
Derrrtt........Derrrrttt......Derrrrrttt......
Ponsel milik Tiara terus bergetar, kedua insan yang sedang memadu rasa melalui sentuhan halal itu pun tampak mengabaikan.
Derrrtt........Derrrrttt......Derrrrrttt......
Nada getar ponsel Tiara tak kunjung berhenti, hingga akhirnya Arzan menghentikan apa yang tengah dilakukannya.
"Ponsel saya berbunyi tu...." ucap Tiara dengan nafas yang masih terengah-engah, dia mengerem kata-katanya saat tatapan Arzan yang begitu dekat berubah tajam,
"Mas...ada telepon masuk di ponselku" ucap Tiara malu-malu, dia meraba-raba mejaencari ponsel yang dia simpan di atas meja yang saat ini dibelakanginya,
"Ckk ... mengganggu saja" ketus Arzan yang merasa sangat terganggu,
Tiara hanya menggenggamnya, dia belum berani mengangkat panggilan masuk karena melihat Arzan sepertinya marah,
"Mas....aku..."
"Terimalah" ucap Arzan lembut, sekilas matanya menatap layar pipih yang digenggam Tiara.
"Assalamu'alaikum, Danis" Tiara akhirnya menerima panggilan dari teman magangnya itu setelah mendapat izin dari Arzan,
"Wa'alaikumsalam, lama sekali diangkatnya. Maaf ya, lagi sibuk ya?" jawab Danis,
"Ouh, tidak...maaf tadi aku sedang ada sedikit pekerjaan" ucap Tiara berbohong, dia menatap Arzan yang menampilkan senyum menyeringai melihat istrinya begitu gugup menerima telepon dari sahabatnya,
Obrolan keduanya pun berlanjut, mereka membicarakan perihal tugas yang baru saja Tiara selesai mengerjakannya. Dia berencana akan mengeprint nya saat tiba di kantor.
Arzan membiarkan Tiara mengobrol dengan temannya itu, namun tangannya masih betah di posisi menggamit pinggang Tiara, dia bahkan semakin merapatkan tubuhnya membuat Tiara kesulitan saat berbicara dengan Danis di telepon.
"Isshhh....." desis Tiara saat Arzan mulai tidak bisa mengondisikan bibirnya.
"Kenapa Ra" Danis yang tidak sengaja mendengar Tiara berdesis bertanya, dia khawatir terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hah, enggak...enggak kenapa-napa ko. Ini hanya ada sedikit gangguan saja" jawab Tiara sambil menatap Arzan yang hanya tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil menyingkap jilbab Tiara dan meninggalkan jejak kecupannya di bahu sebelah kiri istrinya itu.
Obrolan mereka pun kembali berlanjut karena Danis masih terus berbicara untuk menyamakan persepsi laporan yang mereka buat.
"Danis, aku mau siap-siap dulu ya. Nanti lanjutkan di kantor obrolan kita" Tiara mengakhiri percakapannya dengan Danis di telepon. Tangan dan bibir suaminya sudah meraja lela kemana.
"Mass....." Tiara tak mampu menahan gelenyar di tubuhnya saat bibir Arzan kembali menjelajah lehernya, jilbabnya bahkan sudah terlepas dan tangan Arzan bahkan sudah bertengger di tempat yang kini menjadi favoritnya.
Tiara terbuai dengan apa yang dilakukan suaminya, dia memejamkan mata peristiwa semalam kembali terulang pagi ini. Setiap sentuhannya sungguh memabukkan, ini adalah hal baru untuknya Tiara sungguh dia mendapatkan pengalaman baru dalam hidupnya.
"Masss" pekik Tiara saat matanya terbuka dan melihat jam di dinding kamar Tiara sudah menunjukan pukul delapan kurang sepuluh menit. Ja kantor yang dimulai sejak pukul delapan tepat, dia bisa pastikan jika dirinya hari ini pasti kesiangan.
"Apa sayang.....?" Arzan pun menghentikan kegiatan menyenangkan beralih menatap Tiara penuh tanya,
Blussshhh.....seketika pipi Tiara merona, mendengar Arzan memanggilnya seperti itu membuat pipinya memanas.
"Ini...ini sudah jam delapan, aku harus ke kantor. Ada rapat intern pagi ini di divisi pasaran, aku tidak boleh terlambat" jawab Tiara masih dengan wajah gugupnya,
"Oya? kamu tahu siapa pemilik perusahaan itu?" Tiara mengernyit mendengar Arzan yang balik bertanya padanya dengan pertanyaan yang rasanya tidak perlu jawaban,
"Kalau begitu tenanglah, aku saja masih berada di sini. Jadi tidak perlu sepanik itu, sekarang lebih baik kita lanjutkan yang tadi" "Arzan sudah bersiap kembali melanjutkan aksinya,
"Hisshhh.....tidak bisa mas, kamu adalah pemiliknya dan aku hanya mahasiswa magang di sana. Aku harus datang tepat waktu, jika tidak pasti akan jadi masalah" ujar Tiara beralasan, dia berusaha menahan wajah Arzan dengan tangannya untuk menghentikan aksinya pagi ini.
"Ckk ...." Arzan berdecak kesal, seolah kehilangan mainan mengasyikkannya. Dia pun terpaksa melepaskan Tiara dan membiarkannya untuk bersiap.
Tepat pukul delapan tiga puluh Tiara sampai di halaman lobi kantor magangnya, dia sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu seharusnya. Selain dirinya bersiap, dia pun harus terlebih dahulu mempersiapkan segala keperluan Arzan terutama pakaian yang akan dipakainya hari ini.
