
Tepat pukul sebelas malam mobil mewah yang dikendarai Arzan sudah melewati jalanan ramai ibu kota dan kini terparkir dengan gagahnya. Dia menoleh ke samping dimana Tiara sang istri tengah memejamkan mata terlihat sangat lelap.
Arzan menatap lekat gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu dengan penuh cinta. Aktivitas yang sangat menyenangkan untuknya hingga saat ini, memandang wajah sang istri di saat terlelap sungguh membuat dirinya merasakan ketenangan batin yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
Bukan hanya saat ini, saat dirinya sudah membuka hati untuk gadis itu dia suka memandangi wajah Tiara saat terlelap, tetapi aktivitas itu sudah dia lakukan sejak gadis itu resmi dinikahinya dan pertama kali tidur satu kamar dengannya.
Walaupun saat itu Tiara tidur di sofa tetapi tanpa sepengetahuan siapapun, Arzan diam-diam suka mendekat ke tempat dimana gadis itu tertidur lelap hanya untuk memandangi wajahnya. Lama kelamaan ternyata aktivitas itu sangat menyenangkan menurut Arzan, hingga kini dia masih selalu melakukannya tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Euumhhh....." suara lenguhan Tiara sontak membuat Arzan menjauhkan wajahnya yang hampir sedikit lagi mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Tiara.
"Eumm....Mas, sudah sampai?" Tiara membuka matanya, menengok ke kiri dan ke kanan melihat situasi sekitar.
"Heumm...."jawab Arzan tanpa mengalihkan tatapannya dari sang istri yang terlihat lucu dengan wajah bingungnya.
"Mas, ini dimana? ini bukan di rumah?" Tiara mulai menyadari situasi, keberadaan mereka saat ini bukan di halaman rumah atau pun parkiran kantor.
Setelah Tiara menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Arzan memutuskan untuk membawa Tiara ke suatu tempat selain rumah. Dia menunggui sang istri dengan setia, Tiara menolak untuk pergi sebelum semua pekerjaannya selesai.
Ada perasaan bangga dengan sikap tanggung jawab istrinya itu namun hatinya pun tak kalah kesal jika ternyata ada stafnya yang memperlakukan sang istri seperti itu, Arzan pun bertekad untuk mencari tahu sendiri tentang hal itu.
"Ini di hotel sayang, malam ini kita akan menginap di sini" jawab Arzan dengan tersenyum penuh arti.
"Hotel, tapi...." ucapan Tiara terjeda,
"Aku sudah menyiapkan segalanya sayang, ayo kita keluar" ajak Arzan, dia melepas seatbell miliknya dan membantu melepaskan sealbell Tiara yang masih terlihat bingung dengan rencana suaminya itu.
"Ayo" Arzan sudah keluar dari mobilnya lebih dulu, dia pun berjalan memutar menuju pintu mobil sebelahnya untuk meminta Tiara keluar dari dalam mobilnya. Dia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat dan berjalan menuju pintu lobi hotel mewah itu.
"Selamat malam Tuan, silahkan" seorang pria dengan pakaian jas rapi lengkap dengan dasi kupu-kupu yang melekat di bagian lehernya menyambut kedatangan mereka berdua di pintu masuk lobi hotel mewah itu. Tiara bahkan dibuat melongok ketika memasuki lobi hotel yang didesain dengan begitu mewah dan tampak indah, untuk pertama kalinya dia berada di sana. Pria itu berjalan lebih dulu dan mengarahkan mereka berdua ke sebuah lift.
Di dalam lift, Arzan menggamit pinggang ramping Tiara agar merapat ke arahnya posesif. Sekilas laki-laki yang bertindak sebagai manajer di hotelnya itu melirik, sebuah senyum tipis terbit di bibirnya melihat tingkah posesif atasannya itu.
__ADS_1
Ting...
Pintu lift terbuka, kini mereka berada di lantai paling atas gedung. Saat keluar lift, Tiara kembali disuguhkan sebuah ruangan yang didesain dengan interior tak kalah mewah dari pada di lobi tadi. Di lantai atas ini hanya terlihat ruangan luas yang tampak seperti ruang pertemuan.
Beberapa sofa untuk bersantai terlihat ada di sana, sebuah mini bar dengan fasilitas lengkap juga ada di sana. Hanya ada dua pintu kamar yang terlihat oleh Tiara. Arzan dan Tiara pun mengikuti langkah pria berjas yang membawanya ke lantai itu menuju ke arah pintu salah satu kamar.
Sebuah kamar di lantai tertinggi gedung itu dengan fasilitas VVIP sudah siap untuk mereka huni malam ini. Sebelumnya Arzan sudah mengabari orang kepercayaannya di hotel itu untuk menyiapkan semua yang akan dia dan Tiara butuhkan.
"Silahkan Tuan, Nona, kami sudah menyiapkan semua yang tuan dan nona perlukan. Jika masih ada yang kurang Tuan bisa kembali menghubungi kami. Selamat istirahat Tuan, Nona" Pria itu berkata sopan dan penuh hormat setelah dia membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Arzan dan Tiara malam ini. Pria yang mengantarkan mereka itu pun menganggukan sedikit kepalanya untuk pamit dari hadapan mereka berdua.
"Heumm, terima kasih atas kerja kerasmu" jawab Arzan sambil menepuk bahu pria itu, dia pun membawa Tiara memasuki kamar dan menutup pintunya.
"Mas, serius kita akan menginap di sini?" Tiara kembali bertanya dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap kamar mewah itu.
