
Tiara tersentak sesaat setelah bergumam dalam batinnya. Ada perasaan aneh saat dirinya menyebut Arzan dengan sebutan Mas. Hal yang lumrah dan seharusnya memang begitu. Tetapi, lagi-lagi Tiara cukup sadar diri bahwa sang suami tidak akan menghendakinya.
"Ah Tuan, aku bingung. Terkadang sikapmu membuat aku merasa jika aku berarti untukmu bukan sebagai pengasuh Qiana, tapi tak jarang aku dibuat sadar diri dimana posisiku sebenarnya" Tiara menghembuskan nafasnya pelan, ingin sekali untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki itu tapi kebersamaan mereka setiap hari baik di rumah atau di kantor membuat jantung normal Tiara merasakan berdegup kencang saat bersamanya. Apalagi setelah mengetahui semua yang dilakukan untuk keluarganya.
"Bagaimana caranya menjaga hati ini agar aku tidak jatuh cinta padamu, Tuan. Aku hanya takut jika pada saatnya nanti aku tidak mampu melepasmu" gumamnya lagi,
☘️☘️☘️
Sesuai yang dijanjikannya pada Arzan, Tiara akan kembali minggu sore. Siang ini Tiara sudah berkemas untuk kembali ke Jakarta, dia akan diantar ke terminal oleh sang adik.
Setelah semalaman puas bercerita panjang lebar dengan sang ibu dan kedua adiknya Tiara memutuskan kembali setelah dzuhur. Dia memperkirakan akan sampai sekitar ashar, berharap perjalanannya lancar dan sampai tepat waktu. Walau pun dia tahu ini adalah hari libur pasti lalu lintas akan lebih padat dari hari biasanya, tapi pagi ini Tiara ingin menjenguk sang ayah, memberikan motivasi untuknya agar bisa bertahan.
Walau bagaimana pun sang ayah pasti menjadi orang yang paling terluka hatinya atas kasus yang menimpanya. Bukan hanya dirinya yang kecewa tapi dia pun sudah mengecewakan semua anggota keluarganya terutama istri dan anak-anaknya.
Ayah Tiara sangat merasa bersalah atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Dan kehadiran Tiara berharap bisa memberikan motivasi untuknya bahwa keluarganya tetap ada dan menunggunya.
☘️☘️☘️
Tepat pukul lima sore Tiara sudah sampai di depan rumah mewah yang selama ini ditempatinya, dia turun dari ojek online yang membawanya dari terminal. Ada rasa ragu saat Tiara akan memasuki gerbang rumah itu, perlahan dia pun melangkah setelah satpam membukakan pintu gerbang itu. Namun keraguannya hilang seketika saat mendengar teriakan Qiana dari arah taman yang berada di samping rumah itu.
__ADS_1
Tiara melambaikan tangannya dan menyambut kedatangan Qiana yang berlari dan langsung menubruk tubuhnya,
"Mommy, Qia kangen....lama banget mommy perginya..hikss...." Qiana menumpahkan kerinduannya pada Tiara, dia memeluk erat Tiara dengan air mata yang deras mengaliri pipinya,
"Sstttttt....kenapa anak cantik mommy menangis? sudah ya jangan nangis lagi, mommy kan sudah ada di sini. Qia hebat, sudah bisa mandiri sekarang" puji Tiara, dia mengurai pelukannya dan mengusap pipi Qiana yang basah karena air mata, gadis kecil itu masih terisak menahan tangisnya.
Selama tiga hari meninggalkan Qiana, Tiara tidak lepas komunikasi dengan Ana. Ana selalu mengirimkan foto-foto tentang semua hal yang dilakukan Qiana. Termasuk foto saat Tuan Arzan kewalahan membujuknya untuk sarapan dan pergi sekolah.
"Qia gak mau mandiri, Qia mau sama mommy..." Qiana masih merajuk, dia masih tak rela atas kepergian Tiara tiga hari kemarin. Sungguh tiga hari yang berat untuk gadis kecil itu.
Terbiasa dengan kehadiran Tiara di sampingnya, membersamai dia di setiap aktivitas hariannya selama di rumah membuat gadis kecil itu sangat bergantung pada Tiara dan menjadi hal yang sulit untuknya ketika Tiara jauh darinya.
Keharuan pertemuan Tiara dan Qiana tidak lepas dari pantauan Arzan dan Mami Ratna. Saat Tiara datang mereka bertiga sedang bermain di taman samping. Qiana yang sejak bangun tidur selalu menanyakan kapan Tiara akan pulang membuat Arzan pusing begitu pun dengan mami Ratna yang bingung harus menjawab apa lagi setiap Qia bertanya, apalagi ponsel milik Tiara tidak aktif saat dihubungi.
Mami Ratna yang tahu keadaan rumah tangga putranya yang masih jalan ditempat tidak bosan memprovokasi Arzan, dia ingin menyadarkan putranya bahwa sikapnya salah.
