
Hari yang sangat penting untuk Arzan. Hari ini dia harus menuntaskan misinya untuk menemukan Tiara, meminta maaf dan memintanya kembali. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan hal bodoh seperti selama ini yang dia lakukan.
Arga menjadi orang yang terlibat dalam misinya hari ini. Di bawah tekanan Arzan dan iming-iming punishment yang akan diterimanya karena sudah berani mengerjai Arzan selama ini.
Arga pun menurut daripada dirinya harus dipotong gaji setengahnya selama enam bulan. Arga pun melakukan apa yang diinginkan sahabat sekaligus bossnya itu yaitu mengosongkan semua jadwalnya hari ini. Memastikan kedatangan Tiara hari ini, di ruangan yang sudah disiapkan Arga tentunya.
Arzan sudah bersiap balkon kamar yang sudah diatur senyaman mungkin untuknya bersembunyi. Pagi ini Tiara akan datang untuk membersamai Qiana melaksanakan ujian sekolahnya. Hari ini adalah hari terakhir ujian, gadis kecil itu bersemangat karena sesudah ujiannya selesai dia sudah bisa pulang dan akan jalan-jalan dengan sang Mommy, Tiara.
"Assalamu'alaikum sayang" sapa Tiara saat memasuki ruang rawat Qiana yang lebih tepat serasa hotel karena fasilitasnya yang tidak seperti di rumah sakit pada umumnya.
"Mommy....." pekik Qiana girang, dia merentangkan kedua tangannya meminta sang mommy memeluknya, dan Tiara pun mengerti keinginan gadis kecil itu. Bu Guru hang mendampingi Qiana menjawab soal-soal ujian tersenyum senang melihat keakraban ibu dan anak sambung itu.
Rangkaian kegiatan yang biasa dilalui Qiana bersama Tiara usai sudah. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah selesai menjawab seluruh soal ujian Qiana melanjutkan kegiatannya sesuai jadwal yang sudah diatur dokter. Makan buah, minum obat dan juga berolah raga ringan agar tubuhnya tidak kaku.
Hal terakhir yang dilakukan Tiara setiap kali membersamai Qiana adalah membacakan dongeng pengantar tidur siang Qiana. Dengan. telaten dan penuh kesabaran Tiara melakukan semua itu. Senyum bahagia selalu menghiasi wajahnya setiap melayani Qiana. Gadis kecil itu jauh terlihat lebih ceria dan bersemangat semenjak kedatangan Tiara.
Semua yang dilakukan Tiara tidak lepas dari pengamatan Arzan yang sejak pagi sebelum Qiana bangun sudah berada di balkon kamar gadis itu hanya untuk memastikan dia tidak lagi kecolongan dengan kehadiran wanita yang beberapa hari ini selalu memenuhi hati dan pikirannya.
Qiana sudah terlelap, Tiara melepas perlahan tangan yang dijadikan sandaran Qiana. Wajahnya meringis, merasakan tangan yang sedikit kebas. Tiara pun mengambil selimut dan menyelimuti tubuh gadis kecil yang mulai tampak berisi lagi itu.
"Tidur yang nyenyak sayang" Tiara mencium kening Qiana dalam dengan bisikan penuh kasih, posisinya kini sudah berdiri di samping tempat tidur Qiana.
Grepp.....baru saja Tiara akan beranjak dari posisinya, tiba-tiba sepasang tangan kekar menyergap tubuhnya. Melingkar di pinggang Tiara begitu erat.
Hampir saja Tiara akan menjerit, dia tidak menyadari kehadiran siapapun selain dirinya dan Qiana di ruangan itu.
"Arg ....." mulut Tiara langsung dibungkam dengan satu tangan yang tadi melilit di panggangnya.
"Ini aku sayang. Akhirnya aku menemukanmu" ucap Arzan lembut tepat di telinga Tiara. Dia menjatuhkan dagunya di bahu Tiara.
__ADS_1
Deg....Tiara hafal betul wangi parfum orang yang mendekapnya itu. Dari suaranya Tiara semakin yakin jika orang yang tengah memeluknya itu adalah suaminya sendiri.
"Mas ..."
'Maafkan aku...." ucap Arzan terdengar pilu, perlahan Tiara mendengar isak tangis tertahan tepat di samping telinga kanan Tiara.
"Maafkan aku..." ucap Arzan kembali permohonan maaf itu terlontar dari bibirnya.
"Mas, lepas...." Tiara berusaha memberontak, dia ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya itu
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan terus seperti ini sampai kau memaafkanku" ucap arzan teguh dengan aksinya,
"Tapi mas, aku kesulitan bernafas. Aku sesak" ucap Tiara jujur, dia merasakan pelukan Arzan begitu erat hingga sulit untuknya bergerak sama sekali.
