
Sosok laki-laki gagah dan tampan hampir sebelas dua belas dengan direktur utama El-Malik Grup memasuki ruang rapat internal divisi pemasaran yang berada satu lantai di bawah lantai yang ditempati direktur utama.
Arga memasuki ruangan itu setelah terlebih dahulu mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Pak Edward terkejut saat melihat kedatangan orang yang baru saja menghubungi dan menanyakan keberadaannya saat ini baru saja melalui ponselnya. Dia tidak mengira jika asisten sang direktur utama sekaligus orang nomor dua di El-Malik Grup kini datang ke ruangan tempatnya berada.
"Pak Arga, anda datang kesini? ada yang bisa saya bantu? Maaf saya kira anda tadi hanya menanyakan keberadaan saya, suatu kehormatan untuk saya anda bisa datang mengunjungi kami. Kenapa tidak panggil saya saja untuk datang menemui anda?" Pak Edward yang awalnya terkejut sudah mulai bisa menguasai dirinya, dia menyambut kedatangan Arga dengan penuh hormat.
Semua staf divisi pemasaran yang berada di ruangan itu pun turut berdiri saat melihat Pak Edward yang berdiri menyambut kedatangan orang berpengaruh kedua di El-Malik Grup itu.
"Saya hanya mau menyampaikan anda dan semua staf divisi pemasaran ditunggu di ruang rapat utama" Arga menjelaskan maksud kedatangannya, dia bukan tanpa alasan datang sendiri ke ruangan rapat menemui manajer divisi pemasaran itu. Sebenarnya Arga bisa saja menghubunginya melalui telepon tapi tidak untuk kali ini.
Sang boss yang menyuruhnya agar langsung datang ke sana untuk memberitahukan hal itu sekaligus memantau keadaan Tiara yang terlihat panik saat harus datang terlambat karena ulahnya.
"Baik Pak, kami akan segera ke sana" jawab Pak Edward sigap setelah mendengar perintah dari asisten direktur utama,
Sekilas Arga melirik ke arah Tiara yang juga menyimak apa yang disampaikannya. Ada seulas senyum yang terbit di bibirnya saat beradu tatap dengan Tiara. Arga bahkan sedikit menganggukan kepalanya yang dibalas Tiara dengan senyum dan anggukan kepala juga.
Interaksi dalam diam yang dilakukan Arga dan Tiara ternyata di lihat jelas oleh Rena dan Adrian. Adrian yang adalah orang kedua setelah Rena yang menatap Tiara dengan tatapan berbeda. Jika Rena menatap Tiara dengan tatapan judesnya, berbeda dengan Adrian yang menatap Tiara penuh damba.
Adrian melihat Tiara pagi ini begitu berbeda. Dia masih ingat saat-saat bersama dengan gadis itu. Tiara selalu tampil sederhana, tidak hanya dalam berpakaian tetapi juga dalam merias diri. Tetapi Tiara hari ini terlihat semakin cantik di mata Adrian, kesederhanaannya dalam berpenampilan justru membuat aura kecantikannya semakin terlihat jelas dan alami.
__ADS_1
Rasa penyesalan semakin besar menghujam dada Adrian. Dia menyesal telah menyia-nyiakan gadis sebaik Tiara. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, harusnya dia lebih mengenal Tiara namun nyatanya provokasi negatif yang diberikan oknum yang berkepentingan pribadi berhasil menghasutnya hingga dia memilih menjauh dari Tiara dan mengabaikannya di saat-saat terpuruknya.
Adrian menatap Arga dan Tiara bergantian, hatinya bertanya-tanya ada hubungan apa antara Arga dan Tiara, mengapa Arga terlihat begitu istimewa memperlakukan Tiara.
"Aku harus cari tahu ada hubungan apa di antara mereka, aku tidak boleh mudah menyerah kali ini" gumam Adrian dalam hatinya, perasaan cemburu dan tidak rela kembali dirasakannya saat melihat interaksi antara Arga dengan Tiara.
Tidak jauh beda dengan Adrian yang merasakan kecemburuan di hatinya melihat interaksi Arga dan Tiara. Rena semakin mengeratkan kepalan tangannya saat melihat Arga begitu manis terhadap Tiara.
Selama bekerja di perusahaan itu Rena belum pernah melihat Arga memperlakukan karyawannya seperti itu, apalagi ini hanya mahasiswa magang. Sungguh Rena merasa tersaingi.
Selama ini Arga selalu bersikap formal dan dingin, tidak jauh beda dengan Arzan. Kedua orang berpengaruh itu sungguh sangat minim ekspresi terutama terhadap makhluk yang bernama perempuan. Tapi kenapa dengan Tiara Arga terlihat begitu manis, hal itu membuat Rena semakin geram terhadap Tiara.
Bukan tanpa alasan Rena bersikap judes pada Tiara. Di awal kedatangannya ke perusahaan itu sebagai mahasiswa magang dan ditempatkan di divisi yang sama dengannya Tiara sudah mendapatkan perlakuan istimewa dari Arga yang notabene adalah orang yang berpengaruh di perusahaan itu.
