
Kamu bisa menjadi penting untuk seseorang, tetapi tidak setiap saat.
Ungkapan itu mungkin sangat cocok untuk Tiara saat ini, di tengah kekhawatirannya pada sang putri sambung dia justru dihadapkan pada kenyataan jika selama ini ternyata dirinya hanya menjadi bagian kecil dalam hati sang suami atau mungkin tidak ada tempat untuknya di hati Arzan. Bahkan saat ini dia merasa memiliki ilmu tingkat tinggi, yaitu bisa menghilang. Buktinya dia menjadi sosok yang tidak terlihat oleh suaminya sendiri.
Tiara menarik nafas dalam, mengisi setiap relung paru-parunya yang terasa sesak dengan oksigen. Setidaknya dia harus bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata saat ini karena perkataan suaminya.
Baru saja Tiara berdiri dengan niat untuk pergi dari tempat itu. Seorang perawat datang menghampiri mereka, dia diutus dokter Bayu untuk meminta Arzan menemuinya.
"Permisi, Tuan Arzan anda ditunggu dokter Bayu di ruangannya?" ucap perawat itu dengan sopan. Arzan mengurai pelukannya dengan sang mami, segera berdiri melangkah melewati Tiara dan berjalan menuju ruangan dokter Bayu mengikuti perawat yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
Tiara kembali menarik nafas panjang, sisi lain dari suaminya yang baru diketahui Tiara. Semua hal yang berhubungan dengan putri dan almarhumah istrinya ternyata mampu membuatnya kehilangan kewarasan. Dia seakan kehilangan kesadaran dengan kehidupan nyatanya saat ini.
"Kamu yang sabar ya sayang" suara mami Ratna membuyarkan lamunan Tiara, mami Ratna sepertinya mengerti dengan ketidaknyamanan menantinya, namun dia pun tidak bisa berbuat banyak karena keadaan sang putra yang belum memungkinkan untuk diajak bicara. Tiara berusaha tersenyum dan tampil setegar mungkin. Sudah cukup keadaan yang menimpa Qiana menjadi pukulan besar untuk suami dan mertuanya. Perihal hatinya yang terluka, biarlah dia telan sendiri.
"Iya Mi, terima kasih" ucap Tiara pelan, mereka pun berpelukan. Ada sedikit kelegaan di hatinya tatkala berpelukan dengan ibu mertuanya.
Sementara di ruangan dokter Bayu, suasana terasa mencekam. Arzan sudah duduk berhadapan dengan dokter Bayu yang tampak ragu untuk menyampaikan temuannya.
"Ada apa? katakan!" Arzan berbicara dengan mode pemimpinnya, raut wajahnya yang datar dengan rahang tegas membuat dokter Bayu sedikit menciut.
"Sebelumnya maafkan jika saya lancang Tuan" permohonan maaf lebih dulu diucapkan dokter Bayu sebelum menyampaikan berita penting yang ada di tangannya pada Arzan.
"Kenapa? ada apa dengan putriku. Jangan membuat aku penasaran, cepat katakan!" Arzan sudah tidak sabar, intonasi bicaranya semakin meninggi melihat dokter Bayu seperti yang mengulur waktu saja.
__ADS_1
"Hasil test darah anda....." dokter Bayu kembali menjeda ucapannya,
"Apa? ada apa dengan hasil test darahku?" Arzan menegakkan tubuhnya, memajukan sedikit wajah dengan tatapan mengintimidasi membuat Bayu semakin menciut dan sedikit mundur.
"Katakan!" seru Arzan mengagetkan Bayu yang masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Arzan.
"Hasil test darah anda dengan nona Qiana....berbeda, tuan tidak bisa menjadi pendonor untuk nona Qiana" ungkap Bayu pada akhirnya,
Deg......jantung Arzan berdetak lebih kencang,
"Apa maksudmu? bagaimana bisa? dia putriku, Qiana darah dagingku" teriak Arzan emosi, dia berdiri dari duduknya dan menggebrak meja membuat Bayu pun turut berdiri.
"Tuan, ma...maaf....saya hanya menyampaikan hasil yang saya terima" ujar Bayu membela diri, dia menyodorkan map yang ada di hadapannya untuk dibaca sendiri oleh Arzan.
