
Kegiatan lokakarya pertama mahasiswa magang yang dilaksanakan di Pantai Carita berakhir sudah.
Sabtu siang para mahasiswa sudah bisa bersantai selepas makan siang, mereka diberi kesempatan untuk menikmati indahnya pantai sebelum penutupan dan kembali ke ibu kota sore ini.
Tiara baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur, dia melipat mukena yang selalu ada di tasnya setiap bepergian.
"Makan yuk, yang lain udah pada di resto" Karina mengajak Tiara untuk makan karena cacing di perutnya sudah demo. Di saat mahasiswa yang lain menuju restoran untuk makan siang Tiara lebih memilih pergi ke mushala karena waktu istirahat bersamaan dengan berkumandangnya adzan dzuhur.
"Kalian sudah makan siang?" Tiara dan Karin yang baru saja selesai memakai sepatu menghentikan gerakannya ketika akan melangkah menuju restoran, kali ini mereka akan makan siang di resto yang tepat berada di pinggir pantai sebagai salah satu fasilitas yang ada di hotel tempat mereka menginap.
"Belum prof" Karina lebih cepat menjawab, sementara Tiara hanya menganggukan kepala sebagai bentuk sapaan penuh hormat pada dosennya itu.
"Kalau begitu kita makan siang bersama" ucap Kemal dengan wajah datarnya, dia tidak melihat salah satu mahasiswanya membulatkan mata saat mendapat ajakan itu, Karin tersenyum senang mendapat ajakan itu, kesempatan yang langka dan dia tidak boleh menyia-nyiakannya.
"Serius Prof?" Karin masih dengan mode belum percaya, dia pun memastikan kembali ajakan dosennya itu.
"Tentu saja, ayo kita pergi" ajak Kemal dengan senyum yang mengembang di bibirnya, senyum yang membuat hampir semua mahasiswa wanitanya terpesona, begitupun dengan Karina. Dia begitu antusias menerima ajakan dosennya itu.
"Ayo Mut" Karin menggamit lengan Tiara yang sejak tadi hanya diam saja, dia lebih tertarik dengan ponselnya yang baru saja menerima pesan masuk dari adiknya yang akan menjemputnya sore ini.
"Oh, ayo" jawabnya datar, tanpa menoleh ke arah Kemal Tiara berjalan sesuai arahan Karin karena dirinya masih sibuk berbalas pesan dengan sang adik. Tanpa Tiara sadari sejak tadi mata dosen itu hanya fokus melihat setiap gerak gerik dirinya.
Resto masih tampak ramai. Semua mahasiswa berbaur menikmati kelegaan mereka sambil menikmati makan siang dan bercengkrama setelah melewati hari yang cukup melelahkan dan menegangkan.
Tiara dan Karin memilih meja kosong yang dekat dengan jendela besar di resto itu, terlihat jelas pemandangan pantai dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi di tengah teriknya matahari siang ini. Mereka lebih dulu masuk ke dalam restoran, sementara Kemal berhenti di pintu masuk karena bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
"Mut, aku ke toilet dulu ya" Karin yang sudah duduk berhadapan dengan Tiara pamit untuk ke toilet dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Tiara. Dia pun kembali membuka layar pipih di tangannya. Melihat foto-foto di galerinya sambil menunggu Karin.
__ADS_1
"Sendiri? kemana Karin?" Tiara mendongak menatap seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi kosong di mejanya,
"Adrian" ujar Tiara, dia kaget saat melihat Adrian sudah duduk di sampingnya.
"Tiara, ada yang mau aku sampaikan padamu?" sela Adrian berbicara serius, matanya menatap lekat Tiara. Gadis yang selama dua tahun menjalin kasih dengannya. Gadis yang akhirnya dia tinggalkan tanpa kata kejelasan.
"Ada apa? jika bukan tentang perkuliahan atau urusan pekerjaan di tempat magang, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan" ucap Tiara tegas, dia tahu batasan jika dirinya tidak sendiri lagi, status istri sudah melekat di dirinya terlepas dari seperti apa suaminya memperlakukannya.
"Aku mau minta maaf, maafkan atas kekhilafanku. Aku menyesal karena telah meninggalkanmu di saat-saat sulitmu, aku sadar hanya kamu gadis yang selalu memahami dan mengerti aku. Maafkan aku Tiara" tanpa ragu Adrian mengungkapkan semua maksud hatinya, sudah sejak lama sebenarnya dirinya ingin mengatakan permintaan maafnya pada Tiara tapi gadis itu selalu menghindar,
Tiara menarik nafasnya dalam, entah apa yang dirasakannya kini. Bayangan tentang saat-saat sulit yang dihadapinya sendiri di kota besar kembali menghampiri. Dia ingat betul bagaimana Adrian memalingkan wajahnya saat dirinya sedang diperolok oleh teman-temannya karena kasus yang menjerat ayahnya. Tiara pun ingat betul, bagaimana Adrian menghindar ketika berpapasan dengannya.
