Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Hari Tanpamu


__ADS_3

"Arzan, kamu sudah pulang? syukurlah, setidaknya Qiana tidak akan terlalu kesepian saat pulang dari sekolah kalau melihat kamu sudah ada di rumah" Mami Ratna menyapa putranya yang masuk terburu-buru bahkan tanpa mengucapkan salam,


Arzan menyalami sang ibu dan berjalan cepat menaiki tangga tanpa sepatah kata pun. Tujuannya saat ini adalah kamarnya, dan...


Brakkk....suara pintu dibuka dengan kasar, dia memasuki kamarnya dan mengedarkan pandangannya. Matanya menyapu setiap sudut kamar dengan teliti. Arzan membuka ruang ganti baju di kamarnya, nihil dia tak mendapatkan apa yang dicarinya.


"Dia benar-benar sudah pergi" gumamnya pelan, Arzan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, dengan tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Kedua tangannya dia rentangkan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Tiara...." pekiknya, seketika dia terbangun dengan keringat yang bercucuran di dahinya,


"Ha...ha...ha....apa aku bermimpi?" gumamnya dengan nafas yang terengah-engah, Arzan menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidurnya. Dia meraih ponsel yang berada tepat di sampingnya berbaring,


"Ah sudah maghrib rupanya" waktu menunjukkan pukul delapan belas tepat, tadi setelah yakin jika Tiara memang sudah benar-benar pergi, Arzan memejamkan matanya dan tidak terasa dia tertidur begitu pulasnya,


Arzan pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu karena waktu maghrib sudah lewat.


"Enggak mau.... aku enggak mau makan..." Arzan terlonjak, dia segera berdiri dari atas sajadah saat mendengar teriakan Qiana yang terdengar jelas hingga ke kamarnya, saat ini Arzan baru saja menyelesaikan shalat magribnya,


Dia bergegas keluar kamarnya menuju sumber suara yang di yang diyakininya dari kamar putri tercintanya,


"Qia sayang, ada apa?" tanya Arzan saat memasuki kamar sang putri yang pintunya tidak tertutup sempurna,


"Daddy.....aaaaa....." Qiana semakin histeris menangis saat melihat Arzan datang, dia pun berhambur ke pelukan sang ayah sambil menangis tersedu,


"Kenapa sayang? ada apa? kenapa kamu menangis seperti ini?" cerocos Arzan sambil terus memeluk dan mengusap kepala putrinya yang masih berbalut mukena.


"Daddy.....aaa....." Qiana semakin kencang menangis membuat Arzan panik, dia hendak melepas pelukannya untuk memastikan keadaan putrinya namun Qiana semakin erat memeluk sang ayah , menelusupkan kepalanya di dada bidang sang ayah dengan tangis yang semakin menjadi.


"Mami, kenapa Qia Mi?" Arzan yang baru menyadari jika maminya ada di sana, mengalihkan fokusnya menatap sang mami meminta penjelasan.


Mami Ratna hanya mengangkat bahunya, pertanda dirinya pun tidak tahu karena sama baru datang beberapa saat sebelum Arzan. matanya beralih menatap Ana pengasuh Qiana, beliau seolah-olah memberi kode pada gadis itu untuk menjelaskan alasan cucunya menangis histeris seperti itu.


"Nyonya...." Ana tampak ragu untuk menceritakan,


"Katakan An, kenapa Qiana sampai menangis seperti ini" mami Ratna memperjelas titahnya, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Ana,


"Tadi saat saya memasuki kamar Nona, nona sedang shalat maghrib, saya menunggu karena tidak berani mengganggunya. Nona pun berdo'a dan membaca Al-Qur'an namun ternyata nona mengaji sambil terisak. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapa nona, saya mengajak nona untuk makan karena sejak pulang sekolah nona belum makan apapun. Tapi tangis nona semakin kencang dan berteriak tidak mau makan" Ana menjelaskan panjang lebar kronologis kejadian menangisnya Qiana.

__ADS_1


Arzan hanya menarik nafas panjang tanpa berkomentar apapun setelah mendengar penjelasan Ana, dia mengusap lembut kepala sang putri yang masih didekapnya. Isakan Qiana masih terdengar namun kini dia lebih tenang dibanding sebelumnya.


"Sayang, cucu oma yang cantik minum dulu ya" mami Ratna mendekatkan gelas berisi air putih yang diterimanya dari Ana ke hadapan Qiana yang masih berada di pelukan ayahnya, terlihat Qiana lebih tenang dari sebelumnya,


Gadis kecil itu mengurai pelukannya dengan sang ayah, dia mengusap pipinya yang masih basah karena air mata.


"Makasih oma" ucap Qiana setelah meneguk air putih hangat yang diberikan omanya,


"Sayang, sebenarnya kamu kenapa heumm?" Arzan mulai menanyai sang putri dengan lembut setelah gadis itu sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Dia mengusap kepalanya penuh kasih sayang, menunggu sang putri agar mau bercerita.


"Aku.....aku...." Qiana menghentikan ucapannya karena tiba-tiba air matanya kembali membasahi pipinya,


"Sudah sayang, jangan dipaksakan kalau belum mau cerita" mami Ratna yang melihat cucunya kembali menangis mengusap bahu Qiana, matanya pun mulai menghangat.


"Gak apa-apa sayang, daddy gak memaksa" Arzan pun menimpali, dia kembali merengkuh sang putri dalam pelukannya.


