Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Menelan Realita


__ADS_3

Arzan menatap putri kecilnya yang sudah kembali terlelap dengan tenang. Rupanya dia mengigau tadi. Matanya masih terlihat mengantuk, mungkin karena pengaruh obat.


"Terima kasih kamu sudah kembali seperti dulu, mommy mu adalah mommy Tiara. Daddy berjanji akan secepatnya membawa dia padamu sayang, dan selamanya menjadikan mommy Tiara adalah mommymu" Arzan berbicara pelan karena tidak ingin membuat putrinya terganggu, dia masih betah mengusap kepala sang putri dengan penuh kelembutan.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuat Arzan menghentikan aktivitasnya, dia menoleh ke arah pintu dan siap beranjak untuk membuka pintu itu namun seseorang terlihat sudah berdiri di ambang pintu karena ternyata pintu sudah terbuka.


Sejenak kedua orang itu saling beradu tatap. Nathan mengira jika yang menunggui Qiana adalah mami Ratna, namun ternyata Arzan.


Tidak ada kata yang terucap dari keduanya, mereka masih anteng beradu tatap dengan tatapan yang menyiratkan luka dan kebencian di antara keduanya.


"Daddy..." suara Qiana yang terdengar jelas membuat keduanya memutuskan pandangan dan beralih menatap Qiana yang sudah terduduk dia atas tempat tidur.


"Sayang, kamu sudah bangun Nak?" Arzan menjadi orang pertama yang tersadar, dia pun berbalik kembali ke arah Qiana dan memastikan keadaan gadis kecil itu.


"Papi..." Qiana yang melihat Nathan hanya berdiri di ambang pintu memanggilnya dengan panggilan yang membuat hati Arzan berdenyut sekaligus kaget. Sejak kapan putrinya itu memanggil Nathan dengan panggilan itu.


"Iya sayang, papi datang" Nathan akhirnya bersuara, dia pun berjalan ke arah tempat tidur Qiana dan berdiri bersebrangan dengan Arzan.


"Apa ini maksudnya?" sorot mata Arzan menatap penuh tanya pada Nathan yang kini berdiri di hadapannya begitu dekat.


"Daddy, kenalin ini papi Nathan. Kata papi Nathan dia adalah papiku dan daddy adalah daddyku. Dulu, aku adalah anak papi Nathan dan mommy Mitha tapi sekarang aku adalah anak daddy dan mommy Tiara" suara anak kecil yang penuh energik membuat Arzan semakin terkejut, dia berpikir apa yang sudah dia lewatkan beberapa hari ini.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya sekarang kamu tidur lagi ya? Papi mau berbicara dulu berdua dengan daddy kamu. Boleh ya anak pintar?" bujuk Nathan dengan lembut, Qiana pun mengangguk menuruti apa yang dikatakan Nathan.


Tuut.... Nathan menekan tombol yang biasa digunakan untuk memanggil perawat, dan dalam hitungan detik seorang perawat datang setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


" Sus, tolong temani dan jaga Qiana" titah Nathan dan dijawab anggukan kepala oleh perawat itu. Dia adalah perawat khusus yang disewa Nathan untuk menjaga Qiana..


"Kita perlu bicara, ayo!" ajak Nathan tanpa basa-basi, dia pun melenggang pergi setelah terlebih dahulu mengecup puncak kepala Qiana penuh kasih, ada hati yang kembali berdenyut dirasakan Arzan melihat pemandangan itu. Untunglah gadis kecil itu pun peka dengan keadaan.


"Daddy, tidak menciumku?" ucap Qiana menatap Arzan penuh harap, tatapan yang selalu membuat Arzan lemah.


"Tentu saja sayang" jawab Arzan cepat, tidak ingin mengecewakan Qiana, Arzan pun segera melakukan hal yang sama. Mencium kening Qiana dalam dan lama.


"Makasih daddy, I love you" ucapnya tulus, membuat hati Arzan kembali menghangat.


Kantin rumah sakit menjadi tempat dua lelaki tampan duduk saling berhadapan. Meja yang berada di paling ujung dekat dengan jendela besar yang menghadap taman di tengah bangunan rumah sakit menjadi pilihan tempat duduk mereka. Nathan yang sengaja memilih untuk duduk di sana agar tidak terlalu banyak orang yang melewati area itu.


