
Seorang wanita dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya tengah memindai halaman sebuah gedung sekolah dari dalam mobilnya. Sudah tiga puluh menit dia berada di sana menunggu seorang yang akan keluar di jam kepulangan sekolah.
Sejak pembicaraannya tentang ibu tiri Mikha kesulitan untuk bertemu dengan Qiana, anak itu menghindarinya karena tidak ingin lagi mendengar hal-hal buruk tentang ibu sambungnya.
Bunyi bel pun terdengar, tanda kepulangan para siswa sebuah sekolah dasar swasta di Jakarta telah tiba. Qiana dengan riang gembira keluar dari kelasnya, hari ini dia akan dijemput oleh sang mommy seperti biasanya.
Namun alangkah kagetnya Qiana ketika baru saja dia keluar dari gerbang sekolah, seseorang yang beberapa hari ini dihindarinya sudah berdiri dan menatapnya dengan tersenyum.
"Hallo cantik, apa kabar?" tanya Mikha sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Qiana,
"Tante....." Qiana tercengang mendapati Mikha kini ada di hadapannya,
"Iya, ini tante. Tante kangen banget sama kamu. Tante mau mengajak kamu ke suatu tempat, bisa gak kita jalan sekarang. Sebelumnya ke sana kita mampir dulu beli es krim?" tawar Mikha yang sengaja datang menjemput Qiana.
"Tapi tante aku harus langsung pulang, nanti mommy mencariku" anak kelas dua sekolah dasar itu menyampaikan alasannya tanda dia menolak,
"Tapi ini tentang mommy kandung kamu sayang, kamu harus tahu sesuatu yang selama ini tidak kamu ketahui" bujuk Mikha dengan wajah meyakinkan membuat Qiana pun penasaran.
"Mommy kandung?" Qiana tampak berpikir mencerna apa yang dikatakan Mikha,
__ADS_1
"Iya sayang, Mommy kandung kamu. Kamu belum pernah bertemu dengan mommy kandung kamu kan?" Mikha kembali membujuk Qiana, yang dijawab dengan gelengan kepala oleh gadis kecil itu.
"Tapi tante....."
"Tante janji, setelah selesai kamu langsung tante antar pulang. Ya?" Mikha mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan wajah Qiana yang terlihat mulai ragu, namun kemudian diterima juga oleh Qiana walau dengan wajah masih ragu.
"Mbak Ana?...." Qiana menengok ke kiri dan kanan mencari keberadaan pengasuhnya,
"Mbak Ana sudah duluan pulang, tante sudah bilang sama dia kalau tante yang akan mengantarkan Qiana ke rumah nanti" Mikha menjelaskan tentang pengasuh anak itu, dia buru-buru menuntun Qiana dan memasuki mobilnya.
Mikha mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi, Qia terlihat mulai gelisah melihat apa yang dilakukan Mikha.
"Tidak apa-apa sayang, biar kita cepat sampai. Kamu tenang ya, duduk yang manis" jawab Mikha dengan senyum menyeringai,
Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan, saat ini mobil yang dikemudikan Mikha terparkir di depan sebuah pemakaman keluarga.
"Ayo turun sayang"Mikha mengajak Qiana untuk turun, dia membuka seatbell gadis cilik itu.
Mikha menuntun Qiana memasuki kompleks maka yang tampak bersih dan terawat itu. Untuk pertama kalinya Qiana di bawa ke tempat ini, sebelumnya Arzan memang belum pernah membawa Qiana ke makam ibu kandungnya. Bukan tanpa alasan Arzan melakukannya, dia hanya berpikir akan lebih tepat jika membawa Qiana saat dia sudah cukup untuk mengerti makna dari sebuah kematian. Selama ini Arzan memberi tahu Qiana jika mommy gadis itu sudah tidur dengan tenang di Surganya Allah dan akan lebih bahagia jika Qiana selalu mendo'akannya. Karena do'a seorang anak yang shaleh akan Allah kabulkan dan sampaikan kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Tante, ini tempat apa?" tanya Qiana dengan polosnya, merasa ada kesempatan untuk mempengaruhi kepolosan gadis cilik itu Mikha pun menjelaskan sesukanya.
