
Acara syukuran empat bulanan sudah terlaksana dengan hidmat sesuai dengan harapan. Seluruh keluarga besar Arzan tampak hadir. Ibu dan kedua adik Tiara pun datang untuk menjadi bagian di hari bahagia keluarga kecil putri sulungnya.
Tidak ketinggalan, teman-teman kuliah Tiara pun turut hadir dalam momen bahagia itu. Mereka senang akhirnya Tiara menemukan kebahagiaannya karena mereka sedikit banyak mengetahui bagaimana Tiara menjalani hari-hari yang sangat berat pasca kasus yang menimpa ayahnya.
Tanpa sepengetahuan Tiara hingga saat ini Arzan masih terus mengusut kebenaran fakta tentang kasus yang menjerat ayah mertuanya itu. Melalui orang-orang kepercayaannya Arzan melakukannya, dia hanya akan mendapat laporan setiap perkembangan sekecil apapun hasil temuan orang-orang kepercayaannya.
"Aku bahagia melihat kamu kembali tersenyum seperti itu, kali ini aku percaya kalau kamu tidak sedang pura-pura bahagia" Rianti mengatakannya dengan sungguh-sungguh, dia tahu beberapa bulan yang lalu Tiara sangat terpuruk dengan keraguan suaminya, walaupun di hadapan orang-orang Tiara selalu bilang tidak apa-apa dan selalu berusaha untuk tersenyum, namun Rianti tahu jika senyuman itu hanya untuk menutupi luka yang begitu dalam Tiara rasakan.
Setiap malam menjadi saksi betapa Tiara terpukul dengan keraguan suaminya terhadap anak yang dikandungnya. Belum lagi memikirkan keluarganya, entah apa yang harus dikatakan jika mempertanyakan keadaan keluarga kecilnya. Air matanya bahkan tidak pernah habis saat dia bermunajat di penghujung malam.
"Kamu bisa aja, emang kelihatan gitu?" tanya Tiara yang terlihat lebih cantik dengan gaun putih model khusus ibu hamil dan tidak lupa dengan jilbab dengan warna senada.
"Tentu dong, aku bisa melihatnya" satu suap buah potong Rianti sodorkan ke depan mulut Tiara dan dengan senang hati Tiara pun menerimanya,
"Manis" ucapnya,
"Selamat ya bestie .... akhirnya akan menjadi ibu, sorry telat." Karin yang merupakan sahabat dekat Tiara semasa kuliah datang dengan heboh, dia terlambat karena harus mengurus administrasi perkuliahannya. Rencananya Karin akan melanjutkan S2 ke luar negeri.
"Makasih ya, gimana lancar?" Tiara balik bertanya, dia tahu alasan keterlambatan sahabatnya itu karena mengurus persiapan kuliahnya,
"Alhamdulillah, bulan depan aku berangkat. Do'ain ya..." Karin duduk di kursi kosong tepat berhadapan dengan Rianti.
Tiara memperkenalkan Rianti pada Karin, dan mereka pun langsung akrab. Obrolan hangat tiga sahabat dengan berbagai topik masih berlanjut. Tiara sesekali mencari melirik suaminya yang sedang berbincang dengan teman dan rekan-rekan bisnisnya.
"Bagaimana?" suara Arzan terdengar tegas saat berbicara dengan salah satu rekannya.
"Anak buahku sedang mengurusnya, jika dilihat dari perkembangan penyelidikan mereka sepertinya ayah mertuamu memang tidak bersalah. Dia dijebak oleh sesama rekannya" seseorang dengan pakaian casual hadir di acara syukuran empat bulanan Tiara, dia adalah rekan Arzan seorang pengacara yang diminta untuk menyelidiki kasus ayah mertuanya.
