Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Curahan Hati


__ADS_3

Tiara bergeming di tempatnya, matanya masih terpejam saat terdengar suara ponselnya yang dilemparkan Arzan. Cukup lama Tiara memejamkan matanya, tidak ada suara apapun, perlahan Tiara pun membuka matanya.


"Mas....." Tiara membulatkan mata saat melihat Arzan duduk bersimpuh di lantai, kepalanya tertunduk menghadap dinding yang dilemparinya ponsel Tiara.


"Mas..." dengan tangan dan kaki yang masih bergetar karena rasa takutnya, Tiara mendekati suaminya.


Arzan tetap di posisinya, dia tidak merespon panggilan Tiara. Bayangan masa lalu kembali menghampiri, saat dirinya untuk pertama kalinya memasuki apartemen pribadi Nathan sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.


Arzan syok melihat di dinding apartemen itu terdapat banyak foto Mitha, almarhumah istrinya. Bahkan Nathan menyimpan foto-foto Mitha sejak istrinya beranjak remaja sampai foto saat memakai gaun pernikahan pun ada di sana.


Foto-foto yang memenuhi dinding apartemen pribadi Nathan itu bahkan bukan hanya foto Mitha seorang diri tapi juga foto kebersamaan mereka berdua, Nathan dan Mitha dalam berbagai momen.


Hal yang membuat hati Arzan terasa semakin sakit, marah dan kecewa adalah saat dia mendapati foto Nathan dan Mitha yang terlihat intim, dan dia tahu bahwa momen di foto itu terjadi saat dirinya tengah disibukkan dengan perusahaan pasca meninggalnya sang ayah.


Sejak saat itu hubungan Arzan dan Nathan renggang, dengan terang-terangan Nathan mengakui bahwa dirinya mencintai Mitha bahkan jauh sebelum Mitha bertemu dan kenal dengan Arzan. Ada rasa bersalah di hati Arzan, karena nyatanya dirinyalah yang menjadi orang ketiga di antara Nathan dan Mitha.


Nathan memohon pada Arzan agar tetap memperlakukan Mitha dengan baik dan tidak pernah mengungkap apa yang terjadi di antara mereka hari itu kepada Mitha. Nathan bahkan memohon dengan bersimpuh agar Arzan jangan pernah menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu. Tak ada respon apapun dari Arzan saat Nathan memohon, dia pergi tanpa kata meninggalkan Nathan di apartemennya.


Dan benar saja, meskipun Arzan marah besar pada Nathan karena laki-laki itu masih mencintai wanita yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya dan sepertinya Mitha pun merasakan hal yang sama tapi Arzan kembali luluh saat kembali ke rumah dan bertemu Mitha karena cinta yang begitu besar yang dia miliki untuk wanita itu. Apalagi saat itu, Mitha memberi Arzan kejutan dengan kehamilannya.

__ADS_1


Dan hari ini, saat mengetahui Tiara mendapat kiriman bunga dari orang lain yang ternyata dia adalah Kemal, sahabatnya sendiri membuat Arzan seketika teringat akan masa lalunya sehingga tanpa sadar dia kehilangan kontrol diri sampai melemparkan ponsel Tiara sesaat setelah membaca pesan yang dikirim oleh Kemal.


"Terima kasih sudah menerima bunganya, spesial untuk mahasiswa terkasih. Congratulation atas pencapaianmu, tetaplah tumbuh dan sukses di masa kini dan yang akan datang. Tetaplah bersinar seperti biasanya, miss U"


Setelah ponsel itu hancur berkeping seketika Arzan tersentak dan tersadar jika dirinya telah melakukan kesalahan. Bayangan masa lalu yang selalu menghantuinya selama ini kembali terlintas saat mengetahui jika wanita yang dicintainya lagi-lagi dicintai orang lain, dan dia adalah sahabatnya sendiri.


"Mas" Tiara masih berusaha memberanikan diri untuk mendekati suaminya, dia tahu saat ini Arzan tidak baik-baik saja. Kekhawatirannya semakin besar saat melihat Arzan meneteskan air mata yang sudah berusaha ditahannya.


"Mas baik-baik saja kan? maafkan aku. Aku tidak tahu siapa yang mengirim bunga itu, maafkan aku. Lain kali hal itu tidak akan terjadi lagi" Tiara meraih tangan Arzan yang masih mengepal dan bertumpu pada lantai, walaupun tangannya pun sama bergetarnya dia berusaha menenangkan suaminya yang sedang tidak baik-baik saja.


Melihat tangannya digenggam, seketika Arzan mendongakkan wajahnya. Ditatapnya wajah teduh gadis berjilbab yang ada di hadapannya itu. Terlihat dengan jelas oleh Arzan jika dimatanya ada kekhawatiran, ketakutan dan rasa bersalah yang berpadu menjadi satu.


