dikenalnya tiba-tiba membawanya dan semakin syok ketika tahu jika dirinya menjadi daftar pencarian orang karena seorang anak gadis yang merindukan masakannya.
"Huuh...." Tiara menghembuskan nafasnya kasar, matanya menatap langit-langit kamar. Semua yang terjadi hari ini tak pernah terpikirkan olehnya. Bertemu dengan anak kecil yang membawanya pada keluarga yang begitu hangat. Membuat dia merindukan kembali kehangatan keluarga yang dulu sering dia rasakan namun kini hanya tinggal kenangan.
Semenjak sang ayah divonis bersalah dan harus menjalani hukuman, Tiara baru satu kali menemuinya di rumah tahanan. Ayahnya melarang dia untuk datang lagi, memintanya agar fokus kuliah dan bisa menyelesaikannya dengan baik tepat waktu sehingga membuatnya bangga. Demikian pun sang ibu dan adik-adiknya. Saat ini mereka tinggal di rumah peninggalan almarhum nenek kakeknya karena rumah mereka yang penuh kenangan harus dikosongkan terkait kasus yang menimpa sang ayah.
'Terima kasih sudah membuat Qiana senang hari ini'
Tiba-tiba kalimat itu kembali terngiang di telinga Tiara. Tuan Arzan yang terkenal dingin oleh karyawannya ternyata berbeda jika sudah bersama keluarganya, begitu ramah dan penuh kehangatan. Tiara terhenyak saat Arzan mengatakan kalimat itu. Bertemu untuk pertama kalinya tadi siang dengan orang yang selama ini hanya didengar namanya hanya meninggalkan kesan sungkan. Aura boss dinginnya sangat kentara, membuat Tiara enggan bahkan hanya untuk sekedar menatapnya. Dia tidak menyangka jika akan mendapat ucapan terima kasih langsung dari tuan muda itu.
Satu minggu berlalu, hari-hari Tiara semakin sibuk. Perkuliahan sudah mulai, pagi hingga siang dia memulai harinya di kampus. Banyak perubahan yang terjadi padanya di kampus itu setelah teman-temannya mengetahui keadaan keluarganya. Beberapa media online sempat memberitakan tentang kasus yang menimpa ayahnya. Sebagai pejabat daerah yang cukup dikenal merakyat selama ini membuat kasus yang menimpanya menjadi pusat perhatian.
Tak jarang cibiran sebagai anak koruptor keluar dari mulut teman-teman Tiara. Dia hanya diam tanpa enggan mengeluarkan pernyataan sepatah kata pun. Tak ingin menyangkal maupun membela. Hampir semua temannya menjauh, tapi itu tidak membuat Tiara gentar. Fokusnya saat ini adalah mencari uang untuk biaya kuliah, menyelesaikan kuliah supaya lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan gaji yang besar agar bisa segera mengeluarkan keluarganya dari keterpurukan.
Tiara tidak peduli dengan cibiran orang-orang di sekitarnya. Teman-teman yang menjauhinya tidak membuat dirinya kehilangan semangat, termasuk Adrian. Laki-laki yang selama beberapa tahun ini selalu memperlakukannya bak ratu, kini hanya menatap sekilas ketika berpapasan. Semua kenangan yang pernah mereka lalui bak debu yang tertiup angin, terbang entah kemana.
"Bulan depan kalian sudah mulai magang, saya harap semuanya sudah punya data perusahaan yang akan dijadikan tempat magang kalian. Jika ada hambatan silahkan hubungi saya secepatnya" suara dosen mengakhiri perkuliahan hari ini membuyarkan Tiara dari lamunannya.
"Terima kasih Prof" semua serempak mengucapkan terima kasih saat profesor muda itu hendak beranjak keluar dari kelas, kecuali Tiara yang masih asik dengan lamunannya.
Tiara menoleh ke sekitarnya, semua sudah bersiap untuk meninggalkan kelas. Dia pun segera merapikan perlengkapannya.
"Kamu, ikut saya" Tiara terhenyak saat dosennya tiba-tiba berada tepat di depan mejanya.
"Saya, Prof?" Tiara menunjuk dirinya sendiri, dia membenarkan jilbabnya yang menutupi wajah karena tertiup angin saat pintu kelasnya terbuka, saat ini Tiara duduk di kursi paling depan dekat dengan pintu.
"Heumm" Profesor muda itu pun berlalu, dengan segera Tiara beranjak dan mengikuti langkahnya menuju ruang dosen diikuti tatapan teman-teman sekelasnya
__ADS_1
Sesampainya di ruang dosen, Tiara berdiri mematung. Dia bingung harus menuju ke mana. Beberapa dosen tampak sedang sibuk di mejanya masing-masing.
