
Semua mata tertuju pada Tiara, kebanyakan orang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Nada bicara Arzan yang terdengar dingin dengan wajah datarnya membuat mereka memprediksi jika Tiara dipanggil karena sudah berbuat kesalahan besar hingga dia turun tangan langsung. Berbeda dengan Arga yang hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar perintah yang diberikan bossnya itu.
Selama rapat berlangsung diantara mahasiswa magang hanya Tiara yang diminta Pak Edward menjelaskan secara rinci setiap draft program divisi pasaran. Bukan tanpa alasan Pak Edward melakukannya, karena banyak di antara program-program itu idenya datang dari Tiara.
Pak Edward dan staf divisi pemasaran sangat terbantu dengan hal itu sehingga ajuan draft program mereka akhirnya disetujui oleh direktur utama. Tapi entahlah dengan sang direktur utama yang hanya menanggapi dingin dengan ide-ide cemerlang Tiara, mungkin karena hal itu Tiara sampai dipanggil, pikir mereka.
"Si..si... silahkah, Tuan" jawab Pak Edward gugup, dirinya menjadi orang yang paling kaget saat mendengar Arzan meminta izin padanya untuk membawa Tiara. Ada rasa bersalah di hatinya jika Tiara sampai terkena masalah.
"Ikutlah denganku" ucap Arzan lembut pada Tiara, namun terdengar menyeramkan di telinga kebanyakan orang yang mendengarnya.
Arzan selalu tahu bagaimana cara menghargai kerja keras para karyawannya, namun dirinya pun terkenal dengan ketegasannya. Dia tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun jika itu mengancam keselamatan orang banyak dan perusahaannya.
Tidak hanya Edward yang terlihat begitu syok setelah mendengar permohonan Arzan yang lebih tepatnya terdengar seperti perintah. Danis dan Adrian terlihat tegang saat Arzan menunjuk Tiara. Alana dan Friska yang juga mahasiswa magang di divisi keuangan tak kalah terkejut.
Meskipun mereka tidak terlalu akrab dengan Tiara apalagi semenjak kasus yang menimpa ayah Tiara merebak di kampus kebanyakan mahasiswa hanya mengenal Tiara sebagai anak koruptor. Tetapi saat melihat Tiara berada dalam posisi seperti itu ada sedikit iba dalam hati mereka. Dalam hati mereka bertanya-tanya bagaimana nasib Tiara setelah ini. Setelah Tiara, mungkinkah giliran mereka yang akan dipanggil?
Arzan melanjutkan langkah kakinya diikuti Arga yang selalu setia berada di sampingnya. Tiara masih tampak ragu untuk mengikuti mereka, namun langkah Arga terhenti saat sadar tidak ada pergerakan dari Tiara. Dia pun menoleh ke arah gadis itu, dengan wajah dinginnya Arga memberi perintah lewat sorot matanya agar Tiara mengikuti dia.
Suasana ruangan rapat yang kembali mencair setelah rapat evaluasi selesai kini berubah kembali menjadi mencekam. Beberapa kepala memikirkan kesalahan apa yang dilakukan Tiara sehingga dirinya langsung dipanggil oleh direktur utama. Berdasarkan pengalaman selama ini Tuan Arzan jarang turun tangan dalam menghadapi masalah di perusahaan, asistennyalah yang selalu menjadi kepanjangan tangannya.
Tiara melangkahkan kakinya mengikuti Arga keluar dari ruang rapat setelah sebelumnya sempat melirik Pak Edward seolah mencari dukungan. Pak Edward hanya sedikit menganggukan kepalanya, tanpa senyum karena dirinya pun masih tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mahasiswa magang itu.
Arga mempersilahkan Tiara untuk masuk lebih dulu ke dalam ruangan yang tidak jauh dari ruang rapat itu. Tiara kembali menghentikan langkah, menoleh ke belakang dimana Arga berdiri.
"Mas Arga, ada apa Tuan memanggilku?" Tiara bertanya pada Arga setengah berbisik. Dia takut pertanyaannya di dengar oleh orang lain terutama Arzan.
"Entahlah" jawab Arga santai sambil mengangkat bahunya,
"Ayolah Mas, Mas Arga pasti tahu. Kasih saya bocoran sedikit saja biar enggak terlalu deg degan gini hati saya" ucap Tiara memohon, sejak Arzan menunjuknya di hadapan banyak orang jantung Tiara berdetak lebih cepat. Walaupun merasa tidak melakukan kesalahan tapi tetap saja dirinya merasa takut.
"Masuklah, tuan muda sudah menunggumu terlalu lama" Arga mempersilahkan Tiara untuk segera memasuki ruangan direktur utama. Arga tahu, Arzan paling tidak suka menunggu.
"Temani aku, Mas" gumam Tiara pelan tapi masih terdengar oleh Arga,
__ADS_1
"Kamu pikir aku berani masuk saat Tuan hanya memintamu yang masuk ke dalam?" sarkas Arga, membuat Tiara semakin panik. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan Arzan lakukan padanya.
"Huuhh..." Tiara membuang napasnya kasar, berusaha menghilangkan rasa yang membuat dadanya sesak,
"Berdo'alah yang banyak" cibir Arga dengan senyum yang tertahan, Tiara hanya mendelik melihat tingkah Arga yang membuatnya semakin kesal.
Tok....tok.....tok....
