
Membagi waktu antara kuliah dan bekerja membuat Tiara tak memiliki kesempatan untuk memikirkan tentang urusan percintaan. Visi hidupnya kini benar-benar berubah, mungkin percintaan menjadi urutan ke sepuluh dari sepuluh prioritas hidupnya saat ini. Apalagi setelah mendapat pesan dari sang adik jika mereka membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka.
Satu minggu waktu yang dimiliki Tiara untuk mengumpulkan uang itu. Jika dia lembur di restoran pun sepertinya kebutuhan uang sebesar itu tidak akan tercapai dalam waktu satu minggu, uang yang dibutuhkan kedua adiknya cukup besar kali ini untuk mereka. Tabungan yang dimiliki Tiara sudah dia bayarkan untuk biaya kuliahnya. Tiara memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa memenuhi kebutuhan kedua adiknya tersebut.
Pagi ini Tiara berjalan gontai menuju kelasnya. Dia ada kelas Profesor Kemal hari ini. Hari ini adalah hari pembagian tempat dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk magang di perusahaan. Selama tiga bulan ke depan Tiara akan melakukannya.
Perkuliahan selesai satu jam lebih cepat dari jadwal biasanya. Masih ada waktu dua jam untuk Tiara sebelum bekerja. Dia menatap amplof putih yang ada di genggamannya. Sebuah logo perusahaan besar yang tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga di luar negeri terpampang jelas di sudut kanan amplof itu. Salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan El-Malik Group adalah tempat Tiara magang. Sebuah kebanggaan bagi mahasiswa yang dipercaya untuk magang di perusahaan itu. Selain karena akan mendapat rekomendasi yang akan memudahkan para mahasiswa untuk mendapat pekerjaan, El-Malik Group pun tak jarang merekrut mahasiswa magang menjadi karyawan tetap jika memang layak dan sesuai dengan kriteria karyawan yang mereka butuhkan.
Tiara duduk, harusnya dia senang sekarang tetapi masalah adik-adiknya kembali memenuhi pikirannya sehingga membuat dia tidak terlalu fokus.
"Bicaralah, mungkin aku bisa membantu menjadi jalan keluar dari masalah yang sedang menimpamu" suara seseorang yang tak asing di telinga Tiara membuatnya menoleh ke sumber suara. Saat ini Tiara sedang duduk sendiri di sebuah taman masih di area kampusnya.
''Prof..." ucapan Tiara menggantung saat mendapati jika pria itu sudah duduk di sampingnya dengan santai. Tiara mengedarkan pandangannya, di sana ada beberapa mahasiswa yang tengah menatap ke arahnya karena kehadiran Profesor Kemal di sisinya.
"Kenapa? abaikan saja tatapan orang-orang itu, jangan sampai membuatmu terlihat frustasi seperti itu" Kemal seolah bisa menebak kekhawatiran Tiara, ekspresi wajahnya yang terlihat bingung bercampur khawatir membuat Kemal tahu apa yang ada di pikirannya.
"Saya hanya merasa kurang nyaman, maaf lancang sebaiknya profesor tidak berada di sini sekarang atau saya yang akan pergi, permisi" Tiara beranjak dari tempat duduknya, dia berniat meninggalkan profesor Kemal ketena tidak tahan melihat tatapan orang-orang ke arahnya. Setelah sebelumnya teman-temannya menyebutnya anak koruptor dan menjauhinya, kini dia tidak mau jika keberadaannya dengan profesor Kemal di taman itu menjadi gosip baru yang akan semakin merendahkannya. Tiara tahu betul salah satu dosen muda dan cantik di kampus itu sudah mengklaim pada semua mahasiswa jika profesor Kemal adalah calon suaminya.
"Tunggu...." langkah Tiara terhenti, dia kaget saat Kemal memegangi lengannya. Reflek Tiara menepisnya.
"Maaf, aku hanya ingin bicara sesuatu yang sangat privasi padamu. Tolong beri tahu aku kapan kamu mempunyai waktu luang?" Kemal segera menjauhkan tangannya dari lengan Tiara. Dia bicara dengan hati-hati, tidak ingin kembali membuat Tiara tidak nyaman.
