
"Aku sadar, selama ini kami sekedar dekat namun tanpa ikatan. Sekedar teman, namun entah mengapa ada rasa takut kehilangan dalam hatiku" Rianti menatap lurus ke depan, hamparan rumput yang cukup luas di taman halaman belakang rumah Tiara menjadi tempatnya berada saat ini.
Sejak kembalinya Tiara, Arzan memang menjadi suami siaga sekaligus idaman. Lahan kosong yang ada di belakang rumahnya dia sulap menjadi taman yang indah dengan padang rumput yang cukup luas. Sengaja dia melakukannya, mempersiapkan arena bermain untuk anak-anaknya kelak.
Saat ini mereka tengah duduk berdua di bangku taman itu. Hari ini adalah hari yang melelahkan, tidak hanya untuk Tiara tetapi juga semua orang yang ada di rumah itu. Mereka semua sibuk menyiapkan acara sore ini agar terlaksana dengan baik sesuai harapan.
Tetapi walaupun rasa lelah Tiara rasakan, dia masih berusaha bertahan. Dia ingin menemani hari yang cukup berat untuk sahabatnya itu. Tidak hanya lelah badan yang Rianti rasakan, tapi juga hati yang remuk karena dihantam kenyataan.
"Aku mengerti perasaan kamu, aku tahu bagaimana rasanya mencintai orang lain yang tidak mencintai kita. Dan hal yang paling menyedihkan adalah ketika kita mencintainya namun dia justru mencintai orang lain. Sekuat apapun kita berusaha kalau memang bukan kita yang diinginkannya makanya semuanya akan berakhir menyakitkan" pikiran Tiara pun tak kalah jauh menerawang, dirinya teringat kembali masa-masa awal pernikahannya dengan Arzan. Bagaimana dirinya berusaha untuk menjadi istri yang baik namun di hati suaminya masih ada wanita lain.
Selepas acara syukuran semua orang berangsur pergi. Kehadiran Mikha dan Nathan adalah tamu terakhir mereka. Tiara berusaha ramah dan bersikap biasa saat melihat bagaimana Nathan menunjukkan perhatiannya pada Mikha, walaupun dalam hatinya dia tidak nyaman melihat Rianti yang terlihat sedih menyaksikan semuanya.
"Aku sudah siapkan semuanya, jangan khawatir aku enggak apa-apa ko. Saat ini aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri" Rianti menoleh ke arah Tiara yang duduk di sampingnya dengan senyum yang dibuat secerah mungkin, dia tahu sahabatnya itu mengkhawatirkannya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak selemah yang kamu pikirkan. Sana masuk, ibu hamil gak boleh lama-lama ada di luar nanti masuk angin" Rianti menyuruh Tiara untuk segera masuk. Hari sudah semakin malam, selepas shalat maghrib Rianti memang memilih untuk duduk di taman dan ternyata Tiara mengikutinya.
"Iya, aku tahu kamu tidak selemah itu. Tapi aku hanya ingin menghiburmu. Di saat aku sedang terpuruk kamu selalu ada untukku, dan sekarang giliran aku melakukan hal yang sama untukmu" Tiara memeluk erat Rianti daei samping, dia mengusap-usapnya mencoba mengalirkan energi positif sebagai dukungan untuk sahabatnya itu. Meyakinkannya bahwa dia akan selalu ada untuk sahabatnya.
"Setiap orang memiliki proses masing-masing untuk menuju akhir yang bahagia. Aku yakin, pada saatnya nanti akan ada laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus, menerimamu apa adanya, menjadikan kekuranganmu sebagai sumber pahala untuknya dan menjadikan kelebihanmu sebagai sumber kebahagiaannya." ucap Tiara tulus dan di aminkan oleh Rianti.
"Yakinlah, jodohmu pasti bertamu jadi persiapkan diri dengan ilmu, sepakat?" Tiara menyodor tangan kanannya untuk berjabat, namun Rianti hanya menatap Tiara dengan mata berkaca, dia beruntung mempunyai sahabat seperti Tiara.
"Sepakat?" ulang Tiara dengan tangan yang masih menggantung,
"Hehe...iya-iya aku terima, dan aku sudah merasakannya. Tapi sekarang tolong turuti aku ya, kamu sedang mengandung, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan calon keponakanku" ucap Rianti seraya berdiri dan menuntun Tiara untuk berdiri juga.
"Kalian ternyata di sini" suara seseorang yang tidak lain adalah Nathan membuat kedua wanita itu kompak menoleh,
"Pak Nathan di sini? bukankah tadi sudah pulang?" Tiara menjadi orang pertama yang memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa saat, dia berjalan mendekati Nathan. Sementara Rianti dia masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Iya, ada sesuatu yang harus aku selesaikan" ucap Nathan menoleh ke arah Rianti,
"Sayang, sudah waktunya beristirahat" Arzan yang baru saja selesai menandatangani berkas-berkas perusahaan yang di bawa Arga segera menuju taman untuk menemui istrinya.
Dia tahu jika sang istri berada di sana karena tadi pamit untuk menemani sahabatnya, sementara dirinya menuju ruang kerja bersama Arga.
"Iya Mas, aku juga mau masuk" jawab Tiara yang langsung mendapat rangkulan dari suaminya.
