Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Pingsan


__ADS_3

"Tiara, kamu sudah datang" Pak Edward segera menghampiri Tiara, dia senang akhirnya Tiara bisa datang walaupun terlambat dari waktu seharusnya.


"Iya, Pak. Maafkan saya" jawab Tiara pelan, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Edward. Dia tidak terlihat marah atau kesal sama sekali pada Tiara, yang ada adalah raut bahagia tercipta di wajahnya.


"Maaf Tuan, bolehkah jika mahasiswa magang ini yang menyampaikan presentasi? sebelumnya memang dia yang dipercayakan untuk melaksanakan tugas ini" Pak Edward memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya kepada Arzan, dia sangat percaya jika Tiara akan jauh lebih baik dibanding dirinya dalam menyampaikan presentasi program terkait proyek yang akan mereka jalankan ke depannya.


Suasana masih terasa mencekam karena Arzan masih belum mengeluarkan suara. Tatapannya tajam mengarah pada Tiara yang semakin menundukkan kepalanya.


"Aku setuju dia yang mempresentasikannya" Nathan yang sejak kedatangan Tiara hanya jadi penonton setia akhirnya buka suara.


Semua mata berbinar, tidak hanya Edward yang terlihat senang mendengar pernyataan Nathan tapi mata-mata lainnya pun tak kalah berbinar.


Arzan mengedarkan pandangannya, dilihatnya satu persatu setiap orang yang berada di sana. Dengan jelas Arzan bisa melihat binar antusias di mata Edward, Danis dan juga Adrian yang memang berharap Arzan mengizinkan Tiara yang mempresentasikan program mereka.


"Ckk...." Arzan memalingkan wajahnya, rasa cemburu menghinggapi hatinya,


"Lakukan!" akhirnya jawaban Arzan membuat binar bahagia di wajah Pak Edward semakin meningkat begitupun dengan Danis dan Adrian, walaupun ada wajah lain yang terlihat kesal.


"Ayo Tiara, kamu sudah siap kan?" Pak Edward beralih menatap ke arah Tiara yang kini sudah mulai terlihat tenang. Tiara pun menjawab dengan anggukan kepala sebagai tanda kesiapannya.


Tanpa menunggu lagi, semua orang menyimak pemaparan program yang akan mereka jalankan terkait proyek baru yang merupakan kerja sama antara El-Malik Grup dengan perusahaan Nathan.

__ADS_1


Semua hal dijelaskan dengan rinci oleh Tiara, tidak ada satu pun yang terlewat. Seperti biasa Tiara dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti dia menyampaikan ide program yang brilian menjadi sesuatu yang tampak mudah untuk dijalankan dan logis.


Tiara mampu mengombinasikan antara kemampuan verbal dan nonverbalnya dengan baik. Selain itu penguasaan materi dan gaya bahasa yang digunakannya semakin menambah pemahaman semua orang yang mendengarkannya semakin meningkat.


Kemampuannya dalam membangun komunikasi efektif benar-benar tidak diragukan lagi. Semua orang dibuat terpesona, menyampaikan informasi dengan jelas dan akurat membuat semua yang menyimak memahami apa maksud yang dari yang ingin disampaikannya.


Sesi presentasi pun berjalan dengan lancar tanpa ada sedikitpun kesalahan. Pak Edward bahkan terus mengembangkan senyumnya melihat aksi Tiara yang tampak memukau. Dia cukup percaya diri jika konsep yang disuguhkan divisinya akan memuaskan klien.


Hal yang sama juga terlihat di wajah Nathan, sebagai klien yang baru secara langsung turun tangan bekerja sama dengan perusahaan besar El-Malik Grup membuat Nathan tak mengalihkan tatapannya sedikit pun.


Dia bahkan berkali-kali mendapat lirikan tajam dari Arga yang memberinya kode jika sang presdir bermuka masam saat melihat dirinya begitu terpesona pada Tiara, namun Nathan tidak peduli. Kali ini dia memilih menggunakan kesempatan ini untuk benar-benar bisa menatap Tiara yang semakin membuatnya kagum.


