
Kepergian keluarga besar Arzan ke Garut untuk mengantar dua anaknya menjadi momen yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Di satu sisi mereka bahagia dengan kebersamaan mereka yang sangat langka karena aktivitas masing-masing yang kadang berpacu dengan waktu sehingga kadang sulit untuk pergi bersama dalam jangka waktu yang lama. Di sisi lain mereka juga akan kembali merasakan kesedihan karena harus berpisah dengan dua anak kesayangan mereka.
Tiga mobil mewah beriringan menuju arah Garut. Mobil yang ditumpangi Arzan dan Tiara juga dua anak mereka Ariq dan Alya dibawa oleh Arga, laki-laki yang tetap setia dengan Arzan walau kini usia mereka sudah tak lagi muda namun tidak mengurangi ketampanan dan kegagahannya. Seiring waktu kedewasaan mereka semakin menunjukan kematangan dan kebijaksanaannya.
Sementara dua mobil lainnya yang membawa Qiana dan mami Ratna juga Aira dan Alin dibawa oleh sopir keluarga Arzan dan mobil satunya lagi berisi perlengkapan kedua anaknya yang akan mondok dibawa oleh sopir kantor.
Yayasan tempat anak-anak mereka menuntut ilmu adalah milik rekan bisnis Arzan dan juga sahabat Arga, Pratama Ardhan seorang pengusaha yang juga sudah sering bekerja sama dengan perusahaannya.
Sebelumnya Arga sang asisten setia sekaligus sahabat Arzan, sudah menghubungi Tama perihal kepergian mereka ke Garut. Kebetulan pemilik yayasan pun tengah berada di Garut, berlibur bersama keluarga kecil mereka dan siap menyambut kedatangan Arga dan Arzan sekeluarga.
Perjalanan dilalui dengan ramai lancar, setelah tiba di yayasan dan mengurus semua administrasi terkait keperluan dua anaknya yang akan mondok, Arzan pun meminta izin untuk kembali membawa kedua anaknya untuk mengeksplore Garut. Sebelum berpisah, dia ingin memanjakan anak-anaknya terlebih dahulu, mengisi waktu liburan terakhir mereka dengan kebersamaan keluarga. Setelahnya, mulai besok mereka akan kembali pada rutinitas baru mereka di pondok.
Dengan terus didampingi suaminya Tiara memandangi semua anak-anaknya yang sedang asyik bermain air. Dia duduk di gazebo yang tidak jauh dari tempat anak-anaknya bermain air. Wisata air pemandian air panas Cipanas Garut menjadi tempat mereka menghabiskan waktu dengan kebersamaan keluarga.
"Kamu mau berenang sayang?" Arzan mengusap ujung bibir Tiara yang terlihat ada sedikit saus karena saat ini dia tengah menikmati sosis bakar dengan lahapnya, kehamilannya kali ini membuat dia lebih sering makan. Arzan pun menyodorkan gelas minuman ke hadapan istrinya setelah menghabiskan satu sosis bakar berukuran jumbo.
"Tidak ah Mas, aku masih mau menikmati makanan ini" kekeh Tiara sambil menunjuk aneka makanan yang terhidang di meja tempatnya duduk sambil memerhatikan anak-anaknya bermain air.
"Baiklah, nikmatilah sayang" Arzan mengusap kepala istrinya dan sekilas memberinya kecupan. Diapun menyesap kopi khas Garut yang sudah terhidang di depannya sambil kembali mengawasi anak-anaknya.
"Mas, aku senang anak-anak mau melanjutkan pendidikannya di pondok. Tapi sejujurnya hatiku masih sangat berat melepas Alya mondok" setelah merasa sudah cukup puas mencicipi aneka kuliner khas Garut yang dipesannya sambil memerhatikan anak-anak dan sesekali bercanda ria dengan suaminya, Tiara pun mulai membuka obrolan serius perihal kegundahan hatinya yang akan melepas putri keduanya.
