Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Arzan Lupa


__ADS_3

"Sayang, kemarilah....kenapa kamu masih berdiri di situ?" suara Arzan untuk ke dua kalinya akhirnya membuyarkan lamunan Tiara yang hanya berdiri mematung menatap dua orang yang tampak akrab di hadapannya,


Arzan pun berdiri dan mendekati Tiara, dia merangkul istrinya itu dan menggiringnya menuju sofa.


"Mikha, kenalkan ini Tiara istriku. Sayang, ini Mikha, sepupunya almarhumah Mitha. Dulu dia selalu bersama Mitha, mereka sangat dekat. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, hingga akhirnya kami jarang bertemu karena Mikha melanjutkan kuliah di luar negeri" Arzan pun mengenalkan Mikha pada Tiara sebagai sepupu dari almarhumah istrinya,


Tiara tersenyum ramah, dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Tiara" ucapnya,


"Mikha" serunya,


"Senang bertemu denganmu dan sepertinya usia kita tidak jauh beda. Aku juga baru lulus dan bulan depan akan mengikuti wisuda" Mikha langsung mengakrabkan diri dengan istri mantan kakak iparnya itu, Tiara hanya menanggapinya dengan senyuman.


Perasaannya masih kurang nyaman setelah mengetahui jika suaminya ternyata tidak datang ke kampus karena kehadiran perempuan di hadapannya ini di kantornya. Padahal Tiara sudah punya ekspektasi tinggi di hari pentingnya itu. Pikirannya pun mulai terkontaminasi dengan hal-hal yang membuat hatinya terasa tercubit, mengingat bagaimana mereka hanya berdua di ruangan tertutup ini dengan posisi seperti yang dilihatnya tadi. Salah satu hal yang tidak bisa disembunyikan seorang perempuan adalah rasa cemburu.


"Oya, boleh kan aku panggil kamu nama saja? biar kita bisa lebih akrab" Mikha kembali berkata dengan tersenyum manis,


"Hah....tentu, tentu saja" jawab Tiara sedikit gugup, dia pun tidak sadar jika dirinya sudah duduk berhadapan dengan perempuan cantik itu, di sampingnya Arzan pun kini duduk. Ada kelegaan di hati Tiara, setidaknya saat ini suaminya tahu dimana tempat duduk yang benar menurutnya.


"Sayang, Mikha datang untuk menagih janjiku padanya dulu. Dulu dia sangat ingin bekerja di sini, aku bilang agar dia sekolah dulu dengan benar dan sekarang dia sudah berhasil menuntaskan pendidikannya dan benar-benar datang untuk menagih janji..." Arzan tergelak sendiri saat mengatakannya, merasa lucu ternyata waktu begitu cepat berlalu. Gadis imut di hadapannya ini benar-benar sudah tumbuh dewasa sekarang.


"Iya Tiara, dulu Mas Arzan berjanji untuk menjadikan aku sekretarisnya, iya kan Mas? Mas masih ingat kan? makanya aku mengambil jurusan ini agar layak menjadi pendamping Mas" Mikha menatap Arzan dengan tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya yang di tanggapi Arzan dengan tawa yang cukup keras.


Mereka pun melanjutkan obrolan, Mikha banyak bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya selama bersekolah di luar negeri. Sesekali mereka pun mengenang tentang apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu saat Mitha masih ada. Walaupun dia sibuk bekerja tetapi setiap kali ada kesempatan berlibur Arzan selalu menyempatkan diri untuk memanjakan istrinya dan tidak lupa saat itu Mikha pun selalu hadir di antara mereka sebelum akhirnya gadis itu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah. Sementara Tiara hanya menjadi penyimak yang baik dan sesekali ikut tersenyum ketika Arzan menatapnya saat menceritakan kisah masa lalu mereka.

__ADS_1


"Kamu bahagia sekali Mas, kamu bahkan lupa menanyakan tentang sidangku hari ini. batin Tiara, dia melihat interaksi keduanya begitu akrab. Dia berusaha bersikap biasa tidak mau merusak mood suaminya yang terlihat sangat baik saat ini.


"Mas, masih ingat gak dengan baju yang aku pakai?" Mikha meraih blazer yang sengaja di lepas beberapa saat setelah tiba di ruangan itu, dia pun memakainya lagi, berjalan mengitari sofa dan berdiri tepat di hadapan Arzan dengan gaya bak model,


Arzan mengernyit, bingung melihat apa yang dilakukan sepupu mantan istrinya itu.


"Mas, gak ingat siapa yang pernah memakai baju ini?" tanya Mikha dengan intonasi sedikit meninggi,


Tok...tok...tok...


Baru saja Arzan mau angkat bicara, suara ketukan pintu menghentikan niatnya.


"Masuk" Arzan menoleh ke arah pintu masih dengan posisinya yang duduk berdampingan dengan Tiara dan di hadapannya Mikha tetap berdiri.


