
Nathan berjalan gontai saat keluar dari mobil yang dikendarainya, dia sudah sampai di halaman lobi hotel miliknya. Tidak seperti biasa, hari ini dia datang lebih siang. Wajahnya terlihat tidak bersemangat, seakan ada awan kelabu yang menutupi ketampanannya hari ini.
Dia memarkirkan mobilnya sembarang, melempar kunci yang sigap ditangkap oleh petugas yang berdiri tepat di samping mobilnya. Melangkah memasuki pintu utama lobi hotel dan berjalan lurus menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri.
Nathan bahkan mengabaikan beberapa karyawan yang menyapanya. Pandangannya fokus ke arah kemana dia melangkah.
"Nath...." saat dia sudah sampai tepat di depan lift, suara seorang wanita membuatnya menoleh ke arah sumber suara,
"Apa kabar?" seorang wanita cantik dengan perawakan tinggi langsing berdiri tepat di samping Nathan, tersenyum dengan ramah sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Nathan menatap wanita itu, dari tatapan keduanya menyiratkan jika mereka adalah dua orang yang saling mengenal.
"Mikha..." Nathan membulatkan matanya, cukup terkejut melihat keberadaan wanita itu di hadapannya. Pasalnya sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan sepupu Almarhumah Mitha.
"Iya ini aku. Aku sudah kembali, Nath..." senyumnya semakin melebar saat melihat Nathan ternyata masih mengenalinya.
"Kamu tidak mau menerima uluran tanganku" Mikha mengingatkan Nathan jika sejak tadi dirinya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Hah...sorry, sorry..."Nathan tersadar, dia pun segera menerima uluran tangan Mikha dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kamu sedang menginap di sini?" Nathan mulai bisa lebih santai berbicara dengan Mikha tidak seperti sebelumnya. Keterkejutannya bertemu dengan gadis itu ditambah dirinya yang kurang fokus dengan keadaan sekitar membuat dirinya sulit menguasai diri.
"Tidak, aku sengaja datang ke sini sejak pagi karena ingin bertemu kamu. Tapi sekretaris kamu bilang katanya kamu belum datang dan aku disuruh menunggu" jawab Mikha apa adanya,
"Oya? ada apa? kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu. Maaf kalau kamu menunggu lama." ujar Nathan merasa tidak enak karena membuat tamunya menunggu.
"Tidak masalah, aku sudah biasa menunggu" balas Mikha dengan senyum penuh arti membuat Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Mikha adalah sepupu Mitha, sejak kecil mereka memang selalu bersama dan tampak kompak. Nathan cukup mengenal gadis itu karena dirinya memang sering bersama Mitha, usianya yang tidak terlalu jauh membuat keduanya terlihat seperti saudara kembar.
Saat Mitha memilih menikah dengan Arzan gadis itu memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Di masa lalu Nathan sempat menjaga jarak dengan gadis itu karena Mikha terlihat menyukainya, sikapnya cukup agresif waktu itu.
Dengan terang-terangan Mikha sering memperlihatkan perhatiannya pada Nathan, dia juga tidak sungkan untuk bilang suka pada lelaki itu. Namun Nathan selalu berusaha menghindar karena hatinya sudah lebih dulu dipenuhi oleh nama Mitha.
"Kalau begitu ayo kita ke ruanganku" ajak Nathan, dia berusaha bersikap profesional tidak ingin membuat tamunya tidak nyaman walau pun di hatinya masih ada rasa was was, takut jika Mikha masih bersikap seperti dulu.
"Oke" jawab Mikha dengan senang hati, mereka pun berjalan memasuki lift menuju lantai paling atas dimana terdapat ruang CEO muda Dharmendra's Hotel. Nathanza Dharmendra.
__ADS_1
☘️
☘️
☘️
Sementara di tempat lain. Tiara tampak sedang berkutat dengan setumpuk berkas yang harus selesai sebelum jam makan siang. Kedatangannya pagi ini disambut dengan setumpuk tugas yang diberikan Renata padanya yang tidak lupa dibumbui dengan senyuman seperti mengejek. Sepertinya ekses dia dipanggil ke ruangan presdir dirasakan Tiara mulai hari ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tandanya waktu istirahat makan siang telah tiba, tapi di atas meja Tiara masih menumpuk berkas yang harus dikerjakannya.
"Ra, kita shalat dulu" Danis yang mejanya tepat berdampingan dengan Tiara keluar dari kubikelnya, dia melongokkan kepalanya ke dalam kubikel Rahma yang masih dengan khusuk mengerjakan tugas yang diberikan Renata kepadanya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Tiara tanpa menoleh, jari-jari tangannya masih menari-nari di atas keyboard komputer dan matanya masih tampak lincah memeriksa setiap detail laporan yang sedang diinputnya.
"Sudah jam dua belas, waktunya makan siang dan shalat, ayo!" ajak Danis lagi,
"Kamu duluan aja, sebentar lagi aku mau pergi shalat. Bu Renata meminta semua laporan ini selesai saat makan siang" Tiara menolak ajakan Danis, bukan karena dia tidak lapar tetapi melihat berkas masih menumpuk di hadapannya membuat Tiara berniat hanya akan beristirahat untuk shalat saja. Itu pun akan dilakukan di ruangannya.
"Tapi Bu Renatanya lagi pergi, pasti perginya lama" ujar Danis yang merasa kasihan dengan temannya itu, dia tahu betul sepertinya Renata ada unsur kesengajaan memberikan tugas yang begitu banyak pada Tiara. Renata bahkan menolak dan menyentaknya saat Danis menawarkan dirinya untuk membantu Tiara.