"Aku tahu sayang, bukan hanya kamu tapi aku juga. Tapi bukankah kamu selalu bilang jika kita harus tega agar pendidikan mereka di pondok berhasil. Lihatlah Ariq sekarang, kita semakin banggakan sama dia? Aku pun yakin dengan Alya, dia juga akan baik-baik saja, lihatlah semangatnya dia sangat ingin seperti abangnya. Apalagi ada Ariq yang akan menjaganya di pondok, jadi kamu tenang ya" Arzan kembali mengusap puncak kepala istrinya dan merangkul bahunya seolah sedang mengalirkan kekuatan, tidak lupa dia pun mengusap perut buncit sang istri.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Alhamdulillah Kakak Qiana sekarang sudah kembali ke rumah jadi rumah tetap rame" Tiara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia pun mulai lega setelah mengungkapkan semua kegundahan hatinya itu.
__ADS_1
"Seperti biasa kita akan menjenguk mereka setiap bulan sayang, jadi kita masih bisa bersama mereka di sela-sela mereka libur. Ya, walaupun sebentar waktunya, yang penting berkualitas. Karena sebenarnya bukan seberapa banyak atau sedikitnya waktu kita bersama anak-anak, tapi seberapa berkualitas waktu yang kita habiskan bersama mereka." Arzan masih terus berbicara untuk menguatkan istrinya, dia tahu saat ini hati Tiara masih sangat gundah karena akan berpisah dengan putri dan putra mereka.
Arzan ingat betul bagaimana dulu keadaan Tiara saat melepas Qiana untuk jauh dari mereka. Beberapa minggu keadaannya tidak bersemangat karena saking merindukan putrinya itu. Arzan sangat bersyukur, sampai saat ini Tiara tidak pernah memperlakukan anak-anaknya berbeda. Qiana maupun yang lainnya bagi Tiara mereka adalah anak yang dititipkan kepadanya untuk dijaga dan dididik sebaik mungkin, mereka adalah amanah berharga yang menjadi aset untuknya agar semakin mudah meraih Surga.
"Kamu benar Mas, kita harus memaksimalkan ikhtiyar dalam menjaga dan mendidik mereka. Melepas mereka di pondok adalah pilihan tepat agar pendidikan mereka semakin seimbang. Terima kasih ya Mas, selalu menguatkan aku di saat-saat seperti ini" Tiara menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, dia mengusap ujung matanya yang tiba-tiba berair.
"Tentu saja sayang, kita sama-sama saling menguatkan. Terima kasih selama ini kamu sudah menjadi Ibu yang hebat untuk anak-anak kita dan istri yang hebat untukku" ucap Arzan sambil kembali mengecup puncak kepala sang istri mesra. Arzan pun turut mengusap sisa air mata yang membasahi pipi istrinya. Dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Tiara.
Mereka selalu saling menguatkan satu sama lain, di saat Arzan rapuh Tiara tampil sebagai sosok yang tegar dan begitupun sebaliknya di saat Tiara lemah, Arzan tampil untuk menguatkan. Karena sejatinya pernikahan yang kuat memang jarang memiliki dua orang yang kuat di saat yang sama. Pernikahan yang kuat terwujud ketika suami dan istri bergiliran menjadi kuat untuk satu sama lain pada saat ketika salah satu merasa lemah.
Kebersamaan pun harus berlalu, setelah puas bermain air dan makan bersama mereka kembali ke yayasan untuk mengantar dua anak mereka yang akan mondok. Dengan berat hati namun berusaha tegar Arzan dan Tiara pun melepas dua anaknya untuk menuntut ilmu di sana.
Keharuan kembali menyelimuti perpisahan itu, hal yang lumrah memang. Namun Arzan kembali menguatkan Tiara untuk tidak menunjukan sisi lemah mereka karena perpisahan ini, agar anak-anak yang mereka tinggalkan pun tetap kuat.
Tepat pukul sembilan malam, Arzan dan rombongan keluarga kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan pulang karena tiba-tiba Arzan menerima informasi dari staf sekretarisnya jika besok pagi dia harus menghadiri pertemuan penting di perusahaannya.
