
"Lo tidak akan merasakan pentingnya kehadirannya, sebelum kehilangan dirinya"
Perkataan Arga di ujung telepon saat Arzan menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Tiara saat ini benar-benar mengganggunya.
Setelah lelah mencari Tiara dengan hasil yang nihil, Arzan memutuskan untuk menelepon Arga. Berharap asisten serba bisanya itu kembali memberinya solusi.
"Tidak...tidak...aku tidak mau kehilangan Tiara, dia istriku, dia milikku" Arzan berbicara sendiri, dia segera menancap gas melajukan mobilnya menuju tempat dilaksanakannya wisuda sebagaimana yang diinformasikan Arga padanya jika hari ini adalah hari wisuda Tiara. Lagi-lagi hati Arzan mencelos, dia teringat rencananya untuk menghadiri acara wisuda Tiara. Dia bahkan berjanji akan mengosongkan jadwalnya untuk bisa menemani istrinya di hari bersejarahnya itu sebagai ganti ketika dirinya tidak bisa menemani Tiara saat sidang. Namun lagi-lagi kebodohannya yang menghancurkan semua rencana indah itu.
Gedung tampak lenggang, yang tampak hanya beberapa petugas kebersihan yang sedang membereskan ruangan luas itu. Acara wisuda sudah selesai saat Arzan tiba di sana.
"Maaf Pak, anda mencari siapa ya? ada yang bisa dibantu?" seorang petugas kebersihan mendatangi Arzan dan bertanya, terlihat jelas jika Arzan sedang mencari sesuatu.
"Saya sedang mencari istri saya, tadi dia mengikuti wisuda di sini" jawab Arzan sejujurnya,
"Ouh...para peserta wisuda sudah pada pulang Pa, acaranya sudah selesai satu jam yang lalu" jelas petugas kebersihan itu dan ditanggapi Arzan dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baik Oak, terima kasih informasinya. Saya permisi" ucap Arzan, dia berbalik dan berjalan keluar dari aula menuju mobilnya berdiri.
Arzan kembali mencoba menghubungi nomor kontak Tiara, berharap kali ini teleponnya tersambung. Namun nihil, lagi-lagi suara operator yang menjawab.
Arzan memutuskan untuk melanjutkan pencariannya, rumah mami Ratna tujuannya kali ini. Dia yakin, Tiara pasti bersama mami Ratna dan berada di rumah saat ini.
Sepi, itulah yang Arzan rasakan ketika memasuki rumah besar itu. Pekerja yang bertugas di gerbang utama hanya membukakan pintu gerbang. Dia tidak sempat bertanya apa-apa.
"Den, Aden pulang?" Bi Asih yang bertanggungjawab urusan dapur di rumah itu pun datang tergopoh-gopoh, dia terlihat senang saat melihat tuan mudanya itu datang.
"Bi, dimana mami dan Tiara?" tanya Arzan setelah berbincang tentang kabar masing-masing.
__ADS_1
"Lho....nyonya kan di rumah sakit den? kalau non Tiara, sudah lama tidak datang ke sini Den. Bibi kita non Tiara juga di rumah sakit menemani non Qiana. Bagaimana kabar non Qiana, Den?" tanya Bi Asih, wajahnya berubah sendu, tangannya pun terulur mengusap mata yang tiba-tiba memerah dan basah.
Arzan tersentak mendengar nama Qiana, sejak malam itu dia belum pernah lagi datang ke rumah sakit. Dia bahkan tidak tahu kabar tentang gadis kecil itu. Sakit hati dan kecewa karena pengkhianatan mantan istri dan sahabatnya benar-benar telah menggelapkan pikirannya.
Dia pun menyimpulkan jika Tiara tidak pernah datang ke rumah maminya, kebingungan kembali melanda, takut dan khawatir bercampur memikirkan istrinya yang tengah mengandung entah berada dimana.
"Den, bagaimana keadaan non Qiana?" Bi Asih mengulang pertanyaannya.
"Qia....Qia...." Arzan terbata, kemudian terjeda saat merasakan getaran ponsel di saku jasnya, Arga Calling.
"Ya Ga..."
"Bro lagi dimana?" tanya Arga to the point,
"Gue di rumah mami, gue masih mencari Tiara..." jawab Arzan lesu,
Hatinya bergetar mendengar tangisan itu, gadis kecil yang sudah hidup bersamanya sejak lahir kini tengah menangis mencarinya. Sejak dulu Arzan tidak pernah membiarkan putrinya menangis. Apapun akan dia lakukan untuk sang putri tercinta, Qiana adalah hidupnya, dia adalah sumber semangat dirinya dalam menjalani hari-hari. Arzan akan selalu memastikan jika putrinya itu selalu baik-baik saja dan tidak kekurangan sesuatu apapun.
