Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Ayo Kita Lakukan


__ADS_3

"Kapan Daddy pulang? Qiana tiba-tiba berteriak membuat Arzan terlonjak begitupun dengan Tiara,


"Hay, sayang..." Arzan berjongkok menyambut kehadiran putrinya, sementara Tiara segera menjauh beberapa langkah dengan membelakangi mereka. Tiara tidak ingin Qiana melihatnya dalam keadaan wajah yang memerah dan gugup.


"Daddy, kapan pulang? tadi daddy ngapain mommy?"


glekk.....pertanyaan kedua yang ingin dihindari Arzan, dia bingung harus menjawab apa.


"Semalam daddy pulang hampir pagi dan daddy sangat mengantuk sekali jadi langsung tidur. Tadi selepas shalat subuh daddy juga masih ngantuk jadi daddy tidur lagi dan sekarang baru bangun"


"Qia darimana sayang? habis ngapain ini tangannya putih-putih?" Arzan berusaha mengalihkan perhatian sang putri untuk menghindar dari pertanyaan yang dia sendiri masih bingung harus menjawab apa, tangannya meraih tangan mungil sang putri dan membolak baliknya, menunjuk beberapa bagian yang terkena adonan terigu.


"Aku habis bikin adonan buat masak tempe mendoan, tadi aku belajar sama mommy tapi Mbak Ana malah ngajak aku ngerjain di sana?" tunjuk Qiana ke arah pintu menuju teras belakang,


"Wah hebat sekali anak daddy, pasti masakan Qia enak. Daddy jadi laper" Arzan meringis sambil memegang perutnya, dia kembali menciptakan drama untuk mengalihkan perhatian sang putri.


"Ouh, daddy laper? sebentar daddy, masakan aku sebentar lagi selesai" Qiana beralih menuju Tiara yang masih membelakangi mereka yang kembali menyalakan kompor untuk menggoreng tempe mendoan setelah memastikan adonan tepungnya tercampur sempurna dan diberi beberapa bumbu.


"Mommy, daddy sudah laper" ucap Qiana sambil bergelayut manja di kaki Tiara,


"Iya sayang, sebentar lagi ya. Ini tinggal goreng tempe mendoannya saja. Sekarang Qia tunggu sama daddy ya" Tiara sedikit berjongkok saat berbicara pada Qiana, dia menyuruh sang putri untuk kembali bersama daddynya.


"Ini Bu" Ana menyerahkan potongan tempe yang sudah dipotongnya dengan tatapan menelisik. Dia melihat wajah majikannya itu masih memerah dan tampak gugup,


"Ibu sakit?" tanya Ana, membuat Tiara menghentikan gerakannya mengaduk adonan yang siap digoreng itu, begitupun Arzan yang masih mengobrol dengan sang putri menoleh ke arah Tiara mendengar pertanyaan Ana pada istrinya itu,


"Hah, enggak ko saya baik-baik saja" jawab Tiara dengan rasa gugup yang masih kentara, Tiara mengecilkan api kompornya setelah yakin minyak gorengnya sudah cukup panas.


"Tapi wajah ibu merah, sepertinya ibu kecapean. Istirahat saja biar saya yang melanjutkannya, sebentar lagi bi Asih juga datang dari pasar" Ana menawarkan diri, dia tidak tega melihat wajah Tiara yang terlihat seperti sedang sakit.

__ADS_1


"Mommy sakit? mommy istirahat saja ya, biar aku sama Mbak Ana yang ngerjain ini. Nanti kalau udah siap aku panggil mommy" Qiana yang mendengar hal itu pun segera turun dari kursi mini bar yang cukup tinggi untuknya dengan bantuan sang daddy,


" Mommy sini, biar aku periksa" dia menarik tangan Tiara agar berjongkok dan sejajar dengannya. Dia menempelkan punggung tangannya di kening Tiara, kemudian beralih ke pipi Tiara. Hal yang sama yang sering dilakukan Tiara untuk mengecek suhu anak sambungnya itu jika terlihat kurang bersemangat,


"Mommy tidak sakit sayang, terima kasih atas perhatiannya. Sekarang mommy mau melanjutkan masak tempe mendoan kesukaan kamu dulu ya, setelah ini kita makan bersama" Tiara mencubit manja pipi sang putri dengan gemas, senyum lebar menghiasi wajahnya. Terharu dengan perhatian yang diberikan putri sambungnya itu.


"Sepertinya mommy mu memang harus istirahat sayang. Ana, kamu lanjutkan pekerjaan ibu" titahnya pada Ana pengasuh Qiana, dia berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.


"Baik Tuan" jawab Anna sambil menganggukan kepalanya,


"Aku juga akan membantu Mbak Ana daddy biar mommy bisa istirahat" pekik Qiana tak kalah antusias,


"Good job sayang, tapi yang hati-hati ya. Turuti apa kata Mbak Ana. Mommy biar daddy bawa ke kamar untuk beristirahat" puji Arzan sambil menarik tangan Tiara agar ikut dengannya,


"Tapi Mas aku...." Tiara yang akan mengelak urung karena Arzan yang langsung menariknya dan berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.


"Thanks my princess, you are the best" gumamnya pelan,


"Sudah diamlah dan ikut denganku" ucap Arzan tegas, membuat Tiara tak mampu lagi menolak dia pasrah Arzan akan membawanya kemana.


Trekkkk..... terdengar suara pintu yang dikunci, Arzan tersenyum menyeringai saat Tiara menatapnya dengan membulatkan mata karena ternyata Arzan mengunci pintu kamarnya.


