
Tepat pukul delapan, Tiara sudah sampai di parkiran perusahaan besar itu. Dia rurun dengan terburu-buru dari gojek yang dinaikinya. Sejenak membenarkan jilbab yang kurang rapi setelah memakai helm. Segera Tiara menuju pintu utama lobby perusahaan itu, menuju lift khusus karyawan menuju lantai 10 tempatnya bekerja.
"Bagus, lain kali bikin perusahaan sendiri kalau mau datang seenaknya" baru juga datang Tiara sudah mendapat teguran dari seniornya.
Tiara melihat jam di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul delapan lewat tiga menit. Dia datang terlambat tiga menit rupanya. Tapi tetap saja Tiara menyadari jika dirinya memang terlambat.
"Maafkan saya Bu, lain kali tidak akan terulang lagi" ucap Tiara mengakui kesalahannya, dia berbicara sambil menundukkan kepalanya.
"Jelas ini tidak boleh terulang, karena sekali lagi kamu terlambat datang. Jangan harap bisa melanjutkan magang di sini" hardik Rena lagi, Dia merupakan senior Tiara di bagian pemasaran. Sudah mengabdi di perusahaan itu lebih dari dua tahun. Sejak awal kehadirannya di divisi itu, Rena memang terlihat sudah menunjukkan wajah judesnya pada Tiara, entah mengapa.
"Baik, Bu" Tiara pun berjalan menuju meja tempatnya, sekilas dia melirik Danis yang melihatnya iba. Tiara hanya mengangguk dan tersenyum merespon sikap Danis.
"Hari ini kita akan kedatangan tambahan mahasiswa magang baru" bisik Danis yang mendekat ke meja Tiara setelah beberapa saat berlalu.
"Oya?" hanya itu respon Tiara tanpa mengalihkan fokusnya memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"Kamu tahu siapa yang akan datang untuk magang di perusahaan ini?" susul Danis yang dijawab gelengan kepala oleh Tiara.
"Adrian" Danis menjeda ucapannya, sengaja dia ingin melihat respon Tiara saat dia mengucapkan nama itu. Nihil, Tiara bersikap biasa saja dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Kamu tidak tertarik?" pertanyaan Danis sontak menghentikan gerakan Tiara. Dia menatap tajam ke arah Danis yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Tertarik apanya? bukankah kita juga sama-sama mahasiswa magang di sini?" Tiara menjawab pertanyaan Danis dengan dua pertanyaan sekaligus.
Danis tersentak, dia sedikit salah tingkah dengan respon Tiara.
'' Tapi bukankah dia mantan kekasihmu? kisah percintaan kalian cukup viral lho di kampus" Danis terkekeh saat mengatakannya.
"Itu dulu" jawab Tiara singkat lagi-lagi tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Perhatian!" suara Darwin manajer pemasaran menghentikan obrolan mereka, Danis segera kembali menggeser kursi yang didudukinya ke tempatnya semula.
"Hari ini kita akan kedatangan tambahan mahasiswa magang baru di divisi kita, masih dari kampus yang sama dengan mahasiswa sebelumnya. Selain itu, pihak universitas juga akan berkunjung untung memantau kinerja kalian selama dua pekan ini. Bersiaplah, pukul sepuluh semuanya berkumpul di ruang rapat"
Sesuai pemberitahuan dari pihak universitas yang sudah diterima para mahasiswa magang bahwa setiap dua minggu mereka harus menyampaikan laporan kinerjanya selama magang di perusahaan, dan hari ini adalah jadwal laporan kinerja mahasiswa yang magang di kantor pusat El-Malik Grup. Tiara dan kawan-kawannya sudah menyiapkan laporan kinerja mereka.
"Baik, Pak!" intruksi sang manajer langsung ditanggapi serius oleh Tiara dan Danis yang saat ini ditempatkan di divisi pemasaran.
"Tiara, kamu tolong bantu saya di ruangan saya" Tiara pun beranjak dari tempatnya dan menuju ke ruangan sang manajer.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Tiara masih berkutat dengan berkas-berkas yang diberikan oleh manajernya langsung untuk diperiksa kembali olehnya. Sebelumnya dia pernah menemukan laporan yang diserahkan karyawan seniornya namun ternyata masih terdapat kesalahan. Sejak saat itu diam-diam sang manajer pemasaran memperhatikan kinerja Tiara yang dianggapnya lebih teliti dan cermat dalam hal sekecil apapun.