"Ada apa Den?" Bi Asih bertanya was was,
"Qiana sudah sadar Bi, saya mau ke rumah sakit,
"Alhamdulillah...." ucap syukur Bi Asih tulus, Arzan pun tersenyum menanggapi, dalam hati dia bersyukur akhirnya putrinya itu bangun.
"Qia, papa datang Nak" persetan dengan kenyataan jika ternyata dirinya bukanlah ayah biologis dari Qiana. Hatinya sudah terlanjur menyayangi anak itu, namun Arzan seketika menghentikan langkahnya yang sudah mendekati mobil ketika perkataan Nathan kembali terngiang di telinganya.
"Qiana anak gue, kami melakukannya dengan sadar dan sama-sama menikmati"
__ADS_1
"Arrrgghhh ....brengsek" kemarahan Arzan kembali memuncak mengingat kalimat yang pernah diucapkan Nathan. Marah dan sakit namun tak berdaya itulah Arzan saat ini. Dia hanya merasa sia-sia jika melampiaskan apa yang dirasakannya pada Nathan. Semakin dia melakukannya semakin sakit yang Arzan rasakan, dan Tiara...Tiaralah yang menjadi korban dari semua kebodohannya.
"Tiara...." seketika nama itu mampu membuat Arzan kembali sadar, prioritasnya adalah mencari Tiara, dia akan meminta maaf dan memohon agar Tiara bersedia kembali. Bayangan kehidupan baru bersama Tiara dan anak-anaknya kelak sudah terbayang di pelupuk mata.
"Tiara, tunggu Mas sayang" gumam Arzan sembari menyalakan mesin mobilnya, dia bertekad akan terus mencari istrinya, namun terlebih dahulu Arzan akan datang ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Qiana sebelum melanjutkan pencariannya.
Tiga puluh menit waktu yang ditempuh Arzan untuk sampai di rumah sakit tempat Qiana dirawat. Dia memasuki lift dan menuju lantai yang disebutkan Arga dalam pesannya. Qiana sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan ditempatkan di ruang VIP atas permintaan Nathan tentunya.
Arzan menghentikan langkahnya saat sudah berada di ambang pintu tempat Qiana dirawat yang tidak tertutup sempurna itu. Dengan jelas dia bisa melihat Qiana yang sedang memeluk seseorang yang memunggunginya. Kendatipun demikian Arzan sangat mengenal siapa wanita berjilbab yang tengah di peluk Qiana.
"Daddy...." teriak Qiana yang melihat kedatangan Arzan dari balik punggung Tiara yang sedang dipeluknya. Semua orang yang berada di ruangan itu pun menoleh ke arah pintu.
Masih berpakaian lengkap seperti yang digunakannya saat mengikuti wisuda. Tiara dengan segera datang saat kembali menerima kabar jika Qiana memanggil-manggil namanya.
Arzan tertegun, perhatiannya kini fokus pada wanita yang berdiri di hadapannya dan masih memunggunginya.
"Sayang...." panggil Arzan entah pada siapa,
Tiara berbalik, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu dengan cepat saat mendengar Qiana berteriak memanggil papa. Tubuhnya semakin merasakan hawa panas saat mendengar suara yang tak asing di telinganya memanggil dengan panggilan sayang, entah pada siapa.
"Sayang ... aku..." Arzan menatap Tiara yang kini berhadapan dengannya, dia ingin sekali memeluk istrinya itu namun panggilan Qiana berhasil mengalihkan fokusnya,
"Daddy......Qia kangen" Arzan tersentak, dia pun beralih menatap sang putri yang sudah merentangkan kedua tangannya meminta dipeluk.
Suasana haru pun terasa di ruangan itu saat Arzan memeluk Qiana yang dibalas pelukan Qiana yang tak kalah erat. Mereka seperti sudah lama tidak berjumpa sehingga menimbulkan kerinduan yang mendalam.
"Daddy, Qia kangen, Qia mau sama daddy, Qia mau sama mommy, Qia sayang daddy dan mommy" ucap Qiana di sela-sela isak tangisnya.
__ADS_1
Perasaan Arzan menghangat, naluri ayahnya kembali tumbuh. Sejenak Arzan terlena dengan pelukan dan kata-kata yang menurutnya penuh kasih keluar dari mulut kecil Qiana. Arzan pun melupakan kenyataan tentang putrinya itu, untuk saat ini dia benar-benar akan mengalah. Berusaha menerima apa yang menjadi takdirnya, dan tetap menjadikan sang putri adalah putri kecilnya.