
"Serius lo belum berbaikan dengan Tiara?" Nathan kembali mengulangi pertanyaannya,
"Satu hal yang menjadi prioritas gue sekarang. Fokus mencari keberadaannya, gue mau meminta maaf dan memohon agar dia mau kembali bersama gue. Gue tahu gue udah keterlaluan, dan kali ini gue gak mau menjadi bodoh untuk yang ketiga kalinya" Arzan kembali menyesap kopi hitamnya, pandangannya menyapu kantin yang terlihat semakin banyak orang.
"Gue pikir lo udah baikan sama Tiara. Sejak kemarin yang ngurus Qiana kan dia" ucap Nathan dan berhasil membuat Arzan menghentikan tangan yang bersiap untuk meraih cangkir kopinya,
"Maksud lo?" tanya Arzan penasaran,
"Mami gak cerita?" Nathan balik bertanya,
"Cerita apa?"
"Cerita tentang istri lo yang ngurusin Qia selama ujian sekolahnya di rumah sakit" jawab Nathan masih dengan mode santainya
"Maksud lo Tiara datang ke sini dan ngurusin Qiana?" tanya Arzan dengan intonasi meninggi, dan dijawab anggukan oleh Nathan tanpa ragu.
"Kenapa lo gak bilang dari tadi, sialan" Arzan bergegas beranjak dari posisi duduknya,
"Gue duluan, lo yang bayar" ucapnya cepat, dia setengah berlari keluar dari kantin rumah sakit.
Kamar Qiana menjadi tujuannya, dia akan menemui sang putri dan mengonfirmasi berita yang disampaikan Nathan barusan.
"Sayang....." dengan nafas yang belum teratur Arzan tiba di kamar rawat Qiana,
"Daddy...." pekik. Qiana yang kaget bercampur khawatir melihat kedatangan Arzan yang tiba-tiba,
"Suster, terima kasih ya. Biar saya yang melanjutkan menyuapi putri saya" Arzan meminta suster menyerahkan piring yang berisi buah padanya, memintanya secara sopan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Daddy dari mana?" tanya Qiana heran, dia sudah lebih sehat sekarang.
"Sayang, daddy mau tanya. Kamu sudah bertemu mommy Tiara?" tanya Arzan dengan sorot mata yang penuh harap-harap cemas.
"Heum" jawab Qiana menganggukan kepala cepat,
"Kapan sayang?" tanya Arzan lagi, hatinya. seakan ingin meledak karena bahagia mendengar kabar jika Tiara ternyata memang benar sudah menemui putrinya,
"Tadi, kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi..." jawab Qiana sambil menghitung dengan jari-jari tangannya.
Arzan kemudian merogoh ponsel yang ada di saku jasnya, dia menelepon seseorang.
"Gue butuh rekaman cctv ruang rawat Qia beberapa hari ini. Sekarang!" tegas dan tanpa basa basi Arzan langsung memerintahkan orang kepercayaannya yang tidak lain adalah Arga untuk mendapatkan yang dia mau.
Benar saja, kurang dari sepuluh menit Arzan langsung menerima rentetan notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
"Sayang, kamu sudah bisa makan sendiri kan?" Arzan menyodorkan garpu yang dipegangnya pada sang putri agar melanjutkan memakan buahnya sendiri.
"Bisa Dad...." jawab Qiana bersemangat,
Arzan membuka ponsel dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu sebelum memutar video kiriman Arga.
Tiga video berturut-tutut, Arzan memutarnya dari video pertama yang dikirim Arga. Dia melihat video itu penuh konsentrasi. Mengamati setiap pergerakan yang Tiara lakukan selama berada berada di ruang rawat Qiana.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir Arzan, perasaan bahagia seketika menyeruak dalam dadanya, melihat bagaimana Tiara dengan telaten merawat Qiana penuh kesabaran dan kelembutan.
Sesekali terlihat dua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya itu tertawa bersama. Qiana terlihat lebih ceria ketika bersama Tiara.
Video kedua yang berdurasi tidak berbeda dengan video pertama semakin membuat Arzan terharu. Dia bahkan tak kuasa menahan air mata yang berhasil membobol pertahanannya.
