
Sesuai perintah sang petinggi perusahaan. Selama sebulan ini Tiara selalu pulang sesuai jam kantor seperti biasanya. Pukul empat sore dia sudah bersiap untuk pulang dan akan langsung menuju kediaman El-Malik untuk melaksanakan tugasnya. Sampai saat ini Tiara masih bisa menghandle kebutuhan keuangannya, secara gaji yang dia dapat sebagai pengasuh tambahan tuan putri keluarga El-Malik ternyata lebih dari cukup, sungguh di luar prediksinya.
Tiara sempat menanyakan perihal besaran gajinya tersebut kepada nyonya besar di rumah itu yang menurutnya terlalu besar untuk jam kerja yang hanya beberapa jam. Ternyata nyonya Ratna bilang jika itu adalah perintah putranya, tuan muda Arzan.
Nyonya Ratna pun mengucapkan banyak terima kasih karena telah menjadi bagian dari pendidikan cucu kesayangannya Qiana. Setiap malam saat menemani tidur tuan putri, Tiara selalu mengajak Qiana untuk membaca surat-surat pendek dan do'a-do'a. Hingga kini Qiana sudah menguasai banyak hafalan surat-surat pendek dan juga do'a-do'a.
Seperti malam ini, sehubungan pekerjaan kantor selesai lebih cepat dan tidak ada pertemuan yang harus Arzan hadiri, pria satu anak yang masih tampak sangat muda ini memutuskan untuk pulang cepat. Dan alangkah terharunya dia saat melewati kamar putrinya untuk melihat keadaannya ternyata Tiara masih ada di sana dan sedang bercerita mengisahkan kisah nabi Musa yang terpaksa harus dihanyutkan di sungai Nil karena keadaan, namun Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah kepada hambaNya yang selalu menyandarkan segala urusannya padaNya Nabi Musa justru mendapatkan ibu pengganti yang sangat menyayanginya hingga akhirnya diapun kembali dipertemukan dengan ibu kandungnya.
"Kakak cantik....mommynya Qia kan juga udah enggak ada tapi kenapa Allah belum ngasih Qia mommy baru? kakak cantik mau enggak jadi mommy barunya Qia, mau ya?" Qia melontarkan pertanyaan yang jauh di luar prediksinya, Tiara tidak tahu saja jika anak itu pun pernah mengungkapkan keinginannya kepada daddynya.
Tiara terdiam, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan mau tapi Tiara pun tidak ingin melihat anak asuhnya itu kecewa ketika dia mengatakan tidak mau.
"Qia sayang, sekarang sudah mau hampir jam sembilan malam dan sudah waktunya Qia tidur biar besok shalat subuhnya tidak kesiangan. Anak shaleh kan gak boleh telat shalat subuhnya, biar makin disayang sama Allah" Tiara berusaha mengalihkan pertanyaan Qiana ke hal lain, untunglah anak cantik itu penurut. Dia pun memejamkan matanya dan meminta Tiara untuk memeluknya.
Sepuluh menit berlalu, dengkuran halus sudah terdengar di antara deru nafas Qiana. Perlahan Tiara melepaskan pelukannya, dengan pelan-pelan dia turun dari ranjang anak asuhnya itu.
Di depan cermin masih di kamar Qia, dia merapikan jilbab dan atasan kemeja yang sama yang dipakainya ke perusahaan. Nyonya Ratna sudah berpesan bahwa dia akan pulang agak malam malam ini karena ada undangan saudaranya yang akan berangkat umrah. Mbak Ana juga sedang izin pilang kampung sudah dua hari, besok katanya dia baru akan kembali. Tinggallah ART yang yang bertugas memasak, bagian pakaian dan bersih-bersih rumah mungkin sekarang mereka sudah berada di kamar masing-masing karena waktu sudah menunjukkan jan sembilan malam.
Tiara keluar dari kamar Qiana, lampu utama sudah dimatikan beralih menjadi lampu temaram. Tiara mengambil tas yang disimpannya di ruang belakang. Tanpa Tiara sadari jika sepasang mata mengintai semua gerak geriknya.
__ADS_1
Setelah memastikan semuanya tidak ada yang ketinggalan Tiara menuju pintu samping. Pintu yang biasa dia gunakan jika pulang.
"Sudah mau pulang?" suara yang tak asing mengagetkan Tiara, dia sampai menghentikan langkah dan memegangi dadanya karena kaget
"Tuan, anda mengagetkanku" ucapnya dengan nafas yang belum stabil karena kaget.
