Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Hari Penting Tiara


__ADS_3

Malam sudah hampir larut, Tiara masih bergelut dengan tumpukan kertas dan beberapa buku di meja belajarnya. Tangannya pun masih menari-nari di atas keyboard laptopnya. Baca... revisi, baca... revisi....menyusun rangkaian kata yang akan diucapkannya esok di hari penentuan.


Bagaimana tidak disebut hari penentuan, empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk Tiara bisa menyelesaikan pendidikan strata satunya. Keringat dan air mata menjadi saksi perjuangannya. Dia memaksimalkan ikhtiyar terbaiknya untuk meraih yang terbaik.


Tiara akan berusaha tampil sebaik mungkin untuk hari esok, sidang skripsi yang akan dihadapinya bukan kaleng-kaleng. Dia akan berhadapan dengan tiga profesor sekaligus yang akan menguji karya dan kompetensinya. Walaupun sudah sering berhadapan dengan orang-orang penting semasa dia magang di El-Malik Grup, tetap saja kegugupan dan kekhawatiran kerap menerpa hatinya.


Beberapa kali dia menguap, tetapi matanya tetap bertahan. Mempersiapkan hari esok dengan maksimal sambil menunggu suaminya pulang.


Pagi sebelum berangkat Arzan berpesan jika dirinya malam ini akan terlambat pulang karena harus mengikuti pertemuan akbar seluruh direktur semua kantor cabang El-Malik Grup terkait adanya beberapa kebijakan baru perusahaan yang harus diketahui dan dilaksanakan bersama.


Sementara Qiana, gadis kecil itu sudah terlelap dengan nyenyak nya. Tiara sengaja meminta putrinya itu agar tidur lebih awal, memberikan pengertian jika dirinya perlu waktu lebih banyak untuk belajar malam ini. Mempersiapkan diri untuk hari pentingnya besok, dengan senang hati Qiana menuruti semua yang dipinta Tiara. Dari dulu putri kecilnya itu memang selalu pengertian sehingga Tiara semakin menyayanginya.


Di usia yang terbilang masih muda dia sudah mampu menjadi ibu yang baik untuk Qiana. Sebagai anak sulung dia banyak belajar dari sang ibu akan kemandirian dan sifat lemah lembutnya.


Walaupun kehidupan mereka dahulu sebelum ayahnya mendekam di balik jeruji besi tergolong keluarga berada, tetapi kedua orang tua Tiara selalu mengajarkan dan memberi contoh pada anak-anaknya untuk tetap hidup sederhana dan mandiri dalam segala hal, termasuk pekerjaan rumah tangga yang sejak Tiara bersekolah di sekolah dasar sudah mulai dipelajarinya dari sang ibu yang selalu melibatkan dirinya dalam beraktivitas di rumah.


Demikian pun dengan adik-adiknya, meskipun mereka laki-laki mereka tetap diajari bagaimana keterampilan berbagai pekerjaan rumah.


Terbukti sekarang, di saat kehidupan keluarga mereka sedang diuji hingga titik terendah mereka tetap bisa bertahan tanpa mengeluh dan tetap berdo'a semoga semua segera berlalu.


Tiara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Persiapannya hampir sembilan puluh sembilan persen, dia sudah siap untuk menghadapi hari esok. Dia menguap menahan kantuk yang mulai menyerangnya, hingga tanpa terasa kepalanya sudah terkulai di atas meja dengan bertumpu pada lipatan lengannya.


Sementara itu di halaman rumah yang cukup besar itu terdengar suara pintu gerbang yang dibuka petugas keamanan yang berjaga. Semenjak berpindah tempat tinggal Arzan hanya memperkerjakan seorang petugas keamanan, sopir dan Ana, pengasuh putrinya yang sudah bekerja sejak dia masih tinggal dengan maminya. Untuk urusan rumah karena Tiara yang meminta, dia tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga.


Ceklek, pintu kamar terbuka, area pertama yang dilihat Arzan di kamarnya adalah tempat tidur king sizenya. Mengira jika saat ini sang istri sudah tidur karena jam menunjukkan pukul satu malam, namun ternyata tempat tidur itu kosong. Area kedua yang membuatnya mengalihkan pandangan adalah meja belajar sang istri, dan benar saja seketika Arzan berjalan cepat memasuki kamarnya karena melihat sang istri tengah tertidur dengan kepala yang terkulai di atas meja belajarnya.


Arzan berniat membopong sang istri untuk berpindah ke atas tempat tidur, namun pergerakannya ternyata membuat Tiara terbangun.

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidur di sini?" ucap Arzan menghentikan gerakannya karena Tiara terbangun tengah mengerjapkan matanya,


"Mas, sudah pulang? jam berapa ini?" Kesadaran Tiara sudah kembali, dia melirik jam dinding,


"Sudah jam satu pagi, sayang. Maafkan aku pulang larut" ucap Arzan sambil membelai rambut hitam panjang yang terurai indah milik istrinya itu.


"Mas, sudah makan? mau aku siapkan atau ambilkan minum?"Tiara hendak beranjak dari tempat duduknya namun dicegah oleh Arzan,


"Aku sudah makan, sekarang istirahatlah. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu dan berganti baju" ucap Arzan lembut, dia pun menggendong Tiara cepat untuk dibawanya ke atas tempat tidur,


"Aww, mas...." pekik Tiara yang kaget karena tiba-tiba digendong, sementara Arzan hanya tersenyum dengan kejailannya,


"Istirahatlah sayang, aku akan segera menyusul" Arzan dia beranjak memasuki kamar mandi setelah sebelumnya mengecup kening dan bibir sang istri sekilas.


