
"Aku memaafkan mas, lagi pula aku tidak punya cukup alasan untuk marah padamu. Aku tahu posisiku" jawab Tiara sendu setelah keheningan cukup lama tercipta pasca Arzan mengucapkan permohonan maafnya.
Arzan melirik Tiara sekilas, terlihat gurat kecewa terlukis di wajah istrinya membuat rasa bersalah di hati Arzan semakin menggebu.
"Sayang, tidak seperti itu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tolong jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi. Kamu berharga untukku sayang" Arzan berbicara banyak, bahkan hanya dalam satu tarikan nafas. Pikirannya benar-benar kacau, hatinya resah. Takut jika Tiara tiba-tiba meninggalkannya.
Tidak ada jawaban dari Tiara, gadis itu masih menatap lurus ke depan dengan tatapan datar. Entah apa yang dipikirkannya.
"Mommy......" teriakan gadis kecil yang tak asing di telinga Tiara berhasil membuyarkan lamunannya. Tiara tidak menyadari jika mobil yang ditumpanginya kini sudah berada di halaman kediaman El-Malik.
"Sudah sampai" gumam Tiara pelan namun terdengar jelas di telinga Arzan, dia sengaja tidak memberi tahu Tiara jika mereka sudah sampai,
Di dalam mobil, Arzan menikmati pemandangan pagi yang membuat hatinya sakit, menatap lekat istrinya yang anteng dalam lamunan. Arzan tahu Tiara pasti sedang memikirkan kejadian tadi pagi. Dia sendiri pun tidak habis pikir, bagaimana bisa dari bibirnya menyebut nama Mitha. Padahal semalam dia sadar betul sedang bersama siapa.
"Sayang, maafkan aku" Arzan meraih tangan Tiara yang akan membuka seatbell. Dia menatap Tiara dengan tatapan memohon.
"Iya Mas sama-sama, aku juga minta maaf" jawab Tiara mulai bisa mengontrol keadaan hatinya. Dia berkata dengan lembut menjawab pernyataan maaf Arzan namun terdengar semakin memilukan di telinga Arzan.
"Aku mengantar Qiana dulu dan akan langsung ke kantor" pamit Tiara, dia pun mencium punggung tangan suaminya yang sedang menggenggam tangannya kemudian melepaskannya lalu keluar dari dalam mobil tanpa menoleh lagi.
"Huuhhh....." Arzan mengeluarkan nafasnya kasar, pikirannya benar-benar kacau. Bingung bagaimana agar bisa membuat Tiara kembali bersikap seperti biasanya.
"Daddy....aku berangkat sekolah dulu ya" Qiana melongok dari luar jendela mobil Arzan yang terbuka, dia mengulurkan tangan untuk menyalami sang ayah.
"Iya sayang, baik-baik di sekolah ya" pesan Arzan untuk putrinya. Qiana pun mengangguk kan kepalanya, dia tersenyum dan berlalu menuju mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.
Di depan pintu mobil Arzan melihat Tiara tengah berdiri menunggu sang putri masuk. Dia membukakan pintu belakang mobil dan memastikan Qiana masuk setelahnya dia pun memutari mobil dan menyusul masuk dari pintu lainnya.
"Dadah Daddy...." teriak Qiana, melambaikan tangannya ke arah Arzan yang berdiri di depan pintu mobilnya.
"Dadah sayang, hati-hati di jalan" balas Arzan, mobil pun melaju diiringi lambaian tangan Arzan membalas lambaian tangan putrinya. Sementara Tiara tidak sedikit pun menoleh membuat Arzan semakin frustasi.
Derrrt.....derrrt.......
__ADS_1
Getaran ponsel di saku celananya mengusik Arzan, nama asisten sekaligus sahabatnya terpampang di layar pipihnya.
"Hallo...." Sapa Arzan setelah panggilan mereka terhubung, intonasi meninggi membuat Arga sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya di seberang sana.
"Boss masih dimana? aku langsung ke kantor atau harus menjemputmu?" Arga langsung pada inti tujuannya menelepon Arzan.
"Langsung saja ke kantor, sebentar lagu aku sampai" jawab Arzan,
"Baik Boss, jangan telat ya. Jam 9 kita ada meeting dengan perusahaan Nathan" jelas Arga mengingatkan,
"Ciih.....anak itu masih saja mau bekerja sama denganku" Arzan mendecih mendengar nama Nathan, dia akhirnya menyetujui pengajuan kerja sama perusahaan sahabatnya itu karena ayah Nathan yang menelepon. Memintanya untuk membantu Nathan dalam mengelola perusahaannya.
Arzan tidak bisa menolak, ayah Nathan adalah sahabat dekat almarhum ayahnya, orang yang juga turut berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan yang dirintis sang ayah. Mereka sudah bersahabat sejak dulu sebelum perusahaan ayah Arzan sukses seperti saat ini. Dan Ayah Nathan adalah sahabat yang selalu ada dan pasang badan untuk ayah Arzan dalam proses menuju kesuksesan itu.
Walaupun di masa lalu mereka berdua punya masalah pribadi, tapi Arzan cukup profesional untuk tidak melibatkan orang tua mereka dalam masalah pribadi mereka sehingga hubungan antara dua keluarga tetap terjalin dengan baik.
Persahabatan ayah mereka tidak jauh beda dengan persahabatan antara Arzan dan Nathan. Jalinan persahabatan mereka tak kalah erat namun itu dulu, sampai suatu ketika saat Arzan memasuki apartemen pribadi Nathan yang mendapati di setiap dinding dan sudutnya terdapat foto-foto Mitha dan Nathan masa sekolah menengah atas, dan foto-foto Mitha yang diambil Nathan secara diam-diam.
