
Tiara berjalan gontai, sudah hampir Ashar tapi dia belum juga berhasil mendapatkan pekerjaan. Dia terduduk lesu di bangku sebuah taman yang dilewatinya. Dia mengedarkan pandangannya, tampak beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai di taman itu, ada yang sedang mengobrol rame-rame ada juga yang asik sendiri dengan gawainya.
Tiara meneguk air putih yang dibawanya dari rumah, saat ini dia masih tinggal di rumah nenek imah, nenek yang menolongnya saat dia sedang kesulitan mencari tempat tinggal. Tiara berkali-kali memberikan sebagian uang hasil bekerjanya kepada nenek imah sebagai biaya mengontrak dia tinggal di rumah itu tapi nenek imah menolak dan berkata dengan lembut jika dia senang Tiara tinggal di sana, menemaninya yang selama ini kesepian karena anak cucunya jauh dari sana.
Tiara pun menurut, sebisa mungkin dia mengerjakan pekerjaan rumah sebelum pergi bekerja. Tiara bangun sebelum subuh dan mengerjakan sebagian pekerjaan rumah sampai menyiapkan sarapan dan dia pun menyiapkan bekal untuk dibawanya ke tempat kerja. Setelah semuanya selesai barulah dia bersiap untuk bekerja. Tapi dua hari ini Tiara lebih santai, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah sampai selesai dan sarapan bersama dengan nenek imah.
Nenek imah sempat menanyakan tentang pekerjaannya, namun Tiara bilang jika dia sedang libur. Tiara belum berani bilang jika dirinya sudah dipecat. Saat ini Tiara berharap segera mendapatkan pekerjaan baru. Tiara tidak ingin nenek imah khawatir dan semakin iba padanya.
Tiara bersiap untuk kembali meneruskan perjalanannya mencari pekerjaan. Masih ada waktu sebelum ashar, Tiara kembali berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi.
Tiinnn......tiba-tiba sebuah mobil APV hitam berhenti di hadapannya, tiga orang laki-laki berseragam serba hitam keluar dari mobil itu. Tiara menghentikan langkahnya sejenak karena mobil itu tepat berhenti di sampingnya, melihat sekilas orang-orang yang turun dari mobil itu. Merasa sesuatu mengancam Tiara pun kembali melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat kali ini.
Benar saja dugaan Tiara, tiga orang serba berpakaian hitam itu menghadang langkahnya. Sontak Tiara menghentikan langkah dan menatap tiga laki-laki yang kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Siapa kalian? mau apa?" Tiara memberanikan diri bertanya, menutupi ketakutannya.
"Maaf nona, kami diutus untuk membawa anda menghadap boss kami. Silahkan ikut kami" salah satu dari ketiga laki-laki itu berbicara menyampaikan maksudnya.
Tiara mengernyit, ketakutan semakin kentara di wajahnya merasa tidak pernah punya urusan dengan orang-orang seperti mereka. Tapi mengapa tiba-tiba mereka memintanya untuk ikut dengan mereka.
"Maaf, saya tidak punya urusan dengan kalian semua. Tolong jangan ganggu saya" Tiara mundur dua langkah, berbalik berniat menghindar dari mereka. Tapi sayang mereka membaca gerakan Tiara, salah satu dari mereka pun kembali menghadangnya.
"Nona, bekerja samalah sebelum kami memaksa. Kami memang tidak punya urusan dengan nona, tapi tuan kami ada. Jadi, ikutlah!" laki-laki dengan badan tinggi besar yang sejak tadi berbicara kembali memberi ultimatum pada Tiara.
Tiara ketakutan, dilihat sekelilingnya tampak sepi.
"Tapi ada urusan apa boss kalian denganku? aku tidak mengenal boss kalian, sepertinya kalian salah orang" Tiara masih berusaha mengelak, dia berharap ketiga laki-laki itu salah sasaran.
"Nona akan mengetahuinya setelah ikut kami, silahkan masuk!" laki-laki itu pun menunjuk ke arah pintu mobil yang telah terbuka, mempersilahkan Tiara untuk masuk ke dalamnya.
"Eheumm..." Tiara masih mematung di tempatnya, deheman salah sah satu dari ketiga pria itu mengagetkannya, refleks Tiara berjalan menuju pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Tiara duduk di samping kemudi, disusul tiga laki-laki itu yang duduk di belakang.
Tiga puluh menit perjalanan dilalui Tiara dengan pikiran yang kacau. Ingatannya melayang mengingat sang ayah yang saat ini sedang berada dalam tahanan, mungkinkah ketiga orang ini ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa ayahnya.
__ADS_1
Tes, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja, teringat sang ibu dan dua adiknya membuat dia semakin sedih. Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal buruk yang mungkin saja menimpa dirinya saat ini.
"Ayah, Ibu, maafkan Tiara" gumamnya dalam hati.
