
Sementara di sebuah kamar tidur yang cukup luas yang merupakan bagian dari ruang kerjanya, Arzan tengah memegangi tangan Tiara dengan erat. Berkali-kali dia menciumi tangan istrinya itu penuh kekhawatiran. Tidak lupa setiap bagian wajahnya pun tak luput dari kecupannya. Mulutnya terus komat kamit merapalkan kalimat-kalimat permohonan agar Tiara lekas sadar.
Arzan kembali mengecek ponsel yang baru saja dipakainya untuk menghubungi seseorang. Dia tampak tidak sabar menunggu.
"Sayang, sadarlah....Maafkan aku" Arzan masih menggenggam erat tangan Tiara yang masih enggan membuka mata, dia menundukkan kepalanya di ranjang tempat Tiara dibaringkan dengan posisi duduk di lantai bertumpu pada lututnya.
Arzan pun kembali meraih ponsel yang diletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam erat tangan Tiara.
Di atas meja kecil itu pun sudah terdapat segelas air putih hangat yang dibawakan seorang office boy setelah sebelumnya dia menelepon sekretarisnya.
"Masih dimana lu? lama banget?" ucap Arzan di ujung ponselnya dengan nada kesal,
"Saya sudah di bawah Tuan, Arga sudah menjemput saya" jawab seseorang di seberang telepon,
"Heummm" Arzan pun mematikan sambungan teleponnya,
"Euhh....." suara lenguhan Tiara sontak menghentikan aksi Arzan yang sedang mengutak-atik ponsel dengan sebelah tangannya. Dia baru saja menerima pesan yang dikirim Nathan, namun urung dia buka karena mendengar suara lenguhan Tiara.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Arzan mengusap kening Tiara yang tampak berkeringat, dia tersenyum lebar dengan mata berbinar melihat istrinya telah kembali tersadar.
__ADS_1
Tiara menatap Arzan datar tak ada ekspresi tatapan penuh kehangatan seperti biasanya. Arzan mengernyit saat beberapa detik hanya wajah datar tanpa senyum yang ada di hadapannya, tidak seperti biasanya.
"Sayang,..." ragu-ragu Arzan kembali memanggil Tiara yang menatapnya tanpa ekspresi, dia mengusap pipi istrinya dengan rasa khawatir yang masih mendominasi. Perasan bersalah semakin menggunung di hatinya, mulutnya yang tanpa sengaja memanggil Tiara dengan nama Mitha ternyata berefek begitu dalam terhadap psikologis Tiara.
"Astaghfirulloh, Mas...ini dimana?" teriak Tiara tiba-tiba, dia bangun terburu-buru dan mengedarkan pandangannya.
"Ini di ruanganku sayang, kamu kenapa?" Arzan heran dengan tingkah aneh Tiara yang tiba-tiba berubah.
"Mas kita lagi di kantor, aku baru selesai presentasi dan....." Tiara menghentikan bicaranya, sejenak ingatannya mundur mengingat-ingat peristiwa yang beberapa waktu lalu terjadi,
"Aku enggak ingat apa-apa lagi Mas, sekitarku semuanya gelap dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi" lanjut Tiara menjelaskan apa yang diingat dan dirasakannya,
"Sebenarnya kamu kenapa? aku sangat khawatir. Maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud melukai kamu dengan menyebut nama Mitha. Maafkan aku, maafkan aku, jangan tinggalkan aku" ucap Arzan masih memeluk erat tubuh Tiara, dia tidak ingin kesalahfahaman Tiara berkelanjutan, sungguh dia telah jatuh hati pada istrinya, bahkan sejak malam pertama mereka Arzan benar-benar semakin jatuh cinta pada Tiara, sensasi berbeda membuat hatinya sungguh telah terbuka lebar untuk gadis itu.
Bayangan masa lalu saat kehilangan Mitha yang menutup mata di hadapannya membuat pikiran Arzan semakin tidak karuan. Dia takut peristiwa yang sama kembali terjadi, kehilangan orang yang sangat dicintai dan berarti dalam hidupnya. Sungguh Arzan tak sanggup walau hanya dengan membayangkannya.
"Jangan tinggalkan aku, jangan seperti ini lagi, jangan buat aku khawatir" Arzan berkata dengan suara parau, ada isak tangis yang tertahan di tenggorokannya.
"Mas, aku enggak apa-apa cuman kecapean aja dan......" Tiara menghentikan ucapannya dia melepaskan diri dari pelukan suaminya karena ada sesuatu yang tak nyaman ditubuhnya dan dia tidak ingin ketahuan suaminya.
__ADS_1
"Dan apa sayang?" tanya Arzan setelah perlahan mengurai pelukannya, dia kembali meraih kedua tangan Tiara dan beberapa kali mengecupnya.
"Aku....aku...." Tiara masih ragu untuk melanjutkan kata-katanya, dia masih sangat malu untuk berkata jujur,
"Kamu kenapa sayang? ada yang sakit? bagian mana? sabar ya sebentar lagi dokternya datang, Arga sedang menjemputnya di lobi" cerocos Arzan tak kalah panik,
"Tidak, tidak Mas...tidak ada yang sakit, tidak perlu memanggil dokter, aku baik-baik saja dan akan semakin baik setelah...."
"Setelah apa sayang? kamu jangan membuat aku semakin khawatir" Arzan kembali menangkup kedua pipi Tiara,
"Aku......"
keoookkkkk.....tiba-tiba suara perut yang sejak tadi dia siasati agar tidak terdengar oleh suaminya itu akhirnya menjawab semua penasaran Arzan,
"Kamu lapar?" tanya Arzan membulatkan mata.
"Iya" jawab Tiara berubah ketus karena melihat ekspresi Arzan yang tak nyaman di hatinya.
"Sejak kemarin aku belum makan nasi Mas, aku melewatkan makan siang dan makan malam karena ingin cepat selesai. Semalam niatnya pingin makan tapi malah dimakan kamu, tadi pagi cuman sarapan roti isi di hotel. Belum lagi hilang selera makan gara-gara dipanggil dengan nama lain, mana harus presentasi lagi. Energiku benar-benar terkuras Mas, aku lemas saat ini, aku lapar Mas" pungkas Tiara dengan sengaja melemahkan suaranya, membuat Arzan manatap dengan rasa bersalah.
__ADS_1
Arzan pun hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ternyata dirinya menjadi penyebab dominan pingsannya Tiara.