
Malam semakin larut, meninggalkan raga yang lelah meminta haknya untuk segera beristirahat.
Tiara membaringkan tubuhnya perlahan dibantu suaminya. Tak lama Arzan pun menyusul merebahkan tubuhnya dengan mata yang sudah terlihat sangat mengantuk.
Dia memeluk istrinya dari belakang, membelai perut dan mengajak sang bayi yang masih berada dalam perut ibunya itu berbicara. Rutinitas malam yang selalu Arzan lakukan sebelum mereka tidur. Tidak lupa dia pun mengecup kening sang istri yang sudah mulai memejamkan mata.
Tidak lama terdengar dengkuran halus Arzan di telinga Tiara. Berbeda dengan suaminya, Tiara kembali membuka matanya karena rasa nyeri di area perutnya yang kembali terasa.
Sebenarnya setelah shalat Ashar tadi Tiara sempat merasakan sakit di area perutnya yang cukup kuat sampai susah untuk berjalan. Namun dia berusaha masih bisa menahan dirinya, tidak ingin membuat suami dan orang tuanya khawatir Tiara memilih merasakannya sendiri rasa sakit itu. Benar saja, berangsur rasa sakitnya itu menghilang dan Tiara pun kembali bisa berjalan seperti biasa.
Namun malam ini kembali rasa sakit yang tadi sempat menghilang itu datang. Dia meremas kedua tangannya masih dengan posisi membelakangi suaminya. Lama Tiara berada di posisi itu, matanya terpejam merasakan sakit yang semakin kuat dirasanya sekarang.
Lima menit berlalu, namun rasa sakit itu tak kunjung berakhir. Tiara mencoba merubah posisi tidurnya. Perlahan dia bergerak memindahkan tangan yang memeluk pinggangnya.
Tiara mencoba bangun, ibunya bilang ketika terasa nyeri seperti itu berjalan-jalan adalah terapi yang baik untuk meredakannya. Tiara pun melakukannya, dia berjalan mondar mandir di kamarnya yang cukup luas sambil memegangi pinggang dan satu tangannya mengusap perut yang sedang berkontraksi.
"Ya Allah, mungkinkan sekarang waktunya?" gumam Tiara pelan, dia pun kembali berjalan mondar mandir berharap sakitnya segera mereda.
Bukannya mereda, sakit yang dirasakan Tiara semakin menjadi, dia tak sanggup lagi untuk berjalan. Kedua tangannya berpegangan pada ujung tempat tidur, dengan posisi setengah berjongkok dia merintih menahan sakit yang semakin tak terkendali.
"Mas..."panggilnya lirih dengan suara bergetar, kakinya sudah tak mampu berjalan Semakin lama rasa sakit itu semakin menguat.
"Mas..." Tiara kembali memanggil suaminya, namun Arzan masih bergeming di posisinya.
Rasa sakit di area perut semakin membuatnya tak mampu bersuara. Dia meringis sambil menatap suaminya yang tertidur begitu lelap.
Tukk....tiba-tiba terdengar bunyi yang entah apa Tiara tidak tahu. Dia merasakan area bawah baju dasternya basah padahal dia tidak buang air kecil. Tapi cairan itu bahkan mengaliri kakinya hingga basah di lantai.
"Masssss" teriak Tiara semampunya, masih dengan suara tertahan karena rasa sakit yang tak kunjung reda malah semakin menjadi.
"Hah....sayang?" mendengar teriakan Tiara yang memanggilnya seketika Arzan membuka mata dan terbangun.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah pucat istrinya yang meringis kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa?" Arzan setengah loncat dari atas tempat tidur, dia memburu Tiara yang setengah jongkok dengan tangan berpegangan ke sudut tempat tidur.
" Mas aku...."
"Sayang kamu mau melahirkan?" potong Arzan cepat, dia melihat lantai dan baju bagian bawah Tiara basah dan dia meyakini itu adalah cairan ketuban.