"Aku harap hasilnya sesuai dugaanmu" ucap Arzan penuh harap, dia pun menoleh ke arah Tiara berada, ikut tersenyum ketika mendapati istrinya itu tengah tertawa lepas dengan sahabat-sahabatnya,
"Sepertinya kamu sangat mencintainya" rekan Arzan yang mendapati arah pandangnya pada Tiara berujar.
"Tentu, dia adalah hadiah untukku" balas Arzan dengan pandangan tetap tertuju pada istrinya,
"Setelah pengkhianatan itu kamu ketahui!" seru rekannya lagi,
__ADS_1
"Heummm"
"Jaga dia, jangan sampai kamu kehilangan lagi. Bukankah dia pernah disukai dia?" arah pandang rekan Arzan tertuju pada Arga yang sedang berjalan ke arah mereka,
"Kamu tahu?" Arzan terkejut,
"Tentu saja, haha....." tawa rekan bisnis Arzan kembali pecah saat melihat Arzan yang terkejut setelah mendengar apa yang diketahuinya tentang kisah cinta segitiganya. Tepatnya dua laki-laki yang mencintai wanita yang sama.
"Hai Bro...gue kira lu gak akan datang" Arga beradu tinju dengan rekan bisnis Arzan yang merupakan temannya juga.
"Tentu saja gue harus datang, mana berani gue menolak undangan boss lu" jawab lelaki yang sebaya dengan Arga itu, dia bernama Revan yang juga berteman akrab dengan Arga.
"Awas saja kalau tidak datang" sahut Arga yang disusul dengan tawa mereka bertiga bersamaan.
Perbincangan mereka pun terus berlanjut dengan topik tidak jauh dari seputar bisnis dan kesibukan masing-masing. Tidak lupa sang pengacara pun berbagi informasi tentang beberapa kasus yang tengah ditanganinya saat ini.
Tamu undangan yang hadir, satu persatu mulai berpamitan termasuk keluarga besar Arzan.
"Zan, tante tunggu lho kedatangan kamu sama Tiara ke rumah" tante Ratih yang merupakan satu-satunya adik mami Ratna pun berpamitan pada keponakan tunggalnya itu.
"Kak, selamat ya. Jaga Kak Tiara baik-baik" Hasna sepupu Arzan, putri dari tante Ratih pun turut berbahagia dengan kebahagiaan kakak sepupunya itu. Dia bergandengan dengan Tiara untuk berpamitan pada kakak sepupunya itu,
"Terima kasih ya, kamu juga move on dong" sahut Arzan sambil mengusap puncak kepala Hasna yang kini berbalut hijab. Dia tahu sepupunya itu pernah gagal menikah karena juga dikhianati oleh tunangannya. Sementara Tiara hanya tersenyum melihat keakraban saudara sepupu dengan suaminya.
"Tentu saja, tunggu undangan pernikahanku" jawab Hasna mendelik, dia pun menoleh pada Arga yang jelas mengetahui jika dirinya sudah move on.
"Baguslah, aku tunggu saat itu"jawab Arzan, dia pun meraih pinggang Tiara yang kini berdiri di sampingnya.
Baru saja Arzan dan Tiara mengantarkan kepergian tante dan sepupunya. Sebuah mobil hitam yang Arzan kenali berhenti tepat di halaman rumah mami Ratna tempat diadakannya acara syukuran empat bulanan Tiara saat ini.
"Mas, itu..." ucapan Tiara terhenti saat dia melihat seseorang yang tidak lain adalah Nathan datang tidak sendiri, dia menggandeng tangan wanita yang tidak asing di antara mereka. Kehadiran mereka berdua di acara ini sungguh tidak terduga.
"Apa aku terlambat?" Nathan lebih dulu menyapa tanpa menghiraukan tatapan heran orang-orang yang berdiri di hadapannya.
"Tidak, tentu saja tidak. Silahkan masuk" Tiara yang lebih dulu sadar dari keterkejutannya. Dia meraih tangan Arzan yang masih menatap tajam ke arah perempuan yang digandeng Nathan. Dia adalah Mikha.
