Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Saingan Tiara


__ADS_3

Danis berjalan mondar mandir, layar pipih di genggaman tangannya menjadi pusat perhatian saat ini. Berkali-kali menghubungi Tiara namun tak kunjung ada jawaban.


Tak jauh beda dengan Danis, Adrian pun sama resahnya. Bagaimana tidak orang yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi tak kunjung datang. Hari ini divisi pemasaran akan melakukan presentasi langsung di hadapan sang presdir terkait proyek yang akan mereka tangani.


Pak Edward selaku manajer divisi pemasaran sudah memercayakan sepenuhnya pada para mahasiswa magang yang berada di divisinya. Di antara ketiga mahasiswa magang yang berada di divisi itu Tiara lah yang paling menguasai materi yang akan dipresentasikan saat ini. Ide awal yang muncul dari Danis dikemas oleh Tiara menjadi lebih sempurna. Mereka pun sepakat jika presentasi akan diwakili oleh Tiara.


Berdasarkan informasi dari sekretaris presdir pertemuan mereka dijadwalkan tepat pukul sembilan pagi ini dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih. Danis dan Adrian terlihat semakin panik ketika Renata sekretaris Pak Edward datang ke ruangan mereka,


"Pak Edward meminta salinan materi yang akan dipresentasikan. Tolong kirimkan softfile dan print outnya ke ruanganku sekarang" Rena datang dan langsung memberi perintah tanpa basa-basi, dia pun kembali ke ruangannya tanpa menunggu jawaban apapun dari Danis dan Adrian.


"Gimana ini?" Danis bertanya pada Adrian, dia benar-benar semakin panik dan mencoba kembali menghubungi Tiara.


"Kamu coba hubungi terus dia, biar aku yang menghadap Bu Reta" jawab Adrian tak kalah panik. Dia memasuki kubikel Tiara dan menyalakan komputer yang biasa dipakai olehnya.


Sementara Danis terus menghubungi Tiara, entah panggilan ke berapa puluh kali namun hasilnya masih saja nihil. Tiara sama sekali tidak mengangkat teleponnya padahal panggilan terhubung.


Sementara di sebuah kamar hotel nan mewah, dua insan masih betah bergelung di bawah selimut sambil berpelukan tanpa ada sehelaipun kain yang menjadi penghalang antara keduanya.


Malam yang singkat telah mereka lalui dengan aktifitas melelahkan namun membuahkan peluh kenikmatan. Ponsel yang bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur yang mereka tempati tidak lantas membuat mereka terbangun.


Derrrt.....derrrrtt.....derrrt....kali ini bukan hanya ponsel Tiara yang terus bergetar, ponsel Arzan pun tak kalah berisik.


"Euummh..." lenguh Tiara, dia menjadi orang pertama yang terusik dengan getaran ponsel itu.


Tiara mengerjapkan matanya, perlahan menyesuaikan cahaya mata yang masuk ke netranya.


"Ahh...." Tiara sedikit menjerit saat dirinya merasakan pelukan suaminya semakin erat, apalagi posisi kepala Arzan saat ini tepat di dadanya, sementara tangan kekar kembali membelit tubuhnya posesif.

__ADS_1


"Heummmm...." seru Arzan dengan mata masih tertutup,


"Mas, bangun...ini jam berapa?" Tiara berusaha meregangkan tubuhnya, dan betapa kagetnya saat dia mengedarkan pandangannya yang kemudian berhenti tepat pada jam dinding,


"Astaghfirulloh....jam enam?" pekiknya,


"Mas, mas bangun, lepasin ih...ayo bangun kita kesiangan" Tiara menggoyangkan bahu polos suaminya. Dia berusaha melepaskan diri dari belitan tangan kekar Arzan yang masih memeluknya erat,


"Apa sayang....aku masih ngantuk" ucap Arzan dengan mata yang masih terpejam dan semakin mengeratkan pelukannya,


"Mas kita belum salat subuh, lagian kita harus cepat pulang dan siap-siap ke kantor, Qia juga pasti nyariin" cerocos Tiara tanpa rem, dia kembali membangunkan suaminya dengan mengguncangkan bahu polosnya lebih keras,


"Eummmhh....Mitha sayang, hari ini kamu di rumah saja" gumam Arzan, pelan tapi jelas dan sangat terdengar jelas di telinga Tiara.


Deg.....seketika Tiara menghentikan pergerakannya, mendengar nama Mitha yang disebut suaminya hatinya seketika merasakan kesakitan yang luar biasa. Apalagi mengingat aktifitas panas yang semalam mereka lakukan ternyata suaminya menganggap jika melakukannya dengan almarhumah istrinya, pikir Tiara.