"Ini pasti salah, ini tidak benar. Cepat lakukan pemeriksaan ulang. Panggil semua dokter dan petugas yang sudah memeriksaku tadi dan membuat laporan sialan ini. Cepat!" Bayu meringis, dia tidak membayangkan bahwa reaksi Arzan akan seperti ini. Tanpa kata, Bayu segera keluar dan memanggil dokter dan perawat yang bertanggungjawab tentang pemeriksaan Arzan.
Beberapa dokter dan perawat yang bertanggung jawab dengan pemeriksaan Arzan dan Qiana saat ini sudah berada di ruangan. Mereka sudah mendengar dari dokter Bayu perihal Arzan yang marah karena hasil tes darah yang dijalaninya.
"Lakukan pemeriksaan ulang, lakukan dengan benar. Kali ini aku tidak ingin ada kesalahan lagi" titah Arzan dengan intonasi tinggi, dia menatap satu persatu dokter dan perawat yang ada di sana.
Arga yang saat itu juga berada di sana memberi kode pada dokter Bayu agar melaksanakan perintah Arzan tanpa bantahan. Ada kekhawatiran di matanya, sesuatu yang selama ini dia simpan sendiri sepertinya akan terkuak, namun Arga memilih diam dan membiarkan apa yang seharusnya terjadi. Dokter Bayu pun mengerti, dia segera memerintahkan beberapa perawat untuk mempersiapkan semuanya.
Tiara yang juga berada di ruangan itu lagi-lagi hanya menarik nafas panjang. Dia memeluk mami Ratna yang juga terus menangis setelah mendengar kabar tentang ketidakcocokan darah sang putra dengan cucunya. Berbagai spekulasi negatif pun bermunculan di benaknya. Begitupun dengan Tiara, dia tidak habis pikir dengan keadaan ini, Tiara tahu saat ini Arzan semakin terpukul dengan kenyataan baru yang diterimanya. Dia berharap agar hasil tes yang diserahkan dokter Bayu sebelumnya adalah benar-benar salah.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, pemeriksaan kedua kalinya terhadap Arzan sudah selesai dilakukan. Semua orang sedang harap-harap cemas menantikan hasilnya.
"Mas..." Tiara menyodorkan botol air mineral pada Arzan yang sejak kembali dari ruang pemeriksaan semakin terlihat kacau.
"Terima kasih" jawab Arzan singkat tanpa menoleh, ada kelegaan di hati Tiara karena Arzan mau menerima air minum yang diberikannya.
"Permisi, Tuan Arzan kami sudah mendapatkan hasilnya" ruangan dokter Bayu kembali diliputi ketegangan, wajah Arzan terlihat tegang melihat sebuah amplof yang dibawa dokter Bayu saat memasuki ruangannya.
"Kali ini kami harap Tuan bisa menerima apapun hasilnya. Kami sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dilakukan langsung oleh para ahli dengan alat-alat yang sangat canggih" dokter Bayu memulai percakapan dengan mewanti-wanti Arzan untuk mengantisipasi hal yang tidak diharapkan terjadi.
"Jangan banyak bicara, cepat katakan hasilnya" ucap Arzan mengabaikan perkataan dokter Bayu sebelumnya,
"Silahkan anda buka sendiri hasilnya Tuan" dokter Bayu pun menyodorkan amplof yang sejak tadi berada di tangannya,
Tanpa berkata apapun Arzan meraih amplof itu dan membukanya cepat.
"Apa-apaan ini?" kenapa ada dua hasil yang berbeda" tanya Arzan dengan wajah yang memerah seolah menahan kemarahan yang akan segera meledak,
"Itu adalah hasil tes anda Tuan dan yang satu lagi itu adalah hasil tes ......" Bayu menghentikan ucapannya saat terdengar seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Semua yang berada di dalam ruangan pun serempak menoleh.
"Itu hasil tes darahku, aku melakukan tes yang sama denganmu dan hasilnya cocok. Darahku dan darah Qiana cocok. Qiana adalah putri kandungku." Nathan yang masih berada di ambang pintu berbicara dengan lantang, sudah saatnya dia mengungkap kebenarannya. Ini adalah saat yang tepat pikir Nathan, Qiana gadis kecil yang selama ini dianggap putri oleh Arzan nyatanya adalah darah dagingnya.
Duarrr.........
__ADS_1