Kesadaran Tiara kembali dari lamunan panjangnya, dia mengernyitkan dahi saat menyadari mobil yang ditumpanginya berhenti di restoran mewah tempat dulu dirinya bekerja. Pintu mobil tiba-tiba terbuka, salah satu dari tiga orang yang membawanya membukakan pintu untuknya.
"Silahkan nona" tanpa menjawab, Tiara turun dari mobil itu, dia berjalan mengikuti orang yang tadi membawanya.
Memasuki restoranTiara merasa de javu, beberapa hari yang lalu dia selalu menebar senyum semangat setiap kali memasuki restoran itu, tetapi tidak untuk kali ini. Ketakutan dan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Silahkan masuk nona, tuan muda sudah menunggu" titah pria berpakaian serba hitam itu padanya. Dia diperintah untuk masuk ke dalam ruangan manajer.
"Assalamu'alaikum" pelan Tiara memasuki pintu yang sudah terbuka itu dengan mengucapkan salam, namun terdengar jelas oleh orang-orang yang berada di dalamnya.
"Wa'alaikumsalam" serempak ketiganya menjawab, mereka pun menoleh ke arah Tiara yang masuk ke ruangan itu dengan tertunduk.
"Boss, tugas kami sudah selesai" pria yang membawanya memberi laporan pada seseorang yang dipanggilnya boss, Tiara penasaran siapa di antara ketiga laki-laki yang dipanggil boss oleh orang itu.
Tiara melihat ke arah pria yang menganggukan kepala dan melambaikan tangannya. Dia ingat laki-laki itu yang menyuruh Anggia untuk mengurus dirinya dan berakhir dengan pemecatan. Tiara pun mengalihkan pandangannya kepada manajer restoran yang dia kenal, Riki.
"Maaf Tiara jika mereka membuatmu tidak nyaman. Silahkan apa yang ingin kamu tanyakan" Riki berkata lembut, sejak awal pertemuannya dengan Tiara sebenarnya dia sudah mulai tertarik dengan gadis itu. Dandanannya yang sederhana dan lain dari yang lain, membuat Riki menilai jika Tiara istimewa. Dia adalah satu-satunya karyawan wanita di restoran itu yang berjilbab. Tak jarang Riki mendengar jawaban Tiara yang cukup menohok saat beberapa karyawan mengejek penampilannya.
"Ada apa Bapak memanggil saya dengan cara seperti ini, jujur saya sangat tidak nyaman dan ketakutan dengan mereka" Tiara pun memberanikan diri mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Mereka menyakitimu?" tanya Riki dengan wajah khawatir.
"Tidak, hanya pikiran saya membayangkan hal lain tentang apa yang akan terjadi pada saya saat dibawa oleh mereka, tentunya hal yang buruk. Saya harap itu hanya pikiran saya saja" Tiara kembali berkata apa adanya, dia berharap Riki tidak akan melakukan hal buruk pada dirinya mengingat ketiga pria yang tadi membawanya menyebutkan jika bossnyalah yang memiliki urusan dengan dirinya.
"Maaf Tiara, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menakuti kamu dan membuatmu tidak nyaman. Itu karena Arga yang menyuruh orang-orangnya untuk mencari kamu" Riki menoleh ke arah sahabatnya yang sejak tadi hanya memperhatikan Tiara.
"Ehemm...." mereka pun menghentikan obrolan, fokusnya beralih pada suara deheman tuan muda yang sejak tadi setia mendengarkan.
Tiara mengalihkan pandangannya kepada orang itu, dia menatap lekat wajah pria tampan yang sedang duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan nyaman. Ingatan Tiara mundur beberapa hari ke belakang. Dia masih ingat jika laki-laki itu yang menggendong gadis kecil yang meminta bermain dengannya.
__ADS_1
"Kakak cantik....." di tengah suasana yang hening tiba-tiba suara Qiana yang memanggil Tiara mengalihkan fokus mereka. Tiara terhenyak kaget melihat gadis kecil itu keluar dari sebuah ruangan yang berada di ruang manajernya.
"Ehh ...adik cantik" Tiara mundur satu langkah karena Tiara yang berlari dan langsung menubrukan tubuhnya pada Tiara. Saat pertemuan pertama mereka sepakat saling memanggil dengan sebutan itu, Tiara pun lupa tidak menanyakan siapa nama gadis itu.
"Kakak cantik, Qia kangen" Tiara yang belum mengetahui siapa nama gadis itu pun, hanya mengangguk. Mereka pun saling berpelukan, Tiara mengusap kepala dan punggung Qiana dengan penuh kasih sayang.
Mengharukan, melihat Tiara yang memeluk Tiara dengan erat menyadarkan Arzan. Jika selama ini Qiana tidak mendapat pelukan hangat dari sosok ibu. Kehadiran Tiara seolah mengisi kekosongan dalam hatinya karena ketidakhadiran sang ibu sejak dia lahir. Walau pun oma dan baby sitternya selalu menemaninya tapi Qiana seolah mendapati sosok ibu dari Tiara.