"Maafkan aku" Arzan tiba-tiba memeluk Tiara dengan eratnya, dia bahkan menumpahkan tangisnya dalam pelukan Tiara. Kini Tiara tahu jika kemarahannya hari ini adalah luapan kemarahan masa lalu yang belum tuntas.


"Maafkan aku, maaf...." berkali-kali kata maaf itu terucap dari mulut Arzan, rasa bersalah karena tidak dapat mengontrol dirinya membuatnya sangat menyesal. Tiara hanya menganggukan kepalanya sambil terus mengusap punggung Arzan, berharap suaminya lebih tenang.


Tiara membiarkan Arzan larut dalam tangis yang selama ini selalu disembunyikannya. Hari ini Tiara tahu sisi lain dari laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu. Dalam hatinya masih ada luka-luka batin yang belum sepenuhnya sembuh dan siap menganga tatkala ada stimulus yang membuatnya merespon. Perlu kesabaran tingkat tinggi untuk menghadapinya agar dia bisa benar-benar keluar dari bayang-bayang luka karena masa lalunya itu dan Tiara bertekad untuk membantu Arzan terbebas dari semua itu.


"Maafkan aku" suara Arzan terdengar semakin parau tatkala kata-kata maaf itu kembali dia ucapkan.

__ADS_1


"Aku akan memaafkanmu, Mas" jawab Tiara lembut, tangannya masih terus mengusap punggung yang sesekali masih bergetar, dengan demikian dia berharap suaminya lebih cepat tenang.


"Harusnya aku tidak bersikap seperti ini di hadapanmu, harusnya aku bisa lebih menahan diri, harusnya...." Arzan mengurai pelukannya, dia kembali berbicara masih dengan suara paraunya yang kemudian terjeda karena Tiara menempelkan jari telunjuk di bibirnya,


"Sstttt.....mas, apa yang terjadi padamu hari ini mungkin memang diluar kendalimu, dan aku yakin mungkin ini salah satu cara Allah agar aku bisa lebih mengenal dirimu" Tiara berkata diakhiri dengan senyum merekah di bibirnya, senyum yang seakan memberikan kesejukan untuk hati Arzan yang sedang gersang.


"Maafkan aku sayang, aku tidak ingin apa yang pernah terjadi di masa lalu kembali terjadi lagi. Kemal adalah sahabatku dan dia menyukaimu" jelas Arzan akhirnya mengungkapkan ketakutannya, dia terlihat dangat frustasi memikirkannya.


Arzan pun menceritakan apa yang terjadi di masa lalu antara dirinya Nathan dan Almarhumah istrinya kepada Tiara tidak terlewat satu pun. Sampai saat ini Arzan masih merasakan sakit jika bayangan masa lalunya itu kembali melintas. Entah sakit karena merasa dikhianati atau sakit karena rasa bersalah.


"Aku tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi, aku mencintaimu dan tak ingin kehilangan apapun yang ada pada dirimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya lahir dan batinmu" suara Arzan terdengar pilu, keputusasaan seakan sedang menghampirinya.


"Mas, aku sudah kamu ikat dengan ikatan suci pernikahan. Mas sudah berjanji kepada Allah dan kedua orang tuaku dengan disaksikan banyak orang untuk menjadikanku pasangan hidupmu melalui akad pernikahan itu dan pernikahan kita sah di mata agama maupun hukum. Dan aku bertekad untuk sakinah bersamamu"


"Pernikahan yang kuat jarang memiliki dua orang yang kuat pada saat yang sama, terima kasih sudah percaya padaku dan bercerita. Jika saat ini kamu merasa lemah, izinkan aku untuk menjadi kuat. Aku akan berusaha menemukan kelebihan dari setiap kekuranganmu dan menemukan kebaikan daei setiap keburukanmu. Aku berharap kelebihan yang aku miliki dapat menjadi sumber kebahagiaanmu dan kekuranganku menjadi sumber pahalamu, begitupun sebaliknya. Semoga kita sehidup sesurga" pungkas Tiara, dia menangkup wajah Arzan dan mengecup sekilas bibirnya,


Rasa hangat seketika menyelusup memenuhi dada Arzan, haru dan bahagia setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Tiara kini memenuhi hatinya.


Arzan menarik Tiara dan membawanya ke dalam pelukannya, tak ada kata yang terucap hanya air mata yang menjadi saksi betapa dirinya bersyukur memiliki wanita sholehah ini sebagai istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sampai kapan pun" gumamnya dalam hati.


__ADS_2