"Iya sayang, aku tahu kamu pasti sangat capek kan malam ini. Jadi aku ingin kamu beristirahat di sini malam ini. Aku sudah meminta petugas hotel untuk menyiapkan air hangat untukmu berendam" jawab Arzan penuh perhatian,
"Tapi Mas, aku enggak bawa baju ganti" Tiara mengerucutkan bibirnya, tampak menggemaskan di mata Arzan,
"Mas, aku belum mandi" Tiara berontak saat tangan kekar Arzan kembali membelit tubuhnya.
"Aku suka" jawab Arzan sambil menelusupkan kepalanya ke leher Tiara yang masih terhalang jilbab.
"Ishh....suka apanya, bau tau" elak Tiara yang tidak mau terlena dengan pujian Arzan.
"Aku mau mandi Mas," lanjutnya, Arzan pun melepaskan pelukannya, dia membiarkan Tiara untuk berlalu menjauh darinya dan memasuki kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu, Tiara masih terlena dengan aktivitasnya. Berendam di air hangat dengan aroma terapi setelah seharian bekerja membuatnya merasa nyaman. Rasa letihnya seakan meluap, tubuhnya kini lebih terasa segar.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuat Tiara terperanjat, dia membuka matanya yang sengaja dia pejamkan menikmati kenyamanan berendamnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah terlalu lama berendam, ini sudah malam tidak baik buat tubuhmu" suara Arzan terdengar memperingatinya,
"Iya Mas, sebentar lagi" Tiara bergegas membersihkan tubuhnya tidak ingin membuat sang suami kembali memperingatkannya.
Ceklek....
Suara pintu kamar mandi terdengar pertanda Tiara sudah mengakhiri aktivitas menyamankannya di kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dan tidur adalah tujuannya saat ini.
Tiara berjalan ke arah lemari untuk mencari baju yang akan digunakannya untuk tidur malam ini, namun alangkah terkejutnya dia saat mendapati jika di dalam lemari hanya terdapat baju tidur yang sangat seksi menurutnya. Jangankan memakainya, melihatnya saja tergantung dalam lemari sudah membuatnya malu.
Tiara mencoba mencari baju lain dalam tumpukan kaos yang ternyata adalah kaos-kaos pria, dia berdecak sesudah hampir sepuluh menit mencari tak kunjung menemukan baju yang layak untuk dipakainya malam ini. Tiara berpikir keras, bagaimana dia harus berganti baju. Tidak mungkin dia kembali memakai baju yang dipakainya tadi siang ke kantor.
Akhirnya dengan terpaksa Tiara memakai baju tidur yang akan memperlihatkan auratnya itu. Untunglah saat melirik ke arah tempat tidur terlihat Arzan sudah terlelap dengan nyamannya. Tiara tahu tidak masalah jika dirinya berpakaian seperti itu di hadapan Arzan, toh dia adalah suaminya. Lelaki halal yang berhak atas jiwa dan raganya, tapi rasa malu masih menyelimuti hati Tiara.
Tiara kembali memakai handuk kimono yang baru dia dapatkan dalam lemari setelah sebelumnya memakai baju tidur yang memperlihatkan belahan dada dan paha mulusnya itu.
Setelah berendam rasa kantuk Tiara menjadi hilang. Apalagi dalam mobil tadi dia sempat terlelap selama perjalanan, dia memilih untuk mengeringkan rambutnya di depan cermin. Fasilitas hotel yang ditempatinya sangat lengkap, sehingga Tiara tidak kesulitan untuk mendapatkan pengering rambut.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya rasa kantuk mulai menyerangnya, setelah memastikan rambutnya kering Tiara bersiap untuk tidur. Pelan-pelan dia menaiki tempat tidur king size itu, dia tidak ingin mengganggu Arzan yang tampak semakin lelap tertidur. Suasana kamar pun sudah berganti temaram, baru saja Tiara meraih selimut untuk menutupi tubuhnya tiba-tiba tangan kekar kembali menyergapnya.
"Astaghfirulloh...Mas...." pekik Tiara kaget, bibirnya yang akan mengumpat tiba-tiba dibungkam oleh Arzan tanpa aba-aba.
"Mas, ternyata kamu belum tidur" ucap Tiara dengan nafas terengah-engah setelah Arzan melepaskan pagutannya.
"Kamu pikir malam ini aku akan membiarkanmu tidur begitu saja, heumm?" Arzan berkata dengan nafas memburu, bibirnya kembali beraksi, kini menjelajah area leher yang tercium begitu wangi semakin menggugah hasrat kelelakiannya.
"Mass...." Tiara mendesah, dia pun mulai terpancing, sentuhan-sentuhan suaminya sungguh membuat dia tak mampu menolak. Arzan menyeringai merasakan sang istri sudah mulai menikmatinya.
"Sekarang giliran aku yang akan membuat kamu lembur" bisik Arzan terdengar mengerikan di telinga Tiara.
Tanpa basa-basi, Arzan pun melucuti semua yang menempel di tubuhnya dan berlanjut pada sang istri. Pemandangan indah di depan mata kembali membuat hasratnya semakin menggelora. Tepat pukul satu pagi, petualangan malam mereka dimulai.
__ADS_1
Akhirnya Tiara dibuat benar-benar lembur, hingga menjelang adzan awal mereka barulah terlelap saling mendekap berbagi peluh setelah malam penuh kelelahan sekaligus kenikmatan mereka lalui.