"Enggak tahu, tadi dia pergi mengajak Adrian, katanya sih mau ketemu klien" jawab Danis yang mengetahui info tersebut dari Adrian yang kebetulan berpapasan dengannya saat di lift,
"Sudah ayo kita makan dulu, kamu pingsan baru tahu rasa, nanti lanjut lagi kerjaannya" canda Danis kembali memprovokasi Tiara agar mau meninggalkan pekerjaannya.
Sejenak Tiara berpikir, dia memilah apakah mengikuti ajakan Danis atau shalat lalu menyelesaikan lagi pekerjaan biar cepat selesai.
"Kamu pergi sendiri saja ya, aku mau melanjutkan kerjaanku dulu sedikit lagi" tolak Tiara halus, dia tidak ingin menyinggung perasaan teman yang sudah perhatian padanya namun dia pun lebih memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang cepat.
Derrrttt.....Derrrrtt.....Derrrrrttt.....
Tiara sedang melaksanakan kewajiban dzuhurnya saat ponselnya bergetar. Selepas salam dan berdzikir dia pun meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya.
"Kamu sedang apa sayang? sudah makan siang?" sebuah pesan yang diterima Tiara membuat senyum simpul terukir di bibirnya.
Pesan penuh perhatian diterimanya dari Arzan, selepas berwudhu dan shalat Tiara merasa mendapat kembali suntikan energi untuk lebih semangat menuntaskan pekerjaannya apalagi ditambah pesan penuh perhatian dari sang suami membuatnya semakin ingin cepat pulang agar bisa menyambut kedatangannya di rumah.
__ADS_1
"Aku masih di kantor Mas, baru selesai shalat. Masih ada sedikit lagi pekerjaan. Nanti sudah selesai aku baru makan. Mas, sudah makan?" balasan Tiara pun terkirim dan langsung mendapat centang dua berwarna biru.
"Istirahat dulu sayang, makan siang dulu. Maaf aku tidak bisa menemani, aku izin makan di luar ya, klien dari Malaysia memintaku untuk menemaninya makan siang❤️"
Pesan balasan dari Arzan pun diterima Tiara membuat dirinya kembali melebarkan senyum karena merasa begitu berharga. Emoticon hati berwarna merah yang dikirim suaminya seketika membuat jantungnya berdegup kencang. Sungguh pengalaman baru yang terasa sangat menyenangkan bagi Tiara.
"Iya Mas, enggak apa-apa. Selamat makan Mas, jangan lupa berdo'a ❤️"
Tiara kembali mengirim balasan dengan diakhiri emoticon hati berwarna merah seperti yang dilakukan Arzan. Hal ini tentu membuat hati seseorang di sebrang sana berbunga-bunga,
"I Miss You, sayang 😘"
Pesan balasan Arzan berhasil membuat Tiara pun merona.
"Pantas saja gak selesai-selesai kerjaannya malah main hp sambil senyum-senyum gak jelas" suara seseorang yang tidak asing di telinga Tiara membuat gadis itu sontak menjatuhkan hp nya.
Tiara mendongak melihat ke arah seorang wanita yang tak lain adalah Renata kini sudah berdiri sekitar dua meter di hadapannya. Sepertinya dia baru datang dari pertemuan dengan klien seperti yang tadi dikatakan Danish. Di belakangnya berdiri laki-laki yang sangat dikenal oleh Tiara yaitu Adrian yang juga baru kembali ke kantor setelah menemani Renata pergi menemui klien.
Renata menatapnya tajam, saat mengetahui Tiara di panggil oleh presdir dan dibersamai oleh Arga, Renata semakin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Tiara. Renata mengira jika Tiara dan Arga benar-benar ada affair dan tentunya Rena meyakini jika dalam hal ini Tiara menjadi orang yang patut disalahkan karena dia pasti sudah menggoda Arga sehingga selalu bersikap manis pada Tiara.
Renata yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana dan terus berusaha mencari perhatian Arga namun tak kunjung berhasil. Arga tetaplah menjadi sosok yang dingin, formal dan irit senyum, tapi justru itulah yang membuatnya banyak dikagumi para karyawan terutama wanita.
Perawakan dan tampangnya sungguh tidak jauh beda dari presdir mereka, walaupun jika suatu diberi kesempatan harus memilih di antara keduanya tentu Tuan Arzan akan menjadi pilihan mereka. Meski statusnya adalah seorang duda beranak satu namun sungguh pesonanya jauh lebih menggoda dibandingkan pria-pria single lainnya
"Maaf Bu, saya baru selesai shalat dan tadi ada pesan masuk saya balas dulu sebentar" Tiara mencoba menjelaskan tanpa bermaksud melawan, namun lain di mata Rena dia merasa Tiara membangkangnya.
"Kamu berani melawan saya?" sentak Renata dengan wajah kesalnya,
"Maaf Bu" ucap Tiara sambil menundukkan kepalanya, Rena pun pergi hingga beberapa menit berlalu dan dia kembali dengan membawa setumpuk berkas yang kembali diserahkannya pada Tiara.
Bruuukk.......Rena menyimpan tumpukan berkas yang dibawanya itu di atas meja Tiara dengan keras, hingga membuat Tiara terlonjak kaget.
"Selesaikan semua ini hari ini juga, kalau tidak jangan harap kamu bisa lulus di mata kuliah magang kamu" sentak Renata, setelahnya pun dia berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Tiara,
Sementara Adrian yang masih berada di sana melihat Tiara dengan iba, perlahan dia berjalan ke arah Tiara,
__ADS_1
"Kamu tenang, aku akan membantumu menyelesaikan semuanya" ucapnya pelan, namun masih terdengar oleh Tiara.