
Tiara baru saja sampai di rumahnya. Hari ini dia harus pergi ke kampus untuk memastikan jadwal wisuda yang akan diikutinya. Tidak lama lagi predikat Sarjana akan secara resmi disandangnya. Dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya hari ini, Tiara keluar dari mobil yang dikendarainya sendiri ke kampus.
"Assalamu'alaikum" tidak ada yang menjawab ucapan salamnya saat memasuki rumah karena semua orang tampaknya masih bergelut dengan rutinitasnya masing-masing. Arzan akan pulang larut malam ini karena ada pertemuan sambil makan malam dengan kolega bisnisnya, dia sudah memberitahunya sejak semalam. Qiana masih sekolah, Ana tampaknya belum pulang dan masih membersamai Qiana di sekolahnya, pikir Tiara.
"Eh.....kamu sudah pulang sayang?" Tiara terjingkat kaget saat mendapati ternyata putrinya sudah pulang dan sedang menonton televisi di ruang keluarga,
"Iya" jawab Qiana singkat, dia hanya menoleh sejenak dan kembali melihat tayangan film kartun kesukaannya sore itu.
"Tumben pulang cepat, ada kegiatan di sekolahnya?" Tiara memilih duduk di samping putrinya dan membelai kepala sang putri lembut,
"Iya" lagi-lagi Qiana hanya menjawab singkat pertanyaan Tiara membuat ibu sambungnya itu mengerutkan keningnya menatap heran dengan sikap yang ditunjukan Qiana.
"Bagaimana hari ini di sekolahnya?" Tiara masih berusaha bersikap biasa, tidak mau menunjukan keheranannya akan perubahan sikap sang putri.
"Ya gitu..." jawab Qiana tanpa menoleh,
"Maksudnya?"Tiara semakin mengerutkan keningnya, putrinya bersikap tidak seperti biasanya yang selalu antusias jika ditanya tentang keadaannya di sekolah,
"Seperti biasa aja mommy, aku belajar, ngerjain tugas, dinilai sama bu Guru, main sama teman, udah gitu aja" jawab Qiana dengan nada semakin terdengar malas di telinga Tiara,
"Sayang... kamu kenapa? kok sepertinya sedang kesal gitu? kamu marah sama mommy karena mommy gak jemput kamu hari ini?" Tiara akhirnya mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatinya. Dia berbicara lembut seperti biasanya, tidak ingin membuat putrinya itu merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Gak apa-apa Mi, aku capek mau istirahat aja di kamar" Qiana berdiri, memeluk boneka besar kesayangannya dan beranjak menuju kamarnya, Tiara hanya melongo. Melihat punggung sang putri yang semakin menjauh.
"Ada apa dengan Qiana?" ucapnya salam hati,
"Mungkin dia memang benar-benar lelah, apalagi sekarang mau menghadapi ujian kenaikan" gumam Tiara, dia berpikiran positif dengan perubahan sikap putri sambungnya itu.
☘️
☘️
☘️
Tiga hari berlalu, Tiara semakin bingung menghadapi perubahan sikap putri sambungnya. Sudah tiga hari ini Tiara merasa Qiana semakin menjaga jarak darinya. Pergi dan pulang sekolah bersama Tiara biasanya menjadi hal yang membuat Qiana begitu bahagia. Tapi sudah dua hari ini dia tidak mau dijemput olehnya. Hatinya terasa tercubit mendengar penolakan dari putri sambungnya, namun Tiara berusaha menetralkan perasaannya. Berusaha memaklumi mungkin putrinya itu memang sedang ingin bersama pengasuhnya saja.
Selama beberapa hari ini suaminya itu memang tampak sibuk, setiap hari pergi pagi sekali dan pulang ketika sudah larut. Proyek pembangunan hotel dan resto barunya akan segera dimulai. Hal ini membutuhkan perhatian ekstra dari Arzan karena untuk beberapa hal memang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain.
Bukan tanpa alasan Arzan memburu pekerjaannya agar cepat selesai, dia ingin saat Tiara wisuda dirinya bisa menghadirinya dengan tenang tanpa gangguan urusan pekerjaan. Bahkan Arzan sudah punya rencana untuk memberi kejutan pada istrinya itu.
"Sayang, kamu sebenarnya kenapa?" Tiara berlari kecil menyusul Qiana yang sudah berlalu menuju pintu keluar. Tiara tersentak dan mematung setelah mendapat penolakan putri sambungnya itu.
"Aku enggak apa-apa" jawab Qiana tanpa menoleh, dia memainkan satu kaki dan menekurinya saat Tiara menghadangnya untuk pergi,
__ADS_1
"Kenapa kamu begini sama Mommy? coba katakan kesalahan apa yang sudah mommy lakukan hingga membuat kami menjadi seperti ini?" Tiara berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Qiana.
Tiara masih menutup mulutnya rapat, enggan menjawab pertanyaan ibu sambungnya itu.
"Sayang, lihat mommy..." Tiara meraih dagu Qiana dan mengarahkan wajah gadis kecil itu tepat bertatapan dengannya.
"Bicaralah, Qiana yang mommy tahu tidak pernah seperti ini" Tiara berbicara lembut membingkai wajah sang putri dengan kedua tangannya,
"Aku mau sekolah....." Qiana tampak berkaca-kaca, dia masih enggan untuk membuka mulut menjawab pertanyaan Tiara.
Tiara membuang nafasnya pelan, dia harus benar-benar bersabar menghadapi anak sambungnya.
"Baiklah sayang, mommy tidak akan memaksa kamu, mommy juga tidak akan mengantar atau menjemput kamu ke sekolah sesuai permintaanmu. Tapi satu yang harus kamu ingat mommy sangat menyayangi kamu" Tiara berkata dengan menahan tangis yang hampir saja akan meledak, perasaannya bercampur aduk. Rasa sakit karena penolakan sang putri dna rasa sayangnya yang begitu besar membuat dia hanya menginginkan kebahagiaan untuk putri sambungnya itu. Jika dengan ketidakberadaan dirinya menjadi kebahagiaan untuk Qiana, dia rela.
"Mbak Ana...." teriak Qiana memanggil pengasuhnya,
"Iya Non" Ana datang tergopoh, sejak tadi dia bersembunyi di balik pintu menyaksikan sendiri bagaimana majikannya itu mendapat penolakan dari putri sambungnya. Ana sendiri heran ada apa dengan Qiana yang tiba-tiba berubah drastis dalam memperlakukan Tiara. Padahal dia sendiri tahu, dulu Qiana sangat menyayangi Tiara.
"Ibu yang sabar ya, nanti saya akan coba bicara dengan Non Qia" Ana berbicara pelan sebelum menuju mobil yang sudah siap mengantarkan mereka. Sementara Qiana, gadis kecil itu sudah duduk manis di dalam mobil dan siap berangkat.
Tiara menarik nafasnya dalam, Tiara hanya menganggukan kepala merespon perkataan Ana. Dia harus menyelidiki apa sebenarnya yang menyebabkan putri sambungnya itu tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini Ana pun mengatakan jika Qiana tidak menemuinya di tempat tunggu pengasuhnya itu. Biasanya saat istirahat Qia suka menemui pengasuhnya di tempat khusus orang tua yang menunggui anaknya. Ana pun segera berlari menuju mobil setelah mendengar teriakan Qiana untuk kedua kalinya memanggil namanya.