"Ada urusan apa Prof? jika itu menyangkut tentang perkuliahan saya rasa profesor bisa menyampaikannya saat ini juga" Tiara berbicara sedikit ketus, dia benar-benar tidak nyaman dengan keberadaan Kemal. Tiara bahkan berbicara tanpa melihat ke arah dosen muda itu. Berbeda dengan Kemal yang tak lepas pandangannya dari Tiara.
__ADS_1
"Ini bukan tentang perkuliahan, ada urusan pribadi yang harus saya sampaikan sebelum terlambat" Kemal berbicara santai, dia tidak peduli dengan tatapan beberapa mahasiswa ke arah mereka bahkan beberapa tampak sudah berbisik-bisik membuat spekulasi negatif tentang apa yang mereka lihat saat ini.
Tiara mengernyitkan dahinya, kurang faham maksud pembicaraan Kemal. Selama ini dia merasa tidak terlalu dekat dengan dosen muda itu. Mereka bahkan baru bertemu sebagai dosen dan mahasiswa pada semester ini.
"Maaf Prof, saya harus bekerja. Assalamu'alaikum" tidak ingin terus berlanjut, Tiara berlalu begitu saja setelah ucapan salam keluar dari mulutnya. Dia mengabaikan apa yang diucapkan Kemal.
Kemal hanya menatap punggung Tiara yang semakin menjauh dengan tatapan yang nanar.
"Kamu masih saja sulit untuk diraih" gumamnya pelan.
*
Tiara selesai menuntaskan tugas terakhirnya di restoran. Setumpuk piring kotor kini sudah berubah kembali kinclong karena sentuhan tangannya. Dia bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib karena selanjutnya dia harus menuju kediaman El-Malik untuk menyiapkan makan malam Qiana dan menemaninya makan.
"Enggak, aku sehat kok" jawab Tiara cepat, dia tidak ingin membuat sahabatnya khawatir. Tiara juga tidak ingin berbagi kesulitannya dengan siapapun. Selama masih bisa, dia berusaha untuk menyelesaikannya sendiri.
"Kalau ada yang mau diomongin, omongin aja. Siapa tahu aku bisa bantu" Riri kembali memberikan perhatiannya pada Tiara, saat ini mereka tengah beristirahat di teras mesjid sebelum mengikuti shalat maghrib berjamaah.
"Insya Allah, terima kasih ya. Kalau aku butuh bantuan kamu aku pasti bilang" Tiara berkata dengan mengulas senyum di wajahnya, menyembunyikan kegalauannya agar tidak terlihat orang lain.
Tanpa mereka sadari interaksi mereka saat ini tidak lepas dari pantauan sepasang mata yang sejak beberapa menit yang lalu baru tiba di halaman restoran itu. Dia memilih menunggu seseorang di dalam mobil setelah keberadaan Tiara tertangkap oleh netra matanya.
Ting....sebuah notifikasi pesan masuk berhasil mengalihkan pandangannya. Dia merogoh ponsel yang berada di saku celananya.
__ADS_1
Arga pun terpaksa harus menghentikan pantauannya, dia keluar dari mobil karena sang boss memintanya untuk segera masuk ke dalam.
Selesai shalat maghrib dan berganti pakaian Tiara pun pamit pada Riri dan teman-teman yang lainnya. Dia harus segera menuju kediaman El-Malik sebelum tuan putri menghubunginya karena terlambat datang.
Tiara sedikit berlari menuju gerbang utama restoran tersebut, sebelumnya dia sudah memesan ojeg online untuk pergi ke kediaman El-Malik. Di saat bersamaan Arga keluar dari restoran, dia melihat Tiara berlari kecil menuju gerbang restoran. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan Arga pun segera memasuki mobilnya, melaju dengan buru-buru tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengajak Tiara bersamanya. Sebuah kebetulan yang indah menurutnya, Arzan menyuruhnya mengambil berkas yang tertinggal di rumah. Arga tahu saat ini Tiara pasti akan menuju rumah itu untuk mengerjakan tugasnya melayani Qiana sebagai pekerjaan tambahan untuknya.
