Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kejutan Untuk Tiara (2)


__ADS_3

Sementara di ruang kerja,


Arzan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang kerjanya. Dia memandang Arga yang sudah siap dengan berkas-berkas di tangannya.


"Semuanya sudah beres bos, semua harta benda yang disita sudah berhasil diambil alih. Saat ini polisi tengah memburu pelaku sebenarnya" lapor Arga sambil menyerahkan berkas kepemilikan rumah dan beberapa properti yang dibawanya.


"Sekarang sudah sampai mana mereka?" tanya Arzan, dia meneliti satu persatu berkas yang baru saja diserahkan Arga,


"Menurut informasi terakhir, mereka baru memasuki tol" jawab Arga, saat ini ayah mertua Arzan sedang dalam perjalanan menuju Jakarta.


Kemarin adalah hari kebebasannya, setelah semua bukti kuat sampai di pengadilan. Pengadilan memutuskan untuk membebaskan ayah mertua Arzan dari berbagai tuduhan dan membebaskannya. Mereka pun berjanji akan membersihkan kembali nama baik ayah mertua Arzan.


Kedua adik Tiara adalah orang pertama yang mengetahui kebebasan ayah mereka. Keduanya pergi ke Serang, beralasan pada sang ibu dan kakak jika ada tugas kuliah yang harus segera dikerjakan. Padahal aslinya, mereka saat ini tengah duduk satu mobil dengan ayah mereka sambil melepas rindu menuju Jakarta untuk memberi kejutan pada ibu dan sang kakak.


"Syukurlah, aku ingin ini menjadi kejutan terindah untuk istriku. Aku tahu selama ini dia suka menangis diam-diam saat mengingat ayahnya. Dia bahkan sering berbicara dengan putra kami tentang ayahnya" Arzan menyandarkan tubuhnya, tatapannya tertuju pada langit-langit ruangan kerjanya. Pikirannya menerawang pada saat dirinya memergoki Tiara sedang menangis sambil memeluk foto ayahnya. Dia pun teringat ketika sang istri begitu antusias menceritakan tentang ayahnya pada putra kecil mereka.


Namun, di balik semua itu hanya wajah tegar yang ditampilkan Tiara. Di hadapan siapapun dia tidak pernah menunjukan kesediaannya itu. Tiara selalu tampil dengan senyum dan wajah berseri bahkan saat berdua dengan dirinya.


Hal itu membuat Arzan merasakan sakit yang teramat dalam. Dia tidak rela istrinya terus memendam kesedihannya sendirian. Sejak saat itu dia memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk mempercepat penyelidikan tentang kasus yang menimpa ayah mertuanya. Dan hari ini semuanya terbukti jika ayah mertuanya benar-benar tidak bersalah dan hanya menjadi korban keserakahan dan kelicikan rekan-rekan kerjanya.


Arzan bahkan berhasil mengembalikan apa yang memang seharusnya menjadi hak Tiara dan keluarganya. Rumah sederhana namun penuh kenangan bagi keluarga istrinya dan beberapa properti yang memang sudah dimiliki keluarga Tiara sebelum sang ayah menjabat posisinya saat ini kini sudah kembali ke tangannya dan Arzan akan menghadiahkan semua itu sebagai kejutan terindah untuk istrinya.


"Tiara memang sudah banyak berkorban selama ini, selain cerdas dia adalah gadis yang kuat. Sudah saatnya sekarang merasakan kebahagiaan yang seutuhnya" timpal Arga membuyarkan lamunan Arzan.


Dia merubah posisi dengan menegakan tubuhnya. Tatapannya terarah pada Arga, dengan tatapan yang tajam. Berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya saat membayangkan Tiara.


Bukannya membenarkan apa yang Arga katakan, Arzan lebih fokus pada rasa cemburu yang tiba-tiba menyergap hatinya. Dia tidak bisa menerima jika asisten sekaligus sahabatnya itu menjadi orang yang paling tahu tentang istrinya.