"Tiara, sudah selesai?" Darwin datang menanyakan pekerjaan yang diserahkannya pada Tiara.
"Satu berkas lagi Pak" Tiara menjawab tanpa mengalihkan, dia masih fokus pada layar komputer dan berkas yang sedang diperiksanya.
"Pak" panggilan Tiara menghentikan langkah Darwin yang akan keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Saya menemukan ada ketidak sesuaian antara laporan ini dengan data dari bagian gudang" ucapnya menunjukkan hasil temuannya, Darwin pun membacanya dengan cermat.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kamu print out semua bukti ini dan serahkan pada saya. Kita harus langsung melaporkannya ke presdir sebelum para oknum itu menjadikan saya kambing hitam" ucap Darwin dengan menggebu, sejak beberapa bulan ke belakang dia merasa ada sesuatu yang terjadi di divisi yang dipimpinnya, beberapa bawahannya beberapa kali bersikap mencurigakan, namun karena hasil laporan yang mereka berikan selalu sesuai Darwin pun menepis dugaannya. Tapi kali ini, dia mendapatkan bukti yang sudah tidak terbantahkan lagi, dan ini bisa menjadi data yang cukup untuk dia mengungkap kemungkinan adanya korupsi di divisinya yang bekerja sama dengan bagian gudang.
"Baik, Pak" Tiara pun segera memprint out semua data yang dibutuhkan yang ada di komputer.
"Sudah? sekarang ayo kita ke ruang pertemuan. Kamu sudah siapkan laporan kinerja kamu selama dua minggu ini?"
Darwin mengajak Tiara untuk menuju ruang rapat sambil mengobrol mereka pun keluar dari ruangan manajer pemasaran itu.
"Sudah, Pak" jawab Tiara dengan senyum ramahnya dan dijawab dengan acungan jempol oleh Darwin.
Semua orang tampak sudah hadir di ruangan rapat dan sedang menunggu sang pemimpin utama perusahaan. Profesor Kemal yang juga hadir saat itu tidak melepaskan pandangannya dari Tiara sejak gadis itu memasuki ruangannya. Tiara yang berjalan membawa berkas di belakang Darwin hanya menganggukkan kepala pada semua orang saat memasuki ruangan itu.
"Tiara, kamu duduk di sini" Friska dan Alana yang sudah lebih dulu duduk di barisan para mahasiswa magang pun menarik tangan Tiara dan menyuruhnya duduk di kursi yang sejajar dengan mereka.
"Iya, terima kasih" Tiara pun duduk, tanpa dia sadari jika di samping kirinya Adrian sudah lebih dulu duduk.
"Apa kabar?" bisiknya di dekat telinga Tiara.
Deg...mendengar suara yang tak asing di telinganya Tiara pun terhenyak, bagaimana pun suara laki-laki itu adalah suara yang hampir dua tahun bersama dengannya dan meninggalkannya tanpa ada kejelasan, hubungan merekapun selesai tanpa ada kata usai.
"Baik" Tiara menjawab singkat tanpa merubah posisinya yang tetap memandang ke depan, dan segera berdiri saat semua orang pun berdiri menyambut kedatangan presdir perusahaan itu.
"Kamu makin cantik" Adrian kembali berbisik di dekat telinga Tiara, tanpa mereka sadari interaksi itu tidak lepas sari tatapan sang presdir yang baru saja menduduki kursi kebesarannya.
Tiba giliran Tiara untuk menyampaikan laporan kinerjanya, Tiara maju ke depan dengan membawa bahan presentasinya. Selain menyampaikan hasil kinerja beberapa pekan ke belakang, para mahasiswa juga diminta memaparkan rencana ke depan sesuai dengan arahan manajer masing-masing.
Tiara menyampaikan laporannya dengan singkat, padat dan jelas. Semua kinerjanya sudah dia buat dalam bentuk slide disertai evidence yang kuat berupa video dan foto. Dia pun memaparkan rencana ke depan dengan ide-ide yang cukup brilian untuk menunjang pencapaian program di divisinya.
