Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Sumber Ketenangan


__ADS_3

Ceklek....


Pintu kamar utama tempat terbuka pelan, waktu sudah cukup larut Arzan tidak ingin mengganggu istrinya yang pasti sudah tertidur pikirnya. Tapi tebakannya salah, di tempat tidur dia hanya mendapati Qiana, putrinya yang sudah tertidur dengan pulas. Arzan mengedarkan pandangan mencari keberadaan Tiara. Kamar mandi kosong, ruang pakaian pun kosong. Arzan kembali menuju pintu kamar untuk keluar mencari keberadaan istrinya.


"Sayang...." teriaknya saat menuju dapur, dia mengira mungkin Tiara haus dan sedang berada di dapur, dugaannya ternyata salah lagi Tiara tidak ada di dapur.


"Sayang, dimana kamu?" panggil Arzan kembali mencari keberadaan istrinya di ruang lain rumahnya.


Arzan kembali ke lantai dua untuk mencari keberadaan istrinya dia berpikir mungkin Tiara ada di ruang baca di lantai dua namun saat dirinya melewati kamar putrinya Arzan melihat pintu kamar itu sedikit terbuka. Dia pun menghentikan langkahnya dan perlahan membuka pintu kamar putrinya. Benar saja, dia mendapati Tiara tengah melaksanakan shalat di sana.


Arzan memilih untuk menunggu, dia duduk di sofa kecil tepat di belakang istrinya. Dia memerhatikan semua gerakan Tiara yang terlihat begitu khusuk menikmati munajatnya.


Penghujung sujud begitu Tiara nikmati, dzikir dan do'a terus dia rapalkan, dengan isak tangis yang tertahan. Solusi awal dalam setiap keresahan hidup adalah dengan bermunajat kepada Penguasa Semesta, maka ketenangan akan segera menghampiri dan Tiara yakin solusi-solusi lainnya akan berdatangan karena selama Allah yang menjadi tujuan tidak akan akan do'a yang sia-sia, dan ketika Allah menjadi sandaran maka tidak akan ada hati yang kecewa.


Arzan masih berusaha tenang melihat semua hal yang dilakukan istrinya. Namun Arzan terhenyak saat mendengar suara isak tangis yang akhirnya pecah. Ada kepiluan yang terdengar dari tangisannya, entah apa itu Arzan tidak bisa menerka. Diapun memilih membiarkan istrinya menumpahkan tangisannya.


Tiara larut dalam lamunannya, memutar ulang percakapan dirinya dengan Qiana beberapa saat lalu. Menerka-nerka siapa sebenarnya teman baru putri sambungnya itu. Saking larutnya dia melamun, Tiara sampai tidak menyadari kehadiran Arzan yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Mas..." sentak Tiara kaget, dia menengok dan terlihat jelas oleh Arzan mata sembab dan air mata yang membasahi pipi Tiara.


"Kamu kenapa sayang?" cup....Arzan mencium kelopak mata Tiara dengan lembut.


"Aku takut Mas...." jawab Tiara dengan tangis yang semakin pecah,


"Katakan apa yang kau takutkan?" tanya Arzan, setelah beberapa saat Arzan membiarkan Tiara menangis dalam pelukannya.


Tiara pun menceritakan obrolannya dengan Qiana, tidak ada yang terlewat semuanya Tiara sampaikan pada Arzan termasuk ketakutannya jika Qiana menjauh dan tidak mau bersamanya lagi. Tiara pun menceritakan kepenasarannya tentang siapa orang yang disebut teman oleh putri sambungnya itu,


Arzan menarik nafas dalam, dia mencerna semua informasi yang disampaikan istrinya dengan baik. Sepintas dia menarik kesimpulan tentang siapa kemungkinan orang yang mendekati Qiana dengan cara seperti itu.


Dia segera mengangkat tubuh Tiara yang masih berbalut mukena,


"Aww.... Mas, aku bisa berjalan sendiri" protes Tiara yang kaget karena tiba-tiba diangkat tubuhnya.


"Aku menginginkanmu" ulang Arzan dengan mengerlingkan sebelah matanya membuat Tiara semakin merona, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Laki-laki yang selalu dapat memberi ketenangan dan kenyamanan dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas, kita mau kemana?" pintu kamar yang biasa mereka tempati telah terlewati, sementara Arzan terus berjalan tanpa menoleh.


"Di sana ada Qiana sayang, aku ingin menerkammu malam ini" jawab Arzan dengan senyum menyeringai,


"Ish....." mendengar kata menerkam seketika bulu kuduk Tiara merinding, pikirannya sudah traveling akan seperti apa suaminya di atas tempat tidur nanti.


"Tapi nanti bagaimana kalau Qia bangun, Mas?" Tiara masih menampakkan wajah khawatirnya, mereka kini sudah tiba di kamar kosong yang disiapkan untuk tamu.


"Tidak akan, aku pastikan itu" jawab Arzan yakin, pasalnya dia sangat tahu jika putrinya jarang sekali terbangun jika tidur malam,


Ceklek, pintu pun terkunci. Tiara hanya menatap suaminya yang kembali berjalan ke arahnya yang sudah terduduk di tempat tidur.


Arzan tersenyum, senyuman yang selalu membuat Tiara merasa aman dan nyaman. Perlahan tangannya terulur membuka mukena Tiara dan berlanjut dengan menarik tali baju tidur Tiara.


Malam panjang kembali dimulai, sesaat Tiara lupa dengan apa yang menjadi kekhawatirannya. Arzan memberinya ketenangan dan kenyamanan dengan sentuhan yang lembut dan memabukkan. Dia tahu keadaan hati istrinya sedang tidak baik-baik saja, dan ini adalah salah satu cara untuknya meyakinkan sang istri jika semuanya akan baik-baik saja.


"Nikmatilah sayang ....Aku mencintaimu" ucap Arzan tepat di telinga Tiara disertai gigitan-gigitan kecil yang mampu membuat Tiara terbuai.

__ADS_1


🤍🤍🤍


__ADS_2