"Kakak cantik aku kangen kakak cantik. Kakak cantik jangan pergi lagi ya, kalau kakak cantik kabur, aku akan laporkan sama omm Riki dan Papi" Qiana melepas pelukannya, diapun melirik ke arah Arzan, yang tersenyum senang melihat sang putri kembali ceria.
"Kakak juga" jawab Tiara jujur. Qiana pun terus berada di pangkuan Tiara tak beranjak sedikitpun.
Semua interaksi Qiana dan Tiara tidak luput dari perhatian Arzan, dia sampai terbawa suasana saat melihat Tiara yang memperlakukan Qiana begitu lembut. Baru kali ini dia melihat putrinya begitu nyaman dengan orang baru. Arzan berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Tiara.
"Perkenalkan saya Arzan, ayahnya Qiana" Arzan menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Tiara. Tiara pun menangkupkan kedua tangannya di depan dada, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedikit pertanda menerima uluran tangan sebagai simbol perkenalan itu. Arzan mengerti, dia pun kembali menarik uluran tangannya dan membalas senyum Tiara.
"Jadi adik cantik ini namanya Qiana?" Tiara kembali mengalihkan perhatiannya, merasa sungkan harus beradu tatap dengan pria di harapannya itu.
"Iya Kakak, kita belum kenalan. Nama aku Qia, lengkapnya Qiana Nafeeza Malik" Qia memperkenalkan diri dengan baik bahkan dengan ekspresif membuat Tiara begitu gemas melihatnya.
"Silahkan duduk" Arzan mempersilahkan Tiara yang masih berdiri dengan digelayuti Qiana mempersilahkannya untuk duduk. Riki dan Arga yang masih setia memperhatikan interaksi mereka sedikit mengernyitkan kening. Baru kali ini mereka melihat seorang tuan Arzan banyak bicara dengan perempuan yang baru dikenalnya bukan tentang urusan bisnis.
Tiara duduk di sofa yang ditunjuk oleh Arzan, tidak lupa Qia masih terus mengikutinya. Riki yang diberi kode untuk menjelaskan akar masalah kejadian dua hari ke belakang pun memulai percakapan. Dia pun meminta maaf atas pemecatan yang dialami Tiara, tentu saja hal ini membuat binar bahagia terpancar jelas di matanya, bibirnya tak henti mengukir senyum saat mengetahui jika dirinya diminta untuk kembali bekerja di restoran itu.
"Tapi Pak, maaf....saya mau menyampaikan sesuatu terlebih dahulu" Tiara akhirnya mengungkapkan isi kepalanya yang bingung jika menerima jabatan sebagai staf dengan status pegawai tetap. Pasalnya dia masih kuliah, menjadi staf di sana mengharuskannya masuk penuh waktu sementara Tiara hanya bisa bekerja paruh waktu, karena harus menyelesaikan kuliahnya juga sesuai targetnya.
Kenyataan kedua yang membuat Arzan terhenyak kaget. Setelah sebelumnya dia kaget setelah melihat rekaman video putrinya yang begitu nyaman berinteraksi dengan gadis berjilbab yang kini sedang duduk di hadapannya itu. Dia pun kaget setelah mengetahui jika gadis itu ternyata adalah seorang mahasiswi tingkat akhir dengan jurusan yang bukan kaleng-kaling. Seutas senyum tipis tiba-tiba terbit di ujung bibirnya.
Arzan pun menceritakan perihal sang putri yang mogok makan karena ingin masakan yang dibuat oleh Tiara. Tentu saja Tiara dengan senang hati berjanji akan membuat masakan yang sama sesuai permintaan sang tuan putri.
Sepakat, mulai besok Tiara akan kembali bekerja paruh waktu di restoran itu. Dan hanya bagian kebersihan dapur yang sesuai dengan kriteria yang dimaksud Tiara, bisa memfleksibelkan waktu dengan kuliahnya. Apalagi di bagian itu Tiara sudah mempunyai teman yang bisa diajaknya bertukar shift jika ada perubahan waktu kuliah. Pagi dia akan pergi ke kampus dengan status sebagai mahasiswa dan siang menuju sore hingga malam dia bekerja di restoran itu dengan status sebagai tukang cuci piring.
"Kakak cantik jadi ke rumah Qia kan? Nanti malam Qia mau makan sama tumis jagung dan telur ceplok masakan kakak cantik" Tiara membisu, dia menurunkan kembali tangannya yang sudah terangkat untuk menyuapi Qiana, dia menoleh ke arah Arzan yang sejak tadi memperhatikan interaksi Tiara dan putrinya. Arzan mengerti dengan kebingungan Tiara.
__ADS_1
"Iya, kakak cantik akan ikut dengan kita ke rumah" Arzan berinisiatif menjawab dengan senyum ramah ke arah sang putri. Membantu Tiara yang bingung harus menjawab apa. Sementara, Riki dan Arga sontak mengalihkan perhatiannya menatap tuan muda dengan tatapan heran setelah mendengar apa yang dikatakannya barusan.