
Tiara terlonjak kaget saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia pun refleks berdiri dan menatap ke arah Arzan yang sudah berdiri di belakangnya dengan memasukan kedua tangan ke saku celananya.
Arzan menatap Nathan dengan tatapan tajam. Tiara sampai bergidik ngeri melihat tatapan Arzan yang berbeda dari biasanya. Walau pun Tiara sudah sering berhadapan dengan sikap dinginnya Arzan namun kali ini terasa berbeda. Tiara melihat raut kemarahan dan kekecewaan di wajah Arzan, sementara Nathan hanya menanggapinya dengan menyunggingkan senyum, santai. Entah apa hubungan dua pria di hadapannya itu.
"Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh" ucapan seorang anak kecil yang dinantikan sejak tadi mengalihkan fokus ketiga orang itu.
"Wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh" jawab Tiara dengan wajah sumringah karena akhirnya tiba saatnya Qiana tampil, inilah yang dia tunggu-tunggu sejak tadi.
"A'udzubillahiminas syaithanirrojiim, bismillahirrahmanirrahim" Qiana terlihat menarik nafas, menjeda baca'an ta'awudz dan basmallah sebagai permulaan sebelum dia membacakan surat An-Naba yang sudah dihafalkannya selama satu bulan ini bersama Tiara.
Sejenak Tiara menahan nafas, harap-harap cemas saat menyaksikan Qiana berada di atas panggung. Khawatir jika ada hafalan yang lupa dan membuat putri sambungnya itu menjadi tidak fokus dan hilang rasa percaya dirinya. Di awal penampilannya Qiana terlihat tenang dan tampil percaya diri.
Tiara terus turut melafalkan bacaan surat An-Naba yang dibacakan anak sambungnya itu, mengikuti dengan tartil sambil hatinya merapalkan do'a agar sang anak sambung tidak lupa hafalannya. Tangannya tetap mengudara memegang ponsel yang digunakannya untuk merekam penampilan Qiana.
Sementara Nathan, pria yang mengaku kedatangannya ke sekolah itu untuk Qiana menatap takjub pada gadis kecil itu. Dia masih berdiri sejajar dengan Tiara namun cukup berjarak sejak kedatangan Arzan. Dia bahkan tidak memedulikan apapun yang ada di sekitarnya. Pandangannya hanya fokus pada gadis kecil yang selama beberapa tahun ini menjadi penyemangat hidupnya.
Diam-diam Nathan selalu memantau kegiatan yang dilakukan gadis kecil itu melalui orang suruhannya. Bahkan saat mendengar kabar jika hari ini gadis kecil itu akan pentas di sekolahnya, dia meninggalkan semua pekerjaannya hari ini. Baginya tidak ada yang lebih membuatnya bahagia saat ini selain melihat Qiana tumbuh dengan baik dengan segala potensinya.
Arzan pun tak kalah terpesona dengan penampilan putri kecilnya itu, rasa haru bahagia menyeruak dalam dadanya. Berbangga memiliki putri yang begitu cerdas dan shalehah. Arzan menyadari menyadari semenjak kehadiran Tiara banyak hal yang berubah dari putrinya. Qiana terlihat lebih ceria, selalu bersemangat dalam melakukan segala aktivitasnya. Tidak lagi rewel dan merengek ini itu jika akan pergi ke sekolah, bahkan Arzan tak lagi dipusingkan dengan dilema antara putri dan pekerjaannya.
__ADS_1
Arzan melangkahkan kakinya, turun satu tangga dan berdiri di sebelah kanan sejajar dengan Tiara. Dia melirik gadis yang secara hukum agama dan hukum negara itu telah sah menjadi istrinya, namun tidak di hatinya.
Perhatian Arzan dari sang putri yang masih dengan lancar melafalkan hafalan surat An-Nabanya di atas panggung kini teralihkan saat mendengar Tiara yang turut bergumam mengikuti hafalan Qiana. Dia menatap gadis itu lekat, matanya yang berbinar menatap layar ponsel yang sedang digunakan untuk merekam aksi putrinya itu. Sesekali bibirnya pun tersenyum saat mendengar Qiana mengimprov nada bacaannya, kadang wajahnya pun menegang saat Qiana menjeda hafalannya khawatir jika putrinya itu lupa bacaan selanjutnya.
"Shadaqallahul'adzim" Qiana mengakhiri hafalannya dengan lancar dan tetap tenang disambut riuh tepuk tangan semua tamu undangan yang hadir.
Mereka turut haru dan berbangga pada Qiana, mengingat diantara puluhan siswa kelas satu hanya Qiana yang menampilkan hafalan dengan surat yang cukup panjang itu.
Seorang guru yang bertugas menjadi pembawa acara pada pentas itu tidak membiarkan Qiana untuk turun terlebih dahulu, dia menahan Qiana karena ingin mewawancarai gadis kecil yang berhasil membuat riuh seantero aula karena terpukau dengan penampilannya.
