
Berbeda dengan dua insan yang sedang diliputi kebahagian atas pencapaian hubungan rumah tangga mereka. Seorang pemuda tengah duduk sendiri di meja sebuah restoran mewah. Di hadapannya sudah terhidang secangkir kopi hitam yang aromanya tercium begitu nikmat.
Nathan duduk seorang diri, tidak ada siapapun pengunjung restoran itu selain dirinya. Di pintu utama restoran bahkan masih tergantung tulisan close jika dilihat dari luar restoran.
Bukan tanpa alasan dirinya datang sepagi ini ke restoran milik Arzan yang dipercayakan pada Riki sahabat mereka. Dulu saat hubungannya dengan Arzan masih baik mereka sering menghabiskan waktu bersama di tempat itu.
Setelah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu semua tentang Tiara, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya sejak pertemuan pertama mereka di sekolah Qiana. Nathan sengaja, weekend ini sudah berada di tempat dimana biasanya gadis itu menghabiskan waktunya.
Dari kabar yang diterima dari orang suruhannya, Nathan mengetahui jika Sabtu dan Minggu Tiara biasa bekerja di restoran ini sebagai tukang cuci piring.
Setelah menghubungi Riki untuk membuat janji temu. Nathan memutuskan untuk datang lebih awal. Untunglah beberapa karyawan sudah datang dan salah satu dari mereka berhasil menghubungi Riki.
"Sorry bro, gue bakalan telat. Ban mobil bocor dan gue nunggu bengkel langganan datang"
Nathan membuka chat yang masuk ke aplikasi whatsapp di ponselnya. Dia sedikit mendengus membaca alasan keterlambatan Riki.
"Gue tunggu" balasnya.
Nathan kembali menikmati kopinya, menghirup aromanya dan menyesapnya perlahan.
"Maaf Tuan, permisi. Apakah ada hal lain yang dibutuhkan Tuan? Pak Riki tadi menghubungi kami agar menanyakan apa ada yang anda butuhkan?" seorang karyawan yang sedang membersihkan meja menghentikan aktivitasnya dan menemui Nathan setelah sebelumnya dia mencuci tangan dan mengangkat telepon yang terdengar berdering di area kasir.
"Tidak ada, terima kasih" jawab Nathan tanpa menatap karyawan yang berbicara padanya, pandangannya fokus pada layar pipih yang ada di genggamannya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi" pamit karyawan itu.
"Tunggu" Nathan yang tiba-tiba ingat tujuannya datang ke restoran itu menghentikan langkah karyawan yang mendatanginya, dia bermaksud akan mencari informasi tentang Tiara dari karyawan itu.
"Iya Tuan, apa ada yang anda butuhkan?" dia kembali berhadapan dengan Nathan,
"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu" Nathan menyuruh karyawan itu untuk duduk di meja yang sama dengannya,
"Maaf Tuan, saya tidak berani. Terima kasih atas tawaran anda, tidak apa-apa saya berdiri saja" jawab karyawan itu sopan,
"Chh....terserah kau saja. Sekarang jawab pertanyaanku" Nathan menatap tajam pada karyawan yang kini berdiri menunduk di hadapannya,
"Siapa namamu?" tanya Nathan dengan suara tegasnya,
__ADS_1
"Saya Rianti, Tuan" jawab karyawan itu sejenak mendongakkan kepala dan menatap Nathan sebentar namun kemudian dia kembali menundukkan kepalanya.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Nathan kemudian,
"Sudah hampir tiga tahun, Tuan" jawab Rianti lagi,
"Kamu bekerja di bagian kebersihan?" Nathan kembali bertanya penuh selidik,
"Iya Tuan" jawab Rianti singkat,
"Kamu mengenal Tiara?" Nathan mulai menanyakan tujuan utamanya memanggil Rianti,
"Tiara? Mutiara Lestari?" Rianti balik bertanya dengan mata berbinar, Nathan sempat tertegun saat pandangan mereka beradu.