Arga yang sedang merapikan berkas-berkas di atas meja tiba-tiba merasakan hawa dingin di sekitarnya. Dia menyadari jika Arzan tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Hehe....sorry boss" Arga membalas tatapan sang bos dengan wajah nyengir sambil mengacungkan dua jari, telunjuk dan jari tengahnya.


Arga menyadari jika kata-katanya barusan sudah memantik kecemburuan seorang suami bucin.

__ADS_1


"Dia memang memang wanita yang cerdas dan kuat, dan dia istriku" ketus Arzan masih dengan tatapan yang belum melunak,


"Iya boss, dia istri anda. Saya tahu itu, dan selamat anda telah menjadi suaminya" Arga berbicara dengan nada rendah, bukan untuk pencitraan tapi memang itulah kenyataannya.


"Dia memang istriku, dia miliku, jadi jangan sekali-kali berpikir aneh-aneh kamu ya. Makanya, buruan nikah sana" Arzan menekan setiap kata yang diucapkannya, diakhiri kalimat motivasi sekaligus ejekan untuk asisten setianya itu.


"Iya boss tidak akan macam-macam ko, cuman satu macam cari calon istri yang juga cerdas dan hebat" balas Arga membuat Arzan mendengus kesal.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu ruang kerja menghentikan perdebatan bos dengan asistennya. Arga pun berdiri dari duduknya untuk membuka pintu.


"Permisi Tuan, tamunya sudah datang. Nyonya besar bilang tuan ditunggu di ruang tamu" seorang pelayan wanita menyampaikan pesan yang diterimanya dari sang majikan dengan sopan.


"Baiklah, akan saya sampaikan. Terima kasih" balas Arga dengan wajah datarnya.


"Baik tuan, saya permisi" pelayan itu pun pamit dan meninggalkan Arga,


"Ayo" ajak Arzan penuh semangat pada Arga yang hanya geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap bosnya itu. Bos dingin yang sepertinya tidak mengenal senyum itu kini berubah menjadi sangat hangat dan manja jika di hadapan istrinya.


"Siap boss"Arga mengikuti langkah bosnya yang sudah lebih dulu keluar dari ruang kerja.


Pemandangan mengharukan langsung disuguhkan pada Arzan yang baru tiba di ruang tengah. Dia melihat Tiara yang sedang berpelukan dengan Nenek Imah dengan tangisan yang terdengar haru.


"Nenek apa kabar? Maafkan Tiara tidak pernah mencari nenek lagi" ucap Tiara setelah melepas pelukannya dengan nenek Imah, rasa bersalah seketika menyelimuti saat dirinya beberapa bulan yang lalu berkunjung ke rumah nenek Imah namun hanya mendapati rumah yang pernah menjadi tempatnya berlindung itu kosong tak berpenghuni.


Menurut informasi nenek Imah pindah sudah lama dibawa oleh cucunya yang tak lain adalah Rahman. Mantan petugas kebersihan di perusahaan suaminya yang tidak lama resign setelah mengetahui jika Tiara sudah menikah dengan Arzan.


Tiara tahu laki-laki itu pernah menaruh harapan padanya dulu, nenek Imah bahkan pernah bicara terang-terangan jika dia berharap mendapat cucu menantu seperti a.


"Nenek baik, bahkan sangat baik. Rahman membawa nenek karena dia harus pindah tugas ke kota lain" jelas nenek Imah dengan senyum tersungging di bibirnya. Beliau mengusap lembut pipi Tiara yang basah dengan air mata.


"Maaf kami pergi tidak pamit" suara Rahman membuat Tiara terkaget. Pasalnya saat pertama kali tiba di ruang tamu dia hanya fokus melihat sosok nenek Imah. Tiara tidak menyadari di sofa lain duduk sepasang suami istri dengan tangan saling tertaut.

__ADS_1


"Mas Rahman" suara Tiara tercekat saat tiba-tiba sebuah tangan kekar merangkul bahunya, Tiara pun menoleh.


