
Nathan berjalan gontai menuju parkiran dimana mobilnya berada. Langkah kakinya seakan melayang, dia pergi setelah disuguhi kemesraan dua insan yang di mabuk asmara itu dan baru saja menyatakan diri sebagai sepasang kekasih.
Sakit, jelas Nathan rasakan. Rencana kejutan pernyataan cinta yang sudah disusun rapih harus kandas dan hanya menjadi sebatas rencana. Semua yang terjadi hari ini sungguh di luar prediksinya, dia tidak menyangka jika sahabat yang sudah lama dikenalnya juga menaruh hati pada wanita pujaannya.
"Arrrgghhhh..." Nathan berteriak dan memukul setir mobilnya,
*
*
*
Hari-hari pun berlalu, semenjak kejadian itu Nathan mulai menjaga jarak dengan Mitha maupun Arzan. Dia tidak mau dirinya larut dalam rasa yang tak mampu diungkapkan. Walau bagaimana pun kebersamaannya dengan Mitha bukanlah waktu yang sebentar, sulit baginya untuk menghilangkan rasa yang dimilikinya untuk wanita itu. Sampai saat ini nama Mitha Pradipta masih terukir rapi di relung hatinya.
Nathan saat ini lebih fokus pada kuliahnya, targetnya adalah lulus dengan hasil memuaskan dan melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri sesuai permintaan ayahnya. Nathan yang awalnya enggan membantu sang ayah di perusahaan saat ini pun dengan sendirinya mengajukan diri untuk bergabung di perusahaan ayahnya.
Hari yang ditunggu pun tiba, wisuda Arzan, Mitha dan Nathan di waktu yang sama. Mereka berhasil menjadi mahasiswa terbaik tahun ini. Jelas semua orang mengenal mereka bahkan kisah cinta Arzan dan Mitha sudah menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya seantero kampus.
"Than, gue mau nikahin Mitha!"
Duarrrrr.....serasa mendengar petir di siang bolong, Nathan seketika mematung mendengar kalimat yang dikatakan Arzan.
Saat ini mereka sedang menikmati secangkir kopi di sebuah cafe tempat biasa mereka menghabiskan waktu dulu. Ya dulu, sebelum Nathan menjaga jarak dari Arzan setelah sahabatnya itu menjadi kekasih dari wanita yang dicintainya. Setelah Arzan pun sibuk dengan dunianya bersama Mitha, hingga kebiasaan mereka menghabiskan waktu dengan berada di cafe itu tak ada lagi selama beberapa tahun ke belakang.
Nathan tahu Arzan adalah tipe laki-laki yang selalu serius dalam segala hal. Kuliah, pekerjaan selalu dilakukannya dengan sungguh-sungguh, tak ayal hasilnya pun luar biasa. Selesai wisuda S1 nama Arzan bahkan sudah menjadi perbincangan di kalangan para pebisnis sebagai pengusaha sukses dengan usia termuda.
Dan ternyata begitu juga dengan hubungan percintaannya. Selama Nathan mengenal Arzan sejak mereka SMP Nathan belum pernah melihat Arzan tertarik pada perempuan, dia hanya fokus dengan belajarnya.
Masa SMA yang kembali Arzan dan Nathan jalani di sekolah yang sama, lagi -lagi hanya Nathan yang mempunyai kenangan indah masa SMA dengan kisah cinta masa SMA. Arzan hanya menghabiskan waktu dengan belajar dan berolah raga. Hingga saat kuliah tingkat satu Nathan yang awalnya mengenalkan Mitha sebagai sahabat barunya nyatanya membuat Arzan tertarik.
Nathan senang akhirnya hidup Arzan lebih berwarna dengan kehadiran seorang wanita. Namun sayangnya wanita yang berhasil membuat sahabatnya itu mencair terlihat lebih hidup dengan jatuh cinta adalah wanita yang sudah lama disukainya.
Ingin rasanya mengatakan pada Arzan jika Mitha adalah wanita pujaannya. Tetapi melihat cinta yang begitu besar di mata Arzan untuk Mitha membuatnya tidak tega. Walau bagaimanapun sebagai sahabat yang baik Nathan pun ingin melihat Arzan bahagia dengan rasa yang dimilikinya untuk Mitha.
