Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Sabar, menyakitkan. Diam, menyiksa. Namun bicara pun percuma. Seperti itulah keadaan Tiara saat ini. Seminggu berlalu setelah hari dimana dirinya memutuskan untuk pergi dan menjauh dari Arzan.


Tiara semakin menyadari jika sejak awal dirinya memang hanya istri yang tak diharapkan kehadirannya. Namun seiring waktu perubahan sikap Arzan yang semakin membaik, memperlakukan Tiara layaknya seorang istri perlahan mengurai keraguan di hati Tiara hingga dirinya benar-benar percaya jika lelaki halal yang sudah ditakdirkan untuknya itu adalah lelaki yang tepat untuk menjadi imamnya, tempatnya menyandarkan , sehidup sesurga.


Berita kehamilan Tiara dibayangkan akan menjadi obat untuk rasa sakit dan kecewa Arzan atas kenyataan menyakitkan yang dia hadapi tentang putri yang selama ini sangat dicintai dan dijaganya, dimana Qiana ternyata bukan putri kandungnya, tapi itu hanya harapan semata. Tiara justru merasakan kekecewaan yang teramat besar ketika suami yang diharapkan menyambut kabar itu dengan bahagia justru meragukan kehamilannya dan meminta Tiara untuk melakukan test DNA.


Saat ini Tiara memilih menjauh, bukan maksud untuk menghindar tapi lebih butuh waktu untuk mempertahankan kewarasan apalagi saat ini kondisinya sedang hamil. Kestabilan kehidupan baru dalam rahimnya menjadi prioritasnya. Dia sudah berusaha untuk berada di samping suaminya di saat-saat terpuruknya, tapi apa yang didapat sungguh mempengaruhi keadaan hati dan pikirannya yang pasti akan memberikan efek tidak baik pada kandungannya.


"Maafkan aku yaa Rabb, aku tahu memilih pergi dari rumah di saat statusku masih menjadi seorang istri adalah pilihan yang kurang tepat. Tapi semoga kepergianku ini memberi hikmah untuk kami berdua dalam membuat keputusan apa yang selanjutnya akan kami ambil untuk masa depan kami dan rumah tangga kami. Aku mohon petunjuk-Mu Yaa Rabb" munajat Tiara di setiap sepertiga malamnya, saat ini dia tinggal di kosan Rianti sahabatnya. Untuk sekarang mungkin hanya Rianti sudah mengetahui tentang kepelikan kehidupan rumah tangganya, dan Rianti sangat memahami itu.


☘️☘️☘️


Hari berganti hari, sudah seminggu lebih Tiara tinggal di kosan Rianti. Beberapa kali Arga dan Mami Ratna datang memintanya untuk kembali ke rumah namun Tiara masih butuh waktu untuk menguatkan hati agar bisa lebih baik lagi bersikap jika bertemu suaminya.


Hari ini Tiara sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Ada agenda gladi resik kegiatan wisuda yang akan diikutinya. Bayangan merayakan momen wisuda didampingi orang-orang tercinta, nyatanya kembali hanya menjadi angannya saja.


"Kamu yakin enggak apa-apa pergi sendiri?" Rianti yang tengah memakai kerudung putihnya bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempatnya magang pun bertanya, menatap Tiara dari pantulan cerminnya. Setelah ibunya meninggal banyak perubahan yang terjadi pada gadis itu, termasuk penampilannya. Dia pun memantapkan hati untuk mengubah penampilan dengan berhijab.

__ADS_1


"Iya, enggak apa-apa. Aku baik-baik saja, lagian sekarang kan aku juga tidak sendiri. Ada dia yang akan selalu menemaniku" jawab Tiara, dia mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.


Setelah berpikir banyak hal, Tiara memilih untuk menguatkan hati. Menerima apa yang menjadi takdirnya dengan berlapang dada.


"Hidup itu terkadang memang harus tampak indahnya. Yakin 9 dari 10 wanita akan mengupload foto yang dinilai bagus dan terbaik. Apa dalam proses foto itu ga ada hasil yang jelek? Pasti ada... hanya kita tidak menguploadnya atau bahkan menghapusnya" sambung Tiara, Rianti pun menghentikan aktivitasnya dan mendengarkan Tiara penuh perhatian.


"Seperti itulah hidup yang ingin aku jalani bersama anakku. Biarkan susahnya, sakitnya perjuangan, perihnya proses yang dirasakan dan sulitnya perjalanan biar menjadi hal yang disimpan. Aku hanya ingin menampakkan sebuah kebahagiaan dan kesenangan" ucap Tiara dengan senyum lebar menatap sahabatnya dengan rasa optimis.