"Aku...aku kangen mommy cantik, aku mau mommy cantik...hikss..." tangis Qiana kembali pecah setelah mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya,


"Apa, kangen mommy cantik?" mami Ratna setengah berteriak memastikan keinginan cucunya itu, Qiana pun mengangguk dalam pelukan sang ayah.


"Kenapa gak bilang dari tadi sayang, kamu kan bisa menelepon mommy kamu" mami Ratna menoleh pada Ana dan menyuruhnya agar mengambilkan ponselnya yang berada di lantai satu.


"Iya .... mommy ke sekolah, mommy bilang aku harus belajar mandiri, enggak boleh nangis. Tapi aku enggak mau mandiri, aku maunya sama mommy.....aaaa......" entah apa pemahaman gadis cilik itu tentang mandiri, hingga dia menangis kembali setelah mengatakan apa yang dikatakan ibu sambungnya saat berpamitan padanya di sekolah tadi sore,


Arzan hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan sang putri, kali ini dirinya mengulum senyum saat sang putri kembali menangis karena hal itu, begitu pun sang mami yang malah menggoda putrinya.


"Jadi cucu oma yang cantik ini menangis karena enggak mau mandiri? haha...." goda nyonya Ratna dengan tawanya yang lepas,


"Iya, oma. Kenapa oma malah ketawa?" tanya gadis cilik itu heran,


"Memangnya kenapa kalau kamu mandiri sayang? kan bagus, itu artinya kamu sudah besar" jelas nyonya Ratna memberi pengertian pada cucunya itu,


"Enggak, Qia enggak mau mandiri. Nanti kalau Qia mandiri mommy enggak sama Qia lagi..." ucapnya polos, membuat oma dan daddynya semakin faham kenapa Qiana menangis,


"Ini nyonya" Ana datang menyerahkan ponsel milik mami Ratna yang diambilnya dari lantai bawah,


Nyonya Ratna pun mencari kontak Tiara yang sudah di save di ponselnya,

__ADS_1


"Nah ini" ujarnya,


Tuutt...tuutt....tuut....


"Enggak diangkat sayang, kita coba lagi ya?" mami Ratna tidak menyerah saat panggilan telepon pertama ke nomor Tiara tidak terhubung,


"Dia sibuk mungkin Mam" Arzan mencoba memberi pengertian agar sang putri tidak terlalu kecewa,


"Enggak, dia pasti angkat kok" ucap mami Ratna yakin,


Tuuut....tuuut....tuuut....


"Assalamu'alaikum" suara lembut dari seberang telepon terdengar menenangkan setelah panggilan itu akhirnya terhubung,


"Wa'alaikumsalam" mami Ratna yang menjawab dengan seulas senyum yang menandakan kelegaan,


"Mami, gimana kabarnya? semua baik-baik saja kan? Qia gimana Ma?" Tiara berbicara tanpa jeda menanyakan keadaan dengan nada penuh kekhawatiran, mami Ratna tersenyum simpul mendengarnya.


"Mami baik sayang, cuman ini nona muda kangen katanya..." jawab mami Ratna sambil melirik cucunya yang tampak sumringah setelah mendengar suara Tiara di ujung telepon,


"Mommy....."teriak Qia yang sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan kerinduannya pada ibu sambungnya itu, padahal mereka baru berpisah beberapa jam,


"Qia sayang, Qia kenapa? seperti yang habis nangis?" tanya Tiara yang terdengar sangat mengkhawatirkan putri sambungnya itu,


"Qia gak mau mandiri mommy, Qia mau sama mommy terus shalatnya sama ngajinya" adunya, terdengar isak tangis yang tertahan membuat Tiara panik,


"Lho...lho....kenapa putri cantik mommy malah nangis?" l


"Aku gak mau mandiri mommy, aku mau sama mommy" Tiara mengulangi alasannya kenapa dia menangis,


"Iya sayang, nanti setelah mommy selesai mommy pasti cepet pulang dan kita bareng-bareng lagi shalat sama ngajinya, kamu sabar ya" Tiara memberi pengertian pada putri sambungnya itu dengan sabar,


Mendengar semua kekhawatiran yang tengah dirasakan sang putri, panggilan mereka pun beralih ke mode video dan dengan leluasa Qiana mencurahkan semua isi hatinya sambil terus memandangi wajah Tiara yang dengan sabar dan penuh senyum menanggapi semua keluahan sang putri.


Sementara Arzan, sejak pertama kali panggilan itu terhubung dan mendengar suara Tiara dia hanya diam tak berkata apapun, namun dia menajamkan telinganya mendengar semua yang dibicarakan Tiara dan putrinya.


Hatinya menghangat melihat interaksi sang putri dengan gadis itu, sang putri yang tiba-tiba berubah moodnya setelah mendengar suara Tiara membuat Arzan yakin jika ikatan hati mereka berdua kini semakin kuat.

__ADS_1


Arzan terlihat sekilas mencuri-curi pandang ke arah layar pipih yang sedang dipegang putrinya. Jujur dia pun sebenarnya ingin sekali melihat wajah gadis itu, ada kerinduan yang menyelusup di dalam hatinya, namun terlalu malu untuk mengakuinya. Perasaan bersalah pun Arzan rasakan ketika mengingat pesan yang dikirim Tiara sebelum kepergiannya.


"Ternyata hari tanpamu, kini terasa berbeda" batin Arzan.


__ADS_2