"Lu ngapain masih di sini?" tanya Arzan ketus pada Nathan,
__ADS_1
"Ada yang harus gue selesaikan" jawaban dengan nada yang sama diberikan Nathan, dia kembali menatap ke arah Rianti yang memilih duduk membelakangi mereka,
"Cih... dari dulu masalah lu gitu-gitu aja" ejek Arzan,
"Setidaknya gue lebih gentle dan gercep" balas Nathan tak kalah menyindir,
"Cih" Arzan kembali berdecih,
Melihat perseteruan dua sahabat itu Tiara pun hanya geleng-gelang kepala.
"Mas, ayo kita masuk. Aku lelah" Tiara mengambil alih pembicaraan, jika dibiarkan mereka akan terus berdebat.
"Iya sayang, ayo" Arzan pun melenggang sambil terus merangkul bahu Tiara masuk ke dalam rumah mereka.
Kamar tidur yang sudah berpindah di lantai satu pun menjadi tempat Tiara dan Arzan melepas lelah setelah acara hari ini. Tiara sudah terlihat lebih segar setelah membersihkan diri, dia sudah berbalut mukena menunggu suaminya yang masih berada di kamar mandi untuk shalat Isya berjamaah.
Tok...tok...tok...
"Sebentar" ucap Tiara yang sudah duduk di atas sajadah menunggu suaminya saat ada yang mengetuk pintu kamarnya,
"Ada apa Mbak Ana?" ternyata Ana, pengasuh Qiana yang datang.
"Tuan sedang mandi?" tanya Arga yakin,
"Iya, Mas Arga ada perlu? mohon tunggu ya" jawab Tiara,
"Tidak, aku ada perlu padamu" dalam situasi tertentu panggilan mereka adalah aku kamu tanpa embel-embel apapun,
"Ada apa?" tanya Tiara heran,
"Bu, saya permisi mau kembali ke kamar" Ana yang melihat akan ada obrolan penting antara majikannya berinisiatif untuk pergi,
"Sebentar Mbak Ana, temani saya" titah Tiara yang merasa tidak nyaman jika harus mengobrol berdua dengan Arga,
"Baik Bu" jawab Ana sedikit ragu, dia pun sekilas melirik Arga yang hanya berwajah datar.
"Aku hanya ingin memberi tahumu, jika aku akan mengantar pulang sahabatmu" ucap Arga to the point, dia memang tidak suka berbasa basi dalam hal apapun.
"Benarkah? apakah Pak Nathan tidak mengantarnya?" tanya Tiara penasaran,
__ADS_1
"Sepertinya gadis itu yang menolak" jawab Arga penuh percaya diri,
"Baiklah kalau begitu, aku titipkan sahabatku sama Mas Arga. Tolong antarkan dia ke rumah dengan selamat, dan pastikan tidak ada yang berkurang apapun darinya" ucap Tiara dengan senyum menyeringai menggoda Arga.
"Aku jamin" jawab Arga singkat, andai tidak ada Ana dia pasti sudah menyentil dahi Tiara,
"Haha....baiklah, kalian hati-hatilah di jalan" pungkas Tiara dengan masih menyisakan tawa karena dia tahu Arga geram dengan candaannya,
"Mbak Ana, terima kasih ya. Sekarang Mbak beristirahatlah, pasti lelah kan?" Tiara beralih pada Ana,
"Baik Bu, ibu juga segera beristirahat. Selamat malam" ucap Ana sopan, dia undur diri menyusul Arga yang sudah lebih dulu pergi dari sana. Sejak Tiara kembali bersatu dengan Arzan, Ana sengaja mengubah panggilannya pada Tiara.
"Siapa sayang?" Arzan baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Mbak Ana dan Mas Arga" jawab Tiara kembali bersimpuh di atas sajadah menunggu suaminya yang sedang memakai baju.
"Ngapain si Arga menemui kamu?" Arzan mendadak ketus ketika mendengar Arga menemui istrinya.
"Dia minta izin untuk mengantarkan Rianti" jawab Tiara dengan senyum terkulum,
"Cih..."
"Aku iqamah ya..." Tiara mengambil jalan singkat untuk mengakhiri kekesalan suaminya.
Shalat berjama'ah pun usai, mereka berdua kini sudah bersiap untuk mengistirahatkan raga yang lelah.
"Mas, Alhamdulillah ya acaranya berjalan lancar, aku senang semua turut berbahagia atas kebahagiaan kita" Tiara menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang sudah memberi kode agar Tiara mendekat.
"Kamu lelah?" tanya Arzan,
"Iya Mas" jawab Tiara apa adanya,
"Kalau begitu aku akan menghilangkan lelahmu" ujarnya dengan senyum menyeringai,
"Mas, apaan sih..." Tiara yang mengerti bahasa tubuh suaminya berusaha menghindar, namun gairah yang sudah terpendam beberapa bulan ini membuat Arzan tak mampu menahan diri ketika istrinya baik-baik saja berdekatan dengannya.
"Mas...." lenguhan pun keluar dari bibir Tiara, tak kuasa menolak sentuhan lembut suaminya yang selalu tahu bagaimana memanjakan dirinya.
Malam semakin merangkak naik, penghuni rumah sudah berada di alam mimpinya masing-masing. Kecuali dua orang yang menjadi pemeran utama di acara hari ini, mereka masih terjaga dengan saling memberi kenikmatan.
__ADS_1