"Tapi kamu juga tidak perlu terus berpura-pura bahagia, jika memang membutuhkan bahu untuk bersandar saat menangis, ingatlah ada aku, aku akan selalu ada untukmu." Rianti merangkul bahu Tiara, mereka pun saling beradu tatap dan menganggukkan kepala masing-masing.


"Itulah yang aku suka dari kamu, selalu berfikir positif untuk segala hal. Kamu masih ingat ketika dulu Mbak Anggia ngasih kita kerjaan tidak berperi kepegawaian?" Rianti mengajak sahabatnya bernostalgia ke waktu saat mereka dulu masih menjadi tukang cuci piring di restoran, dia tergelak saat mengatakan kalimah terakhirnya.


"Kamu ingat, semua anggota tim kita pasti bersungut-sungut tapi beda dengan kamu yang selalu mengajak kami untuk menikmati pekerjaan dengan canda tawa dan kegembiraan" jelas Rianti dengan ingatan yang melayang ke masa lalu mereka beberapa tahun silam,


"Ya... salah satu sifat orang beriman adalah bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika diberi ujian. Aku hanya sedang berikhtiyar untuk dapat merealisasikan dua sikap itu dalam hidupku. Bukankah rezeki datang pada hati yang lapang, dan ingat rezeki sulit itu karena hati sempit." sahut Tiara dengan tersenyum mengingat masa-masa itu,


"Siap Bu Ustadz" Rianti bersikap hormat, dan berdiri tegak di hadapan Tiara. Mereka pun tertawa bersama dan bersiap untuk menikmati sarapan, nasi goreng ala Chef Tiara.

__ADS_1


Berbeda dengan Tiara yang sudah mulai bisa menata hati walaupun dia tidak tahu dengan nasib rumah tangganya ke depan, Arzan justru masih berada dalam kubangan masa lalu yang tak berujung.


Hampir setiap hari mami Ratna menemui putra tunggalnya itu. Mengingatkan agar jangan larut dalam masa lalu dan penyesalan, dia bahkan mengabaikan masa kini dan masa depannya. Memang tidak semua orang faham susahnya percaya lagi setelah merasakan kecewa yang teramat dalam. Dan sepertinya itu yang sekarang sedang dialami Arzan, dia bahkan kehilangan kepercayaannya bukan hanya pada orang-orang di sekitarnya tapi juga pada dirinya sendiri.


Tok...tok...tok....


Suara ketukan pintu menghentikan Arzan yang sedang membuka laptop, melihat foto-foto kebersamaan dirinya dengan sang sang putri.


Karena merasa tidak ada sahutan dari dalam, Arga memilih membuka pintu kamar pribadi Arzan yang berada di ruang kerjanya itu. Selama seminggu ini dia memilih tinggal di kantor dan mengurung diri.


"Pagi bro, semoga pagi ini keadaan lo sudah lebih baik" sapa Arga, dia berbicara sebagai sahabat.


"Heummm" jawab Arzan singkat dan entah apa maknanya, dia kembali melanjutkan aktivitasnya menatap laptop yang layarnya sudah dialihkan perihal pekerjaan. Walaupun kondisinya sedang sangat kacau tapi Arzan tetap menjalankan tugasnya memantau perkembangan perusahaannya.


"Gue mau ngasih ini" Arga menyodorkan sebuah amplof yang dia terima dari rumah sakit ke hadapan Arzan. Arga berharap jika isi dalam amplof itu yang tidak lain adalah hasil dari pemeriksaan DNA yang dilakukan Tiara dapat membuat Arzan sadar.


Arzan kembali menghentikan aktifitasnya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak ke dalam dada saat menatap amplof yang disodorkan Arga ke hadapannya.

__ADS_1


"Bukalah, apapun keputusanmu setelah ini aku tidak akan ikut campur. Namun aku hanya ingin mengingatkan semoga kamu dapat mengambil keputusan yang benar dan tepat" tegas Arga, dia masih berdiri tegak menunggu perintah atasan sekaligus sahabatnya itu.


Arzan pun meraih amplof itu dari tangan Arga, dia menarik nafas panjang sebelum membuka isi amplof itu. Matanya seketika memerah menatap kertas yang sudah dia keluarkan dari dalam amplofnya itu.


__ADS_2