Suasana di dalam mobil tampak hening. Setelah membujuk Tiara dengan sedikit drama, Arga akhirnya berhasil mengajak Tiara untuk ikut dengannya. Awalnya Tiara menolak mentah-mentah saat Arga mengajaknya, selain merasa tidak enak karena Arga adalah asisten pribadi pemilik restoran tempatnya bekerja Tiara pun berdalih dia sedang menunggu pesanan ojeg onlinenya. Namun Arga berhasil meyakinkannya jika Qiana tengah menangis menunggu Tiara yang belum juga datang. Hal itu yang membuat Tiara akhirnya memutuskan untuk ikut dengan Arga.
"Eheum...."Arga berdehem untuk menetralkan keadaan hatinya yang tidak menentu saat ini. Untuk pertama kalinya berdua dalam satu mobil dengan gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Sejujurnya sejak pertama bertemu dengan Tiara, Arga sudah menaruh hati padanya. Setelah tahu semua tentang Tiara dan kisah hidupnya membuat Arga semakin iba namun diam-diam mengaguminya, bahkan setelah beberapa minggu ini Tiara bekerja di kediaman El-Malik diam-diam Arga selalu memantaunya dari CCTV rumah itu yang langsung terhubung dengan ponselnya. Arga semakin jatuh cinta dengan kepribadian Tiara, selain cantik Tiara juga memiliki sikap keibuan yang luar biasa. Pantas saja Qiana begitu mudah akrab dengan gadis itu.
"Saya tahu kita belum lama bertemu" suara Arga akhirnya memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Tapi saya sudah cukup tahu siapa kamu dan bagaimana kamu" Arga kembali menggantungkan pembicaraannya. Menoleh sekilas ke samping kirinya, melihat reaksi Tiara yang masih terdiam. Arga tidak tahu jika saat ini Tiara tengah mengondisikan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.
"Aku belum pernah pacaran, waktuku terlalu berharga untuk hal itu. Tapi di saat aku tertarik pada seseorang, aku tidak ingin memendamnya" Tiara masih enggan bersuara, dia mencerna setiap kata-kata yang diucapkan Arga. Mencoba menerka kemana arah pembicaraan pemuda itu.
"Aku hanya ingin memberi tahumu, kalau aku ingin mengenalmu lebih jauh. Setidaknya kita bisa berteman saat ini, aku harap kamu bersedia membuka hati. Aku tahu kamu pernah kecewa oleh laki-laki yang bertahun-tahun menjadi kekasihmu, meninggalkanmu begitu saja karena sesuatu yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya denganmu. Namun aku harap kecewamu tidak berkelanjutan, di luaran sana masih banyak orang-orang yang tulus. Kamu saja yang enggan membuka mata dan hati. Jangan hanya karena kecewa oleh satu orang tapi tidak percayanya pada semua orang" Arga bertutur tanpa jeda, dia benar-benar mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Tiara semakin mematung, mengetahui jika laki-laki di sampingnya itu mengetahui tentang kisah percintaannya membuat Tiara kembali teringat akan kisah itu. Kebersamaan yang tidak sebentar antara dirinya dengan Adrian membuat mereka memiliki kenangan yang tak sedikit. Namun semuanya telah berakhir tanpa kepastian karena Adrian menjauhinya tiba-tiba tanpa penjelasan apapun setelah kasus yang menimpa ayahnya tersebar. Tiara pun cukup sadar diri, dia tidak mau memaksakan kehendak. Perilaku Adrian dianggapnya sebagai keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Mutiara Lestari, izinkan aku menyayangimu!" suara Arga membuat Tiara menoleh, dia tidak menyadari jika saat ini mobil sudah berhenti di halaman kediaman El-Malik. Tatapan mereka bertemu, Tiara yang syok mendengar pengakuan Arga membuatnya tidak bisa mengontrol diri. Cukup lama mereka saling beradu tatap.
"Kakak.... Kakak cantik......" panggilan Qiana pun menyadarkan Tiara, dia segera mengalihkan pandangannya, melepas seatbell dan segera keluar dari mobil setelah berhasil mengembalikan kesadarannya.
__ADS_1
"Terima kasih atas tumpangannya, Assalamu'alaikum"