Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Di Dalam Lift


__ADS_3

Tiara melangkahkan kakinya cepat menuju ruangan tempat diadakannya rapar internal divisi pemasaran. Menurut informasi dari salah satu office boy yang bertugas di lantai tempatnya bekerja rapat sudah berlangsung sejak lima belas menit yang lalu.


Dengan hati-hati Tiara mengetuk pintu dan membukanya. Dia menatap seseorang yang duduk di depan yang tidak lain adalah Pak Edward manajer divisi pemasaran.


"Kamu sudah datang? duduklah" Edward yang memang selalu ramah pada siapapun tidak terlalu mengambil pusing akan keterlambatan Tiara, dia tetap bersikap ramah dan mempersilahkan Tiara untuk duduk.


Berbeda dengan Edward, seseorang yang duduk tepat di samping kanan Pak Edward tampak menatap Tiara tajam. Dia adalah Rena, sejak awal gadis itu memang sudah tidak ramah padanya. Entah apa masalahnya, tapi Tiara pun tidak terlalu memikirkannya. Hanya saja berbeda dengan hari ini, hati Tiara sedikit berdebar lebih cepat ketika beradu tatap dengan Rena,


"Tiara, kenapa kamu terlambat? Kamu tahu kan kalau pagi ini kita ada rapat internal?" Edward yang meskipun bersikap ramah dia tetap profesional, dengan tegas dia menanyakan alasan keterlambatan Tiara.


Sebagai manajer dia tetap harus memperingati bawahannya yang tidak disiplin kerja namun sebelumnya Edward selalu menyempatkan diri untuk mendengar alasan ketidakdisiplinan karyawannya.


"Maafkan saya Pak, saya kesulitan memesan ojek online Pak, selain itu jalanan lumayan padat jadi saya terlambat datang" jawab Tiara, dia berbohong dengan memberikan alasan kesulitannya mendapat ojek online. Hatinya berkali-kali beristigfar atas kebohongannya pagi ini.


Tiara terpaksa melakukannya, setelah berpikir selama dalam lift Tiara akhirnya menemukan itu sebagai alasan yang paling masuk akal dan mudah diterima. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.


Sejak dari rumah Tiara sudah memprediksi jika dirinya akan terlambat datang ke kantor sekitar tiga puluh menit. Hal itu karena ulah suaminya yang tiba-tiba memonopoli dirinya di pagi hari.


Prediksi Tiara ternyata salah, kenyataannya dirinya terlambat hampir satu jam lebih tepatnya lima puluh menit. Dan lagi-lagi itu karena ulah suaminya yang sengaja menahannya di dalam lift.


Lift yang mereka tumpangi sengaja dibuat naik turun bahkan sampai tiga kali oleh suaminya. Arzan kembali menyambung aksinya di dalam lift. Tiara tidak bisa menolak, dia pasrah membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


"Untuk ke depannya tolong antisipasi hal-hal seperti ini jika akan ada rapat penting" Edward pun memberi peringatan yang solutif kepada Tiara, dia mengerti jika jam seperti itu memang saat-saat sibuk, dimana setiap orang berkejaran dengan aktivitasnya masing-masing dan tentunya dibutuhkan manajemen waktu yang tepat agar semua bisa diantisipasi dengan baik, termasuk keterlambatan menuju tempat kerja.


"Baik Pak, untuk ke depannya saya akan lebih baik lagi. Sekali lagi maafkan saya" Tiara menundukkan sedikit badannya ke arah Edward, dia belum duduk sama sekali sebelum manajernya itu selesai mengintrogasinya.


"Heumm, duduklah" titah Edward, dia pun kemudian melanjutkan pemaparannya terkait rencana program divisi pemasaran untuk satu bulan ke depan sebelum diluncurkan dalam rapat besar bersama seluruh staf direksi dan direktur utama.


Tiara menyimak pemaparan manajernya itu dengan seksama, dia fokus pada point-point penting dari apa yamg disampaikan manajernya itu dan mencatatnya pada buku catatan pribadi miliknya.


Tanpa Tiara sadari jika dua orang yang duduk tepat berhadapan dengannya sejak awal kedatangannya ke ruangan rapat itu terus memerhatikannya dengan tatapan yang berbeda.


Renata, staf yang dipercaya menjadi asisten Pak Edward terus menatap tajam Tiara, aura kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Dia seolah tidak terima dengan perlakuan atasannya pada mahasiswa magang itu yang hanya mendapat teguran lisan. Padahal kesalahannya cukup besar pikirnya, terlambat di saat ada meeting penting.