Semua orang bertepuk tangan, Darwin dan Kemal sampai melakukan standing applause di akhir presentasi Tiara. Begitu pun dengan para mahasiswa magang lainnya. Termasuk Arzan sang presdir yang entah disadari atau tidak tidak melepaskan pandangannya sejak Tiara memulai presentasinya hingga akhir. Arga sang asisten yang duduk tidak jauh dari bossnya itu pun tersenyum terkulum memperhatikan tingkah atasan sekaligus sahabatnya itu. Dia sempat mengacungkan dua jempolnya saat bersitatap dengan Tiara.
Tiara pun kembali ke tempat duduknya, lagi-lagi Adrian membisikan sesuatu "Kamu memang selalu tampil mempesona" bisiknya, membuat Tiara geram dengan tingkah mantan kekasihnya itu.
Rapat pun dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab, tiga orang dosen termasuk Kemal yang datang mengajukan berbagai pertanyaan terkait laporan kinerja mereka yang disesuaikan dengan teori-teori yang mereka pelajari di kampus. Tidak hanya dosen-dosen tersebut yang berkesempatan mengajukan pertanyaan tapi juga para manajer termasuk pimpinan tertinggi perusahaan diberi kesempatan untuk menguji hasil kinerja mahasiswa magang.
Friska dan Alana yang di tempatkan di divisi keuangan dan HRD terlihat sempat kewalahan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh pihak perusahaan, namun kendatipun demikian mereka bisa melaluinya dengan baik. Danis dan Tiara yang kebetulan ditempatkan di divisi yang sama pun turut tegang dengan momen ini.
Danis melewati sesi ini dengan lancar, sebagai mahasiswa berprestasi semua yang berhubungan dengan teori adalah hal yang tidak sulit untuknya. Hingga tiba giliran Tiara, tidak menampik dirinya merasakan kegugupan yang luar biasa apalagi Tiara menyadari sejak tadi Arzan tidak lepas menatapnya.
Sama halnya dengan Danis, Tiara pun dapat menjawab semua pertanyaan dosen dan manajernya. Darwin bahkan tampak puas dengan jawaban Tiara yang menurutnya bisa dijadikan solusi untuk permasalahan yang tengah di hadapi divisinya. Dia bahkan mempromosikan Tiara di hadapan semua pimpinan bahwa dirinya sangat banyak terbantu sejak kehadiran Tiara. Darwin pun meminta Tiara menguraikan setiap jawaban dari pertanyaannya dalam bentuk laporan tertulis untuk diajukan ke pimpinan.
Tiba giliran Arzan untuk bertanya, dia lagi-lagi menatap Tiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Sempat terjadi keheningan karena Arzan hanya menatap Tiara tanpa bertanya, sampai Arga mengingatkannya.
"Boss" Arga menyentuh lengan sang boss membuat Arzan sedikit terlonjak.
"Pertanyaannya" bisik Arga.
__ADS_1
"Eheumm" Arzan berdehem untuk menetralkan pikirannya, dia pun melontarkan pertanyaan tentang strategi pemasaran untuk produk terbaru yang akan diluncurkan oleh perusahaannya.
Tiara sejenak terdiam, dia sempat melirik
Darwin yang juga terlihat bingung. Pasalnya produk tersebut belum sampai ke divisi pemasaran bahkan ide pengadaan produk tersebut pun masih digodog di tingkat pimpinan tertinggi karena produk tersebut berbeda dari ciri khas produk yang sebelumnya diluncurkan perusahaan.
Selama ini produk makanan yang dikelola perusahaan El-Malik adalah produk makanan yang mengutamakan kesehatan dan nilai gizi yang sesuai bahkan nyaris tidak menggunakan pewarna dan pengawet berbahan kimia, perusahaan memiliki para ahli yang bekerja keras untuk itu.
Sementara produk yang diajukan oleh tim produksi adalah produk instan yang saat ini sedang trending di kalangan remaja yang tentunya akan mengandung pengawet. Arzan masih belum memutuskan, dia masih kurang setuju dengan penggunaan pengawet pada produknya.
Semua orang ikut tegang dalam situasi ini, mereka sangat mengetahui jika presdir tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun. Arzan yang dikenal tegas dan minim ekspresi itu adalah sosok yang paling disegani tidak hanya oleh bawahannya tapi juga oleh rekan bisnisnya.
Tiara menarik napasnya panjang, dia memutar otak untuk menjawab pertanyaan dari petinggi perusahaan yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Untuk mengembangkan suatu produk, dibutuhkan perencanaan yang matang. Agar penjualan mengalami peningkatan, selain perencanaan, perusahaan juga membutuhkan eksekusi yang tepat agar pemborosan dapat diminimalisasi" Tiara kembali menjeda kalimatnya dengan menghela nafasnya. Semua orang fokus menatap ke arahnya menanti kelanjutan pemaparannya.
