Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kejutan Untuk Tiara


__ADS_3

Ariq Rafandra Malik nama yang sudah disiapkan Arzan untuk putra kecilnya. Lewat nama itu dia berharap sang putra menjadi pria yang tampan dan berbudi, hidup mulia dan menjadi pemimpin yang bijaksana.


"Nama yang indah Mas" ujar Tiara setelah mendengar nama yang disebutkan sang suami untuk putranya. Mereka tengah menikmati hangatnya mentari pagi di teras belakang rumah yang langsung disuguhi aneka tanaman hias kesayangan mami Ratna, beliau kerap kali mengisi waktu senggangnya dengan merawat tanaman-tanaman kesayangannya.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan Tiara dan putranya dinyatakan sehat dan bisa pulang kemarin. Atas permintaan mami Ratna dan persetujuan Tiara, Arzan memboyong keluarga kecilnya ke kediaman sang mami. Tempat dirinya pun tumbuh di sana.


"Sayang, aku punya kejutan untukmu"Arzan mengusap lembut puncak kepala Tiara yang berbalut hijab. Mereka menikmati hangatnya mentari pagi hanya bertiga, Qiana sudah berangkat sekolah diantar Ana dan sopir.


"Oiya...apa mas?" tanya Tiara antusias, wajah yang terlihat masih pucat pasca dua hari melahirkan itu menampilkan binar mata antusias,


"Ada deh, nanti kamu akan tahu sayang. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan" Arzan yang duduk berdampingan dengan Tiara mengecup pelipis sang istri penuh kasih.


Sejak pulang dari rumah sakit Arzan tidak pernah meninggalkan istri dan putranya itu. Semua urusan pekerjaan dia serahkan pada Arga, beberapa dokumen penting untuk ditanda tangani bahkan harus Arga bawa ke rumah mami Ratna.


"Permisi Boss, maaf mengganggu" Arga sudah berdiri di ambang pintu setelah mendapat informasi dari pekerja di rumah itu jika bosnya itu sedang menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya di teras belakang.


"Ck...ada apa pagi-pagi begini kamu datang? Mengganggu saja" Arzan berdecak menunjukan wajah kesal karena kedatangan Arga di pagi yang indah ini sudah mengganggu kebersamaannya dengan prang-orang terkasihnya.


"Urusan kantor boss" jawab Arga santai, dia mendekati tempat duduk bosnya bermaksud menyapa bayi mungil yang berada di pangkuan ibunya,


"Pagi Boy, apa kabar?" sapa Arga ramah, dia menatap bayi mungil yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya itu penuh takjub.


"Baik omm Arga, omm Arga apa kabar?" Tiara yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil,


"Haha....so pasti baik dong" tawa Arga pecah, merasa lucu dengan jawaban Tiara yang menirukan anak kecil,


"Heh, lu datang ke sini urusan kerjaan kan? berarti urusannya sama gue bukan sama anak istri gue" melihat interaksi mereka Arzan seketika murka,


"Bentar boss, nyapa dulu pangeran kecil nih, kangen soalnya" Arga mengedipkan sebelah matanya pada Tiara dan hal itu jelas terlihat oleh Arzan,


"Heh, cukup. Tunggu gue di ruang kerja" titah Arzan tegas, dia menepis tangan Arga yang terulur hendak menjawil dagu bulat bayi mungil itu,

__ADS_1


"Ishh...posesif amat boss, toel dikit boleh kali..." Arga mendelik, niatnya menggoda sang bos berhasil, dia semakin yakin jika Arzan sepenuhnya sudah mencintai Tiara.


Bayangan masa lalu yang selalu menghantui bossnya itu kini semakin terkikis, tidak ada lagi raut wajah penuh sesal dan rasa bersalah atas kematian almarhumah Mitha. Semenjak Arzan memutuskan untuk menikahi Tiara, Arga adalah orang yang paling mengkhawatirkan gadis itu. Pasalnya Arga adalah orang yang paling tahu bagaimana terpuruknya Arzan pasca meninggalnya Mitha, rasa cinta sangat besar yang dimiliki Arzan untuk Mitha membuatnya merasa bersalah atas kematian mantan istrinya itu.


Bertahun-tahun Arzan memilih sendiri membesarkan Qiana, sudah sering mami Ratna ataupun kolega bisnis yang menawarkan calon istri untuknya tapi Arzan bergeming pada perasaannya. Di hatinya hanya ada Mitha dan Mitha. Hingga Arga pun tak sanggup untuk memberitahu kebenaran tentang hubungan terlarang Mitha dan Nathan.


Setelah kini dengan sendirinya semua yang tersembunyi itu tampak. Semesta tak menginginkan Arzan berada dalam rasa yang salah, atau mungkin Tuhan menunjukan kebahagiaan sebenarnya untuk Arzan dan Tiara dengan kenyataan yang menyakitkan tentang ayah biologis Qiana, namun di balik semua itu tersimpan hikmah yang begitu besar untuk hidup Arzan.


Tuhan seolah mengganti pengorbanan dan ketulusan Arzan dengan hadirnya wanita yang tulus mencintainya.


"Sudah, pergi sana!" hardik Arzan mengabaikan protes asisten sekaligus sahabatnya itu. Arga pun berlalu dengan senyuman tersungging di bibirnya, bersyukur sahabat sekaligus bosnya itu sudah menjadi dirinya sendiri dan menemukan cintanya kembali.