Dua cangkir kopi sudah terhidang di atas meja, Nathan yang memesankannya sesuai request Arzan. Minuman yang sama yanag sering mereka pesan dulu tatkala mereka nongkrong di cafe, tapi kali ini Arzan memesan kopi itu tanpa gula.


"Sekarang kita sudah sama-sama dewasa" Nathan mulai membuka percakapan setelah beberapa menit tercipta keheningan dan larut dalam pikiran masing-masing


"Tidak bisakah kita untuk berdamai dengan keadaan dan menjalani hidup dengan baik ke depannya?" Arzan masih terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan Nathan selanjutnya.


"Aku tahu aku salah telah mengkhianatimu, maafkan aku. Dari hati yang paling dalam aku tulus meminta maaf atas semua kesalahanku dan Mitha, dan perlu kamu tahu jika selama hampir sembilan tahun ini aku terus dikejar rasa bersalah karena semua itu" Nathan menghela nafas untuk menjeda ucapannya,

__ADS_1


"Mitha sudah tiada, entah dengan cara apa aku harus memintakan maaf padamu untuknya. Hanya yang pasti .... aku memohon dengan sangat, hanya kamu yang bisa membuatnya tenang. Tolong, maafkanlah dia, dan biarkan dia tenang dalam keabadian. Gue mohon Bro..." Nathan tertunduk menyembunyikan mata yang tiba-tiba memerah dan berhasil meloloskan air mata.


"Semuanya sudah terjadi dan gue tidak kuasa untuk mengubah atau mengulang waktu dan mencegah agar semua itu tidak terjadi" panggilan akrab Nathan dan Arzan sudah kembali, walau bagaimanapun dulu mereka adalah sahabat dekat yang sudah seperti saudara.


Arzan menghela nafasnya, mengusir semua rasa yang membuat pikirannya kacau. Rasa sakit dan menyesal bercampur aduk menjadi satu.


Sakit karena pengkhianatan orang-orang terdekatnya dan menyesal karena telah meragukan orang yang tulus mencintainya.


"Gua akan memaafkan lo, dan gue juga akan memaafkan dan mengikhlaskan Mitha. Tapi dengan satu syarat" Arzan menatap tajam Nathan yang mulai mendongak menatapnya.


"Apa syaratnya? Apa yang harus gue lakukan?" Nathan tampak antusias, secercah harapan untuk hidup tenang dan damai telah ada di depan matanya,


"Karena kenyataan menyakitkan akibat pengkhianatan kalian gue kehilangan wanita yang tulus mencintai dan menyayangi gue. Jika lo meminta gue melupakan masa lalu dan memaafkan kalian berdua, maka gue akan meminta hal yang sama sama lo, buat istri gue memaafkan gue dan mau kembali hidup bersama gue" tegas Arzan, sorot matanya menyiratkan penyesalan dan kerinduan yang mendalam untuk istrinya itu.


"Gara-gara kenyataan tentang Qiana yang ternyata bukan anak kandung gue, gue sempat meragukan anak yang ada dalam kandungan Tiara. Padahal gue tahu betul jika laki-laki pertama dan satu-satunya yang menyentuhnya adalah gue. Gue kembali menjadi bodoh. Jika dulu gue bodoh karena terlalu cinta kali ini gue bodoh karena terlalu kecewa dan lo menjadi orang yang paling harus bertanggung jawab untuk itu" jelas Arzan menatap Nathan tajam, membuatnya seketika mengerutkan keningnya.


"Jadi lo belum berbaikan dengan Tiara?" tanya Nathan heran, dia mengira Arzan dan Tiara sudah kembali berhubungan baik. Karena yang dia ketahui selama beberapa hari ini Tiara sudah merawat Qiana di rumah sakit, Nathan mengetahui itu.


"Heumm" jawab Arzan mengalihkan tatapannya dari Nathan dia meraih secangkir kopi pahit yang sengaja dipesannya. Nathan sampai meringis saat melihat Arzan menyeruputnya.


"Pahit?" tanya Nathan memastikan,


"Heumm" lagi-lagi jawaban singkat yang Arzan berikan.

__ADS_1


"Hari ini gue sengaja memesan kopi pahit, gue bahkan sengaja melupakan gula, agar gue terbiasa menelan realita" ucap Arzan penuh makna, dengan tatapan lurus ke depan dan pikiran melayang entah kemana.


__ADS_2