Bahasa tubuh Arga menunjukkan jika laki-laki itu menyukai Tiara, jelas Rena tidak terima. Sejak awal dirinya bekerja di sana selalu berusaha untuk mencari perhatian Arga. Rena sangat tertarik dengan tipe pria seperti Arga. Dia bahkan mengaku terang-terangan kepada teman-teman satu divisinya jika dirinya memang menyukai Arga walaupun Arga tidak pernah sedikit pun meliriknya.
Rena jelas tidak rela dan sangat murka ketika Tiara diperlakukan istimewa oleh Arga, apalagi Tiara terlihat meresponnya dengan senang menurut Rena. Dia mengira jika Tiara memang sengaja menggoda Arga. Oleh karenanya Rena sangat tidak suka dan selalu bersikap ketus pada Tiara.
"Heh, awas ya jangan kecentilan kamu!. Mahasiswa magang bisa-bisanya ngecengin asisten boss" Rena berjalan menghampiri Tiara, semua staf divisi pemasaran termasuk mahasiswa magang bersiap untuk keluar dari ruangan rapat internal itu dan akan menuju ke ruang rapat utama yang berada di lantai paling atas gedung berdampingan dengan ruang sang direktur utama El-Malik Grup.
Di saat seperti itu, Rena yang sudah menahan rasa kesalnya sejak tadi terhadap Tiara buru-buru menghampiri Tiara dan membisikkan kata-kata yang cukup pedas di telinga Tiara. Setelahnya Rena bahkan menyenggol bahu Tiara dengan bahunya sehingga Tiara sedikit terhuyung ke depan.
__ADS_1
"Astagfirullah, Mbak Rena...." gumam Tiara pelan, namun ternyata terdengar oleh Danis yang berjalan di depannya.
"Kenapa Ra?" tanya Danis penasaran, dia menoleh ke belakang dan melihat Tiara memegangi bahunya yang sengaja disenggol Rena tadi.
"Hah? enggak apa-apa. Ini aku hanya pegel" Tiara sedikit memutar-mutar bahu yang dipeganginya, tidak ingin mengundang tanya orang lain perihal kejadian yang baru saja dialaminya.
Rapat berlangsung cukup alot. Rapat kali ini memang tidak dihadiri oleh semua divisi, akhir bulan adalah waktunya setiap manajer melaporkan perkembangan perusahaan sesuai divisinya. Biasanya hanya manajer dan sekretarisnya saja yang mengikuti rapat yang dari divisi pemasaran hanya diikuti oleh Pak Edward dan Rena. Tapi tidak kali ini, sang direktur utama meminta Arga untuk mengatur jadwal agar semua karyawan setiap divisi bisa mengikuti rapat evaluasi bulanan ini.
Arga pun dengan sigap berusaha melaksanakan perintah bossnya itu dengan mengatur jadwal rapat setiap divisinya. Arga tahu pasti ada motif terselubung dibalik perintah bossnya kali ini, dan hari ini adalah giliran divisi pemasaran dan divisi keuangan yang menyampaikan evaluasi kinerjanya selama satu bulan kemarin, termasuk perkembangan yang dicapai divisi itu dan tidak lupa sang direktur utama pun meminta gambaran rencana program yang akan dilaksanakan bulan selanjutnya.
Tepat pukul satu siang meeting pun usai. Arzan memberikan apresiasi pada divisi pemasaran dan divisi keuangan karena pencapaiannya yang melebihi target bulan ini. Dia meminta staf sekretarisnya untuk menyiapkan tiket liburan untuk keluarga manajer dan semua staf kedua divisi itu di akhir pekan ini.
Hal ini jelas disambut antusias oleh semua staf termasuk mahasiswa magang yang bertugas di divisi pemasaran dan keuangan. Rangkaian rencana selama liburan pun sudah tersetting di pikiran masing-masing.
Arzan berdiri dari tempat duduk kebesarannya di ruangan meeting utama itu, diikuti oleh semua karyawan sebagai penghormatan mereka kepada pimpinan tertinggi perusahaan itu. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya sambil mengucapkan terima kasih kepada semua karyawannya yang hadir saat itu atas dedikasi dan loyalitas mereka terhadap perusahaan yang dipimpinnya.
"Terima kasih atas dedikasi dan loyalitas kalian untuk perusahaan ini. Kalian adalah bagian penting dari perusahaan ini. Teruslah bekerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas" pungkasnya, yang kemudian disambut tepuk tangan dari seluruh karyawannya.
Meskipun dia selalu bersikap dingin dan terkesan seperlunya tetapi dia adalah pimpinan yang sangat dikagumi dan dihormati oleh bawahannya karena Arzan selalu memperlakukan mereka sesuai dengan dedikasinya terhadap perusahaan.
Arzan pun melangkah keluar dari balik mejanya, berjalan menuju pintu keluar diiringi tatapan semua orang yang berada di ruangan itu. Namun semua kaget saat tiba-tiba langkahnya berhenti. Arzan berhenti tepat di hadapan Tiara berdiri. Dia pun membalikkan tubuhnya ke arah Pak Edward.
__ADS_1
"Pak Edward, saya mohon izin untuk membawa mahasiswa magang ini" tunjuknya ke arah Tiara.
"