"Dengan siapa kamu pulang?"Arzan kembali bertanya di antara remangnya pencahayaan ruangan itu.
"Sendiri Tuan" jawab Tiara sejujurnya.
"Aku akan mengantarkanmu" Arzan keluar dari pintu samping yang langsung menuju garasi dimana beberapa mobil dan motor yang berderet rapi di sana.
"Cepatlah" tanpa menerima penolakan Arzan memerintah tanpa mempedulikan apa yang baru saja dikatakan Tiara.
Suasana di dalam hening, setelah dengan canggung Tiara memasuki mobil yang pintunya telah dibuka oleh Arzan, tidak menyangka majikannya itu bisa juga berbuat manis pada orang lain dengan membukakan pintu mobil bagian depan untuknya.
"Mami sudah menyampaikan sesuatu padamu?" Arzan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bukan tanpa alasan dia mengantar Tiara pulang. Kesempatan ini digunakannya untuk berbicara empat mata dengan pengasuh putrinya itu.
"Tentang apa Tuan? kebetulan dua hari ini saya tidak bertemu dengan Nyonya Ratna" jawab Tiara apa adanya.
__ADS_1
"Ya, saat ini mami sedang ada di rumah tante Ratih. Aku hanya mau bilang jika esok atau lusa mami mungkin akan memintamu untuk menjadi ibu sambungnya Qiana"
Deg.....informasi yang membuat Tiara sangat syok, dia tidak menyangka informasi ini akan dia peroleh langsung dari orang yang bersangkutan.
Tak ada yang bisa Tiara katakan untuk merespon perkataan majikannya itu. Lidahnya seakan kelu, pikirannya buntu. Tak pernah terlintas dibenaknya untuk berada di situasi seperti ini.
Beberapa hari yang lalu Nyonya Ratna memang sengaja datang menemui putranya ke kantor untuk membicarakan ini. Permintaan Qiana untuk memiliki Mommy dan menjadikan Tiara mommy nya sungguh membuat hati nyonya besar El-Malik itu sangat teriris. Dia dengan sungguh-sungguh meminta sang putra untuk mengabulkan keinginan cucu semata wayangnya itu, sudah cukup untuknya enam tahun lebih menjadi single parent dan menjadikan Almarhumah istrinya satu-satunya perempuan yang menghuni hatinya. Dan Tiara adalah satu-satunya wanita yang bisa menyentuh hati Qiana, tanpa ada yang menyuruh Qiana dengan sendirinya yang meminta agar Tiara menjadi mommynya, Arzan bahkan mendengarnya sendiri.
"Aku hanya mau bilang, apapun yang akan kamu jawab aku tidak masalah. Sebagai seorang ayah mami benar aku tidak boleh egois, aku harus fahami juga kebutuhan Qiana akan sosok seorang ibu dan kurasa itu ada di dirimu" Arzan menghela nafas menjeda ucapannya, sekilas dia melirik ke arah Tiara yang tetap dengan pandangan lurus ke depan. Arzan pun memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.
"Namun sebagai seorang laki-laki, maaf jika sampai saat ini dan sampai kapan pun di hatiku hanya ada Mitha, satu-satunya wanita yang aku cintai dan menempati hatiku selamanya"
"Kalaupun kamu bersedia menerima lamaran mami, statusmu hanya sekedar ibu sambung untuk Qiana. Jangan berharap lebih, karena bagiku hanya ada Mitha di hatiku"
Pedih.....ucapan Arzan sungguh pedas, dia berkata sesuai dengan apa yang ada di hati dan pikirannya. Tidak salah memang, toh itu haknya. Tapi sebagai seorang perempuan yang akan mengarungi kehidupan rumah tangga, memiliki suami yang sangat mencintai dan menyayanginya tentu adalah cita-cita dan harapannya.
"Tuan tidak usah khawatir, saya cukup tahu diri dengan posisi saya. Jangankan berharap dapat menempati hati tuan, untuk menjadi ibu sambung nona Qiana saja saya tidak punya cukup kepercayaan diri, bahkan sekedar bermimpi sekalipun. Saya sadar diri saya terlalu hina untuk memasuki kehidupan kalian" jawab Tiara telak, membuat Arzan mengerem secara mendadak mobil yang dikendarainya.
Dia tidak menyangka Tiara akan menjawab dengan telak, membuatnya merasakan ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.
__ADS_1