
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Arzan memilih untuk langsung pulang setelah melakukan pertemuan dengan kliennya dari Malaysia. Setelah makan siang pertemuan mereka kembali berlanjut terkait proyek baru yang akan mereka tangani, kolaborasi lintas negara yang sudah dilakukan sejak sang ayah masih ada dan masih berlanjut hingga saat ini. Para relasi semakin merapatkan barisan saat perkembangan perusahaan yang dipimpin Arzan semakin meningkat.
"Assalamu'alaikum" ucapan salam Arzan hanya dijawab oleh bi Asih yang saat ini membuka pintu. Wajah Arzan sedikit kecewa saat yang membuka pintu bukan Tiara istrinya.
Sejak diperjalanan dia sudah membayangkan jika dirinya akan disambut dengan senyum manis sang istri yang selalu menjadi mood booster dirinya, tidak hanya itu keriangan sang putri saat menyambut kedatangannya menjadi suntikan energi tersendiri saat lelah melanda setelah bekerja seharian.
Namun sayang, malam ini realita yang dihadapinya tidak sesuai ekspektasi. Keadaan rumah justru tampak sepi, membuat rasa kecewa tersirat di perubahan ekspresi wajahnya saat yang membuka pintu ternyata bukan orang yang diharapkan.
"Wa'alaikumsalam, Tuan. Selamat datang" Bi Asih dengan santun menyambut kedatangan tuannya, dia meraih tas kerja yang ditenteng Arzan untuk dibawanya ke ruang kerja.
"Sepi, Qia dimana Bi?" Arzan menjatuhkan bokongnya di atas sebuah sofa di ruang tengah, ruangan yang sejak kehadiran Tiara berfungsi sebagai ruang keluarga.
Di ruangan itu Tiara selalu menemani Qiana sambil menonton tayangan televisi kesukaannya. Hal baru yang menjadi rutinitas Qiana pasca kehadiran Tiara. Sebelum ibu pengasuh paruh waktu yang bermetamorfosa menjadi ibu sambungnya itu hadir, Qiana nyaris tidak pernah menonton televisi. Dia hanya berkutik dengan gadgetnya saat kegiatan dan tugas sekolah selesai dikerjakan.
Tetapi semenjak Tiara hadir, dia mulai memperkenalkan tokoh-tokoh inspiratif yang dikemas dalam tayangan kartun di televisi. Salah satu tujuannya agar Qiana secara perlahan beralih perhatiannya dari gadget. Menonton tayangan televisi yang sesuai untuk usia Qiana serta tidak hanya sekedar tontonan tetapi juga mengandung tuntunan menjadi hal baru yang dikenalkan Tiara.
Tiara dengan setia membersamai sang putri sambung saat menonton. Dia tidak hanya sekedar menemani, tetapi dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan edukasi terkait apa yang sedang ditontonnya. Hal itu membuat Qiana sangat tertarik, dia dengan antusiasnya menanyakan setiap hal yang tidak diketahuinya dan dengan sabar dan penuh kasih sayang Tiara pun meladeni dan menjawab setiap pertanyaan sang putri.
Suatu hal yang membuat hati Arzan luluh hingga akhirnya egonya dia hempaskan sejauh-jauhnya dan kini kebahagiaan selalu meliputi hari-harinya. Pilihannya untuk menikahi gadis itu sungguh sangat tepat, tidak hanya ibu sambung yang begitu menyayangi dan mengayomi sang putri tetapi juga pasangan hidup yang membuatnya nyaman dan selalu ingin berdekatan saat bersama dan selalu merindu saat berjauhan.
"Non Qia sedang di kamarnya Tuan, selepas shalat isya dia makan malam tapi hanya sedikit, setelah itu dia kembali ke kamar" Bi Asih menjelaskan dengan rinci keberadaan dan keadaan majikan ciliknya.
"Kalau begitu saya temui mereka dulu, Bi" ucap Arzan beranjak dari duduknya,
"Non Qia sendiri di kamarnya, Tuan" Bi Asih seolah mengerti dengan yang dimaksud mereka oleh Arzan, tuannya itu pasti mengira jika putrinya kini tengah bersama istrinya.
