
"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Prof" Tiara membalikan badan ketika terdengar seseorang dengan suara yang tak asing di telinganya memanggil namanya. Ucapan salam dan sapaan penuh kesantunan Tiara haturkan saat dirinya sudah berhadapan dengan orang yang tidak lain dosen yang akan mengujinya di sidang skripsinya, Profesor Kemal.
"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah siap?" tanya Kemal dengan senyum merekah di bibirnya, menatap gadis yang beberapa kali dikiriminya hadiah sebagai ucapan selamat atas setiap pencapaiannya namun selalu ditolak.
Apa yang dilakukan Tiara dengan menolak hadiah-hadiahnya tidak membuat Kemal kesal atau menyerah, dia justru semakin mengagumi sosok mahasiswanya itu karena keteguhan dan kehati-hatiannya termasuk dalam menerima apapun padahal sudah jelas nama dan alamat Tiara yang tertulis di kartu pengiriman.
"Insya Allah, Prof. Saya permisi untuk bersiap. Assalamu'alaikum" tanpa menunggu jawaban Kemal Tiara langsung meninggalkan tempat itu, beberapa mahasiswa terlihat saling berbisik melihat interaksi antara Kemal dengan Tiara. Dosen idola mereka karena ketampanan, kemapanan dan kecerdasannya ternyata bisa juga berbicara ramah pada mahasiswanya.
Selama ini Kemal dikenal sebagai dosen yang paling irit berinteraksi, apalagi dengan mahasiswa. Dia hanya banyak bicara ketika harus ada disampaikan terkait tugas-tugas perkuliahan atau sekedar menyampaikan materi penguatan dalam perkuliahan. Tapi justru sikap seperlunya itu yang membuat dirinya menjadi idola di kampus terutama oleh para mahasiswi.
"Eh..Tiara...saya..." ucapan kemal terhenti karena Tiara langsung pergi meninggalkannya,
"Wa'alaikumsalam" ucapnya pelan menatap punggung Tiara yang semakin menjauh,
Kemal pun tampak meraih ponsel yang ada di saku jasnya, dia menghubungi seseorang entah siapa.
"Tolong siapkan semuanya" ucapnya dengan senyum tipis di ujung telepon menghiasi bibirnya,
Tibalah giliran Tiara untuk memasuki ruang yang seakan memiliki stok oksigen yang berkurang dalam kurun waktu yang cepat. Tiara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menghilangkan kegugupannya.
Tok...tok...tok...Tiara mengetuk pintu raung sidang dan mengucapkan salam,
"Assalamu'alaikum" serentak semua yang ada di dalam menjawab ucapan salamnya.
Tanpa menunggu lagi, salah satu dari ketiga dosen yang mengujinya hari ini mempersilahkan Tiara untuk memulai presentasinya.
Enam puluh menit berlalu, Tiara berhasil mempresentasikan karyanya dengan memukau. Dia pun berhasil menjawab semua pertanyaan dari ketiga dosen pengujinya dengan lancar dan berdasarkan data yang akurat.
Tepuk tangan dari tiga profesor yang mengujinya menggema memenuhi ruangan sidang itu. Ucapan selamat pun didapatkan Tiara dari ketiganya. Ketiga dosen penguji memuji Tiara, salah satu dosen yang merupakan dosen tamu hari ini bahkan menawarkan Tiara untuk menjadi dosen di perguruan tinggi yang bernaung di bawah yayasannya.
"Terima kasih, Profesor. Jazakumullah khairan kasira" ucap Tiara sambil berdiri dan membungkukkan kepala menghadap tiga dosen penguji yang menatapnya penuh kebanggaan. Bahkan tatapan salah satu di antara ketiga dosen itu bukan hanya tatap kekaguman tetapi juga tatapan penuh cinta dan kasih namun tentunya Tiara tidak menyadari itu. Siapa lagi kalau bukan Kemal yang menatap Tiara begitu dalam. Tiara pamit dan mengucapkan salam sebelum keluar meninggalkan ruangan itu.