"Mas, aku...." lagi-lagi ucapan Tiara terhenti karena Arzan langsung membungkam Tiara dengan bibirnya, dia mendorong tubuh Tiara ke arah tempat tidur tanpa melepas pagutannya,


Tiara yang mendapat serangan mendadak pun tersentak, dia merasakan bibir Arzan menari-nari di bibirnya tanpa membalas. Tiara bingung apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini, sementara jantungnya berdegup begitu kencang dan pikirannya mendadak kosong.


"Buka sayang" titah Arzan, saat sejenak dia melepaskan pagutannya dan tidak menunggu lama dia kembali ******* bibir merah muda yang sudah membuatnya kecanduan itu.


"Mas...." Tiara mendesah saat tangan Arzan sudah bergerilia di area dadanya, tubuhnya benar-benar seperti tersengat listrik. Getaran aneh meliputi dadanya, pikirannya semakin kosong, dia terbuai dengan sentuhan lembut yang diberikan suaminya.

__ADS_1


Arzan kembali melepas pagutannya, posisi Tiara sudah terlentang di atas tempat tidur yang biasanya sendiri dia tempati.


Arzan mendudukan tubuhnya, tangannya terulur untuk membuka jilbab yang Tiara pakai. Tiara pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya, dia menatap wajah tampan pria yang sudah menikahinya beberapa bulan yang lalu. Tetapi baru kali ini Tiara melihat wajah suaminya itu dengan lekat, terlihat matanya berkabut gairah.


Tiara bangun dari tidurnya mengikuti suaminya, dia pun membantu sang suami melepas jilbabnya. Tiara faham apa yang diinginkan Arzan saat ini.


Arzan melepas ikat rambut yang mengikat rambut panjang Tiara, hingga berurailah rambut hitam panjang milik Tiara. Arzan mengusapnya lembut, dia kembali menatap Tiara penuh damba. Tatapan matanya seolah berbicara jika dia ingin meminta haknya sekarang.


"Aku harap kamu sudah siap" ucap Arzan lirih, dia merangkum pipi Tiara dengan kedua tangannya, mengecup kening, mata, hidung, bibir dan juga dagu Tiara.


"Aku yang harusnya bertanya Mas" Tiara memegang tangan Arzan yang masih merangkum pipinya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Arzan balik, dia masih belum faham maksud perkataan istrinya. Arzan kembali mengecup bibir Tiara sebelum bibir itu menjawab pertanyaannya,


"Apakah kamu sudah siap menjadikan aku istrimu seutuhnya? aku tidak mau jika kamu melakukan ini hanya untuk memuaskan hasrat biologismu saja. Sementara di hati dan pikiranmu semuanya masih tentang Mbak Mitha. Walaupun aku tidak berhak menolak karena aku adalah istrimu yang sah, tapi sejujurnya aku ingin merasakan indahnya dicintai oleh pasangan halalku"


Deg......Arzan tersentak mendengar perkataan Tiara, dia menyadari jika selama ini dia masih selalu berdalih jika hanya mitha istrinya dan di hatinya hanya ada Mitha, wanita yang sangat dia cintai.


Arzan beranjak dari duduknya, dia berjalan menuju dinding dimana terpajang foto pernikahannya dengan Mitha. Arzan mengambil foto itu, dia juga mengambil foto Mitha yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Arzan membuka lemari yang selama ini terkunci, dia membukanya dan betapa terkejutnya Tiara saat mengetahui jika di dalam lemari itu terdapat baju dan barang-barang wanita. Sepertinya itu semua adalah milik Mitha Almarhumah istri Arzan.


Arzan mengambil sebuah koper besar dari ruang tempatnya berganti baju. Di hadapan Tiara, dia memasukan semua barang-barang yang berhubungan dengan almarhumah istrinya tanpa keraguan sedikitpun. Wajahnya datar, tidak terlihat sedih atau pun senang saat melakukan semua itu.


Tiara yang melihat aksi Arzan seketika turun dari tempat tidur. Dia meraih tangan suaminya dan berhasil membuat Arzan berhenti.


"Mas, jangan seperti ini. Aku tidak akan memaksa mas untuk melakukan semua ini. Jika mas memang menginginkan hak mas atas diriku, silahkan lakukan" ucap Tiara lembut, dia menatap Arzan sendu. Perasan bersalah tiba-tiba menyergap hatinya, dia merasa sudah menjadi penyebab Arzan menyingkirkan semua hal tentang almarhumah Mitha.


"Tidak sayang, kamu benar. Seharusnya aku menyingkirkan semua ini sejak lama. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu terlalu lama. Aku tahu pasti hatimu sakit mengetahui aku masih menyimpan semua ini, dan hari ini aku akan menyingkirkannya dari kamarku dan perlahan dari hidupku. Walau pun aku masih belum sepenuhnya menghapus semua tentang Mitha di hati dan pikiranku, tapi percayalah aku akan terus berusaha. Dirimu sudah menempati tempat tertinggi di hati dan pikiranku. Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu Mutiara Lestari, sangat, aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu" Arzan berkata panjang lebar dengan lantang, tidak sedikitpun ada keraguan di wajahnya saat mengatakan semua itu. Senyuman pun terukir di bibir Tiara mendengar pengakuan suaminya itu.

__ADS_1


"Ayo kita lakukan, Mas" Tiara menarik tangan Arzan dan membawanya ke arah sofa yang biasa dia gunakan untuk tidurnya selama ini.


__ADS_2