Tiara memeluk Qiana yang kesakitan efek suntikan yang diberikan dokter. Dia menenangkan gadis kecil itu dengan penuh kesabaran. Tiara bahkan menggendong Qiana padahal tubuh gadis kecil itu cukup berat. sampai tertidur,
Pada tayangan video itu terlihat Tiara yang cukup kesulitan menggendong Qiana, namun Tiara tidak menyerah. Dia berusaha membuat Qiana nyaman dalam gendongannya sampai gadis kecil yang bertubuh cukup gempal itu tertidur pulas dalam gendongan Tiara.
Perlahan Tiara menidurkan Qiana ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat gadis kecil yang masih berstatus putri sambungnya itu terganggu dan kembali terbangun dan merasakan sakit.
Tiara yang sudah berhasil menidurkan Qiana menghentikan pergerakannya yang akan bangun dan melepas dekapannya karena Qiana tiba-tiba kembali merangkulkan tangannya ke leher Tiara. Alhasil posisi Tiara terlihat semakin kesulitan namun Tiara dengan sabar menunggu sampai Qiana kembali terlelap.
Semua yang terjadi di ruang rawat Qiana membuat mata dan hati Arzan semakin terbuka. Dia menyadari betapa besar ketulusan yang Tiara miliki untuk putrinya. Jika Tiara saja yang tidak memiliki hubungan darah begitu mencintai dan menyayangi Qiana, alangkah egois dirinya yang sempat menolak keberadaan Qiana karena menganggap bahwa Qiana adalah bukti pengkhianatan istri dan sahabatnya.
"Maafkan aku!" gumam Arzan lirih, dia mengusap layar ponsel yang masih menanyangkan video yang tepat berhenti ketika di penuhi wajah Tiara.
Perasaan bersalah semakin menggunung di hatinya, bagaimana bisa dia tidak melihat ketulusan yang begitu jelas di depan mata.
"Aah....aku memang bodoh" gumam Arzan,
Arzan kembali fokus pada video terakhir yang di kirim Arga ke ponselnya. Dia menyimak kembali dengan seksama apa saja yang dilakukan Tiara di video itu. Namun di menit kelima matanya tiba-tiba membola.
Arzan menzoom video yang menayangkan Qiana yang sedang disuapi oleh Tiara. Dia merasa tidak asing dengan baju yang dipakai Qiana. Ya, Arzan tahu kapan Qiana memakai baju itu.
Seketika Arzan berdiri dari tempat duduknya, dengan buru-buru dia berjalan ke arah Qiana. Arzan menyamakan baju yang dipakai Qiana saat ini dengan baju yang dipakai putrinya itu di video.
"Sayang, tadi kamu bertemu dengan mommy?" tanya Arzan tidak sabar, membuat Qiana yang sedang anteng dengan tablet di tangannya mendongak.
"Iya..." jawab Qiana santai, perhatiannya kembali pada layar tabletnya.
"Mommy datang ke sini?" Arzan masih belum percaya dengan jawaban santai sang putri.
"Iya Dad, mommy setiap hari datang merawat aku gantian sama oma" jelas Qiana membuat Arzan menarik nafas panjang.
Bagaimana bisa dia tidak mengetahui hal ini. Sementara hampir setiap hari dirinya mencari keberadaan istrinya itu.
"Arga...." dia langsung menyebut nama yang sudah pasti mengetahui tentang semuanya.
Arzan berniat akan menghubungi asisten sekaligus sahabatnya itu, tetapi di saat yang sama mami Ratna menelepon.
"Assalamu'alaikum, Mi" sapa Arzan saat panggilan terhubung.
"Daddy, tolong..." Qiana berseru meminta tolong Arzan untuk membukakan tutup botol minumnya,
"Wa'alaikumsalam, kamu masih di rumah sakit?" tanya mami Ratna dari seberang telepon, dia mendengar suara Qiana yang berteriak meminta tolong pada Arzan.
"Iya Mi, aku masih di sini. Kan mami belum dateng" jawab Arzan mengapit ponsel antara telinga dan bahunya karena kedua tangannya digunakan untuk membuka botol minum Qiana.
"Lho...kata Arga tadi kamu ada meeting" balas mami Ratna lagi,
__ADS_1
"Iya, harusnya sekarang aku meeting dengan klien dari Bandung. Tapi karena mami sepertinya masih lama aku suruh Arga yang wakilkan" jawab Arzan sejujurnya,
Sore ini dia memang ada jadwal meeting dengan klien dari Bandung, tapi karena ingin bersama Qiana setelah beberapa hari ini dia tidak mengunjunginya karena harua ke luar kota, Arzan memutuskan untuk mengutus Arga untuk menghadiri pertemuan itu.