Gadis dengan tinggi semampai, rambut hitam yang diikat tinggi membuat leher jenjangnya terekspos sempurna. Sejak tadi gadis itu hanya menunduk, Nathan juga tidak terlalu memerhatikan saat gadis itu sedang bekerja. Tapi saat pandangannya beradu dengan mata bulat dengan bulu mata lentik yang tampak indah itu membuat Nathan memaku.
"Apa maksud Tuan Mutiara Lestari yang dulu bekerja di sini? Rianti kembali mengulangi pertanyaannya karena Nathan tak kunjung menjawab,
"Tuan?" Rianti mengibaskan tangannya saat pandangan Nathan hanya bengong menatap ke arahnya,
"Eheummm'' Nathan berdehem untuk menutupi kegugupannya, dia pun memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa malu saat ketahuan dirinya tengah menatap gadis itu,
"Tentu saja Tuan, kami adalah teman baik. Selama Tiara bekerja di sini kami sangat dekat. Kami sering pulang bersama, atau saling bertukar shift saat Tiara atau saya ada keperluan. Tapi lebih sering Tiara sih yang meminta saya menggantikannya soalnya dia harus kuliah. Selain itu Tiara juga harus mendatangi tempat kerja lain karena selain di sini Tiara juga bekerja paruh waktu sebagai pengasuh" jawab Rianti panjang lebar, dia tidak menyadari jika dirinya tidak mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya itu dan untuk apa menanyakan tentang Tiara. Dia bahkan sangat antusias saat menceritakan tentang Tiara, hal itu terlihat dari binar bahagia yang terpancar dari matanya.
"Huftt" Rianti membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, dia baru menyadari jika dirinya sudah terlalu banyak bicara tentang Tiara pada orang yang tidak dikenalnya,
"Maaf, Tuan. Sebenarnya tuan siapa? dan kenapa menanyakan Tiara?" Rianti bertanya penuh selidik, ekspresi wajahnya bahkan langsung berubah dari ceria menjadi panik membuat Nathan yang terpesona saat gadis itu berbicara panjang lebar tentang Tiara menahan tawa karena merasa lucu dengan tingkah gadis itu.
"Kamu tidak tahu siapa aku?" tanya Nathan memulai drama, melihat gadis yang awalnya terlihat judes namun ternyata begitu ceria membuat ide jail terbersit di pikirannya.
"Tidak" Rianti menjawab cepat,
"Hahahaha...." akhirnya tawa Nathan pecah memenuhi ruang resto yang masih sepi itu, dia benar-benar terhibur dengan ekspresi wajah gadis itu. Sementara Rianti mendadak merinding mendengar tawa Nathan.
"Kamu tahu aku adalah penjahat yang akan menculik Tiara?" Nathan kembali menggoda Rianti yang begitu mudah berubah mimik mukanya, terlihat sangat lucu di mata Nathan dan dia berhasil,Rianti membelalakan matanya mendengar apa yang Nathan katakan.
"Tuan, anda jangan macam-macam!" sentak Rianti, dia mundur beberapa langkah menjauh dari meja tempat Nathan berada, membuat senyum tipis kembali terbit di bibir Nathan, dia semakin bersemangat menggoda Rianti.
__ADS_1
Nathan berdiri dan berjalan mendekati Rianti, gadis itu menambah langkahnya ke belakang agar semakin berjarak dengan pria yang tidak dikenalnya itu.
"Hay bro, sorry gue telat" suara seseorang yang terdengar begitu nyaring membuat pergerakan Nathan terhenti, begitupun dengan Tiara yang sudah hampir membentur meja lain saat dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari Nathan.
Nathan dan Rianti menoleh ke sumber suara, tampak Riki yang tertegun melihat mereka berdua dengan napas yang tidak beraturan seperti habis berlari.
"Ada apa ini?" Riki yang kesadarannya sudah mulai kembali, berjalan perlahan ke arah Nathan dan Rianti yang masih dalam posisi yang sama,
"Maaf Pak, saya permisi" tanpa menunggu jawaban Rianti segera undur diri dan berjalan ke arah dapur setelah mengambil lap dari atas meja yang dia gunakan untuk mengelap meja.