"Bunda, aku mau es krim" seorang anak kecil memasuki ruangan pribadi perawat. Dia langsung menghambur ke pelukan sang bunda yang sedang duduk di sofa di ruangan itu berhadapan dengan tamunya,
"Adududuh...sayang, pelan-pelan dong. Lihat bunda lagi ada tamu" pekik Rianti yang terkaget karena sang anak yang tiba-tiba masuk dan berlari ke arahnya.
"Salam dulu sama tante Tiara" titah Rianti pada gadis kecil berusia sekitar delapan tahun tahun yang tidak lain adalah putrinya.
"Eh ada anak manis, sini sayang tante juga kangen sama Lusi" Tiara merentangkan tangan menyambut kedatangan anak gadis yang dipanggil Lusi itu,
"Tapi perut tante besar, aku gak bisa peluk tante" ucapan gadis kecil itu sontak membuat kedua wanita dewasa itu tertawa, Tiara pun hanya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
__ADS_1
Keadaan perutnya yang sudah menginjak delapan bulan, membuat dirinya kesulitan bergerak leluasa karena kehamilan kembarnya itu. Seiring waktu Tiara menikmati kehamilan kelimanya dengan bahagia, dukungan orang-orang di sekitar yang begitu mencintai dan menyayanginya membuatnya sangat menikmati kehamilannya itu. Hingga tidak terasa usia kehamilannya pun saat ini sudah menginjak sembilan bulan.
"Tante, boleh aku usap dede bayinya?" permintaan lucu dari sang anak gadis ditanggapi antusias oleh Tiara.
"Tentu sayang, sini" Tiara menggeser posisi duduknya agar dapat dijangkau oleh tangan mungil itu.
"Bagaimana perasaanmu dengan kehamilan sekarang?" obrolan mereka kembali fokus pada kehamilan Tiara, putri kecilnya sudah keluar bersama pengasuhnya untuk membeli es krim.
"Subhanallah, luar biasa sekali. Aku jadi lebih cepat lelah" jawab Tiara dengan helaan nafas dalam.
"Wajar, karena kamu mengandung dua bayi sekaligus. Mudah-mudahan persalinannya lancar" seru Rianty yang diaminkan oleh Tiara. Mereka pun larut dalam obrolan seputar kehamilan Tiara.
"Kapan HPL-nya?" Rianty meraih cangkir teh yang terhidang di depannya, mereka tengah sedikit bersantai di ruang pribadi perawat setelah Rianty mengakhiri tugasnya.
"Ti...tiga minggu lagi" jawab Tiara dengan suara terbata dan wajah yang seketika berubah,
"Kenapa?" Rianty yang menangkap kesakitan di wajah Tiara seketika terhenyak, dia berdiri dari duduknya dan mendekati sahabatnya itu.
"Sakit Ri, perutku sakit. Sepertinya aku akan melahirkan" jawab Tiara dengan suara tertahan.
Rianty langsung menelepon bagian persalinan, keberadaan mereka di rumah sakit memudahkannya untuk melakukan tindakan pada sahabatnya itu.
Semalam Tiara sudah meminta izin suaminya untuk mengunjungi Rianty untuk sekedar mengobrol dan Arzan pun mengizinkan. Karena Rianty dinas pagi, jadilah pertemuan mereka siang ini dilakukan di rumah sakit tempat Rianty bertugas.
"Kita akan ke ruang persalinan sekarang" sebagai seorang perawat yang sudah senior Rianty tanggap dengan situasi. Dia segera membuka pintu ruangan pribadinya setelah terdengar ketukan. Dua orang perawat datang atas perintahnya dengan membawa kursi roda untuk membawa Tiara.
__ADS_1
"Mas, tolong sampaikan ke Pa Arzan kalau Tiara mau melahirkan" dengan suara memburu karena menelepon sambil berjalan Rianty menghubungi Arga, memberitahukan jika Tiara akan melahirkan dan sudah berada di rumah sakit.