"Lho...padahal tadi mami udah menghubungi Tiara buat menemani Qiana selama mami pergi" ujar mami Ratna entah dengan ekspresi wajah seperti apa, namun berhasil membuat wajah Arzan memerah.
Perkataan mami Ratna cukup untuk dirinya membuat kesimpulan jika selama ini maminya memang mengetahui dimana keberadaan Tiara. Arzan hanya bisa mengeram dalam hatinya.
"Jadi mami tahu selama ini Tiara ada dimana?" tanya Arzan penuh penekanan,
"Enggak" jawab mami Ratna terdengar santai, beliau menjawab jujur karena memang tidak tahu dimana Tiara tinggal. Menantunya itu hanya memastikan jika dirinya berada di tempat yang aman.
"Tapi mami tahu kan kalau Tiara sering mengunjungi Qiana dan menjaganya di rumah sakit?" tanya Arzan lagi,
"Iya, lagian cucu mami manggil-manggil terus mommy nya, mami kan jadi gak tega. Dan ternyata terbukti kan kalau obat manjurnya cucu mami itu mommy nya" jelas mami Ratna panjang lebar membuat Arzan semakin menahan sesak di dadanya.
"Terus kenapa mami gak ngasih tahu aku kalau Tiara ke sini?" Arzan sudah tidak bisa menahan kesalnya, dia bertanya dengan nada kesal.
"Habis kamu gak nanya. Sudah dulu ya, mami pamitan dulu sama temen-temen mami. Nitip Qia, jaga baik-baik. Assalamu'alaikum" mami Ratna menutup begitu saja sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban salam dari Arzan.
"Hahhhh..." Arzan membuang nafasnya kasar, dia menahan diri untuk tidak menunjukkan kekesalannya di depan Qiana.
"Jadi selama ini mami tahu?" gumamnya kesal,
Arzan kembali membuka layar ponselnya, dia menyusuri deretan kontak dan tampak mencari nama seseorang.
"Sayang, tunggu sebentar ya Daddy menelepon dulu" pamit Arzan pada putrinya yang dijawab anggukan kepala oleh Qiana, dia pun kembali fokus dengan tablet di tangannya.
Arzan berjalan menuju balkon ruang rawat Qiana. Dia tidak ingin percakapannya di telepon terdengar oleh putrinya.
"Hallo.....dimana lo?" tanya Arzan tanpa basa-basi.
Arga yang sedang menghadiri pertemuan dengan klien menggantikan bossnya langsung mengangkat telepon saat mengetahui jika yang memanggilnya adalah Arzan.
"Sa..saya di hotel XX bos...kan lagi..." Arga menjawab terbata karena mendengar nada bicara Arzan yang terdengar marah, jawabannya pun terpotong karena Arzan yang kembali berbicara,
"Lo tahu kan kalau selama gue pergi Tiara selalu mengunjungi Qiana di rumah sakit?" tanya Arzan to the point.
"I...iya boss, saya tahu. Anak buah yang saya tugaskan untuk menjaga nona Qiana selalu melaporkannya pada saya" jawab Arga jujur dengan wajah meringis yang tentu saja tidak terlihat oleh Arzan. Arga langsung membayangkan sebesar apa kemarahan bossnya sekarang.
"Terus kenapa lo gak bilang sama gue? lo tahu kan kalau gue terus nyari istri gue?" sentak Arzan yang semakin kesal.
"Bos gak nanya, lagian kan boss udah nyuruh orang buat nyari nona Tiara, harusnya boss tanay mereka dong" jawab Arga dengan nada lebih santai, padahal hatinya tak karuan membayangkan kemarahan Arzan.
"Jadi selama ini hanya gue yang gak tahu kalau ternyata istri gue selalu dekat sama anak gue?" tanya Arzan kembali dengan bertanya dengan penuh penekanan.
"Maybe...boss" jawaban Arga membuat kekesalan Arzan semakin mendidih di ubun-ubun.
"Sialan lo!" sentaknya, seketika menutup sambungan teleponnya dengan Arga.
"Brengsek si Arga" umpatnya lagi,
__ADS_1
"Jadi, selama ini hanya aku yang tidak tahu jika kamu begitu dekat, sayang?" ucapnya pelan. Arzan kembali menatap ponselnya yang ber-wallpaper foto candid Tiara.
Terkadang seseorang tidak akan merasakan pentingnya kehadiran, sebelum merasakan kehilangan.