Arzan mengajaknya untuk pergi bersama, namun Tiara menolak. Dia sudah memesan ojeg online untuknya pergi ke kantor. Arga yang menjemput boss sekaligus sahabatnya itu sempat heran dengan perubahan sikap Arzan yang begitu lembut pada Tiara.
Tiara berjalan cepat setengah berlari menuju pintu lift yang akan membawanya ke lantai tempatnya bekerja.
"Astagfirullah, bagaimana ini. Mana Danis sulit sekali dihubungi lagi, sepertinya meetingnya sudah mulai" Tiara terus bergumam pelan sambil menunggu pintu lift terbuka, dia berdiri seorang diri di depan lift yang khusus digunakan para karyawan.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Arzan pun sampai di kantor. Dia tersenyum jail saat melihat Tiara sedang berdiri sendiri dengan gelisah menunggu pintu lift terbuka. Arzan diikuti Arga berjalan menuju tempat Tiara berdiri,
"Tuan, kita mau kemana?" Arga heran saat tiba-tiba langkah kaki Arzan bukan ke arah lift khusus yang biasa digunakan olehnya.
"Aku mau menculik istriku" jawab Arzan asal, arah pandangan Arga pun beralih ke arah yang dituju tuannya, terlihat Tiara masih berdiri di depan lift.
"Eumm, sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh. Kalau seperti ini aku harus bersiaga" ucapnya pelan sambil terus memantau gerak gerik bosnya,
Selama ini Arga adalah orang yang paling dekat dengan Arzan, mereka sudah bersahabat lama. Sebelum Arzan menjadi direktur utama menggantikan almarhum ayahnya Arga sudah lebih dulu bekerja sebagai staf khusus kepercayaan ayahnya.
Dari Arga Arzan banyak tahu tentang perusahaannya. Saat ayahnya masih ada dia belum terlibat di perusahaannya secara langsung. Sang ayah menyuruhnya untuk fokus menempuh pendidikan agar keilmuannya benar-benar siap saat dirinya harus memimpin perusahaan. Berbeda dengan Arga yang mendapat beasiswa kuliah dari perusahaan itu, selain dia harus berkuliah dan memastikan nilainya stabil, Arga pun harus bekerja di perusahaan itu.
Banyak kebaikan yang diterima Arga dan keluarganya dari keluarga El-Malik. Oleh karenanya dia bertekad akan terus membersamai Arzan dalam segala hal sebagai wujud terima kasihnya pada keluarga itu. Karena sifat dan sikapnya yang baik dan Tuan Malik sering meminta Arga untuk menginap di rumahnya, dia menjadi teman di saat sang putra tidak ada di rumah karena harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Arga sudah dianggap seperti anak sendiri olen Tuan Malik dan Nyonya Ratna.
Perbedaan usia mereka terpaut dua tahun, Arga lebih muda dari Arzan. Tapi dia selalu harus bersikap lebih dewasa dari tuannya.
Arga adalah orang yang paling tahu bagaimana terpuruknya Arzan saat kepergian Tuan Malik, dia dengan setia mendampingi tuan mudanya dan selalu memastikan jika tuannya baik-baik saja.
Untunglah saat itu kehadiran Mitha sebagai wanita yang sudah dinikahinya namun harus dia tinggalkan karena studinya di luar negeri menjadi penyemangat untuk Arzan, apalagi tidak lama sejak Arzan kembali Mitha dinyatakan positif hamil. Arga menjadi orang yang turut direpotkan saat kehamilan Mitha, dia tahu betul betapa Arzan sangat mencintai istrinya itu.
Keterpurukan kembali dialami Arzan saat kehilangan Mitha, Arga kembali menjadi orang yang berada di garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Arzan. Dia selalu ada di saat-saat terburuk hidup Arzan, Arga tahu betul betapa Arzan sangat menderita selama lima tahun ini setelah kehilangan Mitha, dia selalu dihantui rasa bersalah atas kematian istrinya. Arzan bahkan menolak siapapun wanita yang berusaha mendekatinya, hatinya benar-benar hanya di isi oleh seorang Mitha Pradipta dan putri kecil mereka.
"Ikut aku!" suara Arzan yang menarik Tiara secara tiba-tiba tidak hanya mengagetkan Tiara yang mendapati kehadiran suaminya, Arga membulatkan mata saat melihat Arzan dengan terang-terangan menarik tangan Tiara. Arga pun mengikuti mereka berdua di belakang,
Tuutt....
Arzan menekan tombol nomor lantai paling tinggi gedung itu, sebelum memasuki lift dia menoleh ke belakang dimana Arga berdiri siaga.
"Kamu, pakai lift yang lain" tunjuknya pada Arga dengan wajah datar, dia pun masuk dengan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan Tiara.
"Baik, Tuan" ucap Arga yang mungkin tidak akan terdengar karena dua orang itu sudah berada dalam lift saat Arga menjawab.
"Kali ini tuan bertindak benar, saya yakin Tiara adalah wanita yang baik, dia layak menjadi pendampingmu. Semoga kebahagiaan segera menghampirimu, Tuan" gumam Arga dalam hatinya, selanjutnya dia pun beranjak menuju lift berbeda menuju lantai yang sama.
__ADS_1
Arga melangkah dengan senyum mengembang di bibirnya, tak ada lagi perasaan lebih terhadap Tiara. Dia benar-benar sudah melupakan ketertarikannya di masa lalu pada gadis itu, yang ada kini dia hanya ingin melihat boss sekaligus sahabatnya itu bahagia bersama wanita yang tepat.