
"Ketika mata terpejam, kukira akan tenang. Ternyata beban semakin membayangi"
Arzan seketika terbangun dari tidurnya, lelah karena mencari Tiara seharian ini membuatnya sekarang tertidur di sofa ruang keluarga yang biasa digunakan Tiara dan Qiana menghabiskan waktu berdua kala menunggunya pulang bekerja. Sekarang momen itu menjadi kenangan yang berharga, dan dirinya merindukan itu.
Setelah dari rumah sakit Arzan langsung pulang menuju rumah yang biasa dia tinggali bersama Tiara dan Qiana. Arzan berharap Tiara akan pulang dan menunggunya di rumah. Namun sayang harapannya hanya sebatas halusinasi, sesampainya di rumah itu kehampaan menyergap, rasa sepi menyelimuti. Kilas balik setiap momen yang terjadi di setiap sudut rumah itu seakan terus berputar di benaknya. Hingga akhirnya Arzan terlelap dalam angannya.
"Sayang, kamu dimana? maafkan aku" kalimat yang penuh dengan keputusasaan kembali terlontar dari mulut Arzan di sela-sela tidurnya.
Kumandang adzan Maghrib bersahutan mengajaknya untuk kembali pada sang penguasa alam raya yang Maha Mengetahui. Arzan terbangun dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna. Deringan ponsel yang disimpannya di atas meja membuat kesadarannya kembali penuh.
Mami Calling....
"Assalamu'alaikum Mi," jawab Arzan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana?" tanya mami Ratna di seberang telepon,
"Aku di rumah Mi, ada apa?" tanya Arzan lesu,
"Kamu belum menemukan Tiara?"
"Belum Mi, aku sudah mencarinya ke mana-mana tadi. Tapi aku tidak menemukannya" jawab Arzan sedih,
" Kamu harus berusaha lebih keras lagi, jangan sampai kamu kehilangan wanita sebaik Tiara. Apalagi dia sedang mengandung, mami khawatir" ucapan mami Ratna sontak membuat Arzan menegakkan tubuhnya, dia berpikir keras menerka dimana keberadaan istrinya. Kekhawatiran pun semakin besar di hatinya, tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan anaknya yang masih dalam kandungan, jika itu sampai terjadi Arzan tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Mami jangan membuat aku semakin stres Mi, aku takut Tiara dan anakku kenapa-napa" khawatir, takut dan menyesal bercampur terdengar dari suara Arzan yang bergetar saat mengatakan semua itu.
Meninggalkan Arzan yang larut dalam penyesalan yang mendalam, seorang pria yang tak lain adalah Nathan kini tengah berada di ruang rawat. Seorang wanita cantik yang terlihat semakin pucat tengah terbaring di sana.
__ADS_1
Hingga seminggu pasca kecelakaan Mikha belum sadarkan diri. Benturan keras di area kepala membuatnya tertidur lama. Hasil diagnosa dokter mengatakan jika Mikha mengalami cedera kepala yang cukup berat. Benturan yang sangat keras itu telah mempengaruhi struktur kepalanya sehingga berpotensi besar mengganggu fungsi otak.
Nathan memutuskan untuk menemani Mikha. Kedua orang tua Mikha terpaksa harus kembali ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya di sana. Rencananya mereka akan kembali setelah menuntaskan pekerjaan yang tertunda di sana dan Nathan dimintai tolong oleh kedua orang tua Mikha untuk dapat menjaga putrinya hingga mereka kembali.
"Bangunlah Mikh, sadarlah ...banyak hal yang harus kita perbaiki" ucap Nathan pelan namun menyiratkan arti yang mendalam, dia tulus berharap Mikha lekas sehat sadar dan kembali bisa menjalani harinya.
Gadis kecil nan imut ini masih memiliki kehidupan yang panjang, itulah harapan Nathan.
Tutt....tutt....tutt....
Suara monitor yang terhubung ke tubuh Mikha tiba-tiba terdengar nyaring membuat Nathan seketika panik. Dia segera menekan tombol yang biasa digunakan untuk memanggil dokter atau perawat. Dan tanpa menunggu lama, dokter yang diikuti beberapa perawat pun datang ke ruangan tempat Mikha berada.
"Maaf Pak, silahkan bapak menunggu di luar. Dokter akan segera melakukan tindakan" ucap salah satu perawat yang menggiring Nathan untuk ke luar dari ruangan itu.
"Tapi ... apa yang terjadi dengan Mikha?" tanya Nathan panik, dia syok melihat tubuh Mikha yang tiba-tiba bergetar hebat, hingga alat yang terhubung ke tubuhnya pun menimbulkan bunyi yang menandakan pasien dalam kondisi bahaya.
"Kami akan melakukan tindakan, tolong kerja samanya Pak. Silahkan tunggu di luar" perawat itu kembali menyeret Nathan ke luar karena dokter akan segera melakukan tindakan terhadap pasien.