"Masuk!" terdengar suara yang tak asing di telinga Tiara menyuruhnya masuk. Tiara membuka pintu ruangan direktur utama itu perlahan dengan tangan sedikit gemetar.
"Assalamu'alaikum" ucapnya saat pintu sudah terbuka, dirinya melangkah memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya,
Tiara mengedarkan pandangannya memindai setiap sudut ruangan yang luas itu dengan interior yang menakjubkan matanya. Dia benar-benar kagum dengan ruangan milik suaminya itu, lagi-lagi Tiara terpesona dengan selera Arzan yang menurutnya di atas rata-rata.
"Tuan" Tiara memanggil Arzan karena tak kunjung mendapati siapapun berada di ruangan itu. Ucapan salamnya pun bahkan tidak berbalas,
Ceklek....tidak lama terdengar suara pintu terbuka. Arzan terlihat keluar dari sebuah ruangan. Sekilas dinding itu tidak terlihat seperti ruangan, pintunya didesain seolah seperti dinding biasa.
"Kamu sudah datang? kenapa lama sekali? apakah jarak ruang rapat dengan ruanganku bertambah? sampai kamu butuh waktu lebih lama untuk sampai ke ruanganku?" Arzan baru saja keluar tapi dia sudah mencerca Tiara dengan banyak pertanyaan bahkan dengan nada datar membuat Tiara beberapa kali mengerjap setiap mendengat pertanyaan keluar dari mulut Arzan.
"Kemarilah" ternyata Arzan berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, dia menepuk sofa kosong di sampingnya dan menyuruh Tiara untuk duduk,
Tiara menghela napasnya dalam, dia pun melangkahkan kakinya menuju sofa setelah merasa lebih tenang.
Tiara memilih duduk di sofa yang berada di depan Arzan dan kini mereka pun sudah duduk berhadapan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tiara bertanya dengan nada yang lembut, dia benar-benar sudah bisa menguasai dirinya, beberapa kesempatan sebelumnya membuat Tiara lebih tenang saat berhadapan dengan Arzan.
"Ckk" Arzan berdecak mendengar Tiara kembali memanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Kamu lupa harus memanggilku apa?" Arzan menatap Tiara dalam, dia benar-benar kesal mendengar panggilan itu.
"Saya ingat, tapi sekarang kan kita sedang di kantor" jawab Tiara apa adanya.
__ADS_1
"Kita sedang berdua, aku ingin mendengarmu memanggilku seperti tadi pagi" Arzan menyondongkan tubuhnya ke depan, dia memanggu dagunya dengan tangan kanan yang sikutnya bertumpu pada lutut yang terangkat lebih tinggi karena posisi duduknya yang bertumpang kaki.
"Mas...." ucap Tiara pelan, dia menundukkan kepalanya karena rasa gugup kembali melanda saat Arzan menatapnya begitu lekat,
"Aku tidak dengar?" jawab Arzan santai, dia masih tidak merubah posisinya saat ini.
"Mas, apa yang bisa aku bantu? ada apa Mas memanggilku kesini?" Tiara mendongak, dia berbicara dengan lancar sudah kembali bisa mengendalikan hatinya,
"Banyak" jawab Arzan singkat,
"Maksudnya?" tanya Tiara tidak faham,
"Banyak yang bisa kamu bantu untukku" jelas Arzan yang masih memfokuskan tatapannya pada Tiara,
"Apa yang bisa aku lakukan Mas?" tanya Tiara lagi, dia sedikit meninggikan intonasi bicaranya karena melihat suaminya seperti mempermainkannya.
"Duduk" jawab Arzan lagi singkat,
"Duduk?" Tiara mengernyit menatap Arzan penuh selidik,
"Iya, aku ingin melihatmu dan menikmati wajahmu sendiri sampai puas" jawab Arzan dengan senyum manis merekah di bibirnya, senyum yang sangat jarang Arzan tunjukan bahkan Tiara baru kali ini melihat senyuman itu . Senyuman yang membuat kadar ketampanan pria yang sudah jadi suaminya itu semakin meningkat berkali-kali lipat.
Sejenak Tiara terpana, tatapan mereka saling beradu. Tiara larut dalam lamunan menikmati pesona wajah tampan kekasih halalnya
"Sudah puas memandangi wajahku?" suara Arzan berhasil mengembalikan kesadaran Tiara, dia secepat kilat memalingkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya merona seketika, malu karena ketahuan menatap wajah tampan suaminya.
"Mas, kenapa lihatin aku terus?" Tiara mencoba mengelak, menutupi rasa malunya karena ketahuan terpesona dengan ketampanan suaminya,
"Karena aku suka, aku suka melihat wajah kamu. Apalagi saat berbicara seperti tadi, terlihat sangat keren " masih terbayang di benak Arzan bagaimana Tiara berbicara begitu lugas dan tegas namun dengan kata-kata yang santun dan mudah difahami membuat semua yang menyimak terpukau dengan penampilannya.
Blusshh......wajah Tiara kembali memerah mendapat pujian seperti itu dari Arzan.
"Kamu suka bekerja di sini?" Arzan melanjutkan bicaranya dengan bertanya pada Tiara yang sudah tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"Iya, Tuan" jawab Tiara pelan diiringi anggukan kepalanya,
"Kalau begitu lakukan apa yang kamu mau. Kamu terlihat semakin bersinar setelah melakukan apa yang kamu inginkan" pungkas Arzan menyempurnakan pujiannya untuk Tiara.