Arzan tersentak, dia segera melonggarkan pelukannya namun tidak melepaskan istrinya itu.
Semenjak mengetahui dirinya hamil Tiara memakai baju yang lebih longgar, diapun semakin melebarkan jilbabnya. Bukan bermaksud menyembunyikan kehamilannya, namun Tiara merasa.lebih nyaman dan aman dengan berpenampilan seperti itu. Apalagi beberapa hari ini dia harus tinggal di tempat baru.
Tubuh Tiara seketika membeku, terasa ada sesuatu yang mengalir ke seluruh tubuhnya saat merasakan sentuhan lembut tangan Arzan di perutnya.
"Aku merindukanmu" Arzan kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Tiara dan berhasil membuat tubuh Tiara kembali meremang.
"Mas, lepaskan" Tiara sudah tidak mampu menahan diri lagi. Sejak awal sentuhan laki-laki halalnya itu selalu membuat Tiara terbuai.
"Sayang...." ucap Arzan terdengar pilu,
"Tolong maafkan aku" lanjutnya, dia membalikan tubuh Tiara yang kemudian menunduk tak kuasa harus beradu tatap dengan pria gang beberapa hari ini dia hindari.
"Sayang, maafkan aku. Maafkan atas semua kebodohanku selama ini. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri dan rumah tangga kita" Arzan berlutut di hadapan Tiara, Arzan yang mendongak langsung dapat melihat wajah sang istri yang menunduk dengan mata terpejam.
__ADS_1
Hatinya teriris ketika mata yang terpejam itu mengeluarkan buliran air mata yang lolos begitu saja.
"Sayang, maaf....." Arzan meraih kedua tangan Tiara, dia menciumnya dan mendekapnya dalam dada dengan posisi yang masih berlutut.
"Mas, jangan seperti ini" ucap Tiara setelah membuka mata dan dengan jelas melihat suaminya berlutut di hadapannya.
"Maafkan aku" ucap Arzan kembali mendongak dengan mata yang sudah berlinang air mata.
"Bangunlah, apa jadinya jika Qiana melihatmu seperti ini" tukas Tiara menarik tangan yang ada digenggaman suaminya itu namun urung karena Arzan sangat erat menggenggamnya.
"Maafkan aku" Arzan bertahan pada posisinya, dia terus mengucapkan kata-kata itu dengan sorot mata memohon.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas" ucap Tiara mantap, hatinya tidak bisa berbohong tersentuh dengan apa yang dilakukan laki-laki itu selama beberapa hari ini.
Tiara tahu Arzan mengerahkan berbagai cara unyuk mencarinya. Seandainya dia tidak dibantu oleh Mami Ratna dan Arga dalam bersembunyi sudah pasti Arzan akan dengan mudahnya menemukan keberadaan Tiara.
Tiara sadar ini bukan pertama kalinya Arzan menyakiti hatinya, membuatnya tersinggung dan merasa tidak berarti bahkan tidak berharga sama sekali. Tapi kelembutan hati dan cinta kasih yang dimilikinya ternyata jauh lebih besar dan berhasil mengalahkan rasa kecewa terhadap suaminya itu. Hati Tiara begitu lemah untuk tidak menerima permintaan maaf Arzan, namun Tiara ingin tahu sejauh apa usaha yang akan dilakukan suaminya itu untuk berubah.
"Terima kasih sayang" binar bahagia terpancar jelas di mata Arzan, dia pun segera berdiri dan menarik Tiara ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang" ucapnya lagi, Arzan mengurai pelukannya dia menatap lekat wajah wanita yang sudah berhasil membuat hidupnya kacau beberapa hari ini.
"Terima kasih kamu sudah bersedia memaafkan aku" ucap Arzan lagi, rasa bahagia menyeruak di dada Arzan. Ekspektasinya untuk hidup bersama dan bahagia bersama keluarga kecilnya sudah di pelupuk mata.
"Aku memaafkanmu Mas, bahkan sebelum kamu memintanya. Aku juga memaafkan diriku sendiri." Tiara menurunkan tangan Arzan yang masih berada di bahunya.
"Mulai sekarang, mari kita hidup dengan baik. Tanpa menyertakan dirimu dalam hidupku, dan tanpa menghadirkan diriku dalam hidupmu. Biarkan semua kembali seperti semula, asing. Atau cukup berpura-pura asing"
Deg......mata Arzan seketika membola dengan tubuh yang langsung membeku.
__ADS_1