Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Posesif


__ADS_3

Ting...Ting...Ting...


Notifikasi pesan masuk terdengar beruntun tanda jika banyak pesan yang tengah masuk di ponsel milik Tiara.


Tiara hanya sekilas melirik ponsel yang berada di atas meja di hadapannya, sungkan untuk mengambil karena sang suami yang posesif melarang dirinya banyak bergerak.


"Aaaa....."Arzan menyodorkan potongan buah terakhir di tangannya.


"Mas, aku berasa jadi Qiana" ucap Tiara dengan mulut penuh potongan buah yang masih dikunyahnya.


"Kenapa?" tanya Arzan datar, dia mengambil selembar tissue dan mengelap sudut bibir Tiara tanpa segan.


Tiara menghentikan kunyahannya, wajahnya memanas. Hal kecil yang dilakukan suaminya sungguh membuatnya terkesima. Tidak menyangka seorang Arzan yang terkenal dingin dan cuek, bahkan di awal pernikahan mereka masih menyatakan diri jika di hatinya hanya ada satu wanita yaitu almarhumah istrinya kini jauh telah berubah.


"Kamu memperlakukan aku seperti Qiana. Padahal aku bisa makan sendiri, Mas" jawab Tiara dengan wajah yang semakin memerah karena Arzan terus menatapnya tanpa beralih.


"Kamu cantik" Arzan tak merespon apa yang dikatakan Tiara, dia hanya mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Isshhh...Mas ini, aku bicara kemana jawabnya kemana" ketus Tiara, dia memalingkan wajahnya karena tidak tahan dengan tatapan suaminya.


"Kenapa, lihat aku" Arzan meraih dagu Tiara, dan memalingkan wajah Tiara agar kembali menatap ke arahnya.


Cup.... satu kecupan Arzan layangkan dengan tiba-tiba tepat di bibir Tiara membuat gadis itu merasakan wajahnya semakin memanas.


Arzan menurunkan tangannya dari dagu Tiara, dia meraih ponsel milik istrinya itu dan menyodorkannya tepat di hadapan Tiara.


"Buka" titahnya dengan nada bicara yang sulit diartikan,


Tiara meraih ponselnya dan menyentuh layarnya tanpa password apapun.


"Kamu tidak mengunci ponselmu?" tanya Arzan dengan mata sedikit mengerjap, ada rasa heran di wajahnya saat tahu Tiara tidak mengunci layar ponselnya.


"Tidak, Qia suka marah kalau aku menguncinya. Dia jadi kesulitan menggunakan ponselku" jawab Tiara apa adanya.

__ADS_1


"Qiana suka memakai ponsel kamu? buat apa?" tanya Arzan sedikit heran, pasalnya dia sudah menyediakan ponsel bahkan tablet khusus untuk putrinya itu yang jauh lebih canggih dari ponsel milik istrinya.


"Mas lihat saja di galeri ponselku" Tiara membuka aplikasi yang menyimpan foto-foto di ponselnya dan memperlihatkannya pada Arzan setelah galeri itu terbuka.


Arzan geleng-geleng kepala setelah melihat sendiri berapa banyak foto-foto Qiana di ponsel istrinya itu. Dia bergaya dengan berbagai fose, bahkan di beberapa foto bersama Tiara, Qiana mengajak Tiara untuk bergaya seperti dirinya. Terlihat lucu dan menggemaskan, hatinya menghangat saat melihat satu persatu foto kebersamaan Tiara dengan putrinya


Ting...Ting...


Saat ponsel Tiara masih berada di genggaman Arzan, notifikasi pesan masuk beberapa kali kembali berbunyi. Tanpa berkata apapun, Arzan yang awalnya tidak sengaja membuat pesan itu terbuka, akhirnya membaca pesan-pesan yang masuk di aplikasi whattsapp istrinya itu.


Adrian


"Mut, kamu enggak apa-apa kan? Maaf aku tidak bisa membantu kamu"


"Mut, kenapa Tuan Arzan bisa membawa kamu? sekarang kamu dimana?"


"Mut, balas pesanku jika kamu sudah membacanya, aku sangat khawatir"


"Tiara, kamu baik-baik saja kan?"