"Sayang, aku selesaikan dulu pekerjaan ya" pamit Arzan pada Tiara, dia mengecup punggung tangan kecil putranya tidak lupa juga kening sang istri yang tak luput dari kecupannya.


"Iya Mas" jawab Tiara dengan senyuman manis mengantar kepergian suaminya.


"Nak...." di saat bersamaan dengan beranjaknya Arzan datang ibunya Tiara,


"Bu, duduk di sini" Tiara mengarahkan sang ibu untuk duduk di sampingnya, dia masih anteng menatap putra kecilnya yang semakin hari terlihat semakin menggemaskan.


"Alhamdulillah Bu" balas Tiara dengan senyum bahagia,


"Ayahmu pasti bahagia mengetahui jika kini sudah punya cucu" wajah ibu tiba-tiba berubah sendu saat membicarakan tentang ayah.


"Iya Bu, aku juga ingin menemui ayah dan memberitahunya langsung jika ayah sudah punya cucu laki-laki yang tampan" Tiara tak kalah sendu saat mengatakan tentang sang ayah,


"Kita berdo'a saja Bu, semoga ayah dan kita semua bisa melalui semua ini dengan sabar dan ikhlas hingga nanti pada saatnya tiba kita akan berkumpul kembali" lanjut Tiara berusaha tegar, menguatkan sang ibu yang diyakininya jauh lebih menderita setelah kepergian ayah karena kasus yang menjeratnya.


"Andai dulu ayahmu tidak menerima promosi jabatan itu, mungkin saat ini kita masih berkumpul bersama. Sejak dulu ibu tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan ayah yang hanya sebagai staf biasa, kami cukup bahagia menjalani rumah tangga sampai tiba-tiba atasannya meminta ayahmu untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. Ayahmu tidak mengetahui jika beberapa rekannya menginginkan jabatan itu. Hingga akhirnya hari naas itu tiba." ibu masih larut dalam obrolan tentang ayah, Tiara tahu hal itu dilakukan karena ibu sangat merindukan ayah.


"Semuanya sudah ada skenarionya Bu dan Allah adalah sebaik-baik penulis skenario. Kita hanya makhluk yang diberi tugas untuk menjalani setiap peran yang sudah ditentukan-Nya. Ibu harus percaya dan yakin jika dibalik semua ujian yang Allah berikan untuk keluarga kita pasti ada hikmah yang kelak menjadi nikmat yang sangat besar untuk keluarga kita" panjang lebar Tiara berbicara, berharap sang ibu lebih baik perasaannya.

__ADS_1


"Kamu benar Nak, dan ibu kadang lupa untuk mensyukuri setiap nikmat itu karena terlalu fokus pada ujian-Nya. Ibu bersyukur kita masih diberi kekuatan untuk melalui semua ini sampai pada hari ini. Walaupun ayahmu belum bisa berkumpul bersama kita tapi ibu yakin ayah pun akan merasakan kebahagian yang sama dengan kita" ibu mengambil alih bayi mungil itu dari pangkuan Tiara,


"Ariq sayang, semoga suatu hari nanti kamu bisa bertemu dengan kakekmu ya nak" ucap ibu bermakna harapan yang ditujukan untuk cucu pertamanya itu,


"Aamiin, pasti Bu Ariq pasti ketemu kakeknya" Tiara menimpali, dia merengkuh bahu sang ibu yang kini mendekap erat putranya,


"Permisi nyonya, tamunya sudah datang" seorang pelayan yang bekerja di rumah besar itu datang menghampiri Tiara dan ibunya,


"Tamu? tamu siapa bi?" Tiara bertanya herang dengan kabar yang baru saja diterimanya,


"Tamu ibu yang akan datang hari ini" jelas pelayan itu menjawab pertanyaan Tiara,


"Tamu mami?" terka Tiara,


"Bukan nyonya, tamu anda. Nyonya besar juga sudah menunggu di ruang tamu" jelas pelayan itu membuat Tiara pun mengernyitkan dahinya.


"Saya punya janji temu seseorang gitu?" Tiara masih bergeming di posisinya semula memikirkan siapa tamu yang datang hari ini,


"Iya nyonya, tuan yang bilang jika hari ini akan datang tamu spesialnya nyonya" jawab pelayan itu,


"Mas Arzan. Mungkin ini kejutan yang mas Arzan maksud" gumam Tiara dalam hati.


"Temuilah nak, biar ibu yang menjaga anakmu"


Mendengar apa yang dikatakan sang ibu Tiara pun menganggukan kepala, dia berdiri dari duduknya untuk menemui tamu yang dimaksud.


Sesampainya di ruang tamu Tiara dibuat menganga saat melihat kehadiran orang-orang yang ada di ruangan itu.


"***...assalamu'alaikum" ucapan salam Tiara terbata karena seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,


"Wa'alaikumsalam" serempak semua yang ada di ruangan itu menjawab.

__ADS_1


"Nak, kemarilah..." mami Ratna menjadi orang yaang lebih dulu sadar jika Tiara sejak tadi hanya berdiri di tempat yang sama,.


"Nenek Imah..." panggil Tiara saat melihat sosok yang selalu dia ingat selama ini, semenjak Rahman cucu nenek Imah memutuskan resign dari perusahaan suaminya, Tiara pun kehilangan kontak dengan mereka,


__ADS_2