Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Waktu berlalu dengan berbagai aktivitas dan peristiwa berbeda yang dialami setiap orang. Semua orang berjalan pada takdirnya masing-masing. Menjalani hari-hari sesuai peran yang sudah ditetapkan Sang Sutradara kehidupan dengan skenario yang sudah diatur-Nya.


Keluarga kecil Tiara dan Arzan kini benar-benar sedang diliputi kebahagian. Bagaimana tidak, mereka kini hidup dengan tenang tanpa ada lagi gangguan berarti yang menghantui.


Masa kehamilan Tiara lalui dengan hati yang tentram dan bahagia. Dia merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Mempunya suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. Hampir setiap hari Arzan selalu menghujaninya dengan sikap romantis dan penuh perhatiannya.


Dia bahkan sangat protektif, apapun yang dilakukan Tiara harus selalu berada di bawah pengawasannya langsung. Dia tidak ingin istri dan anaknya mengalami hal yang tidak diinginkan. Arzan bahkan rela tidak bekerja hingga membatalkan janji temu dengan klien penting dan memilih membersamai dan menjaga istrinya di rumah ketika Tiara merasakan keluhan karena kandungannya yang semakin besar.


Qiana pun semakin lengket dengan mommynya, dia tak kalah protektif terhadap Tiara dan calon adiknya. Menjadi kakak siaga yang siap membantu sang mommy jika membutuhkan apapun saat dirinya berada di rumah. Setiap ada kesempatan dia selalu mengusap perut buncit sang mommy dan mengajak adik kecil yang masih dalam kandungan mommy nya itu mengobrol. Gadis kecil yang kini menempati bangku kelas dua sekolah dasar dan sebentar lagi akan naik kelas itu pun tumbuh lebih dewasa dari anak seumurannya.


Qiana sudah tahu dan menerima jika Nathan adalah ayah kandungnya. Ekspresi kecewa sempat terlihat dari Qiana saat mengetahui kenyataan itu namun berkat Tiara yang memberinya pengertian serta meyakinkan jika Qiana tetaplah putri kecil mereka membuat Qiana kembali tersenyum dan bersedia menerima fakta itu. Lagi-lagi, Arzan melihat sisi lain dari Tiara yang membuatnya semakin jatuh hati.


"Sayang, bagaimana keadaanmu hari ini?" Arzan sudah siap dengan pakaian tidurnya, menghampiri sang istri yang sudah berada di atas tempat tidur lebih dulu.


Tiara menyandarkan tubuhnya pada dashboard ranjang, menjelang tidur adalah salah satu quality time untuk mereka berdua saling bercerita, terutama Arzan yang selalu bertanya lebih dulu aya kegiatan istrinya seharian ini.

__ADS_1


Hari ini Arzan pulang sedikit terlambat karena ada hal mendadak yang harus segera diselesaikan.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Mas" jawab Tiara sambil bergeser mendekati suaminya yang memberi kode agar dia bersandar di dadanya,


"Lalu bagaimana dengan si kecil? dia tidak membuatmu susah kan?" Arzan mengusap lembut perut buncit Tiara yang berbalut baju tidur berbahan sutra dengan panjang selutut itu.


"Hari ini gerakannya sangat aktif, aku sampai sedikit kewalahan tadi" jawab Tiara apa adanya, hasil pemeriksaan menyatakan jika jenis kelamin bayi yang dikandungnya diperkirakan laki-laki. Pantas saja jika gerakannya bahkan terasa sangat aktif. Apalagi saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan.


"Oya? Anak daddy nakal ya, bikin mommy kewalahan" Arzan mengusap lembut perut buncit sang istri yang terlihat semakin seksi di usia kehamilannya yang menginjak sembilan bulan.


"Aduh" tendangan yang cukup kuat membuat Tiara kembali mengaduh.


"Sayang...." Arzan mencium perut yang baru saja bergerak-gerak itu berusaha menenangkan. Takjub dan haru selalu meliputi hati Arzan beberapa bulan terakhir ini.


"Dia sepertinya sangat patuh padamu, Mas" ucap Tiara usai merasakan gerakan di perutnya semakin tenang.

__ADS_1


"Tentu saja, itulah putraku" jawab Arzan, dia langsung menyambar bibir ranum yang menggoda di hadapannya.


Malam yang panjang kembali mereka arungi dengan saling memberi kehangatan dan kenikmatan. Di usia kandungan yang semakin tua dokter menyarankan untuk melakukan hubungan suami istri lebih sering agar dapat membantu proses terbukanya jalan lahir. Tentu saja hal itu membuat Arzan semakin bersemangat dan jelas Tiara tidak mampu menolak.


Malam yang larut diarungi setiap orang dengan caranya masing-masing. Jika Tiara dan Arzan melaluinya dengan saling berbagi peluh. Berbeda dengan seorang gadis yang tampak sedang merenung sendiri di atas rooptop apartemen yang ditinggalinya.


Dia adalah Rianti, memilih untuk menikmati dinginnya malam seorang diri naik ke lantai paling atas di gedung itu dengan menggenggam secangkir kopi panas untuk menikmatinya.


Ting....bunyi notifikasi pesan masuk terdengar nyaring di sepinya malam. Membuyarkan lamunan Rianti yang sedang anteng memandangi langit yang tampak gelap tanpa bintang.


"Malam memang tenang, tapi tidak dengan hatimu. Langit bahkan turut redup karena ditatap olehmu "


Sebuah pesan yang menohok, Rianti seketika bangun dari rebahannya, menoleh ke setiap arah. Bagaimana bisa orang yang mengiriminya pesan mengetahui apa yang dilakukannya saat ini.


Tidak ada siapa-siapa, hanya terdengar suara hembusan angin malam yang terasa merasuki pori-pori. Jilbabnya bahkan berkibar menutupi sebagian wajah yang kembali menatap langit yang kelabu.

__ADS_1


Malam terasa masih begitu panjang untuk dilalui Rianti. Hanya menyisakan sepi dan kelam bahkan kopi yang diseduhnya terasa pahit, sengaja dia lupakan gula agar terbiasa menelan realita.


__ADS_2