"Aku sudah memaafkanmu, apapun yang sudah terjadi tak bisa dihindari semuanya sudah menjadi suratan takdir" jawab Tiara dengan arah pandang ke luar jendela,
"Terima kasih Tiara, kamu memang selalu memahami dan mengerti aku. Sekarang izinkan aku untuk menebus semua yang pernah aku lakukan padamu. Aku ingin kita kembali bersama" sungguh tidak tahu malunya lelaki itu, semudah itu dia benar-benar mengungkapkan keinginannya untuk kembali pada Tiara, entah ada angin apa yang membuatnya ingin kembali. Membuat Tiara membulatkan mata namun sedetik kemudian salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Kenapa? aku sudah minta maaf Ra, aku janji tidak akan melakukan kebodohan seperti itu lagi. Aku mohon Ra, kembalilah padaku" Adrian tiba-tiba meraih tangan Tiara, sontak perbuatan mantan kekasihnya itu membuat Tiara geram, dia dengan cepat menepisnya.
"Adrian, apa-apaan kamu? tolong bersikap sopanlah" sentak Tiara dia langsung berdiri dan menatap Adrian tajam.
"Ra, maafkan aku tapi sungguh aku masih sangat mencintaimu dan aku akan bersikap lebih lagi dari sekarang" Adrian terus memaksa, dia bahkan kembali berusaha meraih tangan Tiara,
"Adrian" sentak Tiara, dia kembali menepis tangan Adrian kali ini bahkan lebih keras,
"Ra, dulu tangan itu selalu nyaman di genggamanku. Sekarang biarkan aku kembali memberikan kenyamanan itu untukmu" Ujar Adrian, sepertinya urat malunya sudah sangat tipis, dia keukeuh dengan keinginannya untuk kembali bersama Tiara bahkan dengan percaya dirinya.
Selama dua tahun menjalin kasih dengan Adrian, Tiara sangat menjaga dirinya. Kedekatan mereka hanya sebatas berpegangan tangan itu pun karena Adrian yang memaksa.
__ADS_1
"Dan aku menyesal pernah membiarkanmu melakukannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku" jelas Tiara ketus,
"Tolong Adrian, kalau kamu masih mau kita berhubungan baik tetaplah seperti biasa, kamu memilih menjauh dariku. Biarkan kedekatan kita dulu hanya menjadi sebatas masa lalu. Aku yakin kamu akan mendapatkan gadis yang lebih baik sesuai yang kamu harapkan" Tiara berkata panjang lebar dengan tegas namun dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat sedikit pun ke arah Adrian yang menatapnya lekat,
Perkataan Tiara membuat Adrian hanya bisa mematung dan mendengarkannya. Hati kecilnya sungguh menyesal, tidak rela harus kehilangan gadis sebaik Tiara.
"Tiara, ada apa ini" Profesor Kemal dan temannya datang menghampiri Tiara dan Adrian, di saat bersamaan Karin pun kembali dari toilet,
"Mut, ada apa? Adrian, ngapain kamu? ada apa ini?" Kiran menatap Tiara dan Adrian bergantian, dia yakin sudah terjadi sesuatu sebelumnya antara Tiara dan mantan kekasihnya itu, terlihat Tiara yang menahan kesal dengan menundukkan kepalanya.
"Aku hanya berbicara dengan Tiara. Aku pamit ya Ra" Adrian memilih meninggalkan tempat itu, dia masih menatap Tiara yang masih menundukkan kepalanya. Tatapannya sendu menyiratkan jika dirinya benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Adrian pun menganggukan kepalanya sedikit ke arah Profesor Kemal dan tamunya, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kamu tidak apa-apa, Tiara?" Kemal lebih dulu bertanya, dia mendekati Tiara dan hampir saja tangannya akan menyentuh bahu Tiara.
Sejak awal kedatangannya Kemal melihat jika telah terjadi sesuatu antara kedua mahasiswanya itu. Kemal tahu Adrian adalah mantan kekasih Tiara, dia khawatir Adrian berbuat sesuatu yang tidak diharapkan kepada Tiara.
"Tidak prof, terima kasih atas perhatiannya" jawab Tiara sopan, dia mundur satu langkah kembali memberi jarak yang membuat Kemal jadi salah tingkah.
"Duduk lagi yuk, aku ambilkan air putih hangat untukmu. Sebentar ya" Karin paling tahu jika kebiasaan Tiara saat emosinya tidak stabil adalah dengan memperbanyak minum air putih.
"Iya, terima kasih" jawab Tiara, dia pun duduk di kursi sebelumnya.
"Kamu?" seseorang yang merupakan tamu profesor Kemal tiba-tiba menunjuk Tiara saat gadis itu mendongakkan kepala, membuat Tiara mau tidak mau melihat ke sumber suara.
"Kalian saling kenal?" Kemal yang lebih dulu merespon, dia pun penasaran kenapa sahabatnya itu mengenal Tiara.
Tiara menggelengkan kepalanya pelan, tidak ingat siapa laki-laki di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu lupa denganku? aku Nathan, kita bertemu saat menghadiri pentas seni Qiana di sekolahnya.