"Lu apain karyawan gue?" Riki bertanya dengan tatapan tajam pada Nathan, dari keadaan yang dia lihat dan tingkah Rianti yang mencurigakan membuat dia berpikir macam-macam, pasti sahabatnya itu berulah.
"Hahaha....woles Bro. Gue cuman main-main sama karyawan lu, habisnya dia menggemaskan ternyata" Nathan menepuk bahu Riki dan menyodorkan tangan yang terkepal untuk saling beradu sebagai tanda sapaan awal perjumpaan mereka.
"Jangan macam-macam lu ya, dia gadis yang baik" ucap Riki tegas, ketampanan yang dimiliki Nathan sudah sering membuat para wanita tergoda, Riki cukup tahu jika selama ini Nathan banyak main-main dengan wanita, dia khawatir kali ini karyawannya yang menjadi sasaran sahabatnya itu.
"Hey, lu pikir gue ngapain karyawan lu. Sudah gue bilang gue cuma iseng pingin jailin dia, habisnya dia lucu" jelas Nathan tanpa rasa bersalah. Padahal Riki melihat dengan jelas bagaimana tadi wajah Rianti tampak ketakutan.
"Awas lu ya" ancam Riki sambil mengacungkan tinjunya ke arah Nathan yang hanya dibalas gelak tawa oleh sahabatnya itu.
"Tenang Bro, gue udah bosan main-main. Sekarang gue mau serius, gue udah nemuin cewek yang bener-bener bikin hati gue adem saat berdekatan dengannya dan resah saat jauh darinya, pikiran gue pun hanya fokus pada dia sekarang ini" Nathan berkata dengan ringannya membuat Riki mengernyit melihat perubahan sahabatnya saat membicarakan gadisnya.
"Siapa?" tanya Riki penasaran,
"Karyawan lu" jawab Nathan, dia kembali menyesap kopinya yang masih tersisa hampir setengahnya,
"Karyawan gue? karyawan gue yang mana?" Riki semakin dibuat penasaran karena Nathan masih belum menjelaskan siapa wanita yang dimaksudnya,
"Ini dia" Nathan menyodorkan ponsel yang beberapa detik yang lalu diotak-atiknya, rupanya dia sedang mencari foto Tiara yang tersimpan di galeri ponselnya.
Duaaarrr....serasa dihantam dentuman keras Riki membulatkan matanya tak percaya saat melihat siapa wanita yang dimaksud,
"Ini...." ucapan Riki terjeda karena Nathan yang langsung menyambar,
"Namanya Tiara, mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri jurusan manajemen bisnis. Setiap weekend dia bekerja di restoran lu sebagai tukang cuci piring" Nathan mengatakan informasi tentang Tiara yang didapat dari orang suruhannya,
Riki menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak percaya sejarah mungkin kembali terulang. Riki tahu bagaimana dulu Nathan dan Arzan terlibat pertengkaran yang hebat hingga kini hubungan mereka masih belum baik karena Nathan yang ketahuan mengoleksi foto-foto Mitha di kamarnya padahal saat itu Mitha sudah menjadi istri Arzan.
__ADS_1
Dan sekarang jelas-jelas Riki juga tahu jika Tiara sudah menjadi istri sah Arzan sahabat mereka. Dia bahkan datang menjadi salah satu orang yang mendampingi Arzan ketika pernikahannya dengan Tiara berlangsung. Walau pun berdasarkan informasi yang didapat dari Arga bahwa Arzan tidak memperlakukan Tiara layaknya seorang istri karena masih belum move on dari almarhumah istrinya, tapi dia tidak punya kapasitas untuk mengomentari kehidupan sahabatnya.
"Sebaiknya lu berhenti, dan buang jauh-jauh niat lu buat dapetin gadis itu" ujar Riki dengan nada serius.