Perdebatan di antara mereka pun tidak terelakkan, hingga pada akhirnya sampai pada titik Nathan mengakui jika dirinya sudah mencintai Mitha jauh sebelum Arzan bertemu dengan Mitha.
Nathan bahkan menceritakan bagaimana dirinya akan mengungkapkan perasaan cintanya pada Mitha waktu itu namun rencananya kalah cepat dari Arzan.
Arzan sempat syok, kenyataan besar yang baru diketahuinya saat itu membuat hatinya diliputi kemarahan dan perasaan bersalah yang hadir di saat bersamaan.
Arzan marah karena bisa-bisanya sahabatnya itu jatuh cinta pada wanita yang telah sah menjadi istrinya. Namun rasa bersalah juga menyergap hati Arzan karena kehadirannya di antara mereka berdua sudah membuat Nathan terluka karena kasih tak sampainya.
Dulu Arzan memilih untuk menjauh dari Nathan, dia tidak ingin sahabatnya itu semakin terluka melihat kebersamaannya dengan Mitha karena untuk melepaskan istrinya diapun tidak sanggup.
"Hhe...." terdengar kekehan Arga di seberang sana saat mendengar Arzan mengumpat Nathan,
"Oke, siapkan semuanya. Tiga puluh menit lagi aku sampai ke kantor" pungkas Arzan mengakhiri perbincangannya dengan Arga di telepon. Dia pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada sang ibu sebelum pergi ke kantor.
☘️☘️☘️
__ADS_1
"Bagaimana? apa Tiara sudah bisa dihubungi?" Pak Edward kembali bertanya pada Danis dan Adrian, saat ini mereka sudah berada di ruang meeting perusahaan dan sedang menunggu kehadiran klien dan sang presdir. Keresahan sangat terlihat jelas di wajah-wajah mereka.
"Kenapa?" Alana, mahasiswa yang sama-sama magang di perusahaan itu namun berbeda divisi berbisik di telinga Adrian. Mereka pun turut hadir dalam meeting itu.
"Tiara belum datang, dia yang harusnya bertanggung jawab untuk presentasi" jawab Adrian tak kalah berbisik karena suasana ruang meeting sudah hening saat ini, beberapa petinggi perusahaan sedang asik mempelajari proyek yang akan mereka hadapi saat ini. Sebagian lagi anteng dengan ponselnya masing-masing.
Danis hanya menggelengkan kepalanya kepada Pa Edward, dia masih terus mencoba menghubungi hp Tiara yang tak kunjung terhubung itu.
"Presdir akan memasuki ruang rapat, semuanya dipersilahkan untuk bersiap" seorang staf sekretaris memberi tahukan pada semua yang hadir agar bersiap menyambut kehadiran presdir.
"Assalamu'alaikum" ucap Arzan dengan wajah datar memasuki ruang meeting dan diikuti oleh Nathan serta asisten-asisten mereka di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam" semua kompak menjawab, kebiasaan baru yang hadir dari Arzan beberapa bulan ini awalnya membuat semua orang heran, namun saat ini mereka mulai terbiasa dengan ucapan salam yang Arzan sampaikan di setiap awal pertemuan walaupun masih dengan wajah minim ekspresinya.
Staf sekretaris mulai membuka pertemuan setelah memastikan sang presdir dan klien yang hadir hari ini duduk dengan nyaman di tempatnya. Arzan mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang membuat hatinya resah.
Tiara belum tampak hadir, Arzan berkesimpulan jika istrinya itu pasti masih dalam perjalanan karena terlebih dahulu harus mengantar putrinya ke sekolah.
Rangkaian acara pun satu persatu terurai, sambutan Arzan yang disambung dengan perkenalan Nathan dan tujuannya berada di sana sudah terlewati dengan baik. Hingga tibalah giliran divisi pemasaran yang akan mempresentasikan programnya terkait proyek yang akan mereka hadapi sebagai bentuk kerja sama dua perusahaan besar itu.
Pak Edward nampak cemas dan ragu-ragu saat akan berdiri untuk melakukan presentasi. Dia akhirnya berinisiatif mengambil alih tugas yang harusnya dilakukan Tiara.
"Maaf Tuan, ada mahasiswa magang yang memaksa untuk masuk ke ruangan ini. Dia bilang harus mengikuti pertemuan ini namun terlambat datang" ucap salah satu staf sekretaris yang bertugas di depan ruang pertemuan.
"Maaf Tuan, sepertinya itu mahasiswa magang di divisi saya. Dia yang harusnya bertugas untuk melakukan presentasi hari ini" Pak Edward yang sudah berdiri di tempatnya akan melakukan presentasi memberanikan diri untuk berbicara.
Suasana tiba-tiba hening, semua telinga sepertinya sedang resah menunggu tanggapan sang presdir.
Tatapan tajam penuh intimidasi terlihat di wajah sang presdir. Pasalnya selama ini tidak pernah ada yang terlambat untuk mengikuti meeting dengan presdir, apalagi ini hanya mahasiswa magang. Berbagai spekulasi negatif hadir di benak masing-masing.
"Suruh dia masuk!" titah Arzan tanpa diduga, selama ini Arzan terkenal dengan kedisiplinannya. Namun hari ini dia mengizinkan seorang mahasiswa magang yang datang terlambat untuk masuk dan mengikuti meeting.
Semua membisu, aura dingin dan mencekam kembali menyergap saat melihat Tiara berdiri dan menghadap ke arah presdir setelah meminta maaf karena keterlambatannya.
__ADS_1