"Ini adalah makam mommy kandungmu sayang. Setelah meninggal mommy mu dikuburkan di sini sendirian. Selama ini daddy belum pernah mengajakmu ke sini kan? itu pasti karena hasutan mommy tiri kamu yang ingin kamu melupakan mommy kandungmu" Mikha mulai memasukan kesalahfahaman yang menyesatkan di pikiran polos Qiana.
Gadis kecil itupun menatap dalam pusara yang bertuliskan nama yang selama ini ada dibenaknya sebagai ibunya. Selama ini Daddy nya selalu menyebut nama itu. Tapi semenjak mommy tirinya hadir di antara mereka diapun sudah jarang mendengar sang daddy menyebut nama itu.
Pikiran Qiana mulai membenarkan apa yang dikatakan Mikha, wanita yang mengaku tantenya dan mengatakan sangat dekat mommy kandungnya itu tersenyum tipis melihat raut wajah Qiana yang terlihat jelas mulai terpengaruh dengan perkataannya.
"Tante adalah sepupu jauh mommy kamu, tapi sejak kecil kami sudah sangat dekat. Semenjak nenek dan kakek kamu meninggal mommy mu tinggal dengan orang tua tante. Kami sangat dekat, beberapa orang bahkan mengira kami seperti kembar ketika sudah remaja. Sebenarnya yang berhak mengurus kamu itu adalah tante, karena sejak dulu mommy kamu selalu dekat dengan tante. Mungkin kalau ibu tiri kamu itu tidak hadir dalam kehidupan kalian saat ini kita sudah hidup bersama dengan bahagia, sayang"Mikha berbicara dengan nada sedih dengan menekuri gundukan tanah yang berlapiskan rumput hijau dengan bunga segar di atasnya, tapi ujung matanya dapat menangkap raut wajah Qiana yang terlihat galau.
"Kali ini aku harus berhasil, jika melalui Mas Arzan tidak bisa maka dengan memanfaatkan Qiana aku harus bisa memiliki Mas Arzan karena memang akulah yang lebih pantas menjadi istrinya setelah kak Mitha, bukan perempuan tukang cuci piring itu" gumam Mikha dalam hati, langkahnya mendekati Arzan dan akan membuatnya tertarik sudah tercium oleh Arzan dan laki-laki setia itu langsung membentangkan jarak yang sangat jauh untuk ditempuh Mikha.
Setelah kejadian di ruang kerja Arzan yang membuat dirinya ditinggalkan begitu saja oleh laki-laki itu dengan membawa Tiara membuat Mikha murka. Merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Arzan, Mikha pun berniat akan membuat perhitungan dengan Tiara yang dia anggap sebagai saingannya. Apalagi posisi sekretaris pribadi Arzan yang dimintanya jika bekerja di perusahaan itu tidak diindahkan. Arga malah menempatkannya menjadi sekretaris manajer pemasaran menggantikan sekretaris sebelumnya yang juga dimutasikan ke divisi lain.
Mikha mencari tahu semua hal tentang Tiara, dia menyuruh orang untuk menjalankan rencananya. Tidak sulit untuknya mendapatkan apa yang dia inginkan, dalam kurun waktu yang singkat dia menemukan banyak fakta yang disertai bukti yang kuat tentang Tiara. Anak dari seorang koruptor yang kini menjadi narapidana dan berakhir menjadi tukang cuci piring.
Merasa menemukan fakta baru yang dapat dijadikan senjata untuk menjatuhkan Tiara dan menyingkirkannya dari kehidupan Arzan. Tanpa menunggu lagi dia langsung melancarkan aksinya dan langkah pertamanya adalah dengan membuat Qiana membenci Tiara.
Tiga puluh menit mereka berada di makam almarhumah Mitha, setelah berbicara banyak hal tentang kedekatan dirinya dan Mitha, tentunya dengan dibumbui kebohongan jika Arzan juga menginginkannya.
__ADS_1