
Tiara meraba jilbabnya, memastikan dipakai dengan rapi. Setelah melihat mobil yang ditumpangi suaminya keluar dari gerbang kampus, dia memilih berjalan menuju toilet terlebih dahulu untuk meyakinkan penampilan dirinya.
Tiara menghembuskan nafasnya kasar saat sudah berada di depan cermin toilet wanita. Terbayang lagi di benaknya apa yang dilakukan suaminya dalam mobil tadi.
"Mas, kenapa Pak Maman disuruh keluar?" Tiara bertanya heran, Arzan hanya tersenyum menyeringai tanpa menjawab.
"Hari ini haruskan aku menemani hari penting kamu, tapi...."
"Sudahlah mas, aku baik-baik saja. Mas jangan khawatir, aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Bantu aku dengan do'amu, jangan lupa" ucap Tiara penuh kelembutan, dia menggenggam tangan suaminya yang mengusap pipinya kemudian menciumnya.
"Manis sekali istriku" ucap Arzan gemas sendiri, dia menarik Tiara dan membawanya ke dalam pelukannya.
Hanya pelukan, awalnya. Beberapa detik kemudian Arzan melepaskan pelukannya, menatap penuh cinta pada istrinya dan kemudian dia pun melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Tiara bergidik sendiri mengingatnya, membayangkan bagaimana suaminya mencumbunya, berawal dari kecupan biasa namun lama kelamaan berubah menjadi ciuman penuh hasrat.
"Sayang, rasanya aku ingin membawamu kembali ke rumah" ucap Arzan setelah melepaskan pagutannya, dia berkata dengan nafas yang masih memburu.
"Mas......" Tiara berusaha menetralkan nafasnya, dia sungguh tidak bisa menolak apa yang dilakukan suaminya.
"Ah.....sial" pekik Arzan dalam hati.
"Aku sangat menginginkanmu, sayang" Arzan kembali memeluk dan mencium puncak kepala Tiara,
"Mas, ini hari penentuan untukku" Tiara segera menyela, dia benar-benar takut jika tiba-tiba suaminya benar-benar memintanya untuk kembali ke rumah.
"Aku tahu sayang, aku hanya khawatir. Tolong jaga diri dan hatimu ketika aku tak ada di sampingmu" Arzan kembali mengecup kening Tiara penuh kehangatan.
Seulas senyum terbit di bibir Tiara mengingat kalimat terakhir yang diucapkan suaminya, hatinya menghangat, dia sungguh bahagia menjalani harinya. Apa yang dilakukan dan diucapkan suaminya menjadi moodbooster tambahan untuknya menghadapi hari ini.
Tiara mantap melangkah menuju ruangan tempat dirinya akan mempertanggungjawabkan hasil belajarnya selama empat tahun ini di hadapan para penguji. Sesuai jadwal Tiara kebagian di ruang xx lantai tiga gedung itu. Dia menuju lift berbarengan dengan beberapa temannya yang sama-sama akan mengikuti sidang hari ini.
"Mutiara!" seorang gadis dengan pakaian formal melambaikan tangan ke arah Tiara yang baru saja keluar dari lift, dia tersenyum senang melihat orang yang dinantinya sidah datang,
__ADS_1
"Kenapa terlambat? katanya jam tujuh sudah ada di sini. Ini jam berapa sistah" gadis yang melambaikan tangannya itu memberondong Tiara dengan pertanyaan,
"Assalamu'alaikum" ucap Tiara lebih memilih menyapa temannya itu dengan ucapan salam dibanding menjawab pertanyaannya,
"Wa'alaikumsalam, lu gak lupa kan?" tanyanya masih dengan intonasi yang sama,
"Maaf Karin, aku tadi ada keperluan dulu jadinya telat" Tiara beralasan yang cukup masuk akal pikirnya,
"Curiga gue..." Karin memicingkan matanya, memindai tubuh Tiara dari atas sampai bawah. Dia adalah sahabat dekat Tiara di kampus,
"Nganterin dulu anakku ke sekolahnya" bohong Tiara, dia berharap Karin percaya dan tidak memperpanjang introgasinya,
Selain teman-teman magangnya, selama ini Karin juga sudah mengetahui jika Tiara sudah menikah dengan seorang duda beranak satu. Tapi dia belum pernah bertemu dengan suami sahabatnya itu, Karin pun tidak mengetahui siapa sebenarnya suami Tiara karena mereka kebetulan magang di tempat yang berbeda.
Hanya mereka yang magang di tempat yang sama dengan Tiara yang mengetahui siapa suami Tiara, namun mereka seolah enggan membuka mulut memilih diam dan pura-pura tidak tahu jika Tiara sudah menikah dengan laki-laki yang bukan orang biasa. Bahkan Adrian yang diketahui banyak teman-temannya kembali gencar mendekati Tiara, doa tidak berani lagi.
"Oh...." Karin hanya ber oh ria,
"Oya, lu udah tau belum siapa dosen penguji lu?" Karin pun beralih topik obrolan,
"Belum" jawab Tiara menggelengkan kepalanya,
"Kalau begitu ayo kita lihat di sana" Karin pun menunjuk papan pengumuman yang sedang dikerubungi beberapa mahasiswa yang juga terjadwal sidang hari ini
"Mut, ternyata kita beda ruangan, dosen penguji nya juga beda" ucap Karin lesu, awalnya dia berharap bisa bersama dengan Tiara,
"Gak apa-apa, nanti kalau sudah selesai kita ketemu di tempat yang sama. Kamu urutan ke berapa?" tanya Tiara sambil terus mencari-cari namanya di setiap deretan nama-nama mahasiswa yang terpampang sesuai ruang sidang.
