
"Assalamu'alaikum, Mami, Tuan" Tiara datang bergandengan tangan dengan Qiana, dia menemui tuan muda dan nyonya besar rumah ini yang tak lain suami dan ibu mertuanya sebelum ke kamarnya.
Tiara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan diterima oleh mami Ratna dengan pelukan hangat setelah Tiara mencium punggung tangannya dengan takzim.
Setelah itu Tiara pun beralih mengulurkan tangan kanannya pada Arzan yang sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya. Arzan pun menerima uluran tangan Tiara, ada rasa hangat yang menjalar ke dalam hatinya saat Tiara mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah kamu sudah kembali, mami senang lihatnya. Qia kangen berat sama kamu. Daddy nya aja sampai kewalahan padahal dulu mah biasa aja tapi sekarang lihat tuan putri merajuk dia jadi kewalahan lagi, mungkin sejak ada kamu dia keenakan kali" sindir mami Ratna masih berusaha membuat putranya sadar akan keberadaan Tiara yang sangat berarti,
"Maafkan aku mami. Mami dan Tuan pasti repot" ucap Tiara menundukkan kepalanya karena merasa bersalah tidak melaksanakan tugasnya dengan benar untuk menjaga Qiana, sekilas dia melirik ke arah suaminya yang tetap dengan wajah datarnya dan masih belum bersuara.
"Eh...kenapa harus minta maaf, enggak apa-apa kok mami senang kamu bisa mengikuti kegiatan perkuliahan dengan baik" ujar mami Ratna yang sedikit kaget karena perubahan raut wajah Tiara karena rasa bersalahnya. Dia pun melirik ke arah putranya dengan wajah kesal karena Arzan masih saja membiarkan Tiara memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Bagaimana keadaan keluarga kamu? mereka semua sehat?" Mami Ratna yang baru ingat jika menantunya itu sudah mengunjungi keluarganya pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar mereka.
"Alhamdulillah Mi, ibu dan adik-adik baik. Ibu juga menitipkan salam untuk mami dan tuan. Mohon maaf belum bisa membalas semua kebaikan mami dan tuan untuk kami" Tiara kembali berucap sendu, dia terharu dengan kebaikan keluarga suaminya yang tidak mempermasalahkan status keluarganya.
Walau pun dulu Tiara pun pernah merasakan kehidupan serba berkecukupan tapi semenjak sang ayah terjerat kasus semuanya tinggallah kenangan dan dirinya serta keluarganya kini hidup dari kebaikan Arzan dan mami Ratna.
Biaya kuliah Tiara sudah dibayar lunas oleh Arzan, begitupun dengan biaya sekolah kedua adiknya. Semua fasilitas yang dipakai oleh keluarganya saat ini adalah kebaikan dari suaminya.
Dirinya yang berawal dari hanya seorang tukang cuci piring merangkak menjadi staf penting di restoran tempatnya bekerja dan kini perlahan kembali mendapatkan penghidupan yang layak. Walaupun saat ini Tiara cuti karena harus magang di kantor El-Malik pusat.
__ADS_1
Sebenarnya Tiara ingin sekali berhambur memeluk Arzan, mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya atas semua kebaikan yang diberikannya untuk Tiara dan keluarganya. Dia tidak menyangka laki-laki dingin yang tampak acuh itu sebenarnya memiliki hati yang hangat dan budi yang tinggi. Tapi Tiara sadar itu tidak mungkin, dia hanya melirik sekilas ke arah suaminya yang malah asik dengan ponselnya.
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari Ibu untuk mami" Tiara menyerahkan kantong kresek yang cukup besar namun tidak terlalu berat pada mami Ratna dan diterima dengan wajah sumringah oleh mami.
"Aduh jadi merepotkan, apa ini?" tanya mami Ratna antusias,
"Itu keripik pisang Mi, ada keripik singkong juga. Mudah-mudahan mami suka" jawab Tiara menjelaskan apa yang dibawanya dari Banten sebagai oleh-oleh dari sang ibu untuk besannya,
"Tentu sayang, mami sangat menyukainya. Keripik kayak gini paling enak buat ngemil sambil nonton TV. Kalau ini kesukaan Arzan banget, sejak kecil ngemilnya paling suka keripik pisang" mami Ratna pun bernostalgia pada masa kanak-kanak putranya yang memang sejak dulu sangat menyukai makanan yang satu itu karena sering dibawakan oleh kakek neneknya dari Ciamis.
Mami Ratna adalah mojang asal Ciamis yang dinikahi pemuda kota nan tampan dan bersahaja, pertemuan mereka saat papi Malik KKN di Ciamis hingga membuahkan cinta yang ternyata berlanjut hingga ke pelaminan. Setelah selesai kuliah dan wisuda dengan menyandang gelar sarjana di bidang bisnis, papi Malik kembali ke Ciamis untuk memetik bunga desa yang sudah ditandainya sejak KKN dulu.