Tiara keluar dan disambut teman-temannya dengan gempita, tepuk tangan dan suara riuh dari teman-temannya membuat Tiara merasa terharu. Tentu semuanya ini adalah Karin yang menjadi provokatornya. Sahabatnya yang satu itu memang selalu penuh kejutan, bahkan untuk hal kecil sekalipun, dia merasa sangat beruntung memiliki sahabat baik seperti Karin. Namun yang membuat kebahagiaan Tiara semakin membuncah hari itu adalah dia mendapati sahabat-sahabatnya yang dulu meninggalkannya karena masalah yang menerpanya pun kini hadir di sana. Mereka saling beradu tatap, dan ungkapan permohonan maaf pun terlontar dari ketiga sahabatnya yang sempat meninggalkannya.
__ADS_1
Sejak awal kuliah mereka berlima adalah tim yang selalu kompak. Tiara, Karina, Dinara, Tamara dan Kanaya. Persahabatan mereka sangat erat, sampai suatu saat salah satu dari mereka yang sejak dulu tertarik pada Adrian nekad ingin memiliki Adrian untuknya. Hingga masalah ayah Tiara yang menjadi tahanan karena korupsi menjadi jalan untuknya menjauhi Tiara agar lebih leluasa mendekati Adrian.
"Tiara, maafkan aku atas segala kesalahanku" Dinara menjadi orang terakhir yang meminta maaf pada Tiara, dia bahkan sampai menitikkan air mata menyesali semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Sekarang Dinara menyadari jika urusan hati memang tidak bisa dipaksakan. Dia pun sadar bahwa dirinya sudah rugi banyak karena kehilangan sahabat sebaik Tiara.
Tiara pun merentangkan tangannya menyambut permintaan maaf Dinara, baginya apa yang dilakukan sahabat-sahabatnya bukanlah hal yang harus dipermasalahkan dalam jangka waktu panjang. Berhati lapang, saling memaafkan dan saling menerima, menjalin hubungan baik dalam kebaikan adalah jauh lebih baik dari sekedar masa lalu yang sudah berlalu dan tidak akan kembali seperti tidak akan kembalinya air dari hilir ke hulu.
Kelima sahabat itu pun berpelukan dan menangis bersama, menangis karena bahagia akhirnya hubungan baik persahabatan mereka sudah kembali seperti dulu. Dan tanpa mereka sadari dari jendela ruang sidang seseorang tengah tersenyum bangga melihat kebahagian mereka yang akhirnya bisa kembali bersama.
Euforia kebahagiaan mereka pun terhenti saat tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Tiara. Mereka saat ini sedang duduk di taman kampus yang tidak terlalu jauh dari gedung tempat persidangan, tempat yang dulu sering digunakan mereka untuk mengerjakan tugas kuliah. Selain terdapat gazebo yang cukup luas di sana juga udaranya sangat nyaman karena pepohonan hijau yang tampak selalu rindang dan terawat.
"Sebentar ya aku buka pesan masuk dulu" izin Tiara setelah melihat nama suaminya yang mengiriminya pesan, keempat sahabat Tiara pun menganggukan kepalanya. Sekarang mereka sudah tahu jika Tiara sudah menikah dan memiliki seorang anak sambung.
"Sayang, maaf aku tidak bisa menjemputmu ke kampus, Pak Yudi akan menjemputmu setelah menjemput Qiana"
Tiara menghembuskan nafasnya setelah membaca pesan Arzan, ada sesuatu yang mencubit hatinya saat membaca pesan itu. Dia tidak bisa memungkiri jika di hati kecilnya tumbuh harapan suaminya akan ada di hari pentingnya, Tiara bahkan sempat membayangkan jika suaminya akan menyambutnya saat dirinya keluar dari ruang sidang. Namun, Tiara cukup tahu diri untuk tidak menjadikan ekspektasinya itu prioritas. Dia sudah sangat bersyukur dengan hubungan baiknya saat ini dengan suaminya.
"Ada apa, Mut? Kanaya yang duduk berdampingan dengan Tiara mengusap lembut lengan sahabatnya yang berubah sendu saat sudah membaca pesan di ponselnya.
"Hah, gapapa...ini pesan dari suamiku. Sebentar lagi jemputanku akan datang, maaf ya kalau aku tidak bisa bersama sampai akhir" ucap Tiara menjeda obrolan para sahabatnya.
"Lupakan masa lalu yang suram, mulai saat ini mari kita terus bersama.dalam kebaikan. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini" ucap Tiara menyejukkan, sejak dulu Tiara memang satu-satunya yang memakai jilbab di antata mereka. Di antara kelimanya, Tiaralah yang selalu mengingatkan mereka shalat, mengaji dan ibadah-ibadah lainnya. Ucapan Tiara pun diaminkan oleh keempat sahabatnya.