Tiara sempat mengalihkan pandangan dari Pak Edward saat manajernya itu menghentikan sejenak pemaparannya karena menerima panggilan di ponselnya . Tanpa sengaja tatapan matanya pun beradu dengan tatapan Rena yang menatapnya masih dengan tatapan tajam.


Tiara bergidik ngeri sendiri membayangkan reaksi Rena yang menakutkan menurutnya. Tiara tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Rena jika dia tahu penyebab keterlambatannya yang sebenarnya adalah karena dirinya disekap oleh direktur utama dari perusahaan ini yang tak lain adalah suaminya, sepertinya semakin murkalah dia.


Mengingat direktur utama perusahaan tempatnya magang membuat Tiara kembali teringat peristiwa di dalam lift beberapa saat yang lalu.


"Mas, apa yang mas lakukan? bagaimana kalau ada karyawan lain yang melihat kita?" tanya Tiara panik setelah dirinya dan Arzan berada di dalam lift, dia masih mengatur napasnya karena syok saat tiba-tiba lengannya ditarik oleh Arzan.


"Tidak masalah" jawab Arzan santai, dia masih menggenggam erat tangan Tiara,

__ADS_1


"Tidak masalah bagaimana? pasti akan jadi masalah besar untuk aku" sentak Tiara tanpa sadar, karena kepanikannya yang semakin meningkat semenjak turun dari ojek Tiara masih belum bisa mengontrol emosinya. Hingga dia pun tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa sekarang.


"Memangnya masalah besar apa yang akan terjadi?" Arzan menatap Tiara dengan senyum terkulum, dia mengikuti alur yang dibuat gadis itu.


Arzan justru merasa mendapat hiburan saat Tiara bersikap apa adanya seperti saat ini. Tidak ada kecanggungan ataupun ketakutan di wajah Tiara saat ini, tidak seperti sebelumnya Tiara selalu akan menunjukkan wajah tegangnya saat berhadapan dengan Arzan.


"Ya masalah besar, aku tentu akan jadi bahan gunjingan semua orang di perusahaan ini. Bagaimana bisa seorang mahasiswa magang memakai lift khusus presdir, apalagi tadi aku ditarik langsung oleh Mas dan berdua dengan Mas dalam lift ini. Mereka semua terutama para karyawan wanita pasti mengira yang tidak-tidak. Pasti aku yang jadi sasaran, mereka akan mengira aku yang menggoda Mas. Aku akan jadi bahan gosip panas, seorang mahasiswa magang menggoda presdir, tidak tahu malu padahal penampilannya alim gitu nyatanya hijab hanya jadi kedok. Mereka tidak akan berani membicarakan mas, mere....."


Tiara berbicara panjang lebar, dia seolah sulit mengerem mulutnya untuk berhenti berbicara menumpahkan semua kekhawatiran yang ada di hatinya. Arzan tergelak tanpa suara yang mendengar Tiara berbicara dengan begitu berapi-api. Dia semakin gemas dengan istrinya itu, bibir merah alami yang selalu terasa manis itu begitu indah menari-nari saat mengucapkan setiap kata.


Blepppp.......Arzan yang sudah tidak tahan melihat bibir itu terus berucap seolah merasa sedang digoda. Dia membungkam bibir Tiara dan langsung me lumatnya dengan lembut. Arzan kembali mengulang aktivitas tadi pagi di rumah dan kali ini di dalam lift.


Tiara berusaha memberontak, dia tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk jilbab yang dipakainya sekarang, Arzan yang menyerangnya tiba-tiba membuat Tiara kewalahan.


Usahanya untuk memberontak tak kunjung berhasil. Jantung Tiara semakin berdegup kencang, selain karena serangan tiba-tiba suaminya Tiara juga takut jika tiba-tiba pintu lift terbuka dan akan ada orang yang melihat apa yang mereka lakukan di dalam lift.


"Masssss......." Tiara berusaha menghentikan aksi suaminya dengan mendorong dada Arzan, namun panggilan indah dari istrinya itu terdengar begitu menggoda di telinga Arzan membuat gairahnya semakin terpancing.


*Setelah lima tahun dia lewati dalam kesendirian, kini Arzan kembali merasakan indahnya menyalurkan rasa dengan cara yang tepat.


Bahkan yang dirasakannya saat ini melebihi dari rasa yang pernah dirasakannya bersama almarhumah istrinya.

__ADS_1


Entah apa yang membuatnya seperti itu, hanya yang pasti Tiara sudah membuat dirinya mengesampingkan egonya untuk tidak mengungkapkan rasa itu*.


__ADS_2