Alana


"Tiara, kamu baik-baik sajakan? maaf aku tidak bisa membantumu. Semoga kamu baik-baik saja setelah dibawa Tuan Arzan"


Prof.Kemal


"Tiara, kamu baik-baik saja? saya mendapat informasi kamu pingsan saat presentasi. Tolong kabari saya, saya sangat khawatir"


"Ckk..." Arzan berdecak setelah membaca pesan masuk dari Profesor Kemal. Dia melempar ponsel itu ke atas sopa tepat di samping kiri Tiara. Arzan enggan untuk melanjutkan membaca pesan lainnya, padahal masih banyak pesan masuk yang lainnya. Bahkan pesan masuk masih terus berdatangan di grup khusus beberapa karyawan perusahaan El-Malik Grup.


"Sialan, berani-beraninya mereka" Arzan mengumpat dalam hatinya.


"Mas..." Tiara mengambil ponsel yang dilempar suaminya tepat di samping kirinya.

__ADS_1


"Ada apa Mas? apa ada masalah?" tanpa menunggu Tiara membuka aplikasi pesannya, beberapa pesan yang sudah dibaca Arzan dia buka kembali tanpa berniat membalasnya.


"Mulai sekarang, kamu harus menjaga jarak dengan mereka. Aku tidak suka melihat mereka begitu perhatian padamu" Arzan berbicara tegas, dia benar-benar menunjukkan kekuasaannya.


Arzan tampaknya tidak ingin apa yang sudah menjadi miliknya terlihat diminati orang lain. Jiwa posesifnya semakin kentara. Dia merapatkan tubuhnya pada Tiara, tangannya melingkar sempurna di pinggang ramping istrinya. Arzan memeluk Tiara dari samping, kepalanya dia jatuhkan di bahu kanan sang istri.


Tiara menarik nafasnya dalam, beberapa pesan di grup yang terlewatkan dibaca Arzan jauh lebih membuatnya tertekan. Dia membiarkan apa yang dilakukan suaminya, Tiara semakin yakin jika Arzan adalah tipe laki-laki pencemburu dan posesif.


"Itu karena mereka tidak tahu ada hubungan apa antara aku dengan Mas" gumam Tiara setelah beberapa saat senyap, namun gumamannya terdengar jelas di telinga Arzan.


Deg... Arzan mendongakkan kepalanya, menatap lekat wajah ayu yang tampak masih sedikit pias. Kali ini ada da rasa bersalah di matanya, dia menyadari jika dirinya yang di awal pernikahan mereka meminta Tiara untuk menyembunyikan pernikahan mereka.


"Lihatlah...." Tiara memperlihatkan layar pipih yang masih berada di tangannya. Untaian pesan di grup khusus karyawan dengan nama akun "The Hots'' yang beranggotakan beberapa karyawan dari divisi berbeda sedang menggunjingkannya. Tentu saja Renata yang menjadi biang informasinya.


"Gila...anak magang bikin ulah nih, pantes bisa magang di perusahan besar ternyata ....wkwkwk"


"Gak nyangka...jilbabnya ternyata hanya kedok.....hhii....ngeri"


"Lain kali boleh dong kita nyoba pingsan, siapa tahu Boss juga yang gendong...haha..."


Dan masih banyak lagi pesan-pesan yang berisi gunjingan dan hujatan terhadap Tiara.


"Grup apa ini? siapa mereka?" Arzan sontak menegakkan tubuhnya, membaca pesan demi pesan dalam grup itu yang semuanya menghujat Tiara. Wajahnya memerah terlihat menahan amarah, matanya terus menatap layar pipih yang ada di genggamannya. Jarinya bergerak lincah menscroll semua percakapan di grup itu.


"Itu ...." Tiara tidak kalah kaget melihat ekspresi Arzan yang terlihat menakutkan. Dia pun khawatir jika Arzan berbuat sesuatu pada karyawan-karyawan yang masuk grup itu. Dia sendiri masuk grup itu setelah beberapa minggu magang di sana, ditambahkan oleh Alana yang sudah lebih dulu menjadi anggota grup itu.


"Berani-beraninya mereka, aku akan memberi mereka pelajaran" Arzan seketika berdiri dari duduknya, melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil ponsel.


"Eh...." Tiara panik bukan main, kekhawatirannya terjadi melihat Arzan yang tampak akan menelepon. Dia pun berdiri daei duduknya, berniat mencegah suaminya melakukan hal yang dipikirkannya.


Tok... tok...tok... suara pintu yang diketuk dan kemudian langsung terbuka menghentikan gerakan Arzan maupun Tiara, mereka serempak menoleh ke arah pintu.


"Selamat siang, boleh saya masuk? saya sudah terlalu lama menunggu"

__ADS_1


__ADS_2