"Mas...." Arzan sudah berdiri dekat dengannya, laki-laki itu bahkan mengikis jarak dengan merangkul istrinya erat.


"Bagaimana sayang, kamu senang bertemu dengan nenek Imah?" tanya Arzan dengan tatapan lembut,


"Mas, terima kasih" kalimat pertama hang terucap dari bibir Tiara saat beradu tatap dengan suaminya.


Tiara tahu semua ini pasti karena suaminya. Kejutan yang dimaksud Arzan pada saat mereka berjemur tadi pasti adalah pertemuannya dengan nenek Imah. Wanita paruh baya yang sudah menolongnya di saat-saat sulit dalam hidupnya.


Di saat semua orang meninggalkannya, di saat keluarganya terpuruk Nenek Imah hadir sebagai sosok yang dikirim Allah untuk menolongnya, membantunya untuk lebih kuat dan tegar menghadapi kenyataan hidup yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat saat sang ayah dinyatakan sebagai narapidana koruptor.


"Shuut...." Arzan menempelkan jari telunjuknya di bibir Tiara yang akan kembali berucap.


"Apapun untukmu sayang, kebahagiaanmu dan putra kita adalah prioritasku" ucap Arzan membuat hati Tiara kembali menghangat, sesuatu dalam dadanya seakan ingin meledak mendengar ungkapan cinta dari laki-laki halalnya. Setiap hari Tiara dihujani perlakuan romantis oleh Arzan, dan hari ini bahagianya berlipat-lipat karena kehadiran orang-orang penting dalam hidupnya.


"Selamat datang di rumah kami Nek, semoga nenek betah" mami Ratna bersuara setelah keharuan yang disaksikannya. Dia senang rumahnya kini semakin ramai. Rasa sepi yang melanda hati semenjak kepergian sang suami kini perlahan memuai, diganti dengan kehangatan dan kebersamaan keluarga.


"Mas, Mas Rahman?" rasa penasaran Tiara tentang menghilangnya Rahman dari perusahaan sang suami belum terjawab. Setelah pertemuan ini dia semakin yakin jika menghilangnya Rahman pun ada andil suaminya.


"Maafkan aku sayang, aku yang menyuruh Rahman pergi. Dia aku percaya untuk mengelola salah satu anak cabang perusahaan kita di luar kota. Aku menantang dia untuk membuktikan kompetensi dirinya dengan memberikan perusahaan yang hampir gulung tikar. Dan sekarang dia datang untuk memberikan laporan padaku kalau perusahaan itu sudah berkembang sangat pesat" Arzan menunjuk Rahman dengan wajah penuh kebanggaan, Rahman pun menundukkan kepala penuh hormat pada Tiara yang merupakan istri bosnya.


"Maafkan saya Mbak Tiara, jika dulu kami pergi tanpa pamit maka hari ini kami datang untuk menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas semua kebaikan Tuan Arzan dan keluarga. Semoga Allah membalasnya dengan limpahan kebaikan yang berkah" do'a Rahman terucap tulus yang diaminkan oleh semua orang yang hadir di sana.


"Dan ini, Aira" Rahman menoleh pada gadis berhijab di sampingnya yang tangannya masih dia genggam.


"Dia istri saya, saat ini kami tengah menantikan kelahiran buah hati kami" Rahman mengusap lembut perut istrinya, yang baru terlihat saat disentuh karena hijab panjang yang menutupi tubuhnya,


"Wah...mas Rahman sudah menikah?" binar bahagia terpancar dari wajah Tiara, dia mendekati wanita bernama Aira itu dan mereka pun saling berpelukan.


"Kamu memang keren Nak" bisik mami Ratna di dekat telinga Arzan, dia tahu semua ini yang dilakukan putranya untuk kebahagiaan Tiara.


"Terima kasih mami, aku juga sangat bahagia melihat orang-orang yang aku cintai bahagia" Arzan merangkul bahu sang mami yang kemudian menyandarkan kepala di dada sang anak.

__ADS_1


__ADS_2