"Selamat siang, Profesor Kemal" seorang dosen perempuan yang masih sama-sama muda menyapa profesor dengan ekspresi menggoda dan hanya dibalas dengan anggukan kepala tanpa senyum oleh profesor Kemal.
"Kamu kenapa berdiri di sana?" dosen yang bernama Kemal itu pun menoleh ke arah Tiara yang masih berdiri mematung jauh di belakangnya.
"Iya, Pa" Tiara pun melangkah, berjalan mengikuti kemana arah ruangan yang dituju oleh dosennya itu.
Sesampainya di ruang pribadinya, Kemal menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja miliknya.
"Duduklah" titahnya pada Tiara, dia menunjuk kursi yang tepat berada di depan mejanya untuk Tiara duduk. Tiara pun menurut, hatinya deg degan baru pertama kali dia dipanggil ke ruang dosen seperti ini. Selama kuliah dia tidak pernah mempunyai masalah dengan dosen manapun. Semester ini dia harus berhadapan dengan dosen tampan namun menyeramkan itu. Sebagian mahasiswa menyebutnya dosen killer.
"Apa karena ditinggalkan kekasih kamu jadi tidak fokus dalam mata kuliah saya?" Kemal berkata dengan nada ketus membuat Tiara mendongakkan wajahnya yang sejak tadi tertunduk.
"Maksud Bapa?" Tiara mengernyit heran,
"Saya tahu kamu baru saja ditinggalkan kekasihmu bahkan teman-temanmu dan saya tahu mereka melakukannya hanya karena kasus yang menjerat ayahmu" Kemal mengutarakan informasi yang diketahuinya tentang Tiara.
"Sekarang dimana kamu tinggal? saya cari ke kosan kamu sudah tidak tinggal di sana" Kemal kembali bertanya dengan pertanyaan yang membuat Tiara heran, kali ini terdengar nada suaranya berubah lebih lembut.
"Maaf Pak, saya rasa itu...." ucapan Tiara terjeda.
"Saya tahu itu urusan pribadi, dan saya terlalu lancang jika ingin mengetahui urusan pribadi kamu sampai sejauh itu. Tapi karena kamu tidak fokus saat mengikuti mata kuliah saya terpaksa saya ikut campur. Apalagi saat ini saya mendapat tugas tambahan sebagai dosen yang bertanggung jawab untuk kegiatan magang kamu" Kemal berkata dengan tegas, sorot matanya yang lembut tiba-tiba kembali menajam saat mengatakan itu.
"Saya pastikan kejadian tadi tidak akan terulang lagi. Maaf Pak, jika tidak ada yang mau disampaikan lagi saya permisi" Tiara tak kalah tegas. Dia berdiri dari tempat duduknya, berusaha menghindar. Berharap Kemal melupakan pertanyaannya yang belum dia jawab. Tiara tidak mau melibatkan orang lain dalam hidupnya saat ini, pengalaman membuktikan agar tidak terlalu berharap pada siapa pun karena jangankan orang lain bayangannya saja ternyata meninggalkannya disaat gelap tiba.
"Kamu...." ucapan Kemal terhenti saat melihat Tiara berlalu begitu saja menuju pintu keluar dari ruangannya. Ditatapnya punggung Tiara yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu.
"Huuhh" Kemal menghembuskan napasnya kasar, dia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menutup matanya. Bayangan masa lalu tentang Tiara kembali melintas di pikirannya.
Tiara setengah berlari menuju gerbang kampusnya. Dia sudah memesan ojek online untuknya menuju tempat kerja, karena panggilan sang dosen dipastikan saat ini dia akan terlambat datang ke tempat kerjanya. Sudah dibayangkannya, Anggia akan mengomel karena keterlambatannya dan semakin sinis apalagi sejak dia ditegur karena seenaknya menuduh dan memecat Tiara waktu itu.
__ADS_1
"Jangan mentang-mentang dapat rekomendasi boss besar buat kerja di sini jadi seenaknya aja datang, profesional dong!" benar saja, omelan Anggia sudah menyambutnya saat Tiara baru turun dari ojek onlinenya. Tiara pun menyerahkan helm pada pengemudi ojek online itu dan segera berlari melewati Anggia yang menatap tajam ke arahnya dengan dua tangan yang dilipat di dada. Tiara hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saat melewatinya, dia segera menuju ruang khusus karyawan untuk berganti baju.
Tiara pun segera memulai pekerjaannya, dia melirik Rianti yang sedang fokus mencuci piring.
"Diomeli mak lampir ya?" bisik Riri yang mendekat ke arah Tiara, Riri adalah panggilan Tiara untuk Rianti. Tiara membulatkan matanya saat mendengar panggilan Riri yang dia yakini disematkan untuk Anggia.
"Hihi...." Riri hanya terkikik saat melihat ekspresi Tiara seperti itu. Riri pun kembali bergeser ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaan sambil terus tertawa dalam diam.
Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Seminggu ini Tiara selalu mengambil shift siang dengan jam kerja pukul tiga belas sampai pukul enam sore. Biasanya Tiara akan mengambil lembur sampai pukul sembilan, tapi sejak kembali bekerja di restoran itu dia belum pernah lembur lagi. Dia menerima tugas barunya menjadi koki khusus untuk tuan putri keluarga El-Malik yang hanya mau makan malam jika Tiara yang menyediakan masakannya.
Dengan bayaran fantastis yang ditawarkan tuan muda Arzan, Tiara dengan senang hati menerima pekerjaannya. Tiara akan datang setelah shalat maghrib terlebih dahulu di masjid restoran tempatnya bekerja dan segera menuju kediaman keluarga El-Malik untuk menyiapkan makan malam dan meninabobokan sang tuan putri dengan kisah-kisah para nabi, setelah Qiana terlelap barulah Tiara akan pulang. Biasanya Tiara akan sampai ke rumah nenek Imah sekitar pukul sepuluh malam karena jarak tempuh yang membutuhkan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai di sana dengan menggunakan ojek online jika lancar.
Sementara di kantornya Arzan tengah fokus memeriksa berkas-berkas yang harus segera ditanda tanganinya. Tiba-tiba dia teringat dengan Tiara, gadis yang sudah satu minggu ini menemani menemani putrinya. Arzan merasa tenang bekerja, urusan pekerjaan yang akhir-akhir ini sangat menyita waktunya membuat dia tidak bisa pulang tepat waktu.
Dia sudah memerintahkan Arga untuk memeriksa latar belakang Tiara, memastikannya jika gadis itu adalah gadis baik-baik yang bisa dipercaya untuk menjaga Qiana dan laporan Arga yang mengatakan semuanya oke, membuat dia lega walaupun dia sendiri belum memeriksa berkas-berkas tentang Tiara yang diserahkan Arga beberapa hari yang lalu.
Seminggu ini Arzan selalu pulang lewat tengah malam. Untunglah semenjak Tiara menemani Qiana, putrinya itu tidak pernah merengek memintanya untuk pulang cepat karena ingin disuapi saat makan malam atau ditemani tidur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Beberapa kali tampak Arzan menguap seharian bekerja membuatnya sangat lelah, dia meraih gawainya bermaksud menghubungi Arga sang asisten namun yang dihubungi tak kunjung memberi jawaban. Dia pun beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Arga ke ruangannya.
"Ckk...pantas saja" Arzan berdecak saat memasuki ruangan mendapati gawai Arga ada di atas meja kerjanya, berada tepat di samping laptop yang masih menyala.
Dia mengernyit saat melihat tayangan di layar laptop Arga. Saat ini layar laptop itu tengah menyuguhkan sebuah video rekaman cctv bagian rumahnya. Terlihat di rekaman itu Tiara sedang membantu Qiana mengerjakan tugas sekolahnya, dia pun tampak anteng di pangkuan gadis itu sambil mendengarkan cerita Tiara. Terlihat Tiara yang tulis menyayangi Qiana, dia mengusap kepala Qiana dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Arzan tersenyum tipis melihat rekaman itu, dia berpikir jika rekaman itu adalah salah satu hasil pengawasan Arga terhadap putrinya. Dia pun tertarik untuk melihat file-file selanjutnya. Namun alangkah terkejutnya Arzan saat mengetahui jika Arga bahkan menyimpan foto-foto Tiara dalam satu folder dengan nama my future.
Sangat banyak foto-foto Tiara yang diambil secara diam-diam dengan berbagai gaya dan keadaan. Arzan menzoom salah satu foto yang membuatnya tertarik yaitu foto Tiara dengan memakai jas almamater kampus yang sama dengan dirinya. Dia tengah menenteng piala dan piagam sebagai mahasiswa teladan.
Arzan semakin dibuat tertarik dengan semakin banyaknya foto Tiara yang membuat dirinya kagum. Beralih pada video, kali ini Arzan tertarik dengan video yang memperlihatkan Tiara yang sedang presentasi di dalam kelasnya. Dia tengah menjelaskan strategi bisnis hasil risetnya, ternyata Tiara kuliah di jurusan yang sama dengannya. Masih banyak video-video juga foto-foto yang menunjukan aktivitas Tiara.
Realita yang sangat menarik untuknya. Arzan baru mengetahui jika gadis yang bekerja sebagai pengasuh paruh waktu putrinya ternyata seorang mahasiswa berprestasi. Tanpa sadar, Arzan terus memandangi foto Tiara yang sedang tersenyum dengan manis saat menerima piagam penghargaan dengan nominasi sebagai mahasiswa aktif dan inovatif. Arzan dibuat semakin kagum sekaligus penasaran ingin tahu lebih banyak tentang gadis pengasuh paruh waktu putrinya itu.
__ADS_1