Lima belas menit berlalu, Arzan keluar dari ruang ganti baju dengan pakaian tidurnya. Tiara sudah terlelap dengan nyaman, rasa kantuk sudah tak terelakkan lagi. Arzan tersenyum menatap sang istri yang sudah meringkuk bergulung selimut. Dia pun merangkak menaiki tempat tidur, meraih tubuh Tiara dan mendekapnya dalam pelukannya.


Tekadnya benar-benar kuat untuk lulus tahun ini. Selain itu dia pun tetap mengurus semua keperluan dirinya juga Qiana. Walaupun sibuk dengan tugas kuliah, tapi Tiara tidak pernah mengabaikan Arzan dan putrinya, memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Arzan sungguh bangga dan haru jika mengingat semua kebaikan gadis yang dulu pernah diragukannya itu, beberapa menit kemudian dia pun akhirnya turut terlelap.


☘️☘️☘️


Pagi pun menyapa, Arzan meraba tempat tidur disampingnya tanpa membuka mata. Kosong, orang yang dipeluknya semalam sudah tidak ada dalam dekapannya.


Arzan mengerjapkan matanya,


"Sayang...." teriaknya dengan suara serak, khas bangun tidur, dia melirik jam yang jarumnya sudah menunjukkan pukul lima tepat.


"Astaghfirullah" pekiknya kaget, dia kesiangan bangun hingga melewatkan agenda rutinnya yaitu shalat subuh berjamaah.

__ADS_1


Ceklek...Saat Arzan masih duduk bersandar di kepala tempat tidurnya pintu kamar terbuka, didapatinya sang istri memasuki kamar dengan senyum merekah di bibirnya.


"Mas, sudah bangun?'" Tiara memasuki kamar membawa nampan yang berisi air putih hangat yang sengaja dia bawakan untuk suaminya,


"Sayang, aku kesiangan" ucap Arzan setelah meneguk habis air putih hangat yang disodorkan istrinya,


"Maaf aku tidak membangunkan mas tadi, tidurnya lelap banget. Sekarang bangunlah, waktu subuh sudah mau lewat. Aku izin hari ini berangkat lebih awal. Do'akan aku ya Mas, semoga Allah lancarkan proses sidangnya" Tiara berkata sambil merapikan rambut suaminya yang berantakan,


"Baiklah, aku akan bangun dan hari ini aku akan mengantarmu ke kampus" ujar Arzan sambil beranjak, tidak lupa dia daratkan kecupan pagi di kening istrinya.


"Eh...." Tiara terhenyak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya.


Selama ini hubungan mereka sudah sangat baik, hubungan yang normal antara suami istri pada umumnya. Tetapi itu hanya berlaku di rumah, sejak hari terakhir magangnya Tiara tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kantor suaminya, Tiara lebih banyak berada di rumah dan keluar hanya untuk ke kampus atau membersamai Qiana jika ingin pergi keluar.


Di kampus Tiara pun tidak sering bersama dengan teman-temannya, walau pun beberapa temannya sudah kembali bersikap biasa tetapi Tiara tetap membatasi diri untuk bersama mereka, keberadaannya di kampus hanya jika ada urusan yang berhubungan dengan tugas akhirnya.


Tiara pun selalu berusaha menghindar dari Profesor Kemal, beberapa kali dia mendapat pesan untuk menemui dosen itu namun Tiara selalu punya alasan untuk menghindar. Untunglah dosen pembimbing skripsinya bukanlah Kemal.


Beberapa kali Tiara pernah mendapat kiriman paket dari orang yang tidak dikenalnya. Paket-paket itu ditujukan untuk dirinya tetapi selalu tanpa nama pengirim yang jelas. Hal itu menjadi alasan yang logis untuk Tiara menolak kiriman paket itu.


Sejak peristiwa marahnya Arzan Tiara benar-benar menjaga jarak dengan siapapun terutama dengan lawan jenis. Dia hanya ingin memastikan agar semua yang berada di sekitar suaminya berjalan sesuai seharusnya.


"Sayang, aku sungguh mohon maaf. Hari ini awalnya aku sangat ingin bersamamu di hari pentingmu ini tapi Arga menelepon jika klien dari luar negeri meminta bertemu pagi ini. Maafkan aku" Arzan berkata penuh penyesalan, niatnya untuk membersamai sang istri di hari pentingnya hanya sebatas rencana. Awalnya, dia ingin menjadi orang pertama yang menyambut Tiara setelah keluar dari ruang sidangnya, namun sayang tiba-tiba ada urusan penting yang harus dihadirinya.


"Tidak apa-apa Mas, aku mengerti. Doakan saja ya agar sidangku lancar" ucap Tiara dengan senyum menenangkan, dia tahu suaminya itu orang penting. Sejak awal Tiara pun tidak pernah berharap terlaku tinggi.


"Pa, tolong keluar dulu" mobil yang ditumpangi Arzan dan Tiara sudah sampai di parkiran kampus, Arzan menyuruh sopirnya untuk keluar terlebih dahulu sebelum melepas istrinya.

__ADS_1


"Baik, Tuan" ucap Pa Sopir dia keluar dan sedikit menjauh dari mobil itu. Dan apa yang seharusnya terjadi pun terjadi di dalam mobil.


__ADS_2