Mereka pun menikah, karena usaha papi Malik berada di Jakarta akhirnya mami Ratna pun mengikuti suaminya. Mereka saling mendukung dalam setiap hal. Mami Ratna yang merupakan lulusan SMK jurusan tata boga, mencoba berbisnis kuliner untuk menghilangkan kejenuhannya karena seharian terus berada di rumah dan ternyata disambut baik oleh sang suami. Hingga kini rintisan warung nasi mami Ratna dan Papi Malik menjelma menjadi restoran-restoran mewah.
Kerja keras tidak mengkhianati hasil, apa yang ditanam papi Malik dan mami Ratna di masa mudanya kini menjelma menjadi kerajaan bisnis yang tak terkalahkan. Bisnis yang digeluti pun tidak hanya restoran dan minimarket yang sudah menjelma menjadi supermarket dan beberapa mall, tapi semakin merambah ke sektor lainnya.
Bisnis perhotelan pun menjadi target selanjutnya yang akan memperluas kerajaan bisnis El-Malik. Hingga musibah yang menimpa papi Malik pun terjadi saat semua bisnisnya sedang berada di atas. Saat itu, Arzanlah yang harus berjuang keras untuk tetap mempertahankan kejayaan kerajaan bisnis El-Malik Grup yang kini semakin berkembang pesat dibawah kepemimpinannya.
"Ini semua buatan Ibumu?" tanya mami Ratna penasaran,
"Iya Mi, Ibu sekarang berjualan makanan ringan seperti ini" Tiara sekilas melirik ke arah Arzan, ingin tahu reaksinya saat Tiara mengatakan hal itu karena menurut sang ibu toko yang saat ini dikelola ibunya adalah milik suaminya. Tapi lagi-lagi Arzan hanya menampilkan wajah datarnya, terlihat tidak peduli dengan obrolan Tiara dan mami Ratna.
__ADS_1
"Kalau begitu beristirahatlah, kamu pasti capek" ujar mami Ratna sambil mengusap bahu Tiara yang masih berdiri berhadapan dengannya.
"Baik Mami, terima kasih. Sebentar lagi magrib, kalau begitu saya permisi" Tiara pun mengajak Qiana untuk ke kamarnya, dia hanya menoleh sekilas ke arah Arzan yang ternyata sekarang sedang menatapnya. Tiara pun menganggukan sedikit kepalanya sebelum melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu.
☘️☘️☘️
Tepat pukul sembilan malam, Tiara keluar dari kamar Qiana. Tadi, setelah shalat magrib berjamaah di kamar Qiana yang dilanjutkan dengan membersamai anak sambungnya itu muraja'ah hafalan Qur'an hingga isya menjelang, mereka pun kembali melaksanakan shalat isya berjama'ah.
Tiara dan Qiana barulah keluar setelah selesai melaksanakan kewajibannya. Mereka pun menuju ruang makan dimana mami Ratna dan Arzan sudah menunggu. Ana yang memanggil Tiara dan Qiana dari kamar gadis kecil itu saat makan malam sudah siap.
Karena rindu dengan mommy cantiknya, Qiana tidak membiarkan sedetik pun Tiara beranjak dari sisinya. Gadis kecil itu bahkan mau makan malam dengan makanan yang disiapkan Bi Asih karena tidak ingin Tiara jauh darinya.
Makan malam pun berlangsung penuh kehangatan. Kehadiran Tiara kembali di rumah itu benar-benar menjadi pelita yang tidak hanya memberi cahaya dan warna baru untuk keluarga mami Ratna tapi juga memberikan kehangatan di hati semua penghuni rumah yang merasakan kehampaan beberapa tahun ini karena kepergian orang-orang tercinta mereka.
Setelah lelah belajar sambil bermain bersama Tiara, Qiana pun akhirnya terlelap penuh ketenangan di atas kasur empuknya sambil memeluk boneka beruang kesayangannya yang merupakan hadiah dari Tiara saat awal-awal kebersamaan mereka.
Tiara yang merasa tubuhnya begitu lelah setelah melalui perjalanan yang cukup jauh bermaksud akan segera memasuki kamarnya untuk beristirahat. Dia terlebih dahulu turun menuju dapur untuk mengambil persediaan air minum untuk malam hari. Tetapi saat melihat lampu ruang kerja Arzan yang masih menyala, sejenak Tiara pun berpikir.
Dia berpikir mungkin sebaiknya dia segera menemui suaminya itu untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas semua kebaikannya terhadap keluarganya.
"Sekarang? besok? sekarang? besok? sekarang? besok?" Tiara terus menimbang-nimbang kapan dirinya akan berterima kasih pada Arzan. Dia masih berdiri di depan pintu ruang kerja Arzan, hingga akhirnya...
__ADS_1
Ceklek....suara pintu dibuka dari dalam membuat Tiara terperanjat. Dia memaku di tempatnya berdiri dengan membawa botol berisi air putih di tangan kanannya dan gelas kosong di tangan kirinya saat melihat tiba-tiba pintu ruang kerja Arzan terbuka dan menampakkan laki-laki bertubuh tegap tinggi dengan dada bidang yang memakai kaos putih polos dan celana rumahan tengah berdiri dan melihatnya penuh selidik.
"Kamu? sedang apa kamu di sini?" tanya Arzan datar,