__ADS_1
Oleh karenanya Nathan memilih untuk mundur dan menjaga jarak dengan mereka untuk memudahkannya menenggelamkan kembali rasa yang belum sempat diungkapkannya bahkan mungkin tidak akan pernah dia ungkapkan. Selamanya akan Nathan simpan di ruang penglupaan nan sempit dan gelap.
"Benarkah?" Nathan berusaha terlihat tenang, setelah beberapa detik sempat tercipta keheningan di antara mereka Nathan akhirnya bisa kembali menguasai dirinya,
Sejujurnya Nathan memang kaget mendengar Arzan mengatakan itu, dia mengira Arzan akan melanjutkan kuliahnya dulu ke luar negeri seperti rencana mereka di masa lalu. Apalagi perusahaan yang kelak akan dikelola Arzan bukanlah usaha kecil tapi restoran mewah yang sering dikunjungi kalangan elit dan sudah berdiri hampir di setiap kota besar di setiap penjuru negeri ini. Tentunya Arzan memerlukan kemampuan yang mumpuni untuk menjadi pemimpin perusahaan.
Nathan tahu Arzan buka tipe orang yang main-main dengan apa yang sudah dia ucapkan. Selalu memegang teguh apa yang sudah dikatakannya. Berbeda dengan dirinya yang lebih humoris dan santai menjalani hidup. Tapi Nathan tidak menyangka jika kebersamaan mereka hingga ke pelaminan akan terjadi secepat ini.
"Aku tidak pernah main-main dengan apa yang sudah aku ucapkan. Kamu tahu itu" Arzan menjawab dengan mode serius, kali ini bahkan Nathan tak mampu berkata lagi dia menatap sahabatnya itu lekat. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya saat mengatakan jika dia akan menikahi Mitha.
"Baguslah, semoga acaranya sukses dan lu bahagia dengan Mitha" ucap Nathan pada akhirnya. Walau ada gemuruh yang tiba-tiba menyerang hatinya tapi dia berusaha menepisnya tidak ingin merusak kebahagiannya sahabatnya itu.
"Gue mau lu menjadi pendamping gue"
Duaarrrr....lagi-lagi serasa dihantam batu besar, Nathan kembali mematung mendengar permintaan sahabatnya itu. Dia tidak berpikir sampai ke sana, mampukan dia untuk menjadi saksi pernikahan sahabat dengan wanita yang dicintainya.
Selama beberapa tahun ini Nathan sudah bersusah payah menahan rasa yang tak kunjung sirna, dan hari ini sang sahabat berhasil membuat jantungnya berdetak berlipat-lipat lebih kencang dengan kabar pernikahan dan permintaannya.
*
*
*
Dua bulan berlalu, semua persiapan pernikahan sudah mencapai 99 persen. Dua hari lagi status Arzan akan berubah menjadi suami. Kebahagian selalu menghiasi wajahnya, menikahi wanita yang dicintainya dan juga mencintainya. Sungguh inilah kebahagiaan terbesar dalam pencapaian hidupnya.
"Saya terima nikahnya Mitha Pradipta binti Surya Pradipta dengan mas kawin tersebut tunai!"
"Sah?" pertanyaan penghulu di jawab serempak semua yang hadir, menggema mengudara di setiap sudut ruang sebuah ballroom hotel mewah di ibukota.
Semua orang bertepuk tangan, bahagia dengan pasangan fenomenal ini. Seorang pengusaha muda resmi menikahi kekasihnya yang dipacarinya selama hampir empat tahun.
Semua keluarga, teman kuliah, kolega bisnis dan masih banyak lagi tamu yang hadir pada acara sakral itu Arzan dan Mitha tampak selalu menebar senyum di sepanjang acara.
__ADS_1
Raut wajah bahagia terpancar jelas di wajah keduanya bahkan kebahagiaan itu menular kepada semua yang hadir kecuali seorang pria yang saat ini tengah tertunduk lesu di sebuah kursi taman tidak jauh dari hotel itu.
Dia meratapi perasaannya yang tak kunjung hilang untuk wanita yang dicintainya itu. Dia sudah berusaha melupakan dan merelakan wanita pujaannya itu bersama dengan sahabatnya. Nathan yakin Arzan akan mampu membuat Mitha bahagia.
Harusnya itu cukup untuk membuat Nathan ikhlas namun nyatanya perasaan sungguh tak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan keinginan kita. Nyatanya dirinya masih belum mampu lepas dari rasa cinta yang begitu dalam untuk seorang Mitha Pradipta.
