Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Tentang Rianti


__ADS_3

Karena terlalu lelah dengan patah, beberapa orang memilih berdamai dengan kesepian dibanding kembali lagi bertaruh pada sebuah harapan.


Obrolan terakhirnya di taman rumah Tiara bersama Nathan membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi mudah membuka hati. Semua hal yang Nathan katakan tentang Mikha, cukup membuat Rianti tahu jika bukan dirinya yang dipilih.


Sehebat apapun usaha yang dilakukan, sedekat apapun mereka sebelumnya. Jika bukan dirinya yang dia mau apa boleh buat, hanya hati yang patah yang Rianti terima saat ini.


Kehadiran Arga dengan segala pesona dan perhatiannya tidak lantas membuat dirinya percaya begitu saja jika ada orang yang benar-benar tulus mengharapkannya. Pengalaman sakit yang diterimanya dari rasa mencintai, membuat Rianti berusaha keras membentengi hati untuk tidak kembali jatuh dan mencinta karena karena ketika patah rasanya ternyata jauh lebih sakit.


Malam yang dikin dan sepi dirasa lebih memahaminya saat ini dari apapun.


"Bagaimana lu bisa mengenal gadis itu?" dua pemuda tampan dengan sejuta pesona tengah duduk berdua di sebuah kafe yang buka dua puluh empat jam dengan secangkir kopi masing-masing di hadapannya.


Nathan menarik nafasnya dalam, dia menyesap kopi yang ada di hadapannya itu dengan penuh penghayatan.


"Berawal dari sebuah kepenasaran" jawab Nathan penuh teka-teki.


"Maksudnya?" Arga tidak cukup faham untuk memahami jawaban Nathan, dia merasa jawaban sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu terlalu ambigu.


"Gue bermaksud mendekati Tiara saat itu, Riki memberitahu gue kalau dulu Tiara pernah bekerja di salah satu restoran milik Arzan" Riki adalah teman mereka, sahabat sekaligus salah satu orang kepercayaan Arzan yang diamanahi untuk mengelola restoran milik keluarga El-Malik.


"Gue ke sana, dan bertemu dengan Rianti yang ternyata mengenal Tiara selama bekerja di sana. Di sanalah kedekatan kami dimulai." Nathan kembali mengambil cangkir kopi yang tinggal setengahnya itu.

__ADS_1


Arga mengernyit dia tampak berpikir, mengingat-ingat benarkah gadis itu ada di sana. Arga termasuk paling sering mengunjungi restoran itu, dia sering menghabiskan waktu senggang dengan Riki. Tapi kenapa dia menyadari keberadaan Rianti di sana, pikir Arga.


"Sepertinya orang-orang yang bekerja di sana orang-orang dengan bakat terpendam semua" canda Arga yang mengingat jika saat ini Rianti yang kenal adalah seorang perawat dengan banyak prestasi. Arga pun mengingat Tiara, wanita yang menjadi tukang cuci piring di restoran itu ternyata adalah seorang mahasiswa bisnis di universitas ternama dan sekarang menjadi nyonya boss dari El-Malik Grup, pemilik banyak restoran, hotel dan usaha lainnya di berbagai bidang.


"Justru itu yang membuat gue tertarik pada gadis itu. Awalnya gue hanya ingin mengorek informasi tentang Tiara. Beberapa kali kami bertemu, gue selalu melihat sisi lain dari dia. Rianti ternyata penuh kejutan, orangnya humble dan cerdas" Nathan menghela nafas untuk menjeda bicaranya, sementara Arga menyimak dengan raut penasaran.


"Suatu hari gue mengajaknya bertemu di taman dekat tempat dia bekerja. Namun ternyata dia kerja hari itu karena ibunya meninggal. Sebagai orang yang mengenal dia gua terketuk untuk mendatangi rumahnya untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa. Dan sesampainya di rumah sederhana itu gue terlambat, jenazah ibunya sudah dikuburkan dan para pelayat pun sudah sepi. Rumah itu sepi, untunglah Rianti ada. Bersama dua adiknya, dia sedang membereskan pakaian almarhumah ibunya. Katanya jika yang masih layak pakai akan mereka sumbangkan untuk yang membutuhkan."