"Tiara?" tanya Arzan menghentikan langkahnya yang sudah hampir melangkah menaiki tangga,
"Mbak Tiara belum pulang Tuan, tadi selepas maghrib dia menelepon Ana dan berbicara dengan Non Qia kalau Mbak Tiara akan pulang terlambat malam ini" Bi Asih pun menjawab sesuai dengan informasi yang diterima dari Ana saat menerima telepon dari Tiara.
"Pulang terlambat?" suara Arzan meninggi setelah mendengar jika istrinya ternyata belum pulang,
"Iya Tuan, Mbak Tiara juga sudah menghubungi nyonya katanya" lanjut Bi Asih.
__ADS_1
"Dia tidak menghubungiku" gumam Arzan pelan, dia merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.
"Mbak Tiara bilang dia juga sudah mencoba menghubungi Tuan tapi handphone tuan katanya tidak aktif" Bi Asih kembali menjelaskan sesuai kabar yang diterimanya dari Ana.
Arzan pun mencoba menyalakan ponselnya, dan benar saja ternyata ponselnya mati. Selama melakukan meeting dengan klien Arzan memang tidak mengaktifkan ponselnya. Hari ini dia mengaktifkan ponsel saat menghubungi Tiara pada jam makan siang tadi, setelahnya dia kembali menonaktifkan ponselnya hingga saat ini dia lupa belum juga mengaktifkannya.
Ting...ting....ting.......
Puluhan pesan masuk dan deretan panggilan tak terjawab memenuhi memori ponsel Arzan. Beberapa panggilan tak terjawab dari Tiara menempati deretan paling atas di panggilan masuknya, panggilan terakhir dilakukan sang istri selepas maghrib.
Dengan sigap Arzan pun membuka aplikasi pesan masuk di whattsappnya Dari sekian banyak pesan, pesan dari Tiara adalah yang pertama kali dibuka.
'Assalamu'alaikum, Mas. Hari ini sepertinya aku akan pulang terlambat. Pekerjaanku masih sangat banyak di kantor dan harus selesai hari ini. Mohon izin ya, aku juga sudah menghubungi mami dan Qia'
Pesan yang dikirim Tiara sontak membuat Arzan berdecak kesal. Bisa-bisanya istrinya harus lembur di kantornya sendiri sementara dirinya saja sudah berada di rumah.
Tuuut.....tuuut......tuuut.......
Arzan semakin dibuat kesal saat panggilannya pada Tiara tak kunjung terhubung. Ponsel Tiara aktif tapi sang empunya tak kunjung menerima panggilan darinya. Arzan pun memutuskan untuk menelepon Arga untuk memastikan keberadaan istrinya.
"....."
"Iya, segera kabari aku" Arzan pun mematikan sambungan teleponnya, menaiki tangga setengah berlari setelah pamit pada Bi Asih yang masih setia berdiri di bawah tangga menunggu informasi dari tuannya.
Melihat tuannya pergi dengan buru-buru, bi Asih yakin jika ada sesuatu tentang Tiara.
"Semoga Mbak Tiara cepat pulang" ucapnya sambil berlalu pergi menuju dapur.
Sementara di dalam kamarnya, Arzan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, pikirannya tidak tenang antara marah dan khawatir. Dia marah mengetahui jika istrinya lembur padahal seingatnya dia tidak menerima laporan ada pekerjaan darurat yang harus selesai segera sekaligus dia pun khawatir memikirkan keadaan istrinya saat ini sedang apa dan dengan siapa.
"Ya, hallo...." Arzan segera menerima panggilan masuk dari Arga saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa? apa-apaan dia?" sentak Arzan marah, saat sang penelepon yang tak lain adalah Arga mengatakan jika istrinya benar masih berada di kantor seorang diri.
__ADS_1
"Tidak perlu, biar aku yang ke sana menjemputnya. Sampaikan pada bagian keamanan yang bertugas malam ini untuk menjaga istriku dan memastikan dia baik-baik saja" Arzan pun menutup sambungan teleponnya sepihak, ingatannya kacau malam ini.