"Ananda Qiana tolong jangan turun dulu ya, Bu Guru mau tanya-tanya dulu boleh gak?" Qiana mengangguk dan menghentikan langkahnya yang akan turun dari panggung.
"Menurut ibu guru wali kelasnya saya mendapat informasi bahwa di saat teman-teman sebayanya memilih untuk menampilkan nyanyian atau tarian untuk acara pentas ini Qiana adalah satu-satunya siswa yang tidak tunjuk tangan"
"Bu Guru bahkan sempat heran ya kenapa Qiana tidak tunjuk tangan, bahkan sempat mengira jika dia enggan untuk tampil. Namun ternyata setelah ditanya Qiana bilang kalau dia tidak mau menyanyi dan menari tapi ingin menampilkan hafalan Qur'annya, dan menakjubkan sekali saat dia bilang ingin menampilkan hafalan surat An-Naba" tepuk tangan kembali memenuhi ruang aula itu setelah guru yang bertugas memandu acara memberikan informasi mengenai kronologis Qiana yang ingin menampilkan hafalan Qur'annya.
Meskipun sekolah Qiana adalah sekolah islam tapi untuk Qiana yang baru sekolah selama dua bulan sangat menakjubkan sudah menghafal surat yang cukup banyak ayatnya itu, apalagi sebelumnya Qiana pun berasal dari sekolah umum yang tidak terlalu mengedepankan perihal hafalan Qur'an. Biasanya tampilan hafalan surat-surat dilakukan oleh siswa kelas tiga ke atas.
"Ananda Qiana, kalau boleh bu Guru kenapa Qiana mau menampilkan hafalan Qur'an?" ibu guru pembawa acara mulai mewawancarai Qiana,
__ADS_1
"Karena aku suka menghafal Al-Qur'an, aku juga sudah bisa baca Al-Qur'an" jawab Qiana dengan wajah polosnya, membuat para tamu kembali bertepuk tangan kagum.
"Kenapa Qiana suka menghafal Al-Qur'an?" tanya bu guru lagi,
"Kata Mommy cantik kalau Qia jadi penghafal Al-Qur'an Qia akan bisa memakaikan mahkota untuk Mommy dan Daddy di Surga, Mommy Qia yang sekarang sudah berada di surga juga pasti akan bahagia kalau Qia jadi penghafal Al-Qur'an" jawaban Qiana sungguh membuat semua orang yang mendengarnya terenyuh,
Arzan dan Nathan dua pria yang awalnya bersahabat baik pun dibuat tak berkutik dengan jawaban gadis kecil itu. Ingatan mereka kompak mengenang seorang perempuan yang sama, Mitha Pradipta.
Flashback
Arzan, Nathan dan Mitha adalah sahabat dekat sejak kuliah. Nathan yang lebih dulu mengenal Mitha sering mengajak gadis itu untuk bertemu Arzan yang notabene adalah sahabat baiknya sejak kecil. Kedua orang tua mereka adalah rekan bisnis yang selalu saling mendukung. Bahkan di saat kematian ayahnya Arzan, orang tua Nathan adalah orang yang selalu berdiri di samping Arzan dan Maminya untuk menguatkan dan membantu mengurus perusahaan pasca kepergian sang presdir.
Nathan yang telah lama memendam rasa cintanya untuk Mitha malam itu sudah menyiapkan kejutan spesial untuk gadis pujaannya itu, namun siapa sangka dirinya kalah start dari Arzan. Mitha yang sering diajak Nathan bertemu Arzan diam-diam menjalin komunikasi dengan pria itu tanpa sepengetahuan Nathan.
Pembawaannya yang lemah lembut, cerdas, cantik dan selalu tampil elegan membuat Arzan tertarik dengan banyak pesona yang dimiliki Mitha. Mereka pun sering bertemu berdua tanpa Nathan. Hingga suatu hari di saat Nathan sudah siap dengan kejutannya untuk menyatakan cintanya pada Mitha, di saat yang bersamaan dia mendapati Mitha sedang bersama Arzan.
Nathan masih tak menaruh curiga apapun dengan kebersamaan dua sahabatnya itu, hingga akhirnya perkataan Mitha telak membuat Nathan membeku seketika,
"Tan, kami sudah jadian. Dia baru saja menyatakan perasaannya padaku" Mitha menunjuk ke arah Arzan dengan dagunya dan dibalas senyum sejuta watt yang menunjukkan kebahagiaan Arzan saat ini. Mereka saling beradu tatap penuh cinta, membuat hati Nathan semakin panas.
__ADS_1
Nathan hanya diam, dia tak tahu harus merespon apa. Dia merasa ada di dunia lain, hatinya hancur, dadanya sesak bahkan tenggorokannya serasa tercekat, lidahnya pun kelu tak mampu untuk berucap. Rasa yang telah dia pendam selama hampir setahun kebersamaannya dengan Mitha harus kembali dipendamnya. Dia masih menggunakan logika untuk tidak merusak persahabatan mereka.