"Mas....sakit" lirih Tiara dengan suara parau,
"Sabar sayang, sekarang kita ke rumah sakit!" Arzan langsung menggendong Tiara dan keluar dari kamarnya,
"Mami, mami, mami...." teriak Arzan saking paniknya. Kamar mami yang juga kebetulan berada di lantai satu membuat suara teriakan putranya itu terdengar dengan jelas.
__ADS_1
"Arzan, ada apa kamu..." pertanyaan mami Ratna tidak tuntas diucapkan saat melihat Arzan menggendong Tiara dengan keadaan yang mengkhawatirkan.
"Sayang kamu mau lahiran?" tanya mami Ratna tak kalah panik,
"Mami aku mau membawa Tiara ke rumah sakit sekarang, tolong kabari mama dan susul kami ke sana" Arzan bicara sambil terus berjalan ke arah garasi,
"Mami ikut Zan, ayo di belakang saja, biar Tiara mami yang pegangin dan kamu fokus saja menyetir." titah mami Ratna dan diangguki oleh Arzan.
Tepat pukul dua dini hari Arzan membawa Tiara ke rumah sakit dibersamai mami Ratna. Sedangkan mama Tiara dan kedua adiknya menyusul dengan mang Ujang, sopir keluarga El-Malik setelah diberi tahu oleh bi asih.
"Dokter, tolong istri saya mau melahirkan" Arzan yang panik tidak melihat adanya blankar yang siap membawa pasien menuju ruang tindakan. Fokusnya hanya Tiara dan bayinya, dia menggendong istrinya itu dan langsung menuju ruang tindakan.
Untunglah saat di perjalanan mami Ratna sudah menelepon Arga dan memintanya mengondisikan dokter dan rumah sakit, sehingga saat mereka sampai dokter pun sudah siap.
"Baik Tuan, anda tolong tenang. Kami akan menanganinya dengan baik" jawab dokter Yunita yang merupakan dokter kandungan yang selama ini menangani Tiara.
"Dokter, patikan istri saya baik-baik saja" suara Arzan bergetar saat mengatakan itu, bayangan masa silam saat Mitha melahirkan kembali menghantuinya.
"Insya Allah Tuan, Nyonya Tiara adalah wanita yang kuat dan sehat. Bantu kami dengan do'a ya" dokter berusaha menenangkan, dia tahu bagaimana Arzan traumanya akan proses melahirkan. Dokter Yunita adalah salah satu dokter yang menjadi tim penanganan Mitha saat melahirkan dulu.
"Mas..." di tengah kepanikan Arzan tiba-tiba terdengar suara Tiara memanggilnya,
"Iya sayang mas di sini" jawab Arzan cepat, dia kembali menggenggam erat tangan Tiara dan mengecup keningnya.
"Mas tenanglah, lebih baik kita berdo'a dan berdzikir." Tiara tersenyum mengatakannya, rasa sakitnya sedang mereda dia pun dapat lebih tenang saat ini, perawat telah selesai memasangkan jarum infus di tangannya.
"Kamu yang kuat ya sayang" ucap Arzan penuh harap, matanya berkaca-kaca, terharu dengan semangat istrinya, dia terus menggenggam tangan Tiara dan kembali mengecup keningnya.
"Alhamdulillah susah pembukaan lima. Sampai saat ini dipastikan hasil pemeriksaan semuanya dalam keadaan baik. Bayinya merespon untuk mencari jalan lahir, ketubannya juga masih cukup. Kondisi nyonya juga stabil" jelas dokter menenangkan, Arzan dan Tiara lebih tenang setelah mendengar penjelasan dokter.
"Terima kasih dok" ucap Arzan tulus, dokter pun membalas dengan senyum dan anggukan kepala.
"Nyonya, saya akan kembali memeriksa anda tiga puluh menit lagi. Kami yakin nyonya kuat." dokter Yunita memberi motivasi,
"Akan ada perawat yang berjaga di sini, saya permisi dulu" pamit dokter setelah kembali memastikan kondisi Tiara dan bayinya baik-baik saja.
"Baik dok, terima kasih" suara Tiara terdengar tercekat karena rasa nyeri yang tiba-tiba kembali.