Mami Ratna sangat berharap banyak pada Tiara saat meminangnya untuk sang putra, dan benar saja harapannya satu persatu terwujud. Tiara mampu menjadi ibu yang baik untuk Qiana, sehingga mami Ratna tenang saat dirinya tidak membersamai sang cucu karena ada Tiara.
Tinggal satu lagi yang membuat mami Ratna gemas, yaitu sikap putranya yang masih saja jual mahal. Berdalih karena cinta sejati untuk almarhumah istrinya, Arzan menutup hati dan matanya dari keindahan dan kebaikan yang ada pada Tiara sebagai bentuk dedikasi dan apresiasi tinggi terhadap pengorbanan sang istri saat melahirkan putri kecilnya.
__ADS_1
"Mami, sudahlah...." Arzan yang akan menyela perkataan mami Ratna terhenti,
"Mami tidak akan bossn untuk menyadarkan kamu agar mau menjalani hidup normal. Kamu pikir normal seorang laki-laki menduda selama lima tahun dan selama itu tidur dengan memeluk foto almarhumah istrinya?" mami Ratna sedikit meninggikan intonasi bicaranya membuat Arzan kaget dan diam tak ingin bicara untuk menyanggah sang mami, dia tahu maminya saat ini tengah meluapkan kekesalan dan kekhawatirannya terhadap dirinya.
"Kamu pikir mami tidak sedih gitu, melihat putra semata wayang mami terus hidup sendirian dan dalam rasa bersalah karena tidak bisa memperjuangkan keselamatan istrinya saat melahirkan?" mami Ratna berbicara menggebu-gebu, dia merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuknya mengungkapkan semua yang mengganjal di hatinya selama ini,
" Arzan .... jodoh, rezeki, kematian, semua itu adalah kuasa Allah. Kita tidak punya hak untuk turut intervensi dalam hal-hal itu. Tugas kita hanya menjalankan apa yang sudah ditakdirkan-Nya dengan sabar dan syukur. Kamu seharusnya bersyukur saat Tiara bersedia menerima pinangan mami untuk menjadi istrimu. Lihatlah dia sungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai ibu yang baik untuk anakmu. Sekarang giliran kamu untuk membalas perlakuan baiknya" mami Ratna mulai kembali merendahkan intonasi bicaranya, dia bahkan sangat lembut dan menatap sang putra penuh harap ketika mengatakan kalimat terakhirnya saat menjeda ucapannya,
"Mami yakin sudah ada cinta di hatimu untuk Tiara, hanya egomu terlalu tinggi untuk mengakuinya. Menerima Tiara bukan berarti kamu harus sepenuhnya melupakan Mitha, dia tetap memiliki tempat khusus di hati kamu dan biarkan cukup kamu yang tahu dan merasakannya. Berikan hak Tiara sebagai istrimu untuk berada di hatimu dan menjadi bagian dari prioritas hidupmu" ucap mami Ratna lagi, membuat Arzan semakin membeku.
Arzan menundukkan kepalanya, meresapi setiap kalimat yang diucapkan mami Ratna. Semuanya benar, tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan maminya. Tapi kenapa pikirannya selalu menolak untuk mengakui semua itu. Padahal Arzan sadar betul jika hatinya merasakan kehangatan dan kenyamanan saat bersama Tiara dan juga merasakan kerinduan saat gadis itu jauh darinya.
"Mami hanya tidak mau kamu menyesal. Saat Tiara menyerah dan memilih pergi dari sisimu. Apalagi ada banyak orang yang tertarik pada Tiara, jangan kira mami tidak tahu. Mami tahu sahabat kamu, Kemal adalah dosen Tiara yang juga selalu mendekatinya. Mami bisa lihat ketertarikan di mata Kemal pada Tiara" ucap mami Ratna telak, membuat Arzan mendongakkan kepala menatap intens sang mami yang masih menunjukkan wajah kesalnya.
"Mami tahu tentang Kemal?" tanya Arzan polos,
"Tidak hanya itu, mami juga tahu saat di banten Nathan juga bertemu Tiara dan sepertinya dia pun mengincar gadis itu, apalagi dia tahu Tiara hanya pengasuh anak kamu" intonasi mami Ratna kembali meninggi, Arzan membulatkan matanya dengan penuturan sang mami yang mengetahui semua tentang Tiara.
"Mami pasti tahu dari Arga" Arzan membatin, dia jadi enggan bersuara saat sang mami belum puas meluapkan kekesalannya,
__ADS_1
"Ini untuk terakhir kalinya mami mengingatkan kamu. Kalau kamu masih bersikap seperti ini jangan salahkan jika Kemal dan Nathan semakin gencar mendekati Tiara. Kamu tahu, perempuan itu akan lebih memilih seseorang yang bisa membuatnya nyaman"
"Mami yakin Kemal atau pun Nathan akan mampu membuat Tiara nyaman, dan di saat Tiara memilih untuk meninggalkan kamu, kamu hanya akan meratapi kesendirianmu dengan memeluk foto istrimu yang sudah tiada itu" pungkas mami Ratna menohok ke dalam hati Arzan,