Dua tahun berlalu, sebulan setelah menikah Arzan memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mitha sendiri tidak berminat untuk melanjutkan studinya dia lebih asik dengan dunianya sendiri yakni bisnis kulinernya. Salah satu cabang restoran milik keluarga Arzan diberikan sang ayah mertua kepada Mitha sebagai hadiah pernikahan.
Long distance relationship yang mereka jalani selama dua tahun tidak membuat Arzan dan Mitha kehilangan momen keromantisan mereka. Kecanggihan teknologi membersamai kebersamaan mereka, ruang virtual menjadi ruang teromantis yang miliki saat itu. Mitha pun sering mengunjungi Arzan yang melanjutkan studinya ke negeri paman Syam itu.
Semua berjalan baik-baik saja, kehadiran seorang anak di rahim Mitha tidak menjadi prioritas rumah tangga mereka saat ini. Mitha dan Arzan menjalani rumah tangga dengan saling menerima dan mengerti keadaan masing-masing. Tampak harmonis dan saling melengkapi.
Hingga waktu kepulangan Arzan pun tiba, Arzan akan kembali ke Indonesia, dia akan dijemput langsung oleh Mitha dan Maminya. Sang Papi yang saat ini tengah sibuk membuka cabang baru di beberapa negara tetangga tidak bisa turut menjemput sang putra karena beliau pun sedang berada di luar negeri.
Di hari yang sudah dijadwalkan untuk Arzan pulang ke Indonesia, di hari itu pula sang ayah akan pulang. Namun naas pesawat yang dijadwalkan akan tiba satu jam setelah pesawat yang ditumpangi Arzan landing ternyata mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan semua penumpang meninggal termasuk sang papi.
Kepergian sang papi yang tiba-tiba tidak hanya meninggalkan duka mendalam untuk keluarga terutama sang mami dan Arzan. Tetapi juga berdampak pada keberlangsungan perusahaan. Hal itu jelas membuat Arzan harus bekerja ekstra untuk bisa menghandle semua yang biasa papinya lakukan.
Mitha kembali sabar mengerti akan kesibukan sang suami. Setelah selesai kuliah S2 dan musibah meninggalkannya sang papi Arzan lebih sering bepergian ke luar negeri maupun ke luar kota dan Mitha pun sibuk dengan restoran miliknya. Dia tidak pernah mempermasalahkan Arzan yang sibuk dan seakan tidak memiliki waktu untuknya.
Namun seiring waktu Mitha pun sampai pada titik jenuh kehidupan rumah tangganya. Dia merasa hidupnya flat, tidak ada hal yang istimewa tetap seperti dulu seolah menjalani hidup masing-masing.
Selama ini komunikasi mereka terjalin baik, Arzan tidak pernah absen menghubungi sang istri setiap harinya, memberi perhatian dengan selalu menanyakan keadaannya. Selalu pulang ke rumah walaupun tengah malam sekalipun. Dia sering mendapati istrinya sudah tidur pulas dan mereka kembali bertemu saat pagi hingga Arzan kembali pergi ke kantornya.
Dan nyatanya semua perhatian dan waktu yang Arzan miliki untuk sang istri tidak cukup membuat Mitha bahagia setelah hampir empat tahun menjalani rumah tangga.
Kesepian sering datang menghinggapi jiwa dan raga Mitha. Sebagai seorang wanita dewasa dia tidak munafik membutuhkan kehadiran dan perhatian sang suami di sisinya bahkan sentuhannya.
Di saat seperti itu kehadiran seseorang yang tidak asing untuknya membuat Mitha nyaman. Nathan kembali ke Indonesia setelah meraih gelar magisternya di luar negeri dan pertemuan mereka itu kembali mengundang rasa yang sudah susah payah Nathan hapus muncul dengan mudahnya apalagi saat mengetahui jika selama ini Mitha sangat kesepian.
Kedekatan mereka semakin intens, kesibukan Arzan yang sering bepergian ke luar kota dan luar negeri membuat Nathan leluasa mencurahkan rasa yang dimiliki untuk Mitha sejak dulu dalam aksi yang nyata.
Jelas hal itu membuat Mitha terbuai, dia seolah menemukan oase di padang pasir hingga sesuatu yang seharusnya tidak terjadi akhirnya terjadi.
__ADS_1