"Sayang..." Arzan kembali khawatir,
"Tidak apa-apa mas, seperti yang dokter bilang anak kita sedang mencari jalan lahir" ucap Tiara dengan wajah meringis menahan nyeri, genggaman tangannya menguat memegang tangan Arzan.
"Sayang...maafkan aku" ucap Arzan yang tidak tega melihat rasa sakit yang menimpa Tiara, sementara Tiara hanya diam menggigit bibir menikmati rasa sakitnya.
"Kenapa harus minta maaf?" tanyanya setelah rasa sakit kembali mereda,
__ADS_1
"Karena kamu berjuang sendiri demi anak kita, aku kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa" Arzan mengungkapkan isi hatinya,
"Keberadaan mas saat ini sudah menjadi suntikan energi untukku dan anak kita, terima kasih bersedia membersamai kami" Tiara kembali menjeda ucapannya karena nyeri yang kembali datang,
"Sayang...." Arzan mengusap perut Tiara,
"Mas, tolong usap pinggang bagian belakangku" Tiara merubah posisi tertidur miring ke kiri membelakangi suaminya, tangannya memegang erat sisi tempat tidur menyalurkan rasa sakit yang tengah dirasanya.
Dengan segera Arzan mengusap-usap pinggang bagian belakang Tiara, untaian do'a terus dia rafalkan dalam hati. Meminta pada sang pemilik hidup agar anak dan istrinya diberi kekuatan melewati momen ini.
"Mas, sepertinya aku sudah tidak kuat" suara Tiara tercekat, rasa sakit yang dirasanya semakin kuat dan tanpa jeda.
"Sayang, caesar saja ya..." tanpa sadar air mata terus mengalir dari sudut mata Arzan. Tak ada yang akan mengira tangisan pria tampan, tinggi nan gagah dan penuh wibawa itu akhirnya kembali pecah saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri istrinya berjuang melahirkan putranya.
"Tidak mas, tolong panggil dokter. Aku sudah tidak kuat" ucap Tiara dengan nafas memburu.
Perawat yang bertugas berjaga di ruangan Tiara baru saja masuk bersama seseorang yang tidak asing untuk Tiara.
"Tiara...." mendengar suara yang tak asing membuat Tiara menoleh, dia tersenyum senang karena sahabatnya Rianti ada di sana.
"Sayang..." Arzan semakin tidak bisa berpikir, dia mengusap punggung Tiara dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Ri, aku sudah enggak kuat, tolong panggilkan dokter" perawat yang bersama Rianti biasa menangani persalinan sudah bisa menerka jika bayi Tiara akan segera lahir, sebelum Tiara selesai bicara dia sudah lebih dulu keluar untuk memanggil dokter.
"Nyonya sudah kuat kontraksinya?" tanya dokter saat datang ke ruangan, dia memerhatikan Tiara yang semakin pucat dan berkeringat,
"Dokter, istri saya..." Arzan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Tenang ya Tuan, saya akan memeriksa nyonya" dokter Yunita memakai sarung tangannya dan bersiap melakukan tindakan.
"Selamat nyonya, pembukaannya sudah lengkap. Anda masih kuat?" tanya dokter Yunita kembali memastikan keadaan Tiara.
"Iya dok, saya siap" ucap Tiara dengan wajah meringis,
"Sayang..." Arzan menarik nafas panjang,
"Allahu Akbar ..." lafal dzikir yang sejak tadi hanya tersirat dalam gerakan bibirnya, kali ini terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di ruangan itu.
Dalam dua kali mengejan akhirnya putra mahkota El-Malik terlahir ke dunia.
Ea....ea....ea...
"Alhamdulillah..." serempak lafal syukur terucap dari semua orang, Tiara pun terkulai lemas karena tenaga full yang baru saja dikeluarkannya.
"Sayang..."" Arzan langsung mendekap Tiara, dia menghujani seluruh wajah istrinya yang berkeringat itu dengan ciuman dan derai air mata.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Aku sangat mencintaimu, Mutiara Lestari" ucap Arzan terdengar haru di telinga semua yang mendengarnya.