Ting...
Notifikasi pesan masuk kembali berbunyi dari ponsel Tiara. Dia tahu itu pasti pesan dari Pak Yudi, supir yang diminta suaminya untuk menjemputnya.
"Aku pamit ya, Assalamu'alaikum" ucap Tiara setelah bersalaman dan bercipika cipiki dengan para sahabatnya, serempak keempat sahabatnya menjawab. Mereka pun berjanji akan meluangkan waktu untuk kembali berkumpul seperti ini.
Kurang dari tiga puluh menit Tiara sudah sampai di kantor suaminya. Kantor yang dulu menjadi tempatnya untuk magang. Semua karyawan menyambut hangat kedatangan Tiara yang sudah diketahui sebagai istri bossnya. Tiara pun menyapa ramah mereka.
"Assalamu'alaikum" safa Tiara di depan meja sekretaris suaminya,
"Wa'alaikumsalam" Sopia, sekretaris Arzan pun mendongak dan menjawab ucapan salam.
__ADS_1
"Bu Tiara, maaf saya tidak tahu ibu sudah datang. Silahkan Bu, Tuan sudah menunggu" Sopia berdiri dan menuntun Tiara untuk mengikutinya,
"Mbak, panggil aku Tiara saja, agak gimana gitu dengernya juga" ucap Tiara sambil nyengir kuda, dia sudah cukup akrab dengan sekretaris suaminya itu sejak dirinya masih magang di perusahaan itu.
"Gak bisa nyonya, anda adalah istri boss besar saya tidak mungkin saya seberani itu" jawab Sopia dengan formal, dia malah mengubah panggilannya kepada Tiara menjadi nyonya.
"Ish...Mbak ih" Tiara menepuk pelan lengan Sopia yang berjalan di depannya,
"Haha...." Sopia hanya tertawa melihat melihat tingkah istri bossnya itu.
"Silahkan Bu, maaf saya hanya mengantar sampai di sini" ucap Sopia,
"Terima kasih mbak sekretaris andalan.." puji Tiara dengan mengacungkan dua jempolnya. Tiara tahu jika Sopia adalah sekretaris senior yang dengan kinerja oke, sampai dia bertahan sangat lama di posisinya sebagai sekretaris utama presdir.
"Ish ..bisa aja kamu" Sopia berdesia mendengar pujian Tiara, dia sampai keceplosan memanggil kamu pada Tiara,
"Upss....maaf ibu Tiara" ucapnya kembali berbicara formal setelah menurunkan tangan yang menutupi mulutnya karena keceplosan tadi.
"Haha...." Tiara pun tertawa melihat tingkah Sopia,
Sopia pun pamit untuk kembali ke mejanya dan diangguki kepala dengan senyum ramah oleh Tiara,
"Bu...." Tiara yang hendak membuka pintu ruangan suaminya pun menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu itu, dia menoleh ke arah Sopia.
"Aku lupa ngasih tahu, di dalam ada tamu adik mendiang istrinya tuan" ucap Sopia pelan, membuat Tiara ragu untuk memasuki ruangan suaminya.
"Masuklah, tadi Tuan Arzan berpesan supaya ibu langsung masuk saat sudah datang" ucap Sopia lagi, Tiara pun mengangguk walau ada sedikit keraguan di hatinya.
Tok...tok...tok...
"Assalamu'alaikum" ucap Tiara saat membuka pintu ruangan suaminya, setelah terdengar suara sang suami yang menyuruhnya masuk.
"Wa'alaikumsalam" Arzan menoleh ke arah pintu saat mendengar ucapan salam dari suara yang sangat dikenalnya,
__ADS_1
"Sayang....kamu sudah datang?" ucap Arzan lagi dengan tersenyum melihat kedatangan Tiara, tetapi berbeda dengan Tiara yang mematung melihat pemandangan di depannya.
Arzan tengah duduk berdua di sofa yang memang muat untuk berdua dengan posisi menyamping saling berhadapan. Di hadapan suaminya seorang gadis cantik dengan pakaian sangat seksi menurut Tiara, kemeja berlengan pendek ketat dan rok di atas lutut tengah tersenyum manja menghadap suaminya, satu kakinya berada di atas sofa dan satu kakinya lagi bahkan beradu lutut dengan lutut suaminya.