"Aku urutan kedua, hah...kedua?" Karin kaget sendiri dengan apa yang diucapkannya setelah membaca jika namanya berada di urutan kedua sebagai peserta sidang,
"Aaahhh....Muti, aku nervous nih. Mana pengujinya ada Profesor Anita lagi" Karin panik sendiri, profesor Anita adalah dosen yang terkenal sangat tegas dan tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Sebagai wanita yang belum menikah di usianya yang sudah sangat matang mungkin menjadi salah satu yang mempengaruhi karakter tegas dan kerasnya.
"Bismillah, Rin. Insya Allah kalau ikhtiyar kita maksimal Allah akan mudahkan semua urusan kita" kata-kata Tiara menenangkan, selain menyemangati sahabatnya diapun sedang menyugesti dirinya sendiri agar hatinya lebih tenang, karena sejak tadi dia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya resah, namun entah apa itu.
__ADS_1
Tiara pun sempat menelepon Ana untuk memastikan jika putri sambungnya baik-baik saja. Semalam dia pun menelepon ibu dan adik-adiknya meminta do'a agar dilancarkan sidang skripsinya dan pagi ini oun dia mengirimi sang ibu dan adik-adiknya pesan, jika sebentar lagi dirinya akan mengikuti sidang.
Teringat bayangan suaminya, dia pun sempat khawatir, hingga dia memberanikan diri untuk mengirimi suaminya pesan, apakah sudah sampai di kantor atau belum. Dan ternyata Arzan langsung membalas pesan sang istri dengan meneleponnya. Mengabarkan jika dirinya sudah sampai di kantor dengan selamat.
Deg....Tiara menghentikan telunjuknya yang sedang menyusuri deretan nama mahasiswa yang akan mengikuti sidang di ruang 3-B. Dia kembali memastikan nama-nama dosen pengujinya. Beberapa kali dia mengulang membaca deretan nama dosen penguji, dan tetap sama jika diantara tiga dosen yang akan mengujinya itu adalah profesor Kemal.
"Subhanallah..." Tiara mengusap dadanya sambil terus bertasbih,
Semenjak kejadian di hari terakhirnya magang di perusahaan Arzan dan dengan mata kepalanya sendiri melihat kemarahan Arzan karena kiriman bunga dan pesan yang diterima Tiara dari profesor Kemal dia benar-benar menghindari dosennya itu. Berbagai alasan selalu Tiara sampaikan pada teman-temannya yang dimintai profesor Kemal untuk memanggil Tiara.
Tiara pun menutup aksesnya dengan profesor Kemal, nomor dosennya itu dia blokir agar tidak menghubunginya lagi baik itu melalui pesan maupun telepon. Kegiatan magang sudah selesai, nilainya pun sudah keluar. Tiara pikir dia Tidak punya urusan lagi dengan profesor Kemal. Untunglah dosen pembimbing skripsinya bukan profesor Kemal. Dia lega, akhirnya dengan alasan yang cukup dapat menghindari pertemuan atau kebersamaannya dengan profesor Kemal. Walau bagaimana pun dia harus menghargai marwahnya sebagai wanita yang sudah bersuami.
Tapi hari ini Tiara kembali dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Dia khawatir Kemal mempersulit sidang skripsinya, mengingat dia menghindari dosennya itu beberapa bulan ini. Selain itu Kemal yang pernah mengirimi Tiara bunga dan hadiah-hadiah lainnya namun selalu dia tolak dengan alasan jika di sana tidak terdapat nama pengirimnya. Padahal dalam hatinya Tiara tahu jika itu pasti dari profesor Kemal. Sampai saat ini dosennya itu belum tahu jika Tiara sudah menikah.
Tiara tidak ingin hal serupa kembali terjadi. Cukup sekali dan yang pertama juga terakhir Tiara melihat kemarahan suaminya.
"Tiara..."
Deg...jantung Tiara sesaat berhenti berdetak, seseorang dengan suara yang familiar terdengar memanggil namanya.
Sementara di kantor pusat El-Malik Grup, setelah menelepon istrinya yang mengirimi pesan Arzan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menantinya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya hari ini dengan cepat. Jam sepuluh nanti Arzan ada pertemuan penting dengan kliennya yang datang dari Australia sengaja untuk bertemu langsung dengan dirinya. Arzan pun tidak bisa menolak, hingga dengan terpaksa rencananya untuk menemani Tiara selama sidang skripsinya gagal sudah. Setelah pertemuan itu selesai Arzan berencana untuk datang ke kampus Tiara.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" suara ketukan pintu ruangan Arzan tidak menghentikan tangannya yang sedang memegangi pulpen untuk menandatangani berkas-berkas yang harus ada persetujuannya.
Pandangan Arzan pun fokus pada dokumen yang ada di depannya. Dia mengira jika yang mengetuk pintu adalah sekretarisnya.
"Mas...." dengan suara yang mendayu, terdengar di telinga Arzan seorang wanita memanggilnya.
Sontak Arzan pun menghentikan gerakan tangannya yang akan menandatangani berkas-berkas itu. Dia mendongak, menatap sumber suara yang memanggilnya dengan nada yang tak biasa.
Deg...seketika Arzan membulatkan matanya, menatap seorang perempuan yang berdiri tepat di depan mejanya.
__ADS_1