"Bagaimana...semuanya beres? aman?" tanpa merespon permintaan maaf Arga, Arzan balik bertanya. Dia berdiri dan berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Semuanya beres Boss, kerja sama lanjutan dengan perusahaan properti sudah kita di sepakati. Produksi akan dimulai bulan depan, mereka berharap boss bisa meninjau langsung proses produksinya" jawab Arga, dia baru saja mewakili Arzan untuk menemui klien yang akan bekerja sama dalam pengadaan mebeler. Saat ini Arzan sedang melebarkan sayap bisnisnya dalam bidang properti dan tengah bekerja sama dengan perusahaan mebeler untuk menunjang bisnis propertinya.


"Bagus, terima kasih Ga kamu memang selalu bisa diandalkan. Sampaikan pada Pak Akhtar aku akan datang dengan istriku" ucapnya tulus, senyum mengembang di bibirnya saat tatapannya beralih pada Tiara yang masih duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Mas, gimana? kamu ingat gak?" merasa diabaikan Mikha merengek meminta tanggapan Arzan dengan baju yang dipakainya.


"Sejak kapan kamu merubah panggilanmu?" Arga yang mendengar Mikha memanggil Arzan dengan panggilan mas seketika memicingkan mata dengan alis tertaut menatap Mikha curiga.


"Apaan sih Kak Arga. Mas gimana?" Mikha bersikap acuh dengan mengabaikan Arga dan berjalan mendekati Arzan.

__ADS_1


"Aku gak ingat Mikha" jawab Arzan, sekilas menatap Mikha kemudian kembali fokus membaca berkas yang diberikan Arga,


Mikha menghentakkan kakinya kesal, dia berjalan mendekati kursi kebesaran Arzan dan berdiri sambil memeluk sandaran kursi itu. Tanpa Arzan sadari wajah Mikha saat ini sangat dekat berada di sampingnya.


Arga yang melihat itu berdecak, dia kembali mengira-ngira hal nekad apa yang akan dilakukan gadis itu. Sejak mendengar informasi dari Nathan jika gadis itu pulang untuk mendekati Arzan dengan merubah penampilannya seperti Mitha dia selalu berusaha menjauhkan Arzan dari jangkauan gadis itu.


Beberapa kali Arga mendapat laporan jika gadis itu datang ke kantor untuk menemui Arzan, Arga berusaha menghalanginya dengan membuat Arzan sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan untuk beberapa waktu ke belakang hal itu berhasil, namun hari ini dia yang harus mewakili Arzan untuk bertemu klien karena Arzan rencananya akan pergi ke kampus Tiara di hari pentingnya .


Tapi nyatanya dia kecolongan, gadis itu datang di saat dirinya sedang ada urusan penting. Arga sudah mengira pasti Arzan tidak akan tega menolak gadis itu, sejak dulu gadis kecil yang imut itu memang selalu memaksakan kehendaknya.


"Sebenarnya apa rencanamu, anak kecil" Arga membatin, sejak mendapat informasi dari staf sekretaris Arzan jika bossnya itu membatalkan kepergiaannya ke kampus Tiara karena ada tamu membuat Arga penasaran siapa tamu yang datang. Dan benar saja kecurigaannya tepat, gadis itu tidak akan menyerah pasti akan datang menemui boss sekaligus atasannya untuk melancarkan aksinya.


"Kali ini kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan" Arga kembali membatin, tatapannya terus tertuju pada gadis yang sejak tadi tampak berusaha selalu mencari perhatian Arzan.


Deg....tiba-tiba hatinya berdenyut kencang saat teringat jika sejak tadi Tiara ada di ruangan ini. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana perasaan Tiara saat melihat sikap Mikha yang pastinya mendominasi Arzan selama mereka bertiga berada di ruangan itu. Arga melirik ke belakang, dilihatnya Tiara tengah fokus dengan ponselnya. Arga tahu gadis itu pasti berpura-pura baik-baik saja.


Arga membalikkan badan, dia melangkah mendekati sofa tempat Tiara duduk.


"Mutiara, apa kabar? Bagaimana sidangmu hari ini, lancar?" Arga bertanya pada Tiara yang duduk di sofa sementara dirinya berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari sofa yang diduduki Tiara dengan suara agak keras, dan dia yakin perkataannya akan terdengar oleh Arzan.


Deg....benar saja, Arzan merasa tertampar mendengar pertanyaan Arga pada istrinya. Dia lupa jika hari ini adalah hari penting untuk istrinya karena terlalu asyik mengobrol dengan Mikha.


"Sialan....kenapa aku bisa lupa" batin Arzan marah pada dirinya sendiri,


Arzan pun mendongak, menatap Arga dan Tiara yang tengah tersenyum menanggapi pertanyaan asisitennya itu. Hak itu sontak membuat tatapan Arzan seketika menajam menatap mereka, Arzan belum sadar jika Mikha berada di belakangnya bahkan wajah gadis itu tepat berada di atas bahunya.

__ADS_1


__ADS_2