Hampir pukul sepuluh malam Arzan tiba di kantornya, dia mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. Namun suasana jalanan ibu kota tetaplah ramai, para pengguna jalan masih banyak sehingga kemacetan pun tak terhindar membuat Arzan beberapa kali memukul kemudi, kesal ingin segera sampai ke tempat istrinya berada.
Lantai tempat Tiara berada tiga lantai di bawah ruangannya, Arzan pun memasuki lift setelah petugas keamanan mengantarnya hingga ke pintu lift. Arzan menolak saat petugas keamanan itu menawarkan diri untuk mengantarnya ke atas.
"Siaga saja, jika ada yang aku butuhkan aku akan menghubungi" ujar Arzan pada petugas keamanan beberapa saat sebelum dirinya memasuki lift dan dijawab anggukan oleh si petugas.
Arzan mengedarkan pandangannya, suara lantunan murottal terdengar mengisi setiap celah di ruangan itu. Tiara sengaja memutar murattal dari komputernya untuk menemani dia bekerja.
Setelah ketahuan Tiara sedang berbalas pesan membuat Rena sang sekretaris manajer meradang. Dia menambah pekerjaan Tiara yang seharusnya memang tugas dirinya. Hingga saat ini, Tiara masih berkutat dengan tumpukan berkas. Secangkir coklat hangat menjadi suplay energinya malam ini agar tetap bisa bekerja dan menyelesaikan semua tugasnya.
Arzan berjalan menuju kubikel tempat Tiara berada, lantunan murottal semakin terdengar jelas saat dirinya sudah sangat dekat. Sesampainya tepat di depan meja Tiara dia melihat istrinya sedang tertidur di atas meja dengan tangan digunakan sebagai bantalnya.
"Ckk...." Arzan berdecak saat melihat Tiara tidur dengan posisi seperti itu, dia pun mengamati komputer yang digunakan Tiara untuk bekerja. Pekerjaannya sudah hampir selesai, walaupun masih ada sedikit yang harus dirapikan, sepertinya gadis itu benar-benar kelelahan.
Arzan mengusap pipi Tiara dengan lembut, sontak sentuhannya itu membuat Tiara terbangun seketika. Dia kaget bukan kepalang, sadar dirinya saat ini masih berada di kantor.
"Astaghfirullahal'adzim..." pekiknya saat tangan Arzan menyentuh pipinya,
"Mas?...." Tiara membolakan matanya, pandangannya kini tertuju pada sosok pria tampan yang dia rindukan sepanjang hari ini.
"Mas, kenapa ada di sini? jam berapa ini?" tanya Tiara sambil membenarkan hijabnya,
Arzan hanya menatap Tiara lekat, entah apa yang dipikirkannya. Dia hanya diam dengan pandangan tertuju pada istrinya.
"Mas, ini benar kamu kan? eh ini masih di kantor kan?" Tiara mengedarkan pandangannya dilihatnya seisi ruangan sudah sepi. Hampir sebagian lampu ruangan sudah tidak menyala, artinya penghuninya sudah tiada.
"Apa yang kamu kerjakan hingga malam seperti ini, heumm?" Arzan akhirnya bersuara, setelah puas mengamati Tiara dengan wajah bingungnya.
"Maafkan aku mas, aku ketiduran. Tapi kenapa mas ada di sini? ini kan sudah......hah, jam sepuluh?" pekik Tiara kaget saat melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, dia kembali meraih mouse komputer, mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih ada sisa-sisa kantuk.
"Maaf mas, tadi aku ketiduran. Aku akan segera selesaikan ini dan segera pulang" ucap Tiara gugup, dia pikir pasti Arzan marah karena pekerjaannya belum selesai dan dan terlambat pulang ke rumah.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu lembur sampai seperti ini?" Arzan meraih tangan Tiara dan menghentikan aksinya di atas keyboard. Dia berbicara lembut saat melihat kepanikan di wajah istrinya.
"Mas, aku....." ucapan Tiara terbata,