Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Menghindar


__ADS_3

"Aku sayang daddy, aku sayang mommy, aku mau sama daddy, aku mau sama mommy..." kalimat itu terus meluncur dari bibir mungil gadis yang masih tampak lemah itu.


Tiga puluh menit sudah berlalu, suasana haru masih menyelimuti seisi ruangan. Nathan berdiri di pojok ruangan itu dengan hati yang bergejolak melihat keintiman putrinya dengan Arzan. Ego diri, ingin rasanya menyingkirkan Arzan dan mengganti posisinya untuk di peluk Qiana. Tapi rasa hati mengajaknya untuk berpikir dewasa, gadis kecil itu tidak tahu apa-apa yang dia tahu dirinya adalah putri dari Arzan. Nathan pun memilih untuk diam, menjadi penonton yang baik dan turut larut dalam keharuan itu.


Sementara Tiara yang sejak tadi pun sama hanya menjadi penonton tersenyum bahagia. Dia bersyukur lelaki yang masih berstatus suaminya itu akhirnya sadar dan masih mau menerima Qiana sebagai putrinya. Ada kelegaan di hati Tiara, melihat kebahagiaan yang terlihat jelas di mata Qiana saat Arzan datang. Begitu pun sebaliknya masih ada cinta di mata Arzan untuk putri kesayangannya.


Namun senyumannya memudar seketika teringat jika dirinya pun tengah mengandung dan saat ini Arzan masih enggan mengakui anak yang dikandung Tiara itu adalah anaknya, miris sekali. Rasa perih kembali menjalar ke seluruh tubuh Tiara.


Perlahan Tiara mundur, berniat untuk keluar dari ruangan itu tanpa diketahui siapapun.


"Aku sadar, terlalu banyak kekurangan diriku untuk menjadi prioritasmu" bisik Tiara dalam hati, perlahan dia membuka pintu ruangan tempat Qiana di rawat. Perlahan tapi pasti, Tiara melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


Tidak berselang lama terdengar dengkuran halus Qiana yang bersandar di dada bidang Arzan, dia pen menghentikan usapan lembut tangannya di punggung putrinya itu. Beralih membawa tubuh mungilnya untuk dia baringkan di atas kasur empuk kamar perawatan fasilitas super yang sengaja disiapkan untuk perawatan Qiana.


Arzan membalikkan tubuhnya, mengedarkan pandangan menyusuri setiap sudut ruangan yang sejak tadi di belakanginya karena fokus pada Qiana yang terus berada dalam dekapannya hingga tertidur pulas.

__ADS_1


"Tiara....?" Arzan menatap sang mami yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, berkirim pesan dengan sang adik tentang perkembangan kesehatan cucunya.


"Mami, kemana Tiara?" tanya Arzan dengan wajah panik,


"Lho...tadi kan di sini?" mami Ratna tak kalah panik mencari keberadaan sang menantu yang beberapa saat lalu mengobrol dengannya namun terjeda karena ada notifikasi pesan masuk dari sang adik di ponselnya.


"Nath, lo lihat istri gue?" Arzan akhirnya bertanya pada Nathan karena di ruangan itu hanya ada mereka bertiga, berempat dengan Qiana dengan wajah datar dan bernada ketus.


"Tadi dia keluar, mungkin mencari udara segar" terang Nathan yang mengetahui kepergian Tiara dari ruangan itu. Nathan pun tidak menyadari jika Tiara sengaja keluar diam-diam dari ruangan itu.


Arzan pun bergegas untuk keluar mencari keberadaan istrinya itu.


"Mami, aku nitip Qia" ucap Arzan buru-buru, dia menyambar kunci mobil yang diletakkannya di atas ranjang Qiana.


"I..iya.....hati-hati kamu di jalan, temukan Tiara dan ajak kembali ke rumah" jawab mami Ratna yang juga khawatir, dia bahagia saat mengetahui menantunya itu bersedia datang saat diberitahu jika Qiana memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


Mami Ratna sengaja datang ke tempat Tiara wisuda, dia sengaja menghadiri acara penting menantunya itu setelah mendapat informasi dari arga jika Tiara di wisuda hari ini.


"Sayang, kamu dimana?" Arzan bersuara lirih, dia sudah mencari-cari keberadaan Tiara di sekitaran rumah sakit, namun tak kunjung menemukan sang istri yang pergi secepat kilat.


"Ra, kamu yakin tidak akan menemui suamimu? kamu lihat kan tadi dia ke sana kemari mencari kamu" Rianti menutup kembali tirai tipis ruangan tempat dirinya dan Tiara berada.


Mereka baru saja memerhatikan Arzan yang berlari ke sana kemari untuk mencari keberadaan Tiara. Letak ruangan perawat yang strategis membuat mereka dengan jelas melihat Arzan yang berlari ke sana kemari.


Mereka berdua pun melihat beberapa kali Arzan tampak bertanya pada orang-orang. Terakhir Rianti mengetahui jika Arzan sempat mencari jejak Tiara melalui cctv rumah sakit. Hal itu terlihat ketika beberapa petugas keamanan mengarahkan suami sahabatnya itu ke ruang keamanan saat dirinya melintas di bagian resepsionis yang ditanyai Arzan. Untunglah saat Tiara memilih keluar dari ruangan Qiana, dia sengaja berjalan ke arah yang tidak terjangkau cctv.


"Iya, aku belum siap untuk bertemu langsung dengannya" jawab Tiara dengan wajah tertunduk, hatinya sempat tersentuh saat mengetahui jika Arzan ternyata mencari keberadaan dirinya. Namun pikirannya kembali mengingatkan betapa kecewanya dia saat Arzan meminta dirinya melakukan tes DNA..


"Mau sampai kapan kamu akan menghindar terus? Kami enggak kasihan melihat tuan Arzan yang terlihat begitu kacau tadi? Aku yakin dia pasti sudah mencari kamu kemana-mana" tanya Rianti, menatap intens sahabatnya itu.


"Aku pergi bukan berarti aku tidak peduli lagi Aku hanya sekedar sadar diri, dan berharap jika kepergianku sedikit menyadarkannya bahwa aku tidak selamanya akan ada untuk dia jikalau dia tidak bisa menghargai keberadaanku" ucap Tiara sembari menghela nafas, pelan namun mendalam.

__ADS_1


__ADS_2