Sejak perbincangannya dengan Riki yang menjelaskan jika Tiara adalah milik Arzan. Perlahan Nathan pun kembali menghempaskan perasaan sukanya pada gadis itu. Dia tidak ingin sejarah kembali terulang.


Nathan kembali akan berusaha menghilangkan rasa yang dimilikinya untuk Tiara demi persahabatan mereka. Kali ini dia benar-benar tidak ingin kembali kehilangan Arzan sebagai sahabat sekaligus rekan bisnisnya. Namun setelah apa yang dilihatnya hari ini rasa kagumnya terhadap gadis itu pun tak dapat dia pungkiri.


Sesi selanjutnya adalah kegiatan tanya jawab, Nathan pun antusias bertanya. Dan semua pertanyaan dijawab dengan apik dan jelas oleh Tiara dan Pak Edward.


Sementara Arzan, laki-laki itu benar-benar sudah kehilangan fokusnya. Yang ada dibenaknya saat ini adalah ingin membawa Tiara pergi dari tempat ini dan mengurungnya. Rasa cemburu meluap di hati, dia tidak rela istrinya ditatap penuh kekaguman oleh laki-laki lain.


"Bagaimana Pak? apakah program ini disetujui untuk menjadi bagian dari proyek terbaru perusahaan?"suara Pak Edward mengusik lamunan Arzan yang sejak tadi menatap Tiara,

__ADS_1


Arzan menatap Arga, dia benar-benar kehilangan fokusnya. Sementara yang ditatap seolah mengerti kode yang diberikan oleh atasannya. Arga pun menganggukan kepalanya.


"Baiklah, aku menyetujuinya" sontak jawaban Arzan membuat riuh terutama divisi pemasaran karena bahagia jika program yang mereka ajukan berhasil tanpa ada catatan ataupun revisi. Namun keriuhan itu tiba-tiba terhenti karena suara yang cukup menyita perhatian.


Brakkkk .....sontak semua orang menatap ke arah sumber suara, Tiara pingsan dan membentur podium tempatnya melakukan presentasi.


"Tiara....." teriak beberapa orang serempak,


Pak Edward sebagai orang yang posisi berdirinya paling dekat dengan Tiara refleks berjongkok dan hendak memangku Tiara yang tergeletak di lantai.


"Jangan!" teriakan Arzan menghentikan Pak Edward yang akan memangku Tiara, dia segera mengalihkan pandangan ke arah sang presdir begitupun semua orang yang ada di hadapannya.


"Tapi Pak, Tiara....." ucapan Pak Edward terhenti karena Arzan yang memotongnya tiba-tiba.


"Jangan sentuh dia" sergah Arzan melanjutkan perintahnya, dan Pak Edwar pun seketika mengangkat kedua tangan yang hendak memangku kepala Tiara.


Arga yang mengerti maksud larangan Arzan segera mengambil tindakan. Posisi Alana yang berada dekat dengannya dia manfaatkan segera.


"Kamu, tolong pangku Tiara" ucap Arga tegas, Alana yang mendapat perintah mendadak pun sedikit gelagapan namun untunglah kesadarannya cepat kembali dan dia pun segera berlari ke arah Pak Edward untuk menggantikan posisinya.


"Minggir" baru saja Alana akan mengangkat kepala Tiara ke pangkuannya, suara bass seseorang terdengar dari arah belakangnya.

__ADS_1


"Tuan" Alana kembali terkesiap mendapat orang yang mengeluarkan titah itu,


Tanpa menunggu lagi Arzan memangku Tiara tanpa ragu. Dia keluar dari ruang meeting membawa tubuh istrinya yang lemah tak berdaya dengan menyisakan banyak tanya di benak semua orang yang berada di ruangan itu.


__ADS_2