Arga semakin antusias menyimak cerita Nathan, dirinya pun tidak menyangka akan setertarik ini pada gadis itu.


"Cukup lama gue di sana, gue membantu mengepak pakaian layak pakai itu untuk disumbangkan. Walaupun awalnya Rianti menolak namun gue tak sampai hati harus meninggalkan tiga anak gadis itu sedangkan mereka sedang dalam keadaan berduka"


"Jadi Rianti punya dua adik dan dua-duanya laki-laki?" Arga menyela cerita Nathan,


"Saat menunggu Rianti yang sedang menerima tamu yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian ibunya, tanpa sengaja mata gue menangkap satu lemari kecil dengan pintu kaca di salah satu sudut rumah. Ternyata isinya buku-buku semua, tersusun dengan rapi dan sangat terjaga"


"Gue iseng membuka pintu lemari itu dan mengambil bukunya. Ternyata isinya adalah buku-buku tentang kesehatan dan ilmu keperawatan. Di sana juga gue menemukan piagam penghargaan berbagai lomba yang dia ikuti sejak SMA. Gue enggak nyangka ternyata anak itu sangat cerdas dan banyak prestasinya"


"Adiknya bilang itu adalah lemari buku punya Rianti, dia cuti kuliah karena tidak mampu lagi membayar biaya. Uang yang dia hasilkan tidak cukup untuk membiayai kuliahnya karena pengobatan ibunya lebih penting dan membutuhkan uang yang banyak, belum lagi biaya sekolah adik-adiknya dan juga biaya hidup sehari-hari mereka. Rianti menjadi tulang punggung sejak ibunya dinyatakan sakit parah. Kalau libur bekerja di restoran katanya dia masih mencari uang tambahan dengan berjualan barang dagangan milik tetangganya"


"Gue salut sama dia, dan sejak saat itu gue bertekad untuk membantu dia sampai terwujud cita-citanya" Nathan menghabiskan kopinya yang sudah dingin di atas meja dengan sekali tegukan mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Dia langsung menerima?" masih banyak kepenasaran tentang Rianti di benak Arga.


"Tentu saja tidak, bertambah lagi hal yang membuat gue kagum sama dia. Selama gue mengenal dan bertemu dengannya, Rianti tidak pernah membicarakan perihal dirinya. Dia selalu terlihat baik-baik saja, gue gak nyangka di balik sikap cerianya dia memikul beban berat dalam hidupnya" jelas Nathan dengan mata berbinar membayangkan senyum ceria Rianti.


"Lalu apa yang membuat dia akhirnya menerima bantuan lo?" pertanyaan Arga membuyarkan lamunan Nathan,


"Gue memberinya pekerjaan yang lebih layak" jawab Nathan tegas,


"Gue juga menyarankan dia untuk melanjutkan kuliahnya dengan beasiswa dari perusahaan yang bisa dia dapatkan jika dia bekerja dengan baik di sana. Gue benar-benar harus muter otak mencari cara agar dia mau menerima bantuan gue" lanjut Nathan dengan wajah datar, dia kadang kesal sendiri ketika mengingat sulitnya membuat Rianti menerima bantuannya.


"Keren, cewek langka!" seru Arga dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Lo benar, dia memang tipe cewek yang istimewa. Jujur gue respect banget dengannya" ujar Arga lagi,


"Hanya sebatas itu?" selidik Arga mulai ke hal inti yang ingin dia ketahui tentang hati sahabatnya itu,


"Gue jatuh hati sama dia" telak Nathan, tanpa ragu dan tanpa berpikir panjang dia menjawab semua kepenasaran Arga membuat laki-laki itu duduk sambil membenturkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Dia adalah perempuan yang layak untuk dijadikan ibu dari anak-anak gue" lanjut Nathan dengan lantang, dia mengabaikan wajah Arga yang tiba-tiba berubah sendu dan kecewa.


"Terus kenapa lo sekarang milih sama Mikha?" tanya Arga ketus,

__ADS_1


"Mikha sakit!" jawab Nathan dengan tatapan serius, mereka pun saling beradu tatap tanpa suara.


__ADS_2