__ADS_1
Sebulan yang lalu dia bangun dari tidurnya. Nathan menjadi orang yang selalu berada di sampingnya saat itu. Mikha sempat depresi karena rasa bersalahnya atas kecelakaan yang menimpa dirinya dan Qiana.
Dengan penuh kesabaran, Nathan meyakinkan Mikha jika semua akan lebih baik jika dirinya mau berubah. Mengakui semua kesalahannya, lalu meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi.
Dan di sinilah meraka sekarang, Nathan mengajak Mikha untuk hadir di acara syukuran empat bulanan Tiara. Nathan pikir ini adalah momen yang pas jika Mikha ingin meminta maaf.
"Maafkan aku, Kak" kalimat pertama yang keluar dari mulut Mikha, dia pun kembali mengubah panggilannya seperti semula.
"Mommy..." Qiana yang datang menghampiri Tiara seketika terhenti karena melihat Mikha dan Nathan,
"Mommy..." seketika gadis kecil itu bersembunyi di balik tubuh Tiara. Qiana masih terlihat takut saat bertemu Mikha
"Qia, maafkan tante" Mikha berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Qiana.
"Mommy..." Qiana semakin mengeratkan pelukannya dia menunjukan ketakutannya bertemu Mikha
"Tenang sayang, tidak apa-apa" Tiara menenangkan Qiana, dia melepas tangan Arzan yang membelit di pinggangnya agar bisa berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Qiana.
Qiana pun mengangguk, dia mulai menatap Mikha yang terus meminta maaf. Hingga akhirnya, atas bujukan Tiara, Qiana menerima pelukan Mikha setelah diberi anggukan juga oleh daddy nya.
Beberapa hari ini Nathan meyakinkan Arzan dan Tiara bahwa Mikha benar-benar menyesali perbuatannya. Mikha pun berulang kali meminta maaf atas perbuatannya yang tidak terpuji itu. Apalagi setelah mengetahui kenyataan jika Arzan dan Tiara sempat berpisah karena pengkhianatan kakak sepupu dan sahabatnya. Mikha pun semakin merasa bersalah.
Arzan yang awalnya begitu keras hati tidak akan memaafkan perbuatan Mikha pun akhirnya luluh atas bujukan sang istri. Dengan penuh kesabaran Tiara berusaha membuat suaminya faham, jika benci dan dendam hanya akan membuat kita terluka semakin lama.
"Mas, membalas kezaliman dengan kezaliman itu adalah hal yang biasa, tapi membalas kezaliman dengan kebaikan itu baru luar biasa, dan itulah level tertinggi dari memaafkan. Kadang orang bisa bersembunyi dari kesalahan yang diperbuatnya, namun tidak dari penyesalannya."
Kata-kata Tiara seolah menjadi oase di padang hati Arzan yaang sedang gersang, dengan berbesar hati dia pun memaafkan perbuatan Mikha juga masa lalunya.
"Terima kasih Kak Arzan, Kak Tiara sudah memberiku kesempatan dan menerimaku dengan baik. Sekali lagi maafkan atas segala kesalahanku selama ini," dengan wajah tertunduk Mikha kembali meminta maaf.
Nathan tersenyum bangga, akhirnya gadis imut yang dulu selalu hadir antara dirinya dan Mitha kini telah tumbuh dewasa. Nathan pun kembali menggenggam tangan Mikha, memberi semangat saat gadis itu kembali meminta maaf pada Arzan dan Tiara.
Semua orang pun tersenyum, ada kelegaan di hati setiap orang setelah saling memaafkan. Namun tidak untuk seorang gadis yang sejak awal kedatangan Nathan dan Mikha dengan tangan saling bertaut, dia sudah merasakan sesuatu yang menyesakan dada.
"Harusnya dulu kita cukup kenal aja, jangan sampai ada rasa biar gak kecewa akhirnya" batin Rianti.
__ADS_1