"Aku bukan Mitha Mas, aku Tiara" ucap Tiara dengan suara parau karena tiba-tiba air mendesak ingin keluar dari matanya,


"Sayang...."ucap Arzan dengan mata yang sudah terbuka sempurna. Dia mendongak dengan kedua matanya tepat menatap wajah sang istri yang sedang menatapnya sendu tanpa kata,


Tes.....Tiara memejamkan matanya sejenak, kemudian dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia bangun dan mendudukkan tubuhnya yang masih polos, diraihnya handuk kimono yang berada tepat di kakinya.


"Sayang, aku...." Arzan menyadari perubahan istrinya, dia berusaha meraih pinggang ramping Tiara untuk kembali dipeluknya, namun Tiara menepisnya dan mempercepat memakai kimononya.


Tiara dengan cepat turun dari atas tempat tidur, dan dengan tubuh yang terasa remuk berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hatinya bergemuruh, rasa sesak memenuhi dadanya. Bagaimana bisa setelah apa yang dilakukan mereka semalam ternyata dirinya masih hanya sebatas pelampiasan kerinduan suaminya untuk mendiang istrinya.


Arzan tidak bisa menahan Tiara, dia pun segera bangun dan hanya menatap pergerakan istrinya yang berjalan dengan tubuh lemahnya.

__ADS_1


Dia tahu keadaan Tiara saat ini sangat tidak baik-baik saja, selain karena lelah tubuh karena ulahnya semalam hingga membuat Tiara menyambung lembur setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, hatinya pun saat ini pasti sangat terluka karena ucapannya.


"Argghhhh....." teriak Arzan memukul udara di depannya, dia pun segera beranjak dengan tubuh polos, mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya saat ini.


Lima belas menit berlalu, namun Tiara tak kunjung keluar dari kamar mandi. Arzan sudah mondar-mandir sejak tadi, dia sudah menghubungi Arga yang sejak tadi meneleponnya untuk memberitahukan jika hari ini agenda kerjanya sangat padat di kantor. Selain harus rapat interen perusahaan dia pun harus bertemu dengan beberapa klien siang ini.


Wajahnya semakin tegang, bukan karena akan kesiangan datang ke kantor tapi karena memikirkan respon Tiara setelah ini terhadapnya.


Ceklek....suara pintu kamar mandi yang terbuka menghentikan langkah Arzan yang sejak tadi mondar mandir, dia menatap sang istri yang keluar dengan dari kamar mandi dengan wajah datarnya. Terlihat jelas mata Tiara sembab menandakan jika dia sudah menangis cukup lama.


Rasa bersalah semakin menyergap hati Arzan, dengan mengandalkan keberaniannya dia mendekati Tiara bermaksud membantu sang istri berjalan. Namun ternyata pergerakan Tiara lebih cepat, dia berjalan buru-buru menuju koper kecil yang semalam dibawa Arzan dari rumah.


"Sayang..." Arzan memanggil Tiara yang berlalu begitu saja di hadapannya,


"Sudah siang Mas, aku belum salat subuh" ucap Tiara dingin, Arzan pun tak berani berucap lagi. Segera di memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tepat pukul tujuh Arzan dan Tiara meninggalkan hotel. Rumah adalah tujuannya karena beberapa kali Qiana menelepon dan meminta Tiara untuk mengantarkannya pagi ini ke sekolah sebagai kompensasi karena semalam ditinggalkan oleh ibu sambungnya itu.


Tidak ada suara yang keluar dari keduanya setelah beberapa menit mobil berlalu meninggalkan halaman loby hotel. Tiara tetap dengan mode dinginnya, Arzan pun masih ragu untuk memulai. Otaknya berputar keras memikirkan cara yang tepat untuk mengawali permintaan maafnya pada Tiara.


"Maafkan aku" akhirnya kata itu yang terucap dari lisan Arzan, sekilas dia menoleh ke samping dimana sang istri duduk tepat di samping kemudi.


Tiara menghembuskan nafasnya pelan, seolah menyiratkan dirinya sedang mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Bagaimana tidak, semalam dirinya dibuat melayang dengan sentuhan dan buaian penuh cinta dari sang suaminya, merasa menjadi seseorang yang berharga dan istimewa karena perlakuannya yang luar biasa.


Namun saat pagi menjelang ternyata nama mantan istrinya yang pertama kali disebutkan Arzan. Dan parahnya, nama itu ditujukan untuk diri Tiara. Dia kembali kehilangan kepercayaan dirinya, benar-benar merasa semakin tidak layak untuk menjadi bagian dari hati dan hidup seorang Arzan.

__ADS_1


Hatinya telah jatuh sejatuh jatuhnya pada sang suami, namun kenyataan kembali menyadarkannya bahwa masa lalu sang suami adalah saingan terberatnya.


"Harusnya aku cukup mengagumimu saja, Tuan. Tanpa meletakan perasaan apa-apa" batin Tiara.


__ADS_2