"Ketika membuat makanan, beberapa orang kerap menginginkan makanan bisa dimakan di lain waktu alias tidak langsung habis saat itu juga. Untuk mendapatkan makanan agar bisa tahan lama, maka perlu mengawetkan makanan dengan cara yang tepat dan aman"
"Umumnya, pengawet makanan biasa digunakan oleh produsen makanan agar produk olahan yang dibuatnya menjadi tahan lama dan tak mudah busuk. Pasalnya, fungsi penambahan bahan pengawet makanan ini bisa meningkatkan kualitas produk makanan tersebut. Pengawet makanan bisa mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk sehingga memperpanjang daya simpan"
"Namun, perlu diperhatikan juga selama ini jika perusahaan kita sangat menghindari hal tersebut. Karena tidak semua pengawet aman digunakan. Bahkan sebagian besar bisa membahayakan kesehatan. Jika salah memilih atau mengonsumsi makanan dengan pengawet yang salah bisa menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek seperti infeksi saluran pernapasan dan diare. Bisa juga mengganggu kesehatan jangka panjang seperti kerusakan jantung dan ginjal"
"Tetapi kita tidak bisa menghindari dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, pasar lebih menyukai makanan kekinian yang bahkan menjadi trend di kalangan para remaja. Jika memang kita ingin mengikuti perkembangan pasar, jelas produksi makanan tersebut akan memberikan keuntungan yang luar biasa pada perusahaan. Tidak ada salahnya kita memproduksi makanan tersebut dengan catatan tetap menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama"
"Oleh karena itu, ada baiknya untuk menggunakan bahan pengawet makanan secara alami. Penggunaan pengawet dari bahan alami bisa mengurangi risiko munculnya masalah kesehatan"
"Untuk lebih jelasnya perihal apa saja pengawet alami yang bisa digunakan saya rasa para ahli gizi di bagian produksi lebih memahami itu. Inovasi dalam penggunaan pengawet yang aman sangat dibutukan, dan hal itu mwnjadi bagian tim produksi"
"Untuk strategi pemasaran, saya rasa menggunakan tag pengawet alami yang aman untuk kesehatan akan menjadinbahan pertimbangan bagi konsumen memilih produk yang lebih aman"
"Hal-hal lain terkait strategi pemasaran, kami akan menyusunnya setelah produk tersebut benar-benar ada dengan memperhatikan segala kelebihan dan ciri khas dari produk tersebut. Sekian, terima kasih"
Prok..prok...prok...tepuk tangan pun menggema di ruangan rapat yang menampung kurang lebih tiga puluh orang itu.
Pertemuan pun telah usai, berakhir dengan decak kagum beberapa petinggi perusahaan akan pemaparan Tiara yang notabene hanya sebagai mahasiswa magang. Di ruang rapat, masih tampak beberapa orang yang mengobrol, termasuk Tiara yang sedang mengobrol dengan Darwin dan rekan-rekan mahasiswa lainnya. Adrian pun tampak mendekati gadis itu.
Sementara Arzan terlihat sedang mengobrol dengan Kemal namun pandangannya tak lepas dari Tiara.
"Aku rasa kamu sudah membidik mahasiswaku yang akan dijadikan karyawan tetap di perusahaan ini" Kemal membuka obrolan.
"Heumm" jawaban Arzan yang masih tak lepas dari memandangi Tiara yang terlihat semakin akrab saat mengobrol dengan Danis dan Darwin.
"Aku hanya mau titip, dia seseorang yang istimewa untukku. Tolong jaga dia" sontak ucapan Kemal kali ini mengalihkan fokus Arzan, dia sampai merubah posisi duduknya menjadi tegak saat mendengar Kemal mengatakan itu
"Maksud kamu?" tanya Arzan penasaran.
"Dia" Kemal menunjuk ke arah Tiara, arah pandang Arzan pun mengikuti telunjuk Kemal, dan betapa kagetnya dia saat tahu jika Tiara adalah orang yang ditunjuk Kemal.
__ADS_1
Arzan menoleh ke arah Kemal yang tampak tersenyum sambil menatap Tiara dengan tatapan memuja.