Tiga puluh menit berlalu, raut wajah khawatir masih terlihat jelas di wajah Nathan. Bagaimana pun gadis itu punya kenangan indah bersamanya. Kebersamaannya dengan Mitha tidak lepas dari keberadaan gadis yang selalu mengekori mereka berdua kemana pun pergi. Mikha bahkan mengetahui dengan jelas bagaimana dirinya harus memendam cinta yang begitu besar untuk sepupunya, karena lebih memilih Arzan, sahabatnya sendiri ketimbang dirinya.
"Bagaimana keadaan Mikha dok?" Nathan segera memburu dokter setelah melihat pintu ruangan Mikha terbuka dari dalam.
"Alhamdulillah, masa kritis pasien sudah berhasil dilewati. Kami bahkan tidak menyangka kondisi pasien ternyata lebih kuat dari yang kami perkirakan. Sekarang dia sudah sadar dari komanya, tapi maaf anda belum bisa menemuinya karena saat ini dia harus beristirahat total untuk semakin memulihkan kondisinya" jelas dokter panjang lebar, membuat Nathan bernafas lega. Dia pun memilih menatap gadis yang terbaring tak berdaya itu dari jendela kaca yang tirainya kini sudah dibuka kembali oleh perawat.
"Kamu harus sembuh Mikh..." entah kenapa ada perasaan tak biasa di hati Nathan saat melihat sepupu dari wanita yang saat ini masih bertahta di singgasana hatinya itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Terlepas dari apapun yang dilakukan Mikha hingga kecelakaan ini terjadi, di matanya Mikha tetaplah seperti dulu, Nathan menyayanginya, gadis kecil yang imut dan menggemaskan yang selalu bermanja manja dengannya.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Sementara di kosannya Rianti tengah menerima kabar dari Nathan perihal kemajuan perkembangan kesehatan Mikha. Gadis yang semakin akrab dengan pria yang ditemuinya di restoran tempatnya bekerja beberapa bulan yang lalu kini menjadi orang yang paling tahu apa yang dilakukan Nathan karena laki-laki itu selalu mengabarinya.
"Alhamdulillah Kak, aku turut senang mendengarnya" ucap Rianti tulus,
"Baik kak aku akan menutupnya, kakak juga jangan lupa makan dan istirahat. Jangan sampai sakit" pungkas Rianti di akhir percakapannya di telepon bersama Nathan.
"Ada apa?" Tiara yang baru selesai menyiapkan sarapannya tampak khawatir karena melihat gadis itu hanya bengong setelah menerima telepon,
"Gak apa-apa Ra, aku baik-baik saja" jawab Rianti bohong, padahal hatinya sedang bergejolak setelah mengetahui jika Nathan selama ini menunggui Mikha.
"Tapi siapa yang nelpon?" tanya Tiara yang semakin penasaran.
"Kak Nathan" jawab Rianti singkat sembari kepala yang langsung menunduk membuat Tiara tersenyum,
"Kalian pacaran?" todong Tiara tanpa ragu,
"Tidak, kami hanya temenan" jawab Rianti cepat, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sejujurnya dia ingin sekali berkata jujur tentang perasaan tidak nyamannya saat mengetahui Nathan bersama wanita lain.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja. Justru sekarang kamu yang harus segera menentukan apa yang akan kamu putuskan tentang hubunganmu dengan Tuan Arzan" ujar Rianti yang mengalihkan pembahasan mereka.
Rianti tahu semalam Tiara menangis dalam sujudnya, keberadaan Arzan dalam hidupnya sangat berpengaruh besar. Karena laki-laki itu hidupnya kini menjadi lebih baik. Dia dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, keluarganya pun kembali bisa hidup normal, kasus yang menjerat ayahnya pun sedang dibantu Arzan untuk diungkap kebenarannya. Lantas haruskan dia menyerah dengan pernikahan ini karena Arzan yang masih belum mampu bangkit dari belenggu masa lalunya? adilkah itu?
Pikiran Tiara semakin berkecamuk tatkala dia pun teringat bagaimana Arzan meragukan kehamilannya. Sakit, jelas terasa oleh Tiara. Bagaimana bisa laki-laki halalnya meragukan kesetiaan dan kehormatannya. Apakah itu hanya emosi sesaat karena kenyataan menyakitkan yang sedang dihadapinya? ataukah karena memang tak ada cinta di hati Arzan untuknya?
"Apakah egois jika aku memilih untuk pergi? Sementara kebaikannya selama ini mampu menjadi matahari dalam hidupku" ucap Tiara dengan tatapan kosong, membuat Rianti mendekap dan merangkul bahu sahabatnya itu,
__ADS_1
"Jangan memaksa, yang bisa lebih menghargaimu, lebih layak memilikimu. Ikuti kata hatimu Ra" Rianti mencoba memberi motivasi.
"Mas, selain mendo'akan kebahagiaanmu aku bisa apa? memaksamu untuk mencintaiku? mampukah aku?" gumam Tiara dalam hatinya.